Unperfect

Unperfect
secercah harapan


__ADS_3


Kinan berdiri dihalaman sembari memandangi hamparan bintang dilangit. Bintang itu tampak sangat cerah dengan kelap kelipnya tapi perasaan Kinan tetap terasa sepi.


"Pangeran.. "


Kinan menoleh kebelakang setelah mendengar ibu suri memanggilnya. Wanita paruh baya itu tampak mendekatinya sambil tersenyum sekilas.


"Apa ada yang mengganggu hatimu? "


"Tidak yang mulia. " singkat Kinan namun ibu suri tahu bahwa Kinan tidak sedang baik baik saja. Beliau lalu meraih tangan Kinan dan menggenggamnya erat.


"Nenek tahu hatimu tak tenang tapi jika kau tak mau berbagi nenek juga takkan memaksamu. "


"Maaf yang mulia, aku hanya merasa ini terlalu mendadak. "


"Saat pertama kali masuk ke istana dulu nenek juga merasakan hal yang sama. Terutama kau adalah anak sulung. Nenek paham kegelisahanmu. "


" Saat keci ibu selalu menolak tinggal bersamaku. Saat itu aku merasa sangat buruk sampai ibu tak menginginkanku. Sekalipun aku berjanji tidak akan nakal dan menanyakan soal sosok ayahku.


Beranjak dewasa aku bahkan sempat berfikir mungkin aku anak haram yang sengaja dibuang ibu karna saat itu lebih 10 tahun dia tak datang melihatku lagi. Tapi entah mengapa aku tak bisa membencinya. Aku bahkan selalu ingat janjiku untuk menjadi anak kebanggannya. Ku fikir jika aku berhasil ibu akan menerimaku. "


"Dia hanya ingin melindungimu. "


"Katanya di selalu memantauku tapi aku merasa tak adil. Sangat lama aku menahan hatiku karna merindukankannya."


"Nenek yakin kau bisa mengerti itu. "


"Yah,, tentu. "


"Oh yah bagaimana kabar Grace, kapan kau akan menjenguknya? "


"Masih ada yang harus ku urus yang mulia . Dia juga harus istirahat."


"Ehmm, oh yah jangan lupa seteleh ini yang mulia raja juga akan membutuhkanmu, periapkan dirimu."


Sudah 4 hari setelah Grace menjalani oprasi dan terapi namun Kinan tak kunjung datang untuk menjenguknya. Berbagai fikiran buruk datang memburu dihatinya. Mungkin kinan sudah melupakannya atau juga Kinan sudah tak menginginkan hubungan mereka lagi setelah pertengkaran malam itu.


Perasaan gelisah dan juga rindu menghantam hati Grace tak henti hentinya berharap masih ada harapan untuk dirinya.


"Pangeran kami sudah menemukannya. " bisik Hansen ditelinga pangeran Jimin saat pangeran Jimin baru saja latihan koreografi bersama teamnya.



Pangeran Jimin berjalan menuju lobi depan rumah sakit. Dari jauh dia bisa melihat Vira berjakan keluar masih dengan mengenakan seragam kerjanya.


"Vira" panggilnya yang sontak menghentikan langkah vira. Vira menatapnya tertegun terutama saat pangeran Jimin berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Jimin..... " belum selesai bicara sosok Sean muncul dan langsung merangkul bahu Vira.


"Dia tunanganku, jangan menganggunya. "kata Sean sedikit pamer dan juga mengintimidasi keduanya. Pangeran Jimin menatapnya tajam dari balik kacamata hitamnya sedang Vira segera menatapnya kesal dan menarik dirinya.


"Bisa tinggalkan kami, aku akan segera menyusul. "pinta Vira tegas. Sean lalu pergi tanpa ada basa basi lagi.


Vira lalu menghadap kembali kearah pangeran Jimin. Diantara senang dan sedihnya dia berniat meraih tangan pangeran Jimin tapi pangeran Jimin malah menarik tangannya kebelakang pinggangnya


"Katakan itu benar atau tidak? "


"Jimin aku.... "


"Benar atau tidak ?" pangeran Jimin membentaknya hingga Vira sedikit terkejut dengan perubahan sikap pangeran Jimin yang mendadak kasar padanya.


"Benar atau tidak? "sekali lagi pangeran menanyakan hal yang sama tapi Vira masih diam. Hanya butiran air mata yang kemudian jatuh dipipinya.


"Kalau begitu selamat." kata pangeran Jimin lalu pergi meninggalkannya. Ingin rasanya Vira mengejarnya dan memeluknya. Dia sadar dia sudah mematahkan hati pangeran yang sudah datang mencarinya setelah kepergiannya yang tanpa sebab.


Tit tit...


Suara klakson mobil terdengar. Vira menoleh kearah mobil Sean. Sean memberinya kode agar Vira segera datang. Sesat Vira menoleh kearah pangeran Jimin yang tampak memasuki mobil yang kemudian membawanya pergi.


Vira pun menyusul Sean masuk kedalam mobil. Sean melihat bahwa sepertinya Vira tengah patah hati tapi dia tak tertarik untuk menghibur gadis itu. Sean menyalakan mobilnya tanpa menghiraukan Vira yang mulai terisak isak disampingnya sambil tertunduk.


Pangeran Jimin menyandarkan kepalanya kesandaran mobil. Dia hanya diam seraya memejamkan matanya. Dia masih tak bisa menyangka akan mendapati kabar itu. Gadis yang begitu dicintainya menghianati perasaannya begitu saja.


"Apakah itu kinan" tanya Grace sembari sedikit tersenyum. Berharap seseorang yang sedang ditarik Juna itu adalah Kinan yang begitu dirindukannya. Namun senyumnya pudar seketika saat melihat sosok Johana yang masuk sambil digandeng Juna.


"Hai... " sapa Juna setelah begitu dekat.


Grace tersenyum kecut hingga membuat Johana berkecil hati.


" Sudah ku bilang tadi gak usah masuk." kata Johana kesal sembari ingin pergi tapi Johana segera meraih tangannya dan mengelengkan kepalanya. Tak lama dia sibuk menuliskan sesuatu dinote yang disediakan diatas meja didekat matrasnya.


"Jangan salah faham. Aku senang melihatmu datang. Aku hanya sedikit kecewa karna ternyata aku salah menduga. "


"Kau menduga Kinan yang datang? " tebak Johana sedikit kesal. Grace hanya tersenyum kecil.


"Pangeran... " belum Johana selesai bicara Juna sudah langsung membekap mulutnya hingga membuat Grace bingung.


"Kak juna bilang dia akan datang dia agak sibuk. " jelas Juna sambil sedikit tersenyum. Johana lalu menurunkan tangan Juna dari mulutnya.


" Oh yah bagaimana kabarmu, kapan perbanmu dilepas? " tanya Johana antusias.


"Kondisiku semakin membaik besok perbannya akan dibuka."


"Baguslah, semoga kau bisa segera bicara lagi. Kak Kinan pasti sangat senang mendengar suaramu. "kata Juna ikut senang.

__ADS_1


"Trimakasih kalian datang menjengukku. " balas Grace kemudian lalu Grace melihat sesuatu yang aneh dari mereka. Juna masih tampak menggenggam tangan kiri Johana dengan mesra. Johana yang tersadar lalu segera menarik tangannya malu malu.


"Apa kaliak sudah berpacaran? "


"Yah kami sudah resmi pacaran. " jawab Juna pamer sambil sedikit terkekeh. Grace langsung tersenyum lebar. Dia menepuk nepuk kedua tangannya untuk memberikan mereka ucapan selamat.


"Oh yah kedatangan kami kesini juga mau sekalian memberitahumu. Akhir pekan ini kak Kinan akan datang. Dia berniat mengajakmu keluar sebentar. Gio sudah menanyakan pada doktermu katanya kalian boleh pergi." info Juna lagi dan kini Grace merasa sedikit lega Kinan mau mengajaknya keluar. Itu adalah saat yang tepat untuk memperbaiki hubungan mereka.


"Bagaimana perkembangannya? " tanya Kinan pada Gio saat Gio baru saja selesai memeriksa keadaan raja Adam dikamarnya.


"Yang mulia cukup baik. Tetap jalani terapi agar kaki yang mulia segera pulih. Aku juga akan mengurangi obatnya dan menggantikannya dengan vitamin baru. " jelas Gio membuat hati ibu suri dan ratu Yana kian tenang.


"Ini kabar yang bagus. Trimakasih dokter Gio sudah merawat yang mulia raja dengan baik." kata ratu Yana dengan wajah gembiranya.


"Sudah jadi pekerjaan saya yang mulia. " balas Gio ramah dan tak lama pangeran Jimin tampak memasuki ruangan itu dengan wajah kesalnya.



"Pangeran, apakah kau baik baik saja? "tanya ratu Yana khawatir sembari mendekati pangeran Jimin.


"Apa kau sakit, selagi dokter Gio disini dia bisa memeriksamu. "


"Aku baik baik saja yang mulia ibu ratu"


"Tapi wajahmu tampak tak bersemangat. "


"Mungkin pangeran butuh dokter lain." sindir ibu suri dan mereka semua kecuali pangeran terkekeh sejenak. Sepertinya mereka paham pangeran Jimin sedang patah hagi.


Malam itu didepan rumah vira. Vira masih menangis mengingat pangeran Jimin. Vira mengabaikan Sean yang sedari tadi juga ada dirumahnya. Lebih tepatnya meninggalkannya diruang tamu sendiri. Tak lama Sean datang dan mendekati Vira yang langsung menyeka air matanya.


"Jika kau sudah selesai dengan patah hatimu, tolong buatkan aku makanan. Aku sudah lapar. "katanya memerintah.


"Pulanglah, aku sedang tak ingin bertengkar denganmu." kata vira mengabaikannya lagi. Sean yang tak terima lalu menarik lengan Vira dengan kencang kedekatnya.


"Kau mengusirku? "


" Ahhhkkk Sean lepaskan. ini sakit. " ringis Vira mencoba melepaskan cengkraman Sean dari lengannya tapi tenaga Sean cukup keras menahannya.


"Kau fikir aku perduli? gampang sekali kau mengusir dan mengabaikanku. Kau fikir kau siapa? "bentak Sean kasar lalu mendorong Vira hingga Vira jatuh ketanah hingga tangannya seikit tergores pasir kasar.


"Kau fikir aku tak tahu siapa dia. Diakan lelaki yang kau sukai itu? jangan banyak bermimpi Vira. Dia tak lebih baik dariku akan kutunjukkn padamu siapa yang lebih hebat diantara kami. "


"Kau sudah gila Sean. "


"Apa katamu aku gila? "tanya Sean kesal sambil menarik kasar kepala vira kehadapannya.


"Baiklah karna kau berkata aku sudah gila aku akan tunjukkan kegilaanku padamu. "kata Sean lalu melepaskan Vira kasar sambil tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2