
Ketegangan diistana membuat ratu Quina dan ibu suri menjadi tidak tenang. Mereka sulit untuk mempercayai orang disekitar mereka. Mereka takut orang yang meracuni raja juga akan mencelakai mereka.
Pagi pagi sekali ibu suri menghampiri kamar Grace, Grace baru saja ingin keluar dan kebetulan Kinan juga baru keluar dari ruangannya.
"Ada yang ingin ku bicarakan. "
Mereka lalu ikut ibu suri keruangan khusus. Ibu suri memberikan sebuah note pada Grace agar Grace membacanya.
"Saat ini tak ada seorangpun yang bisa ku percaya. Tapi aku melihat gadis ini sangat baik jadi aku ingin dia yang merawat raja selama raja sakit. "
Grace menatap ibu suri seraya menyerahkan kembali note tersebut dan kemudian Grace menunduk seolah mengatakan bahwa dia bersedia. Tak lama seorang dayang datang menghadap ibu suri.
"Yang mulia ibu suri pengawal Ram sudah tiba."
"Suruh dia masuk."
Perintah ibu suri. Lalu sang dayang segera keluar untuk mempersilahkan Ram masuk.
Seorang pria berjas lengkap memasuki ruangan ibu suri, dia adalah Ram.
"Ram juga akan mengawas yang mulia raja. Dia salah satu mahasiswa jenius dan terlatih khusus dibagian intelijen. Dia akan membantu Grace bekerja. "
"Maaf yang mulia, apakah maksud saya juga dipanggil kemari? saya hanya seorang arsitek?"
"Tentu aku memanggilmu karna kau memiliki tugas utama diistana."
Kinan mengangkat kepalanya menatap bingung kerah ibu suri yang tersenyum padanya.
"Aku ingin kau menjadi pimpinan pasukan keamanan diistana. Aku sudah men nonjobkan panglima istana karna kegagalannya baru baru ini."
"tapi ibu suri saya tidak memiliki keterampilan untuk memimpin. "
"Jangan merendah, aku sudah tahu latar belakang pendidikan dan pengalamanmu karna itulah aku memintamu.
Aku hanya bisa mengandalkan kalian bertiga saat ini untuk membantuku mengawas istana. Saat ini kondisi pangeran dan Raja sangat memprihatinkan. Aku khawatir akan ada pihak pihak yang dengan sengaja membuat kerusuhan untuk merebut tahta raja."
Sejak saat itu Grace bertugas sebagai dayang yang mengurus keluarga kerajaan. Dia dibantu dua dayang lain yang bertugas untuk mengawasi raja dan Ram juga selalu berada disisi mereka.
"Ini sangat tidak bisa diterima. Mengapa yang mulia ibu suri dengan begitu mudah meminta orang dari kalangan biasa untuk mengurus keluarga kerajaan?"
Sela salah seorang mentri saat mereka mengadakan rapat tertutup untuk membahas kekosongan kepemimpinan selagi raja dan pangeran sakit.
"Karna saat ini aku tak bisa mempercayai siapapun diantara kalian. Bagi kalian yang mengerti situasi ini pasti bisa menerima keputusan ini. Tapi bagi beberapa penghianat mungkin akan menolaknya?"
"Apa yang mulia ibu suri menganggap bahwa aku seorang penghianat? "
"Itu tergantung bagaimana kau akan bersikap. Saat ini keselamatan raja dan pangeran adalah yang paling utama bagiku. Aku hanya akan memilih orang orang terbaik disekitar keluarga kerajaan dan lagi aku sangat mengharapkan bantuan kalian untuk tetap menjaga kestabilan segala urusan negara."
"Baik yang mulia ibu suri."
__ADS_1
Segera dari beberapa kabinet mentri menyetujuinya dan kemudian ibu suri meninggalkan ruangan itu.
Saat Kinan baru keluar dari mobil bersama ibu suri dia melihat Grace yang sekarang mengenakan seragam seorang dayang. Rambutnya yang panjang didandan dan digulung agar tampak rapi. Saat mereka berpapasan Grace dengan sopan membungkukkan badannya menyambut ibu suri.
"Kau terlihat cocok dengan seragam barumu. "
Grace hanya diam lalu mangangkat wajahnya. Dia melihat Kinan tersenyum padanya.
**
Siang itu saat Grace makan siang. Kinan muncul dan menghadiahkan sebuah paperbag untuknya. Grace menolehnya yang masih berdiri dihadapannya. Lalu Grace membukanya dan menemukan sebuah HP baru.
"ini hadiah dari ibu suri untukmu agar kau bisa berkomunikasi dengan cepat jika kau perlu bantuan."
Info Kinan dalam sebuah pesan text dihpnya.
"Aku tidak paham cara menggunakannya."
Kinan tersenyum lalu dia duduk disebelah Grace dan mengajarkan Grace cara menggunakannya dan juga menjelaskan fungsinya tak lupa mereka juga berselfi dan Kinan membuatnya sebagai wallpaper Grace.
**
"Saat ini sulit mendapatkan informasi. Panti asuhan itu pernah mengalami kebakaran dan banyak berkas yang hilang. Tapi aku sudah meminta bantuan orang dalam untuk mencarikan informasi data ditahun itu. "
"Tetap awasi saja. Aku punya firasat setelah raja dan pangeran sakit maka Yesika akan datang kesana."
"Baik yang mulia."
Kinan meminta ijin untuk menghadap ibu suri saat itu juga dan ibu suri mempersilahkannya masuk.
"Ada yang ingin kau sampaikan? "
"Yang mulia ibu suri saya ingin meminta ijin untuk kembali kekota malam ini karna besok adalah hari ulang tahun ibu saya. Saya ingin menghadirinya."
Kinan menyampaikan permohonannya sembari menunduk dihadapan ibu suri.
"Baiklah kau boleh pergi, tapi setelah itu segeralah kembali."
**
malam itu Kinan berkemas. Dia tak membawa banyak barang. Hanya beberapa barang pribadi yang dianggap penting.
Grace yang baru akan kembali keruangannya melihat Kinan tampak bersiap untuk pergi.
"Kau mau kemana? "
"Aku harus kembali kekota. Ada urusan, aku akan segera kembali."
__ADS_1
"Baiklah hati hati."
Kinan tersenyum kecil lalu mengembalikam note Grace. Dia lalu melangkah dan dia menyempatkan mengusap kepala Grace sembari menuju mobilnya. Grace tersipu dan memandangi Kinan yang kemudian melambaikan tangan padanya sambil tersenyum.
Grace masuk kekamarnya. Dia masih teringat bagaimana Kinan mengusap kepalanya hingga membuatnya deg degan. Grace lalu membuaka Hpnya dan melihat gambar mereka disana. Sebuah senyum menghiasi wajahnya. Hatinya bergetar mengingat bagaimana Kinan selama ini begitu baik padanya.
Grace merasakan sesuatu yang lain dihatinya dan itu buatnya begitu gembira. Grace kemudian mandi dan kemudia dia berjalan kedepan cermin untuk mengeringkan rambutnya yang panjang.
Wajah kinan masih terbayang bayang dihati dan fikirannya.
Apakah ini berarti aku menyukainya
Tanyanya pada dirinya sendiri lalu Grace menatap dirinya dicermin. Senyumnya memudar kala matanya melihat bekas jahitan yang kentara yang menjadi cacat pada tubuhnya. Wajah Grace mendadak murung dan tertunduk. Dia lalu mengabaikan hatinya itu dan pergi untuk tidur.
Kinan mendorong sedikit pintu ruang kerja suster kepala setelah dia sampai. Kepalanya melongo membuat suster kepala tampak girang.
"Kau sudah pulang, kenapa malam sekali? "
"Aku ada urusan mendadak bu."
"Duduklah dulu, kebetulan kau datang ada yang ingin ku katakan."
Kata suster kepala lagi. Kinan segera duduk, dia melihat wajah suster cukup serius.
"Ibumu ada disini."
Kinan berlari cepat menuju sebuah kamar yang dimaksud suster kepala. Sudah lama sekali Kinan menunggu waktu untuk bertemu sang ibu.
Yesika terdiam saat melihat Kinan berdiri didepan pintunya. Kinan masih mengatur nafasnya sambil terus memandang ibunya itu. Yesika berjalan pelan mendapatinya, Hatinya terharu melihat anak lelakinya itu tumbuh besar.
"Ibu... "
Panggil Kinan dan segera Yesika memeluknya. Yesika menangis melepas semua kerinduannya pada anak sematang wayangnya itu. Bahkan sekarang anaknya sudah jauh lebih tinggi dari pada dirinya.
" Ibu sangat senang melihatmu saat ini, ibu berhutang banyak pada suster kepala karna beliau sudah membesarkanmu dengan baik. Suster kepala sudah menceritakan semua tentangmu."
Cerita Yesika setelah mereka berdua duduk diujung matras dikamar itu. Kedua tangan Kinan digenggamnya erat sambil sesekali mengusap air matanya.
"Kenapa begitu lama ibu meninggalkanku? Ku fikir ibu takkan kembali lagi."
"Ibu tak pernah jauh darimu anakku. ibu selalu mengawasimu selama ini."
"Bu...., apakah ibu akan meninggalkanku lagi?"
Yesika menatapnya sambil tersenyum.
" Bu aku sudah mapan, ku mohon jangan lagi meninggalkanku. Tinggallah bersamaku, aku sudah menyiapkan rumah untuk kita. "
Kinan berusaha membujuknya tapi Yesika hanya diam dan menangis. Kinan lalu berlutut dihadapan ibunya dan menggenggam tangan ibunya erat berniat memohon padanya.
__ADS_1
"Bu kau ingin aku menjadi anak yang membanggakanmu, sudah ku lakukan bu. Saat ini aku punya semua dan itu lebih dari cukup untuk kita. Aku sudah lama menunggumu, aku tak ingin kau pergi lagi bu."
"Kinan anakku, jika ibu disisimu itu akan membahayakanmu. Ibu tak ingin hal buruk terjadi padamu."