Unperfect

Unperfect
rencana baru


__ADS_3


Kinan datang mencari Johana kekamarnya. Saat itu Johana masih menangis dibawah matrasnya. Dia menekuk kakinya dan menyandarkan kepalanya disana.


"Jo... "


Panggil Kinan pelan. Johana mengangkat wajahnya tanpa memandang Kinan. Dengan pelan Kinan menyeka rambutnya dan memperbaikinya. Wajah Johana basah karna airmatanya.


"Maaf aku tidak bermaksud kasar padamu, aku hanya tidak suka kau berbicara begitu."


"Ini pertama kalinya kau memukulku."


"Aku minta maaf."


"Apakah kau menyukainya? "


Tanya Johana sambil menatap Kinan namun kinan tak menjawabnya.


"Apakah kau sama sekali tak menyukaiku? apakah dia lebih baik dariku atau apa karna aku yatim piatu sehingga kau tak ingin bersamaku? "


"Jangan bicara begitu."


"Kalau begitu katakan kau menyukaiku, aku sudah lama menunggumu dan kau sudah berjanji padaku. "


"Aku tahu.. "


Jawab Kinan serba salah. Lalu Johana segera menghambur kepelukan kinan dan menangis disana.


"Aku sangat mencintaimu, aku tak suka jika kau bersama gadis lain. Aku merasa sangat cemburu."


"Hei,, mana boleh bicara begitu."


"Pokoknya aku tidak suka."


Kata Johana kencang hingga Grace yang berada dikamar sebelah bisa dengan jelas mendengarnya. Grace tak mau terbawa perasaan lagi. Grace mengemasi barang barangnya karna mereka harus segera kembali keistana sore itu.



Kinan melambaikan tangannya kearah anak anak sebelum dia masuk kedalam mobil. Grace sudah duduk disana sebelumnya. Grace membuang pandangannya keluar yang berarti dia tak ingin diganggu.


**


Tepat pukul 6 sore mereka tiba diistana. Grace segera masuk kekamarnya tanpa menoleh kearah Kinan lagi.


"Yang mulia.. "


Sapa Kinan saat dia datang untuk menghadap ibu suri malam itu.


"Kau sudah kembali, masuklah. "


Kinan segera masuk dan mendekati ibu suri yang sedang duduk bersantai memandangi taman bunga mereka dari lantai dua istana.


"Apa kau sudah mengerjakannya? "

__ADS_1


"Sudah yang mulia, tapi sepertinya akan ada beberapa perubahan. "


" Benarkah,,, besok pagi akan ada rapat penting dengan para petinggi kerajaan, Ikutlah denganku."


"Baik yang mulia."


**


Keesokan paginya Grace seperti biasa mendatangi kediaman raja Adam dan kembali bertugas seperti biasa.


"Dimana pengawas Ram, bukahkah dia yang bertugas menjaga yang mulia raja? "


Tanya Grace pada dayang raya saat mereka akan keluar dari ruangan raja.


" Sejak semalam pengawas Ram bertugas mengawal ibu ratu. Jadi ibu ratu mengantinya dengan pengawas yang baru. "


"Jadi pengawas Ram tidak akan kesini lagi? "


" Dia akan datang. Dia hanya akan pergi jika ibu ratu membutuhkannya."


Terang dayang Raya lagi sambil mengembalikan note book Grace. Grace lalu melanjutkan langkahnya kedapur untuk mengembalikan piring kotor dan disana dia bertemu pengawas Ram.


"Ada yang ingin ku tunjukkan padamu, ikutlah."


Kata Ram melalui pesan textnya. Lalu Ram mengajak Grace keruang kerjanya dan menunjukkam miniatur milik pangeran sudah selesai diperbaikinya. Grace tampak takjub dengan hasil kerja Ram.


"Ini sangat bagus, yang mulia pasti senang melihatnya. Aku akan mengantarkannya kekamar yang mulia."


Lalu Grace berjalan kegirangan menuju kamar raja Adam. Dia memegang erat miniatur tersebut dengan kedua tangannya. Ram sendiri ikut berjalan beriringan dengannya.



"Yang mulia."


Sapa Ram seraya memberi hormat bersama Grace disisihnya.


" Bukankah ini miniatur pangeran? "


"Benar yang mulia, dayang Grace ingin memperbaikinya jadi saya membantunya."


"Itu bagus."


Kata ibu suri lalu melanjutkan kembali langkahnya.



Ram dan Kinan kini saling menatap. Sebuah tatapan yang kurang bersahabat ditangkap oleh mata ratu Quina saat dia juga akan datang melihat kondisi raja.


" Pengawas Ram, ikutlah denganku."


"Baik yang mulia"


Segera Ram bersiap. Dia lalu mengembalikan buku note Grace lalu ikut melangkah mengawal ratu Quina.

__ADS_1


Grace melanjutkan langkahnya menuju ruangan raja. Dia meletakan miniatur tersebut diatas meja didepan matras sang raja agar raja bisa kembali melihatnya.


Setelah itu Grace kembali duduk dan ingin membuka buku note kecilnya. Ada sepucuk surat terselip disana. Sebelum membuka buku notenya lebar Grace segera menutupnya kembali.


"Aku meninggalkan sesuatu dikamarku, aku akan segera kembali. "


Kata Grace pada dayang Raya melalui pesan textnya. Lalu Grace menuju kamarnya. Dia mengunci pintu dan memastikan keadaan sudah aman.


Segera Grace membuka isi surat itu dan dia lalu membacanya dan kemudian mengirimkan fotonya pada Kinan.


Saat itu Kinan dan ibu suri dalam perjalanan menuju gedung pertemuan. Kinan membuka isi pesan itu dan membacanya.


Para petinggi kerajaan tampak sudah duduk rapi dikursi mereka masing masing. Ratu Quina masuk dan kemudian disusul oleh ibu suri. Hari itu mereka membahas masalah kekosongan kepemimpinan. Beberapa mentri dan kabinet kerja mendesak agar ibu suri segera memilih ratu sebagai pengganti raja untuk memimpin kerajaan.


"Kita tidak boleh mengambil keputusan mendesak karna kondisi sekarang ini. Saat ini yang mulia raja Adam dan pangeran Jimin memang belum menunjukkan perkembangan tapi aku belum menyerah. Aku akan tetap berusaha dan karna itu aku percaya ratu akan berpikiran yang sama. Benarkan ratu Quina?"


Ratu Quina segera membenarkannya karna dia tak ingin terlalu menunjukkan niatnya dihadapan ibu suri. Jika dia ngotot mengajukan diri sama saja akan memancing kecurigaan.


"Aku tidak punya pilihan lain. Pangeran harus segera mati."


Sarkas ratu Quina kesal setelah dia sampai didalam mobil. Ram melihat emosi sang ratu sedang meledak. Nafasnya sampai kembang kempis tak karuan.


"Akan saya urus yang mulia."


Siang itu Grace menuju rumah sakit tempat pangeran Jimin dirawat. Disana dia melihat selir Yana masih tampak sedih dan masih setia duduk disisi pangeran.


" Yang mulia, saya datang untuk mengantarkan pakaian dan keperluan yang mulia lainnya."


Kata Grace melalui notenya


selir Yana lalu menerima barang yang dibawakan Grace. Grace melihat pangeran Jimin masih belum siuman dan hanya bisa terbaring diatas ranjangnya.


Selir Yana lalu mengajak Grace untuk duduk disampingnya dan Grace kembali menuliskan sesuatu dinotenya.


"Yang mulia saat membaca semua pesanku ini ku mohon tetaplah bersikap seperti biasa karna aku akan menyampaikan pesan penting dari yang mulia ibu suri. Ada beberapa penyedap dan kamera tersembunyi disini jadi kita akan tetap berkomunikasi seperti ini agar tak ada yang curiga. "


"Kau baik sekali, trimakasih atas bantuanmu. Aku sangat senang."


Balas Selir Yana sedikit tersenyum setelah mengetahui maksud Grace.


" Aku meletakan sepucuk surat dikantung coat yang mulia. Keluarlah dari ruangan ini untuk membacanya. Ini demi keselamatan pangeran ."


"Baiklah,, sekali lagi trimakasih. "


Setelah itu Grace pun berpamitan untuk pulang. Selir Yana duduk disisi pangeran Jimin lalu dia menyeka kening pangeran.


Sesuai dengan anjuran Grace, selir Yana pun lalu mandi. Cuaca hari itu dingin. selir Yana lalu keluar dari sana.


"Aku akan beli kopi sebentar. tolong jagalah sebentar."


Pesan Selir Yana lalu berjalan meninggalkan ruangan itu. Selir Yana menuju salah satu cafe didepan rumah sakit. Setelah memesan secangkir kopi selir Yana lalu menuju ketoilet. Segera dia membaca isi pesan dari ibu suri.


" Selir Yana saat ini beberapa kekacauan menimpa istana. Aku mempercayaimu karna kau adalah ibu pangeran dan demi keselamatan pangeran aku ingin kau mau bekerja sama untuk kepentingan kita.

__ADS_1


Akan ada dokter yang meracuni pangeran malam ini tapi kau tenang saja akan ku pastikan pangeran aman. Kau harus beracting seolah pangeran sudah mati. Saat pangeran akan dibawa keluar akan ada yang mengurusnya dan memindahkannya ketempat yang aman. Kau percayalah semua akan baik baik saja. "


Selir Yana menangis saat tahu akan ada orang yang mencelakai sang pangeran tapi demi pangeran selir Yana akan mencoba mengikuti arahan ibu suri. Dia lalu keluar dan segera kembali ke rumah sakit.


__ADS_2