
Vira baru saja sampai dirumah orangtuanya. setibanya diruang tamu dia sedikit heran mendapati tamu. Tampak sepasang suami istri dan juga seorang pemuda yang langsung tersenyum padanya.
"Vira sini sayang." panggil Ny. Memey pada putri angkatnya itu. Vira dengan sopan segera menghampiri mereka dan menyapa tamu mereka sebelum akhirnya duduk diantara ayah dan ibunya.
"Mereka ini teman lama ayahmu. Mereka baru datang kesini dan kau tahu mereka ingin melamarmu agar hubungan kita bisa menjadi lebih dekat." terang Ny. Memey yang sontak membuat Vira syok. Dia menatap ibunya tak percaya yang dengan mudah ingin menjodohkannya dengan pria yang sama sekali tak dikenalinya itu.
"Ny. Sarah bercerita pada ibu. Sean anak bungsunya belum pernah berpacaran karna sangat sibuk menyelesaikan studinya diluar negeri dan sekarang dia sibuk mengurus usaha keluarga. Sean anak yang baik dan pekerja keras, saking sibuknya tak punya waktu mencari pacar jadi kami berfikir untuk menjodohkan kalian. "
"ibu..., bukannya aku bermaksud tidak sopan tapi ku rasa ini terlalu cepat. Aku baru selesai kuliah, aku masih ingin bekerja untuk membalas kebaikan ayah dan ibu. "
" Sayang, ayah dan ibu mengerti maksudmu tapi kami berfikir buat apa kau bersusah payah bekerja jika kelak suamimu mampu membiayaimu. "
"Tapi bu.... "
" Ibu tidak ingin kau membantah. Dengarkan ayah dan ibu, menikahlah dengan Sean. Kau akan bahagia sayang. " Tegas Ny. Memey lagi hingga Vira tak mampu berkutik. Vira hanya tersenyum kecil lalu menatap laki laki bernama Sean itu.
Sean tersenyum kecil padanya namun bagai ada maksud lain dalam senyumnya itu.
Setelah Sean dan keluarganya pulang, Vira pun bergegas masuk kedalam kamarnya. Dia duduk didepan cerminnya dan mulai menangis disana. Vira dihadapkan pada pilihan hidup yang sama sekali tak diinginkannya.
"Vira... " ayahnya mendapatinya didalam kamarnya. Ayah Vira adalah seorang mantan militer dan dia sangat tegas.
"Ayah.... aku belum ingin menikah. Ku mohon batalkanlah perjodohan ini." pinta Vira sambil tertunduk. Ayah Vira mendekatinya, beliau melihat sebuah mading didekat meja rias Vira. Banyak foto pangeran yang mengenakan topeng dipajang disana.
Ayah Vira meraih mading itu dan lalu menghempaskannya kelantai membuat Vira terkejut.
"Kau menolak seorang pria baik dan sudah jelas hidupnya hanya karna orang tak berguna inikan? " tebak ayahnya Vira sambil memandang salah satu poster grup sang pangeran. Lalu poster itupun dirobek robek beliau.
" Sadar Vira, jangan buang buang waktumu untuk menyukai orang orang seperti mereka. Mereka itu tak nyata. Kau terlalu terobsesi hingga tak bisa berfikir logika. "
"Ayah... "
"DIAM...., sudah berulang kali ayah memperingatkanmu. Sadar vira, buka matamu, dia bahkan tak tahu kau ada didunia ini dan kau masih begitu mengidolakannya. Kau sadar berapa banyak orang yang menyukainya didunia ini. Kau hanya membuang buang uang, tenaga dan waktumu untuk mencintai orang yang salah. " terang ayah Vira panjang lebar hingga Vira makin merasa sedih.
"Sean adalah anak yang baik. Berpacaranlah dengannya sebelum akhirnya kalian menikah. Itu akan lebih baik untukmu. Hentikan pekerjaanmu dan fokuslah dengan Sean. Ayah tak ingin kau punya alasan tak mengenalinya. "
Ayah Vira meninggalkan Vira dikamarnya. Vira lalu memungut robekan poster pangeran Jimin dan sesekali dia menyeka air matanya.
Sedang dirumah sakit saat Grace sedang melamun mempertimbangkan tawaran Jero seseorang mengetuk pintuka kamarnya dan kemudian masuk. Itu adalah Johana yang kemudian datang menghampirinya.
"Aku datang kesini bukan untuk minta dikasihani. Juga bukan untuk meminta padamu. Mungkin kau sekarang merasa menang karna akhirnya kau yang mendapatkan kontrak itu tapi aku takkan menyerah untuk Kinan.
Kau tahu bahwa tak baik mengingkari janji dan Kinan sudah berjanji padaku. Tolong sadarlah pada kondisimu. Keadaanmu yang seperti ini hanya akan membuat kinan menderita.
__ADS_1
Mungkin sekarang kau merasa hubungan kalian baik baik saja tapi kalau kau bersikeras untuk melanjutkannya maka perlahan kau akan mulai mendapati masalahmu.
Mungkin Kinan dengan hatinya yang masih mencintaimu bisa menerima keadaanmu tapi bagaimana kalian bisa bertahan untuk waktu yang lama ? bagaimana kau akan terus berkomunikasi dengannya dan semua orang disekitarnya? apa kau ingin Kinan menjadi pembantumu seperti apa yang sudah dilakukan ayahmu? demi untukmu ayahmu memilih hidup menderita mengasingkan diri. Walaupun dia tampak tegar tapi kau tak melihat bagaimana orang akan menghina ayahmu karnamu dibelakangmu. Apa kau mau Kinan juga mendapat hinaan itu, apa kau mau orang akan mengejeknya dengan berkata betapa kasihannya Kinan hidup dengan gadis bisu sepertimu ? walaupun mereka akan tersenyum didepanmu tapi ketahuilah mereka hanya menghinamu dibelakang dan menaruh belas kasih padamu.
Dan jika kau masih mengabaikan semua itu. Jika pun kalian akan menikah, bagaimana kau bisa menghadapi anak anakmu kelak, bagaimana kau akan mengajarinya berbicara, bagaimana kau akan membujuknya saat dia menangis, dan bagaimana dia bisa tahan menerima hinaan dengan keadaanmu?
Tolong sadarlah, tinggalkan Kinan. Dia layak mendapatkan yang pantas untuknya. " kata Johana panjang lebar dengan menahan sedikit emosi dihatinya.
Setelah itu Johana pergi, Grace terdiam dan dia berfikir kalau apa yang dikatakan Johana adalah benar adanya. Grace menunduk dan menyandarkan kepalanya di lututnya.
Malam itu Vira kembali kerumah Kinan. Saat itu pangeran Jimin baru saja selesai latihan coreo sendiri disana. Ditubuhnya bercucuran sedikit keringat.
"Oh kau dari mana saja? kau pergi lama sekali." kata pangeran Jimin saat Vira mendekatinya
"Ibuku sakit jadi aku pulang untuk mengurusnya. "bohong Vira lalu mulai sibuk melap kening pangeran Jimin. Pangeran Jimin memperhatikan mata Vira yang memerah.
"Kau baru menangis? matamu sampai bengkak."
"Aku hanya menghawatirkan ibuku. "
"Apakah keadaannya sangat serius?"
"Dia akan baik baik saja. Aku akan mengurusnya. "kata Vira lagi lalu sibuk merapikan tempat tidur pangeran.
"Ohh, aku sangat bosan jadi aku sibuk sendiri. Sori jadi berantakan begini."
" yah sudah, kau mandilah. Aku akan siapkan makan malam setelah ini. "
"Oh ok" pangeran jimin pun lalu pergi untuk mandi. Vira pun masih lanjutkan pekerjaannya dan setelah itu dia turun untuk menyiapkan sarapan.
"Ada yang bisa ku bantu? " tanya Juna yang baru saja datang untuk menghampiri Vira. Vira meliriknya dan tersenyum padanya.
"Tidak usah aku bisa sendiri. "
"Kalau begitu aku akan temani saja."
"Johana dimana, apakah dia sudah merasa baikan? "
"Sepertinya begitu, tadi dia juga pergi ke Rs untuk mengunjungi Grace. "
__ADS_1
"Mereka sudah berbaikan? "
"Ku harap begitu. "
" Johana pasti sedih dengan masalah yang, menimpanya cobalah untuk menghiburnya."
" Percuma, dia tak menyukaiku. Dia takkan terhibur denganku. "
" Kalau begitu buat dia menyadari bagaimana berharganya dirimu. Buat dia merasa cemburu supaya dia sadar bahwa kau pantas untuknya. "
"Ahh kau benar juga. Aku akan coba. "
"Itu harus, kalian juga tampak serasi. "
"Kau dan pangeran juga serasi. Tapi sampai kapan kalian begini? cepat atau lambat pangeran juga akan kembali ke istana. Ku dengar jika seorang pangeran nanti menjadi raja dia bisa memiliki banyak selir, apa kau tak keberatan dimadu olehnya? "
"Apakah tak ada pertanyaaan lain yang bisa kau tanyakan? kau membuatku kesal saja. "
"Hei.. aku hanya mau membantumu agar mengantisipasi hal tersebut. "
"Kau benar benar tidak tahu terimakasih. Aku sudah memberi solusi untuk hubunganmu dengan Jo tapi kau malah mengatakan hal begitu, benar benar kau ini. "
"Hei jangan mengomeliku begitu. Aku mengatakannya juga karna perduli padamu. Aku tak ingin kau bersedih nanti. "
"Ahh sudahlah, moodku rusak. Kau beli makanan siap saji saja. " kata Vira sambil meletakkn pisau ditangannya dan kemudian pergi.
" Hei.. Vira, mengapa kau mengambek begitu. hei... " panggil Juna sedikit tertawa melihat tingkah Vira yang mengambek dan kabur menuju kolam disamping.
Kebetulan Johana pulang dan melihat Juna berdiri didapur.
"Kau mau memasak? " tanya Johana karna dia tahu Juna tak bisa memasak.
"Yah begitulah, tapi... "
" Yah sudah sini ku bantu. " kata Johana menawarkan. Juna sedikit terkejut tapi dia kemudian senang karna Johana mulai perduli.
"Aku bisa bantu apa? " tanya Juna perhatian.
"Kupas bawang saja lalu iris. " perintah Johana seraya menyerahkan pisau kepada Juna.
"Ok" Juna bersiap dan mulai sibuk sendiri.
"Ehmm Jo, besok aku akan menghadiri acara pergelaran lukisanku, apa kau mau ikut ?"
__ADS_1
"Tidak mau, itu akan membosankan. "
" lebih membosankan sendirian dikamar." sindir Juna tapi Johana tak merespon. Dia sibuk melanjutkan acara memasaknya.