
"Yang mulia memanggilku?" tanya Ram saat menemui ratu Quina diruangannya.
"Masuklah pengawal Ram, ada yang ku bicarakan denganmu." perintah ratu Quina. Ram melangkah perlahan mendekatinya dan dia tahu bahwa perasaan ratu sedang tak baik.
" Sepertinya ada yang mengganggu fikiran yang mulia."
" Kau benar Ram, karna itulah aku memangilmu kemari. Selain kau tak ada lagi yang bisa ku ajak bertukar fikiran. Aku butuh saran darimu."
" Saya akan berusaha memberikan yang terbaik yang mulia."
" Duduklah.. " kata ratu kemudian. Lalu Ram duduk dikursi dihadapan ratu Quina.
"Raja Visar baru saja mengirimkan pesan. Dia ingin aku segera menuntut tahta. "
" Tapi raja masih hidup dan lagi ibu suri pasti menentangnya."
" Yah karna itulah, aku harus memikirkan cara untuk menyingkirkan raja atau mencari jalan lain untuk membuat para petinggi kerajaan mau bekerja sama denganku."
"Itu bukan sesuatu yang mudah yang mulia. Tapi aku akan mencoba memikirkan cara agar yang mulia bisa mengatasi masalah ini."
" Baiklah kalau begitu beritahu aku jika kau sudah menemukan jawabannya."
"Baik yang mulia."
Keesokan harinya detective kepercayaan ibu suri datang keistana dan membawa beberapa berkas yang disimpan dibalik jaketnya.
"Ini dokumen yang yang mulia inginkan." kata detective Yorii seraya meletakkan sebuah amplop diatas meja ibu suri. Ibu suri segera membukanya. Dia terdiam lalu kembali memasukkan semua berkas itu kembali kedalam.
"Atur waktuku, aku ingin bertemu dengannya segera."
" Apakah yang mulia yakin, saya khawatir dia akan menolak setelah apa yang dilakukan yang mulia raja Juyeon terhadapnya."
" Dia akan mendengarkanku, saat ini hanya dia yang kuharapkan untuk bisa memperbaiki keadaan ini. Sejak awal melihatnya aku sudah bisa merasakannya."
"Lalu bagaimana dengan orang suruhan itu? aku khawatir mereka akan bertindak sebelum yang mulia ibu suri berhasil."
" Aku mempercayakanmu untuk itu. Aku mendengar kabar kalau dia sudah mulai mendekati para petinggi kerajaan dan beberapa partai penting untuk mendukungnya. Aku tidak bisa membiarkan orang asing itu berkuasa ditanahku. Bagaimanapun caranya aku akan berusaha."
__ADS_1
"seperti perintah anda yang mulia, saya akan menanganinya."
" Baiklah kau boleh pergi sekarang. "
" Baik yang mulia, kalau begitu saya mohon diri." detective Yorii pun lalu meninggalkan tempat itu dan saat dia akan menaiki mobilnya, Kinan yang baru kembali dari pertanian juga melihatnya.
Pagi itu pagi pagi sekali Vira bangun dan dia langsung menuju dapur. Dia menyiapkan sarapan pagi dengan begitu gembira. Juna yang baru saja selesai mandi mencium wangi makanan dari kamarnya dan dia langsung keluar dan mendekati meja makan.
"Wahh, kelihatannya enak." kata Juna begitu gembira. Juna mengambil sendok dan mencicip makanan tersebut.
"Bagaimana? " tanya Vira yang sibuk menyiapkan piring dimeja
"Ini sangat enak, kau sangat telaten." puji Juna sambil mengelus manis kepala Vira.
"Ehm ehm" Johana memberi kode agar Vira dan Juna menyadarinya.
"Oh Jo kau sudah datang, hayo duduklah aku sudah siapkan sarapan. "
" Aku tidak lapar, aku pergi dulu." tolak Johana dingin lalu meneruskan langkahnya menuju pintu. Juna melihat Vira sedikit murung dan dia lalu mencandai Vira dan berusaha membuatnya tertawa.
"Masa bodoh.. " ungkapnya kesal lalu keluar dari sana.
"Aku akan mengantarkan sarapan pangeran dulu, sarapanlah ok." kata Vira lalu meninggalkan ruang makan. Dia membawa nampan berisikan sarapan yang baru dibuatnya untuk pangeran Jimin yang ternyata masih tidur.
"Hei... hei.. bangunlah ini sudah pagi.. hei... " Vira berusaha membangunkan pangeran berkali kali tapi pangeran tak mau mendengarkannnya dan itu membuat Vira merasa kesal.
Vira lalu menarik bantal dikepala pangeran hingga pangeran Jimin menolehnya.
" Ohh jadi begitu cara jitu membangunkanmu ?"
"Aahhhh, kau benar benar." gerutu pangeran kesal.
" Siapa suruh kau begitu sulit untuk dibangunkan, aku sudah memanggilmu beberapa kali tapi kau tak mengacuhkanku."
"Apa tak ada cara yang lebih romantis dibandingkan menarik bantalku? "
" Ahh terserah, ayo cepat bangun hari ini akan ada tamu penting. "
__ADS_1
"Tamu penting? "
" Ehmm, dokter Gio bilang yang mulia ibu suri akan datang, jadi cepatlah bangun dan sarapan ."
" Ehmm, sepertinya ini hari pembalasan yang tepat untukmu."
"Pembalasan apa? " tanya Vira sedikit gugup.
" pembalasan apalagi kalau bukan pembalasan ketidak sopananmu selama ini."
"Hei... kau mengancamku? "
"Kenapa, apa kau takut? kau tahu apa yang dilakukan pihak istana untuk menghukum orang yang berbuat salah? trimalah ganjaranmu nona psikopat." gertak pangeran Jimin lalu turun dari matrasnya dan langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri.
vira dengan mulut cemberutnya lalu mendekati matras pangeran untuk merapikannya. Perlahan dia mulai mengingat ingat kelakuan tidak sopannya pada pangeran dan hatinya mulai khawatir kalau pangeran Jimin benar benar akan melaporkannya.
Tak lama pangeran keluar dari kanar mandi dan tampak sudah selesai mandi. Dia mengenakan celana pendek dan sibuk mengeringkan rambutnya.
" Biar ku bantu keringkan." kata Vira sembari mendekati pangeran Jimin. Pangeran Jimin tersenyum kecil seolah dia tahu kalau Vira berusaha mengambil hatinya.
Dengan sangat baik Vira mengeringkan rambut pangeran dan setelah itu Vira juga membantu menyiapkan pakaian pangeran Jimin.
" Ini makanlah." kata Vira sembari menyuguhkan sarapan yang dibawakannya sebelumnya.
Pagi itu Ram dan ratu Quina keluar dari istana. Ratu Quina sengaja menemui beberapa petinggi kerajaan untuk meminta mereka berpihak padanya dan menjanjikan kedudukan yang layak untuk mereka.
" Aku tidak bermaksud memaksa kalian dengan sedikit ancaman ini tapi saat ini kita harus berdikir logika. pangeran sudah meninggal dan seperti yang kalian ketahui yang mulia raja juga sedang dalam kondisi tak baik. Ibu suri juga sudah semakin tua, jadi hanya aku satu satunya calon tunggal yang berhak atas tahta kerajaan. Selain itu raja Vitar pasti kembali berupaya untuk merebut wilayah kita. Dengan kekuatan yang dia miliki dia bisa memprovokasi pihak pihak luar untuk membantunya. Tentu kalian takkan menginginkan hal ini terjadi. Jika dia berhasil dia pasti akan melenyapkan kalian pertama kali dan mengantinya dengan kabinet kerja yang baru yang taat pada kekuasaannya. Jadi aku mengharapkan kerjasama dan dukungan kalian untuk segera menobatkanku menjadi ratu penguasa berikutnya. " kata ratu Quina yang duduk dikursi paling depan. Ram berdiri tepat dibelakangnya. Ratu Quina menunjukkan sikap tegas dan tenangnya saat para petinggi kerajaan sibuk berdiskusi satu sama lain hingga akhirnya mereka sepakat untuk mendukung ratu Quina.
Pagi itu sekitar jam 10 selir Yana juga meninggalkan kerajaan. Dia akan pergi berkunjung kepanti asuhan untuk menjenguk pangeran Jimin. Ratu Quina baru saja kembali pagi itu dan dia bertemu ibu suri dipintu masuk saat beliau baru saja memberangkatkan selir Yana.
" Yang mulia ibu suri." sapa ratu Quina memberi hormat
" Kau keluar pagi pagi sekali, sepertinya kau begitu sibuk."
" Ada beberapa hal yang harus kuurus. Kabar duka atas kepergian pangeran membuatku banyak menghadapi masalah jadi aku harus menyelesaiaknnya."
"Baguslah,, aku percaya kau pasti mengurusnya dengan baik."
" Sebisaku yang mulia ibu suri. Lalu kemanakah selir Yana akan pergi? Tidak biasanya dia meninggalkan istana sepagi ini."
" Aku menyarankannya untuk berkunjung kepanti asuhan untuk menghibur dirinya. Dia baru saja kehilangan anak semata wayangnya. Dia sangat terluka, jadi biarlah dia menenangkan hatinya sementara waktu. itu akan membuatnya lebih baik"
__ADS_1