Unperfect

Unperfect
pangeran nakal


__ADS_3

Disatu pagi yang cerah. Vira membuka tirai panjang dikamar pangeran sehingga sinar matahari bisa masuk dan menghangatkan kulitnya. Mata pangeran mulai terasa silau dan dia bisa merasakan hangatnya sinar matahari dikulit tangannya.


Pelan dia membuka matanya, tubuhnya masih terasa tak berdaya. Dia berusaha memerengkan kepalanya untuk melihat dikesekitar ruangan. Didepan matrasnya seorang gadis berdinas putih tampak sedang menata bunga segar disana.


"Si siapa kau? " tanya pangeran Jimin. Vira terdiam lalu menoleh kearah pangeran.


"Oh pangeran, pangeran sudah sadar." kata Vira seraya menghampirinya. Dia lalu memeriksa suhu tubuhnya yang sudah semakin normal.


"Siapa kau? " sekali lagi pangeran Jimin bertanya padanya.


" Namaku Vira, aku ditugaskan khusus untuk merawat pangeran. " jawab Vira. Pangeran menutup matanya dia mencoba mengingat ingat kejadian terkahir dan yah saat itu dia berencana kabur dan sebuah mobil datang menabraknya.


"Aku harus pergi." imbuhnya sambil berusaha bangkit tapi Vira segera menahannya dan menekan kedua sisi bahu pangeran agar tetap berbaring.


"Pangeran mau kamu mana? pangeran baru sadar setelah hampir 3 minggu tak sadarkan diri."


" 3 minggu? "


"Ha..., dokter Gio berpesan bahwa pangeran akan dirawat disini olehku dan pangeran tak bisa kemana mana hingga istana membaik."


" Apa maksudmu? memangnya apa yang terjadi diistana? "


" Pangeran terlalu banyak tanya, sekarang diam dan berbaringlah saja. Turuti perkataanku agar pangeran segera sembuh. Ingat aku punya peraturan sendiri terhadap pasienku dan aku takkan membeda bedakan walau kau adalah seorang pangeran." jelas Vira lalu bangkit tapi pangeran segera meraih tangannya.


" Setidaknya jelaskan sedikit alasan supaya aku merasa tenang."


"Baiklah akan ku jelaskan tapi setelah Juna selesai melap pangeran. Aku akan menelfon dokter Gio agar segera datang memeriksa pangeran. Ingat jangan kemana mana atau aku akan marah dan mengikat pangeran. "


" Kau berani mengancamku? "


"Kenapa tidak, aku sudah katakan aku sangat tegas terhadap pasienku. Kalau sampai pangeran nakal aku takkan segan." kata Vira mengancam pangeran dengan wajah imutnya yang justru membuat pangeran merasa lucu.


Berani sekali kau,, tunggu saja pembalasanku


Kata pangeran Jimin pelan seraya menyoroti langkah Vira keluar dari kamar dan Juna langsung masuk kemudian.


"Pangeran.. " sapa Juna ramah. Lalu Juna membuka pakaiannya dan melap tubuhnya agar pangeran merasa segar. Kemudian dia membantu pangeran duduk dikursi roda dan mendorongnya kedekat jendela agar pangeran bisa berjemur.


Pangeran Jimin tak banyak berkomentar. Dia menikmati semua itu dan itu membuat perasaannya lebih baik. Suara tawa anak anak terdengar jelas dari dibawah. Pangeran Jimin mendekatkan kursi rodanya menuju balkon. Juna yang seolah paham lalu membantu mendorongnya.


Pangeran Jimin tersenyum saat melihat beberapa anak kecil tengah bermain sambil belajar ditaman dibawah. Mereka juga tampak sibuk menggambar disana.


"Pangeran, aku permisi dulu yah. Vira akan datang mengantarkan sarapan untuk pangeran." kata Juna.



"Ok, trimakasih yah."


"Sama sama pangeran." kata Juna lalu meninggalkan pangeran disana. Vira ternyata sudah menunggu diluar pintu.


"Aku tinggal yah." kata Juna lalu pergi dan Vira pun masuk mendekati pangeran.


"Pangeran saatnya sarapan. " kata Vira mengingatkan. Pangeran Jimin menolehnya sesaat dan Vira lalu duduk dihadapannya dengan menggunakan sebuah kursi yang sudah ditariknya sebelumnya.


" aaaaaa" Vira bermaksud menyuapi pangeran. Pangeran terdiam sesaat, dia merasa sedikit malu.

__ADS_1


"aaaaaa" sekali lagi Vira mengatakan huruh aa dengan agak panjang. Pangeran lalu dengan malu malu membuka mulutnya dan Vira berhasil memasukkan sesendok bubur kedalam mulutnya.


"Makanlah yang banyak agar pangeran segera pulih." titah Vira, lalu menyendokkan lagi dan mengarahkannya ke mulut pangeran.


"Sekarang apa kau sudah bisa menceritakan apa yang terjdi? " kata pangeran disela sela makannya.


"Semua orang tahu pangeran sudah mati." kata Vira sambil mengaduk aduk bubur didepannya sedang pangeran Jimin langsung tersedak kaget dan menyemburkan air yang akan diminumnya.


"Apa katamu...? "


" Ahhhh, pangeran, minumnya baik baik. Pake acara tersedak begini." protes Vira sambil heboh mencari tisu untuk melap mulut pangeran. Dia tak sungkan untuk melap mulut pangeran layaknya membersihkan mulut anak kecil.


" Kenapa kau bilang kalau aku sudah mati, apa aku ini hantu ha? "


" ehh jangan marah marah dulu. Dengarkan dulu." kata Vira mencoba menenangkan pangeran.


" Aaa dulu " kata Vira lagi. walau dalam posisi tak sabaran pangeran Jimin tetap membuka mulutnya dan selagi dia mendengarkan penjelasan Vira, Vira pun sibuk menyuapinya hingga semua makanannya habis.


"Selesai... " kata Vira mengakhiri ceritanya. Dia lalu menoleh mangkuk dipangkuannya.


" Wahhh,, ternyata habis juga." kata Vira senang.


" Mendengarmu bercerita membuatku lapar. " kata pangeran Jimin. Vira tertawa kecil dan pangeran menatapnya dan ikut tersenyum.


"Pagi.... " suara dokter Gio terdengar dari arah pintu kamar. Vira lalu membantu mendorong kursi roda pengeran dan membawanya kembali kematrasnya.


"Aku akan periksa dulu. " kata dokter Gio ramah. Vira pun lalu meninggalkan mereka berdua disana sementara dia mengantarkan mangkuk kebawah.



" Yah, kami dibesarkan dipanti asuhan ini bersama."


"Kinan sangat beruntung punya teman sepertimu. Trimakasih sudah merawatku dengan baik."


"Ehmmm, Kinan berpesan hingga istana terkendali pangeran tak bisa meninggalkan tempat ini. Ku harap pangeran akan bekerja sama. "


"Tentu.. "


"Aku akan datang pagi dan malam untuk memeriksa kondisi pangeran setiap hari. Vira yang akan merawat pangeran selama pengeran disini. walaupun akan sangat membosankan terkurung disini tapi ku harap pangeran bersabar. "


"Tidak perlu khawatir, aku sudah terbiasa terkurung. Disini jauh lebih baik, anak anak itu sudah sangat menghibur, lagi pula ada perawat cantik yang bisa kugoda setiap waktu."


"Hahahahha, tapi sebaiknya hati hati Vira perawat yang tak punya hati. Tapi ku rasa pangeran akan patah hati. Dia sudah punya seseorang yang disukai." info dokter Gio sedikit berbisik. Tak lama terdengar suara pintu dibuka.


Vira masuk dengan membawakan beberapa potong buah segar. Dokter Gio lalu bangkit berdiri dan Vira membantunya membereskan barang barangnya.


"Tolong rawat pangeran. Aku akan suruh Juna untuk membeli obat baru. "


" Siap pak dokter. "


"Sepertinya dia menyukaimu." kata dokter Gio sedikit berbisik ketelinga Vira yang membuat Vira memelototkan matanya. Dokter Gio terkekeh sesaat lalu dia pamit untuk pergi meninggalkan keduanya disana.


" dokter Gio bilang kau akan merawatku disini dan lagi ku rasa aku akan sedikit merepotkanmu."


"Apa....? " aura aura buruk terpancar dari pangeran Jimin yang kini menatap Vira dengan senyum liciknya.

__ADS_1



Nyalakan Tv


Ambilkan air


Aku mau makan buah


Nyalakan ac


Aku bosan, putarkan musik agar aku tidur


Tak jadi tidur


Aku lapar


Suapi aku


Ambilkan buku untukku


Pijit kakiku


Buatkan jus jeruk segar


Jusnya terlalu asam, tambahkan sedikit gula


Esnya terlalu sedikit


Tambahkan lagi


Pijit kakiku lagi


Pangeran Jimin memerintah Vira sesuka hati hingga membuat darah militer Vira naik keubun ubun lalu dengan kesal dia memijit kaki pangeran dengan keras.


"ahhhh, sakit tau." ringis pangeran sambil memegangi kakinya.


"Telingaku juga sakit terus mendengarkan permintaan pangeran. "


"Hei, jaga bicaramu aku ini pangeran. Seharusnya kau bersikap baik padaku dan mengerjakan semua perintahku dengan baik. "


"Aku ini perawat. Aku juga bukan dayang. Ingat ini bukan istanamu." balas Vira tak mau kalah. Lalu Vira berdiri berniat untuk pergi.


"Hei kau mau kau mana? "


" Aku mau keluar, selagi aku disini pangeran akan terus menyuruhku. Ini juga sudah siang sebaiknya pangeran tidur siang."


" Hei tunggu." teriak pangeran Jimin tapi Vira tak peduli.


Brukkk


Vira membatalkan niatnya membuka pintu. Dia menoleh kebelakang setelah mendengar suara jatuh.


"Pangeran.. " segera Vira berlari kearah pangeran yang ternyata jatuh dari ranjangnya.


"Jangan pergi. Disini saja temani aku." kata pangeran meminta. Vira terjerat oleh tatapan sendu itu. Dia tak tega untuk menolaknya.

__ADS_1


__ADS_2