
Keeoskan harinya ratu Safa mendapat informasi dari orang suruhannya bahwa dia sudah menemukan sosok anak Yesika.
"Pantas saja mereka begitu mirip." kata ratu Safa sedikit tersenyum sinis.
"Habisi dia, aku tak ingin ada kesalahan lagi dan aku tak ingin ada jejak. " pesan ratu Safa pada orang suruhannya itu. Sedang Ram hanya diam bediri dibelakang sambil memandang tajam kearah orang suruhan ratu Safa.
Sedang ditempat lain Vira mulai sibuk mengemasi pakaiannya dari lemari. Pangeran Jimin sedang mandi dikolam renang dan sesaat Vira melihatnya dari jendelanya.
"Semoga kau akan bahagia pangeran." bisiknya kecil dihatinya. Lalu Vira bergegas meninggalkan tempat itu sebelum pangeran menyadarinya. Vira menaiki taxi dan dia menangis disana karna itu akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan sang pangeran.
Juna juga bersiap untuk pergi keacara yang akan diselenggarakan. Dia mengenakan kemeja putih yang membuatnya kian bersinar. Namun baru saja dia keluar kamar tiba tiba Johana juga keluar dari kamarnya dengan mengenakan sebuah dress berwarna yang sama. dia terlihat rapi dan manis.
"Kau mau keluar juga? "
"Aku merasa bosan. Apa tawaranmu semalam masih berlaku? " tanya Johana sedikit malu dan Juna langsun tersenyum. Dia menghampiri gadis yang sudah lama disukainya itu dan mengusap kepalanya.
"Kau terlihat sangat manis." puji Juna tersenyum. Lalu mereka pun berangkat. Suster kepala dan suster Rebeka yang baru kembali melihat mereka saat Juna akan membukakan mobil untuk Johana. Mereka berdua tersenyum setelah saling bertatapan.
"Akhirnya mereka bisa kompak juga." kata suster Rebeka lega.
Siang itu Grace mengirim pesan pada dokter Gio dia meminta bantuan Gio untuk mengantarkannya kekantor Jero. Jero yang sudah tahu akan kedatangan Grace lalu menyiapkan berkas kontraknya. Grace dengan tanpa ragu menggoreskan tanda tangnnya disana.
"Aku akan mengabari jadwal operasimu. Semetara jagalah kesehatanmu ok." saran Jero setelah Grace menandatangani kontraknya.
"Kondisi Grace sangat baik. Ku rasa tak akan ada kendala." jawab dokter Gio menyemangati.
"Oh yah mengapa kau tak mengajak Kinan juga, apa kau sudah memberitahunya soal ini?" tanya Jero lagi dan Grace hanya tersenyum sebab dia tak memberitahu Kinan akan hal tersebut.
"Kinan sedikit sibuk. "
"Ku dengar dia seorang arsitek terkenal, aku juga mendengar banyak hal baik tentangnya. Dia cukup terkenal dikalangan para pebisnis."
"Yah, Kinan memang orang yang mudah bergaul. Apalagi dia harus bertemu banyak client karna pekerjaannya. "
"Sepertinya kau sangat mengenalnya. "
__ADS_1
"Yah begitulah, kami tumbuh bersama dipanti asuhan. "
"Oh benarkah? " Jero sedikit agak terkejut.
"Kami memang anak anak yang kurang beruntung tapi kami mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak disana. Kinan juga anak yang pintar dan pekerja keras. Dalam waktu singkat dia bisa berhasil. Aku juga bisa lulus menjadi dokter karna bantuannya. Dia yang banyak membantu biaya sekolahku."
"Dia terdengar sangat luar biasa. "
"Yah begitulah, bahkan aku merasa dia lebih dari itu. Aku sering iri dengannya dan lagi dia.... " dokter Gio menghentikan kata katanya saat teringat dengan perkataan ibu suri tentang Kinan adalah serang pangeran.
" Dia kenapa? " tanya Jero penasaran saat melihat dokter Gio sedikit melamun.
"Dia mendapat peringkat terbaik dimasa wamilnya. Dia sangat hebat bela diri dan dia juga pemimpin pasukan terbaik dimasanya. " puji dokter Gio mengalihkan fikirannya.
Setelah meninggalkan kantor Jero, Grace dan dokter Gio pun kembali. Diperjalanan dokter Gio memperhatikan wajah Grace yang sejak semalam bagai menyimpan masalah.
"Aku tahu kau tak bisa bicara. Tapi bukan berarti kau harus menahan masalahmu sendiri. " kata dokter Gio dan Grace menolehnya.
"Kau akan menjalani operasi. Kalau kau banyak fikiran kau bisa terganggu nanti. jika ada masalah yang ingin kau selesaikan sebaiknya selesai kan secepatnya. " saran dokter Gio dan Grace langsung tersenyum. Bagaimanapun dokter Gio sudah begitu baik dan memperhatikannya.
Hp Kinan berdering, ada notifikasi pesan dan dia langsung membukanya. Kinan melihat Grace disekap oleh dua orang bertopeng. Kinan yang emosi lalu menghubungi nomor pengirim pesan itu yang kemudian mengarahkannya untuk datang sendiri kesebuah tempat yag agak jauh malam itu.
Dipameran itu Johana berjalan perlahan memperhatikan satu demi satu hasil lukisan Juna yang dipajang dididing ruangan itu. Banyak sekali pengunjung yang datang, sebagian besar dari mereja adalah kalangan anak muda. Satu demi satu mereka mendekati Juna untuk mengajak berfoto bersama.
Johana merasa tersisihkan saat itu. Dia baru sadar kalau Juna ternyata sangat populer dan banyak gadis yang menyukainya.
"Kak Juna aku melihat lukisan utamamu dan aku merasa kau sedang menggambar seorang gadis yang kau sukai tapi sepertinya jarak diantara kalian sangat sulit. Apakah gadis itu pacarmu? " tanya salah seorang dari mereka.
"Apa aku terlihat sedang berkencan? " tanya Juna balik.
"Bagaimana aku bisa tahu, kakak memiliki banyak penggemar. Tapi aku tak pernah melihat kakak menggandeng gadis dimuka umum. " jawab gadis itu lagi dan seketika Johana merasa terpukul.
__ADS_1
Tak lama seoarang gadis lain muncul. Dia memakai dress yang sangat minim dan tampak sangat elegan. Bahkan kedatangannya dikawal oleh dua orang bodiguard yang bertugas mengawaskan pegunjung lain dari dekat Juna.
"Hallo namaku Sonia." sapa gadis itu sambil mengulurkan tangannya. Juna masih dengan sopan menyalaminya.
"Aku sudah lama mencari pelukis berbakat sepertimu dan aku ingin kau melukisku. Aku akan membayarmu sepadan untuk itu. " kata Sonia terus terang.
"Sebuah kehormatan jika bisa melukis gadis seanggun dirimu." jawab Juna sambil tersenyum. Sonia lalu meraih sebuah kartu nama dari tasnya dan menyerahkannya pada Juna.
"Hubungi aku segera. Aku sangat sibuk 2 hari setelah hari ini jadi ku harap kau akan menyisihkan waktumu untukku." kata Sonia lalu pergi bersama pengawalnya.
Johana mendekati Juna yang masih tersenyum senyum sendiri melihat kepergian Sonia.
"Aku mau lihat lukisan utamamu."kata Johana sedikit berbisik.
"Eh ini sudah siang, sebaiknya kita makan dulu. " saran Juna lalu mengajak Johana pergi meninggalkan tempat itu.
Ditempat lain disebuah gudang tua. Grace berusaha berontak melepaskan dirinya tapi kekuatannya tak cukup kuat. Dia tak mengerti kali ini kenapa lagi dia diculik orang yang tak dikenalinya itu.
"Kau tak perlu khawatir, kau hanyalah umpan. "kata seorang dari penculik itu lalu mendorong Grace ke dinding dengan agak kasar dengan kedua tangannya yang terikat didepan.
Tak lama Kinan datang dan dia lalu memasuki gudang itu sesuai instruksi. Kinan melihat beberapa orang bertubuh kekar dan terlatih sudah menunggunya.
"Mana dia? " tanya Kinan pelan lalu. Salah satu dari penculik itu melirik kearah sebuah pintu yang tertutup rapat.
"Baiklah kita langsung saja." kata Kinan lalu satu demi satu penculik itu menyerang Kinan. Kinan dengan mudah mengalahkan 3 dari mereka tanpa terluka sedikitpun.
Salah satu penculik itu masih duduk santai melihat perkelahian itu. Dia bagai membaca setiap pergerakan Kinan dan melihat titik lengahnya.
Setelah 5 orang tumbang akhirnya lelaki yang tadi duduk, maju sambil membawa sebuah balok ditanganinya. Dia mendekati Kinan dari belakang dan akan memukul Kinan segera tanpa Kinan sadari.
BUUUUUKKK
Kinan jatuh seketika setelah mendapat pukulan dipunggungnya dan setelah itu dia mendapatkan pukulan bertubi tubi dari pria itu hingga Kinan babak belur dan hidungnya mengeluarkan darah.
Setelah merasa Kinan tak sadarkan diri mereka menyeret Kinan dan membawanya masuk kekamar tempat Grace juga disekap.
"Kinann... " kata Grace berteriak dalam hati. Grace berusaha berdiri saat orang orang itu menghempaskan tubuh tak berdaya Kinan diatas matras usang.
__ADS_1
"KINANNNNNN" Grace berteriak keras dihatinya sembari menangis mendekati Kinan.