Unperfect

Unperfect
duel


__ADS_3

"Saat raja Fatar membuat taktik licik untuk menghancurkan kerajaan raja Weh. Dia menitipkan benihnya pada ratu Safa. Saat rafa Weh mengetahui bahwa anak yang begitu dibanggakannya bukanlah anak kandungnya dia berniat membunuh anak itu tapi ratu Safa tentu tidak akan diam. Ratu Safa membunuh raja Weh dan sebagai balas dendamnya dia menemui raja Fatar dan berniat meminta hak putranya sebagai anak sulung. Pangeran Juyon ayahmu tentu tak ingin kehilangan tahtanya. Jadi dia menyetujui anak sulungnya kelak akan menikah dengan putri dari kerajaan kami. Itulah alasan mengapa dulu ayahmu raja Juyon memaksamu menikah dengah ratu Quina. Dan kau tahu, akulah yang memerintahkan Quina untuk membunuh setiap keturunan yang lahir dari darahmu. "


"Kau benar benar licik. " serga raja Adam kesal.


"Aku licik,, ingatlah raja Adam, tahta yang kau miliki saat ini harusnya milik ayahku raja Yeon dan aku takkan membiarkan garis keturunanmu lahir dan hidup didunia ini. Akan kupastikan kau kehilangan semua keturunanmu. " raja Vitar tersenyum licik.


"Aku akan menghajarmu, aku akan membunuhmu. " teriak raja Adam kesal tapi raja Vitar tak perduli.


"Kau tak perlu begitu dramatis. Seharusnya kau berterima kasih padaku karna kebaikan ayahku, kau masih bisa menikmati tahtamu tapi itu takkan lama lagi. Dan juga kau harus berterimakasih padaku karna dengan bantuanku kau akhirnya bertemu anakmu ini. "


"Apa kalian sudah selesai? aku sudah mulai bosan dengan semua ini."



"Tenanglah anak muda. Kau persiapkan saja dirimu selagi aku menuju istana baruku. Karna aku tak mau mengotori tanganku untuk membunuh musuhku. Aku bukan orang yang keji seperti raja Fatar yang membunuh orang yang tak bersalah hanya untuk menutupi kebusukannya. "


"Ku pastikan kau takkan sampai disana. " tantang kinan begitu tenang dengan tatapan intensnya.


"Kau sangat berani, aku salut padamu. " jawab raja Vitar lalu menepuk bahu Kinan.


Setelah itu raja Vitar pergi meninggalkan tempat itu. Kinan masih diam memandangi raja Adam. Dengan perlahan dia kembali memasukkan Hpnya kedalam saku yang tadi dipakai sebagai alat perekam pembicaraan raja Vitar.


Tak lama sebuah mobil lain datang. Itu adalah Ram dan ratu Quina. Ratu Quina dengan wajah angkuhnya menghampiri raja Adam dan menyerahkan sebuah pena dan dokumen yang akan menyatakan kalau raja Adam mewariskan tahta padanya.


"Tanda tangan yang mulia." perintah ratu Quina angkuh.


"Kau wanita yang tak memikiki akal. Kau berhati keji dan jahat. Berani sekali kau menghianatiku. Berani sekali kau membunuh darah dagingku !!!"


"Apa yang mulia berfikir aku senang melakukannya? apa yang mulia tahu kekejaman apa yang kudapatkan, apa yang mulia perduli dengan semua yang kukorbankan ?" bentak ratu Quina tak mau kalah.


"Aku bukan pion dan alat yang bisa kalian gunakan. Apa yang mulia mengira aku bahagia? apa yang mulia tahu setiap malam aku tak bisa tertidur karna ancaman dari saudaraku sendiri? mereka memaksaku melakukan ini semua. Yang mulia tahu berapa banyak rasa takut yang menghantuiku setelah aku membunuh darah dagingku sendiri? apa yang mulia tahu betapa besarnya penderitaanku selama ini?


tapi tidak untuk kali ini yang mulia. Yang mulia tak perlu cemas, kalau pun setelah ini yang mulia akan mati, aku takkan menyerah tahta ini pada raja Vitar. Aku akan memimpin negara ini. Aku yang akan menjadi pemegang tahta berikutnya."

__ADS_1


"Kau sudah gila. " kata raja Adam mengejek.


"Jangan menunda lagi tanda tanngani surat ini atau mereka akan menembaknya." ancam ratu Quina sambil menatap Kinan yang masih saja tampak tenang.


"Pergilah susul Yori. Jika dia kewalahan maka jalankan rencana cadangan." Titah ibu suri pada sesorang melewati Hpnya.


Dengan rasa tak karuan dan kekahwatiran akhirnya Grace menjalani oprasinya. Didalam hatinya hanya ada doa untuk Kinan agar lelaki yang begitu dicintainya itu bisa selamat.


Kembali kegudang. Yori memantau keadaan disana seksama dan memperkirakan setiap peluang yang ada. Raja Adam tampak dengan terpaksa menanda tangani surat itu yang kemudian disimpan oleh Ram disaku jasnya.


"Bereskan semuanya, segeralah kembali." Pesan ratu Quina lalu mengulurkan tangannya pada Ram. Ram lalu mengeluarkan surat itu lagi dari sakunya dan menyerahkannya pada ratu Quina, kemudian ratu Quina pun pergi.



Ram hanya tersenyum mengiring kepergian ratu Quina. Sejumlah pasukan khusus juga masih berjaga didekatnya. Ram melirik mereka dari kanan ke kiri. Ada sekitar 10 pasukan khusus disana.


Raja Vitar benar benar sudah membuat keaamanan tingkat tinggi disana untuk mengeksekusi raja dan Kinan.


"Jadi aku adalah anak dari seoarang raja. Baiklah karna yang mulia sudah meminta maaf. Aku akan memaafkan yang mulia dengan beberapa syarat."


"Katakan anakku, walaupun keadaan ini begitu sulit tapi aku akan mengusahakannya. "


"Akan kukatakan setelah ini semua selesai. Simpan airmatamu yang mulia karna aku akan memulainya. "kata Kinan lalu menatap intens kearah Yori yang sudah bersiap dilantai dua. Yori memberinya kode anggukan bahwa dia sudah siap.



"Kau sudah siap? " tanya Kinan setelah berdiri menghadap pria yang ada dibelakangnya. Pria itu bingung dan menodong senjatanya pada Kinan tapi dengan cepat Kinan menendangnya hingga yang lain mukai panik.


Yori segera bereaksi, dia melompat kebawah dan melumpuhkan orang yang berada dibelakang raja Adam. Ram pun lalu segera mengeluarkan senjatanya dan mulai menembak satu persatu petugas yang ada diluar.


"Ini saatnya. " pangeran Jimin juga berlari mendahului yang lain dan bergerak dari arah belakang. Mereka ber 4 mencoba melumpuhkan beberapa pasukan disana.


__ADS_1


Juna dengan keahlian tinjunya mengambil satu bagian. Dia tak merasa gentar menghadapi pasukan khusus yang sebelumnya sudah dipukulnya dari belakang agar senjatanya jatuh. Pria itu juga menerima tawaran duel dari Juna.



Pangeran Jimin mengikat sarung tangannya dikepalanya dan menatap tajam lawannya. Dia membawa sebuah balok ditangannya sebagai ganti pedang. Dia bagai menantang lawannya untuk berduel dengannya. Seketika mereka juga bertarung layaknya seorang samurai.


Gio dan Jero melihat raja Adam dibawa paksa dari sana. Mereka menghadangnya, namun sepertinya mereka akan kalah jumlah dan tenaga.


"Jadi keahlian bela diri apa yang kau milik dokter?" tanya Jero saat mobil yang mereka hadang berhenti dihadapan mereka. Mereka lalu turun untuk bertarung juga.



"Kita lihat saja." kata dokter Gio lalu berjalan mendapati lawannya tanpa gentar.


Satu demi satu pasukan itu berhasil mereka lumpuhkan. Ram untuk melindungi dirinya, menyeret seorang pasukan yang sudah ditembaknya lebih dulu untuk melindungi dirinya menuju tempat aman sambil terus menembak.




Yori berjalan santai sambil sesekali menembaki para musuhnya. Dia menembaki musuhnya tepat dibagian kepala. Selagi berjalan dia juga melempar sebuah senjata lain pada Kinan.



"Bersiaplah enyah ditanganku." kata Kinan kecil sambil mengangkat senjatanya dan melirik kedepan.


Dia dan Yori maju bersama kedepan dan menghabisi satu demi satu orang disana tanpa rasa gentar. Gudang itu sangat besar sehingga mereka harus berpencar mencari raja Adam.



Setelah pelurunya habis. Kinan lalu mengambil senjata kecil lainnya yang tak kalah mematikan. Dia menyusur setiap ruangan dengan hati hati.


"Kinan kembalilah. "Grace berdoa dalam keadaannya yang sudah tak sadarkan diri dimeja operasi.

__ADS_1


__ADS_2