Unperfect

Unperfect
status baru


__ADS_3


"Lepaskan dia... " perintah Kinan pada seorang pria yang menawan raja Adam. Pria itu menodong raja Adam dengan senjatanya sehingga mau tak mau Kinan akhirnya melepaskan senjatanya tapi dia bagai tak takut sedikitpun. Lalu sejumlah orang datang menyerang Kinan. Dengan tangan kosong Kinan melawan mereka satu persatu hingga habis ditangannya.



Jero juga tak mengenal kata menyerah. Walau dia mendapat lawan tak sebanding tapi dia juga sempat berhasil memukul lawannya beberapa kali.



Juna dengan beberapa bekas luka diwajahnya juga akhirnya berhasil melumpuhkan lawannya.



Ram yang kesal lalu membuka jasnya. Keringatnya sudah menguyur kemeja putihnya, sehingga ototnya terlihat jelas. Dia melawan sisa musuhnya dengan tangan kosong.



"Tak ada yang bisa lolos dari tanganku. "kata Yori sombong setelah menendang jatuh seorang musuh dengan angkuhnya.


Akhirnya musuh yang menahan raja terpojok. Kini mereka hanya tinggal berdua sedang Kinan baru saja selesai dengan semua lawannya.


"Kau hanya sendiri, mundurlah atau aku akan menembaknya. " ancam salah satu dari mereka tapi Kinan tak gentar dia tetap melangkah maju mendekati para penjahat itu dengan tatapan yang tajam.



"Walaupun hanya sendiri aku tak gentar. majulah dan lawan aku. " kata Kinan. penjahat itu saling bertatapan. Kini salah satu dari mereka menodongkan senjata pada Kinan tapi kemudian Ram, Kinan, Juna, Gio bahkan pangeran Jimin datang dan mengelilingi mereka hingga kedua penjahat itu terpojok dan mulai merasa khawatir. Mereka semua mendekati musuh dan menatap tajam.


"Mundur atau aku akan menembak. "ancamnya lagi sambil menodong raja dengan senjata. Yori mengangkat senjatanya dan mengarahkannya pada orang yang menodong raja.



Ram pun melemparkan pisau kecil kekaki salah satu dari mereka dan seketika itu juga Yori menembak kedepan.


Dorrr


Suara tembakan lepas membuat hati mereka ikut khawatir. kinan segera berlari, dia segera menangkap tubuh raja yang jatuh.


"Yang mulia.. " pangeran Jimin juga ikut berlari mendapatinya. Raja jatuh berlutut ketanah. Kinan menahan lengan kanannya dan pangeran Jimin menahan lengan kirinya. Kini mereka berada diantara kedua sisi rentangan tangan raja Adam.


Operasi yang dijalani Grace juga sudah selesai. Para suster bersiap memindahkan Grace keruangannya dan Grace masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


Ibu suri mendapat sebuah pesan beliau segera keluar dari istana dengan air mata haru yang membahasi pipinya. sedang ratu Quina baru saja akan sampai. Mereka berselisih jalan digerbang istana. Ratu quina melihat mobil itu dan dia menolehnya.


Raja Adam mengangkat wajahnya setelah orang yang tadi menodongnya jatuh dibelakang. Dia menatap kekanannya dan Kinan juga menolehnya.



Kinan tersenyum padanya. Lalu raja Adam menoleh kekirinya.


"Ayah.. " sapa pangeran Jimin sambil tersenyum.



Raja Adam tak kuasa menahan harunya. Beliau menangis dan menarik kedua putranya itu dalam pelukannya yang erat. Dia menangis keras mendapati kedua putranya itu selamat.


"Hayo... " ajak Yori dari belakang. Kinan dan pangeran Jimin lalu membantu raja berdiri dan membawanya kemobil. Mereka segera meninggalkan tempat itu menuju satu tempat khusus dimana ibu suri sudah menunggu.


"Yang mulia mereka sudah tiba. "kata Hansen melaporkan. Ibu suri lalu berdiri, tak lama tampak Jimin masuk mendorong kursi roda raja dan Kinan juga ada disampingnya. Ibu suri berlari mendapati mereka. Sekali lagi mereka berpelukan dengan rasa haru.


" Cucuku.... " ibu suri menatap Jimin dan memeluknya. Hatinya merasa lega setelah cucunya itu nyaris mati.


"Kau baik baik saja? "


"Aku baik baik saja nenek. "


"Cucuku,,, pangeran Kinan, cucuku.... "katanya begitu terharu.


"Mengapa nenek begitu kejam? mengapa tak pernah memberitahukan bahwa aku memiliki kakak yang begitu keren ha? nenek tak melihat kakak bertarung, dia sangat keren. " goda pangeran Jimin. Ibu suri menolehnya dan tertawa kecil.



"Setelah ini nenek harus memberikan makanan yang banyak pada kami karna kami sudah mati matian bertarung. Kami mengeluarkan semua tenaga untuk melawan mereka. "


Juna dan Jero pun pulang dikawal petugas istana. Gio masih tinggal disana untuk mencek kondisi raja Adam. Setelah itu Gio menghampiri Kinan dikamarnya dan mengobati beberapa luka ringannya.


"Tadi Grace menjalani operasinya. Jero mengatakan kalau oorasinya lancar dan selanjutnya dia harus menjalani pemulihan."



"Kami habis bertengkar dan dia pergi begitu saja. "


"Ohh benarkah, pantas saja ."

__ADS_1


"Pantas kenapa? "


"Tadi pagi dia mengirim email dan memintaku menjemputnya. Katanya dia tersesat semalam."


"Semalam? " Kinan sedikit terkejut.


"Sekarang situasi akan berbeda. Temuilah dia, ku rasa dia juga akan senang mengetahui status barumu." saran Gio lalu keluar dari sana dan tak lama pangeran Jimin datang dan berdiri dipintu kamar Kinan.



"Kakak.... " panggilnya dan Kinan menolehnya.


"Apa mau ku panggil pangeran kinan ?" ledek pangeran Jimin dan Kinan tersenyum kecil sembari tertunduk. Pangeran Jimin lalu masuk dan duduk disamping Kinan.


"Sejak kapan kau tahu? " tanya Kinan.


"Saat suster kepala bicara dengan ibumu. Saat itu aku merasa sangat senang. Aku tak mengira kau benar benar kakakku. Aku sangat terharu. "


"Aku baru tahu tadi. Sejujurnya ini belum bisa diterima akal sehatku. "


"Oh hayolah, setidaknya kakak akan semakin populer." goda pangeran Jimin dan Kinan langsung tertawa kecil.


"soal Vira, apa kau sudah menanyakannya? "


"Oh astaga aku hampir lupa. Kalau begitu aku cari dokter Gio dulu, aku tinggal dulu kak. " pamit pangeran Jimin lalu pergi begitu saja. Kinan tersenyum kecil lalu dia merebahkan dirinya dimatras.


Kinan memandangi langit langit kamarnya dan mengingat kejadian waktu kecil saat bersama ibunya. Kini dia tahu alasan ibunya selalu meninggalkannya dan menuntutnya untuk ahli dalam banyak hal.


Johana mendengar suara mobil. Dia lalu bergegas menyeka air matanya. Dia teringat bagaimana selama ini Juna selalu berusaha mengambil hatinya. Juna yang selalu mengalah hanya agar Johana merasa senang.


Selain itu Johana juga teringat saat Juna selalu menasehatinya dan bagaimana Juna juga menyerah untuknya.


Johana segera berdiri saat pintu kamar dibuka. Juna juga sedikit kaget saat melihat Johana ada dikamarnya. Juna lalu menutup pintu dan mendekati Johana. Johana tersadar kalau wajah Juna lebam dan masih ada noda darah diujung bibirnya.


"Kau disini, aku sudah bilang kau tak boleh masuk kesini. " kata Juna sembari tertunduk. Johana melihat semua lukisan dirinya dikamar Juna.


"Aku tak mengira kau menyimpan semua ini disini. "


"Aku akan membakarnya kalau kau tak suka. Maaf aku melukismu tanpa sepengetahuanmu. "


"Bagaimana kalau aku tak mau memaafkanmu? " tanya Johana. Juna menatapnya, Johana tampak menangis sembari menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Aku sudah melihat lukisan utamamu. " tambah Johana lagi, Juna kembali tertunduk.


Dengan sangat pelan Johana mencoba meraih noda darah diujung bibir Juna. Juna meliriknya dan seketika Johana menciumnya. Juna melihat Johana dan kemudian menarik pinggang Johana lebih dekat padanya. Juna memeluknya erat tanpa peduli luka diwajahnya.


__ADS_2