
Diistana ratu Quina merasa sangat gelisah dan untuk membuang kegelisahaannya itu dia datang kekamar raja. Ram masih berdiri diluar. Dia segera membungkukan badannya untuk memberi hormat pada beliau.
" Yang mulia."
Sapa Ram, ratu Quina hanya tersenyum lalu beliau masuk kedalam tanpa dikawal dayangnya. Hanya Ram yang ikut menemaninya
Ratu Quina duduk disisi raja. Ratu Quina memandangi raja Adam yang sedang beristirahat. Sesekali ratu Quina menggigit bibirnya, wajahnya tampak sedikit sedih.
"Apakah yang mulia baik baik saja? "
Tanya Ram perhatian.
"Ehmm, aku baik baik saja."
"Tapi tampaknya yang mulia sedikit cemas. "
" Pangeran dan yang mulia raja sedang terbaring tak berdaya. Semua beban terasa menumpuk dipundakku. Ini membuatku tak tenang. "
Ram terdiam sejenak lalu dia menghampiri beliau sambil merogoh sesuatu disakunya.
" Maaf jika ini terasa lancang, tapi melihat yang mulia ratu bersedih saya sedikit khawatir. Biasanya saya selalu mengunyah permen setiap kali saya merasa sterss. Mungkin yang mulia mau mencoba."
Kata Ram sembari menawarkan sebuah permen karet pada ratu Quina. Ratu Quina memandangnya sejenak. Ide itu sedikit kekanak kanakkan tapi dia tetap ingin mencobanya.
" Terimakasih "
" Sama sama yang mulia."
Lalu Ram membiarkan ratu Quina menikmati permen karetnya. Mulut sang ratu mulai tampak sibuk mengunyah hingga dia mulai berhenti memikirkan masalahnya.
"Jika ratu merasa kurang bersemangat, saya bisa menceritakan beberapa lelucon agar yang mulia merasa terhibur."
"Kau bisa membuat lelucon? "
Tanya ratu Quina tak percaya. Dia memperhatikan Ram seksama. Dari penampilannya yang berkarisma dan tegas dia tidak tampak sebagai pelawak.
"Saya memang tak pandai membuat lelucon tapi saya punya rahasia kecil yang menurut orang lain itu sangat lucu dan karna kebiasaan buruk saya itu orang orang jadi memandang saya aneh."
Jawab Ram sedikit malu sembari menyembunyikan senyum dan lesung pipinya kala dia menunduk. Ratu Quina mengerjitkan dahinya dan menatap Ram lekat.
" Oh yah,, rahasia apa? "
" Sebenarnya saya sangat malu mengatakannya. Saya harap yang mulia takkan menertawakan saya karna hal ini."
" Yah tentu, hayo katakanlah. Aku jadi penasaran."
" Saya punya rahasia kecil yaitu saya sering mengompol dimalam hari. "
Kata Ram sangat malu. Jelas hal itu membuat sang ratu tertawa lepas tak percaya. Beliau sampai sedikit menutup mulutnya agar tetap terlihat sopan.
" Benarkah.., itu sangat buruk. Kau sudah sangat dewasa. "
" Benar yang mulia, Saya menyembunyikan hal ini dari banyak orang. Saya sangat tertekan jika ada orang yang tahu soal hal ini. Ini membuat saya tampak buruk dan jelas merusak citra saya yang berkarisma ini."
Jelas Ram dan seketika wajah ratu Quina berubah dia tampak sedang memikirkan hal lain.
" Saya harap yang mulia takkan memberitahukan hal ini pada yang lain. saya sangat mempercayai yang mulia ratu. Saya tidak suka melihat yang mulia bersedih, itu sebabnya saya menghibur yang mulia agar yang mulia terhibur dengan lelucon jelek ini."
Ratu Quina berdiri dan menghampirinya. Dia mulai tersentuh dengan pancingan yang diberikan Ram.
__ADS_1
"Trimakasih kau sudah begitu baik menghiburkan pengawas Ram. Aku janji rahasiamu akan aman ditanganku."
" Trimakasih yang mulia, saya harap saya juga bisa selalu menghibur yang mulia dan bisa menjadi kepercayaan yang mulia."
"Apakah aku bisa mempercayaimu? "
Tanya ratu dengan wajahnya yang serius, Ram tersenyum.
Ditempat lain Kinan baru saja sampai disebuah rumah sakit. Dia berjalan santai menuju lantai 10. Tak lama seorang perawat bernama Lisa menghampiri seorang dokter yang tengah sibuk diruang kerjanya.
" Dokter,, ada tamu. Katanya dia bernama Kinan."
"Suruh saja masuk."
Perintah dokter Gio yang masih sibuk dengan beberapa map didekat lemari dibelakang meja kerjanya.
Kinan lalu segera masuk dan dia berjalan mendekati meja Gio.
"Apa aku menggunggumu? "
Tanya Kinan dan Gio membalik. Gio adalah seorang dokter muda yang sedang naik daun. Perawakannya tampak dingin tapi dia tetap memiliki sisi lembut didalamnya.
"Akhirnya kau mau mampir kesini."
Sambut Gio lalu berjalan mendekat untuk menjabat tangan Kinan dan lalu memeluknya.
" Kau dan aku sama sama sibuk."
" Yah,,, ayo duduk dulu. "
" Mengingat semua kesibukan dan kebiasaanmu aku jadi penasaran apa yang membawamu kemari. Jangan bilang kau mau memintaku untuk mendekati Johana setelah kau berjanji memacari dia setelah usianya genap 20 tahun. "
"Hahahahahha, kau bisa saja. Kau tahu saat itu aku hanya bercanda. dia terus menggangguku. "
" Tapi tetap saja itu adalah janji."
" Yah dan sekarang dia bersikap seolah kami berpacaran. "
"Juna pasti cemburu. "
"Yah aku tahu. "
" Aku melihat siaran langsung peluncuran buku Johana pagi ini. Aku masih tak percaya kalau Johana bisa sesukses ini. Padahal kita sama sama tahu dia sangat pemalas. Kalau bukan karna Juna dia takkan punya catatan disekolah. "
Ungkap Gio bernostalgia. Kinan hanya tertawa kecil. Dia tak tertarik untuk membahas masalah Johana sama sekali. Sedang Gio menangkap sesuatu yang serius diwajah Kinan. Dia meletakkan kedua tangannya dimeja dan melipatnya.
" Jadi apa alasannya? "
"Begini, aku punya satu tugas rahasia dari istana. "
"Istana ???"
Gio sedikit tak percaya.
"Yah kau tahu, baru baru ini aku baru menangani proyek pembuatan villa disana dan saat proses pembangunan sesuatu yang buruk terjadi. Mungkin kau sudah dengar kabar soal pangeran dan yang mulia raja."
"Yah, salah satu temanku ikut untuk menangani pangeran. Dia yang bertugas saat itu."
__ADS_1
" Ini sudah dua minggu setelah kecelakaan itu. Setekah dia dipindahkan keruangannya aku tak melihat luka serius yang fatal padanya tapi anehnya hingga saat ini dia masih belum sadar."
" Benarkah ? "
" Aku curiga akan sesuatu."
"Yah temanku juga merasa begitu. Setelah menstabilkan kondisi pangeran, pihak kerajaan menemui temanku dan mengatakan kalau mereka akan mengantinya dengan dokter baru."
" Saat ini yang mulia ibu suri sulit untuk mempercayai orang orang disekitarnya. Seminggu yang lalu juga telah terjadi sesuatu pada raja. Aku berpikiran bahwa penghianat itu masih ada diistana."
"Lalu apa rencanamu? "
Siang itu sekitar pukul dua siang. Grace bangun dan dia keluar dari kamarnya. Dia melihat anak anak tengah asyik menonton Tv.
"Lihat itu kak Johana dan kak Kinan."
Seru seorang anak. Grace yang tertarik pun datang mendekat ke Tv. Tampak disana ada wawancara Johana. Grace membawa judul berita itu. Dia bagai mengingat sesuatu yang akhirnya membuatnya terdiam.
Grace berlari perlahan menuju ruangan Johana. Sebuah tatapan kesal dan kecewa memenuhi Grace. Dia berjalan perlahan mendapati Johana yang sedang berdiri didekat matrasnya dengan sebuah buku ditangannya.
Grace meraih buku itu dan memandanginya. Seketika airmatnya terjatuh. Johana masih tak gentar. Dia mencoba tenang walaupun dia sadar dia telah ketahuan. Grace mengangkat kepalanya dan menatap Johana seolah dia meminta penjelasan.
"Kau disini rupanya ."
Suara Kinan terdengar. Dia baru saja tiba dipintu kamar Johana. Grace menundukkan kepalanya dia mengusap air matanya tapi Kinan masih sempat melihatnya.
"Ada apa, mengapa kau menangis? "
Tanya Kinan bingung sambil memperhatikan Grace. tapi kondisi Grace yang bisu membuatnya sulit untuk menjelaskan. Grace hanya diam memandangi Kinan.
"Dia bilang dia cemburu padaku, karna aku gadis yang cantik dan sukses dalam karirku. Tidak seperti dia hanya seorang gadis bisu. "
"Jaga bicaramu !"
Kinan sedikit membentak Johana.
"Kenapa kau marah.? itu kenyataan."
" Walau itu kenyataan tapi kau tak perlu mengatakan hal itu seolah kau sedang menghinanya."
"Kalau aku menghinanya apa itu membuatmu marah sampai kau ingin membelanya? sekali pun aku menghinanya dia juga tak bisa mendengarkannya, dia bisu. "
Kata johana lantang dan Kinan segera menamparnya. Grace terkejut lalu Johana pergi dari sana.
Grace yang juga sedang menangis ikut pergi meninggalkan Kinan disana tapi Kinan segera mengejarnya hingga kekamarnya. Grace duduk dan menangis sendu disana. Kinan ikut duduk dihadapannya dan dengan lembut menyeka airmatanya.
" Pergilah minta maaf padanya, kau tak seharusnya menamparnya."
Kata Grace melalui notenya.
"Aku tidak suka ada yang menghinamu."
"Tapi apa yang dikatakannya benar, aku bisu."
Balas Grace lagi. Kinan terdiam memandang Grace tak percaya. Dia mengetahui sesuatu yang tak disadarinya selama ini.
" Kau bisa mendengar? "
__ADS_1