
Sore itu Lisa perawat Gio mendatangi rumah sakit tempat pangeran akan dirawat dia memasuki ruang ganti para perawat disana. Seorang perawat lain sedang sibuk mempersiapkannya dirinya untuk bekerja. Perawat itu adalah asisten dokter yang mengurus pangeran.
Dengan segera Lisa membius perawat tersebut dan kemudian Juna datang membantunya memindahkan perawat itu keruangan lain dan membaringkannya disana.
Lisa lalu menganti pakaiannya dan memakai masker. Dia memastikan penampilannya sudah seperti perawat sebelumnya.
Lisa lalu berjalan menuju ruang dokter. Sang dokter tampak sudah menyiapkan sebuah suntik berisikan racun. Tak lama mereka pun menuju rungan sang pangeran.
" Kami akan menyuntik pangeran. "
Kata dokter tersebut. Lalu Selir Yana beranjak dari tempat duduknya. Dia membiarkan sang dokter memeriksa keadaan pangeran terlebih dahulu lalu menyuntikkan obat tersebut pada pangeran.
Selir Yana dalam ketakutan dan kecemasannya terus berdoa didalam hatinya. Semoga pangeran akan baik baik saja. Setelah selesai melakukan tugasnya dokter dan dan perawatnya pun meninggalkan ruangan tersebut.
Tiiiiiiiit
Sebuah suara dari mesin disebelah matras pengeran berbunyi. Selir Yana mengangkat kepalanya saat dia baru saja memeluk pangeran dengan khawatir. Itu Adalah pertanda bahwa jantung pangeran tak berdetak lagi.
"Pangeran... "
Sebuah teriakan kencang terdengar dari ruangan tersebut. Sang pengawal masuk dan melihat selir Yana menangis histeris mencoba membangunkan pangeran. Tak lama para dokter dan perawat datang untuk memeriksa kondisi pangeran.
" Yang mulia ada telepon dari rumah sakit."
Setelah menerima telpon dari rumah sakit ibu suri dan ratu Quina segera menuju kesana. Disepanjang jalan ratu Quina menangis tak percaya mendapat kabar tersebut sedang ibu suri hanya memasang wajah murung yang menakutkan. Dia tak menangis sedikit pun.
Setibanya diruangan pangeran mereka mendapati selir Yana masih menangis sedang sang pangeran sedang diurus pihak rumah sakit agar segera dipindahkan kerumah duka.
" Sudahlah selir Yana, iklaskan saja kepergian anakmu. selama dirawat disini tentu diapun merasa lelah. Sekarang dia akan tenang disana. Berdoalah saja untuknya. "
Ibu suri mencoba menenangkan selir Yana dipelukannya. Lalu ibu suri membantu selir Yana berdiri dan mereka meninggalkan tempat itu.
"Kepala Kinan, tolong urus semua. Aku akan membawa selir Yana kembali pulang."
"Baik yang mulia."
Lalu pihak rumah sakit pun memindahkan pangeran Jimin kedalam peti. Dengan rombongan iring iringan mereka lalu membawa pangeran menuju rumah duka. Kinan yang menyetir dibarisan paling depan dan disusul oleh mobil jenazah yang sudah diatur oleh Kinan.
Juna adalah orang yang membawa mobil itu. Sedang rombongan ratu Quina berada dibarisan kedua dan diikuti oleh rombongan ibu suri dan beberapa pihak kerajaan dan juga para reporter yang sudah meramaikan rumah sakit sebelumnya.
Dalam waktu yang singkat kabar kematian pangeran menyebar luas dan sampai ketelinga raja Visar. Mendapat kabar tersebut membuatnya sangat senang. Dia tersenyum licik karna sudah mendekati tujuannya.
Kinan menyetir agak kencang dan diikuti Juna dibelakangnya.. Dijalan yang sepi dan agak gelap sebuah ambulans lain terdengar mendekati mereka menuju arah yang sama. Ram menginjak remnya saat pengendara lain tiba tiba muncul dan mobil ambulance melewati mereka dengan cepat.
"Apa yang terjadi? "
Tanya ratu Quina setelah dia memperbaiki posisi duduknya karna sempat terhempas kedepan.
__ADS_1
"Ada pasien emergency yang mulia."
Jelas Ram lalu kembali melajukan mobilnya tanpa sang ratu sadari bahwa mobil itu hanyalah alat untuk mengakalinya.
Juna segera mengebut dan mengambil jalan lain sementara mobil yang baru datang berada dibelakang mobil Kinan mengikuti iring irangan menuju rumah duka.
Sementara ratu dan ibu suri kembali ke istana untuk berganti pakaian. pangeran Jimin sudah dilarikan kesalah satu rumah milik Kinan yang berada tak jauh dari panti asuhan.
Dokter Gio sudah stand by menunggu mereka disana dan dia segera memeriksa keadaan pangeran yang sebelumnya telah mati suri karna pengaruh obat yang mereka berikan.
Perlahan ratu dan ibu suri juga selir Yana memasuki istana. Grace berlari cepat dengan wajah khawatirnya untuk menyambut mereka.
"Tolong siapkan pakaian selir Yana agar kami segera berangkat kerumah duka."
"Baik yang mulia ibu suri."
Kata dayang Raya. Mereka lalu membantu selir Yana menuju kamarnya. Ratu Quina juga segera masuk kekamarnya untuk bersiap begitupun dengan ibu suri.
Setelah semua selesai Grace datang menghampiri Kinan dengan wajah khawatirnya.
"Istirahatlah semua akan baik baik saja."
Kata Kinan pelan dengan sedikit tertunduk saat dia berpapasan dengan Grace. Tak lupa dia mengusap kepala Grace lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi.
Ram juga tampak sibuk disekitar ratu Quina.
Upacara pemakaman sore itu pun dilakukan sangat tertutup. Hanya beberapa anggota kerajaan yang diperbolehkan untuk hadir. Mereka menaburi kuntum bunga disana.
"Bagaimana keadaannya? "
Tanya suster kepala saat datang untuk menjenguk pangeran dikamarnya.
"Kita berdoa saja agar dia segera pulih. Aku sudah memberikan beberapa obat untuknya dan sepertinya dia mulai mengalami kemajuan. Aku sudah melihatnya mengerakkan jarinya tadi."
Jelas Gio sambil mengemasi barang barangnya didekat meja.
"Baguslah "
" Aku akan kembali lagi besok. Sementara Juna akan menjaganya. "
"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu. Juna tak punya pengalawan merawat, apalagi ini adalah pangeran."
__ADS_1
" Suster tenang saja, aku akan mengirimkan seorang perawat baru kesini. Dia sangat baik. Ku rasa dia akan sampai sejam lagi."
"Oh baguslah kalau begitu. "
"Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu yah. suster juga langsung istirahat, jangan karna aku seorang dokter suster kepala jadi sering sakit."
"Hahaha, kau tahu aku sering sakit belakangan ini karna merindukan kalian semua. Setelah kalian dewasa kalian sibuk bekerja. Kau dan Kinan sama saja, sangat jarang pulang. "
"Kamikan sibuk bekerja, bukankah dulu suster selalu berkata ingin melihat kami menjadi orang sukses."
"Yah dan sekarang aku sudah melihat semua anakku tumbuh dewasa dan sukses. Dulu saat kalian kecil hanya suara kalian yang terdengar disetiap sudut ruangan. Sekarang aku hanya bisa memutar vidio lama hanya untuk mengurangi rasa sepiku."
" Hahaha, aku tahu. Tapi tolong jangan bersikap manja begini. ini sangat membuatku patah hati."
Keluh Gio mencandai suster kepala selagi mereka berjalan keluar menuju parkiran.
Juna tampak sibuk sendiri dengan Hpnya diteras. Dia membiarkan Tv diruang tamu menyala sedang Johana masih sibuk dengan laptopnya di ruang makan. Tak lama muncul seorang gadis berambut sebahu disana.
"Selamat malam. "
Sapanya sedikit sungkan. Juna melirik gadis itu. penampilannya terlihat sederhana. Dia menenteng sebuah tas berukuran sedang di tangannya.
" Hallo nama saya Vira, saya disuruh kak Gio kesini untuk merawat pangeran."
Juna segera mendekatinya dan membantu membawakan tasnya.
"Oh iyah, perkenalkan namaku Juna. hayo silahkan masuk."
Ajak Juna lalu mengajak Vira masuk. Johana menyoroti kedatangan mereka dan dia segera mendapati mereka diruang tengah.
"Oh yah perkenalkan ini Johana. "
Juna memperkenalkan.
" Hallo namaku Vira."
" Johana"
.
" Bukankah kau penulis terkenal itu? senang sekali bisa bertemu disini."
Kata kata Vira hingga membuat Johana tersipu malu.
" Aku salah satu penggemarmu. Aku bahkan sudah tidak sabar untuk menonton film pertamamu."
"Benarkah ?"
__ADS_1
"Aku sangat beruntung. Aku menunggu tulisanmu berikutnya. Aku sangat berharap itu akan menjadi lebih bagus. Kau sangat hebat."