
Malam itu Johana baru saja kembali kepanti asuhan. Dia melangkah malas menuju rumah Kinan. Yah disanalah mereka tinggal sekarang untuk membantu mengawasi pangeran Jimin. Saat dia baru melewati gapura pembatas antara panti asuhan dan rumah Kinan, Johana mendengar suara tawa Vira dan Juna.
Johana dengan rasa penasarannya melangkah mendekati asal suara itu. Dari tempatnya berdiri dia melihat lihat Juna sedang tertawa lepas dengan Vira disisinya. Mereka sedang ada dipinggir kolam renang disamping rumah Kinan.
Itu pertama kalinya Johana melihat Juna tertawa lepas. Sosok Juna yang selama ini seperti bucin disisinya kini seolah telah mendapatkan sosok baru yang membuatnya nyaman.
"Apa yang kalian tertawakan? " tanya Johana dengan wajah datarnya.
"Eh Jo, kau sudah kembali." sapa Juna balik sambil membantu Vira bangkit berdiri dan hal itu membuat Johana semakin kesal dihatinya.
"Kalian begitu berisik, itu akan menganggu istirahat pangeran."
" Kami hanya sedikit bercanda." terang Vira namun dia melihat bahwa suasana hati Johana tak baik.
" Kalian bicaralah, aku akan pergi melihat pangeran. " jelas Vira cari aman lalu segera meninggalkan mereka.
"Harusnya kau tak perlu memasang wajah seperti itu. Itu pasti membuat Vira merasa tak enak jadi dia pergi."
" Memangnya kenapa dengan wajahku, lagi pula kenapa kau begitu memikirkan perasaannya ?"
" Jo jangan ego begitu, cobalah untuk menjaga perasaan orang lain sebelum kau bertindak sesuatu. "
" Kenapa aku harus repot repot menjaga perasaan orang lain belum tentu mereka memikirkan perasanku."
"Kau yang begini hanya akan membuat orang disekitarmu menjauh darimu, cobalah untuk lebih bersikap baik didepan orang." saran Juna lalu melangkah pergi tapi Johana yang kesal lalu menarik tangannya untuk menahannya.
" Maksudmu kau ingin menjauhiku?" tanya Johana kesal. Juna membalik dan menatapnya.
"Aku tidak bilang begitu tapi sejujurnya aku sudah mulai lelah disisimu. Aku memang mencintaimu dan kau tahu itu. Apapaun katamu, asal untuk menyenangkanmu aku selalu berusaha untuk melakukannya. Tapi semakin hari aku semakin sadar kalau aku sama sekali tak memiliki tempat dihatimu dan ity membuatku lelah. Aku takkan memaksamu, kalau kau tak ingin aku disisimu aku akan menjaga sikapku. " terang Juna lalu perlahan dia melepaskan tangannya dan berjalan menjauh meninggalkan Johana yang hanya bisa diam.
Entah mengapa ada sisi hati johana yang tak bisa menerima semua perkataan Juna barusan. Tapi dia yang hanya mencintai Kinan lalu mengoptimiskan hatinya untuk tak terpengaruh sama sekali. Johana lalu melangkah masuk dan langsung menuju kamarnya.
Pangeran Jimin sedang duduk bersandar dimatrasnya. Dia memperhatikan Vira yang sibuk sendiri dengan Hpnya. Sesekali Vira tampak tersenyum sendiri melihat isi Hpnya dan itu membuat pangeran penasaran.
"Apa kau sedang menonton flim kartun sampai kau senyum senyum sendiri? "
" Tidak.. "
" Lalu apa yang membuatmu tersenyum seperti itu? aku khawatir kalau ternyata kau seorang psikopat yang gila."
"Apa katamu? " sontak kata kata pangeran Jimin membuat Vira kesal. Dia tak lagi memperdulikan atitut bahasanya. Dia menghampiri pangeran dan memukuli bahunya.
" Hei hei hentikan, aku ini pasienmu. Kenapa memukuliku? "
" Mengapa kau berkata aku ini psikopat gila? "
__ADS_1
" Karna kau punya sikap yang aneh. Kau ingat bagaiman caramu menggertakku pertama kali itu adalah ciri ciri psikopat dan kau baru saja senyum senyum sendiri, itu pasti karna kau sudah gila."
" Hei... " Vira mengertak pangeran dengan suaranya yang agak kencang.
" Katakan saja kalau kau ingin ku perhatikan. "
" Enak saja."
"Kalau begitu jangan kepo."
" Hei aku hanya merasa kesal. Kau sibuk sendiri dengan Hpmu, sedang kau mengabaikan aku disini. Kau tak tahu bagaimana perasanku hanya bisa terkurung disini seharian."
" Kau mau ku pindahkan ke penjara? disini sudah jauh lebih baik. Ada tv, buku dan fasilitas restoran. Kau bisa menikmati semuanya."
" Ahh sudahlah, kau benar benar menyebalkan."
Hei kau yang lebih dulu mengangguku."
" Hei jaga bicaramu. Aku ini pangeran, kau harus bicara sopan denganku."
" Masa bodohnya, semua orang tahu pangeran sudah mati." terang Vira lalu berniat pergi tapi pangeran dengan sigap menariknya hingga Vira terjatuh keatas matras dan pangeran menindihnya dari atas. Kedua tangan vira direntangkannya diantara kepalanya dan hal itu membuat Vira gugup.
Pangeran Jimin memandanginya dengan senyum nakalnya membuat hati vira bergetar tak karuan.
"Lepaskan aku."
"Tidak mau."
" Jangan bercanda." Vira berusaha berontak tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melepaskan dirinya. Senyum pangeran kian lebar dan dia memberanikan diri semakin mendekati wajah Vira.
" Kenapa, apa sekarang kau merasa takut padaku? "
"Aku tak takut padamu ."
"kalau tidak takut mengapa tak menatapku? " goda pangeran Jimin. Vira yang kesal lalu menatapnya dan dia melihat pangeran tersenyum padanya.
"Aku tidak takut."
"Kau yakin, saat ini aku bisa melakukan kejahatan sebagai seorang lelaki."
"Kau takkan melakukannya."
"Mengapa begitu yakin? "
"Karna aku seorang pangeran, kau takkan berbuat sesuatu yang bodoh seperti itu."
"Tapi bagaimana kalau aku ini seorang pangeran yang nakal? Ayahku yang mulia raja Adam selalu berkata bahwa aku ini pangeran yang pembangkang yang suka melanggar aturan istana."
"Benarkah, memangnya apa yang sudah kau langgar ? "
"Kau lupa mengapa aku bisa tertabrak ? Saat itu aku berniat kabur"
__ADS_1
"Aku tidak yakin kau berbuat sesuatu yang bodoh. Kau lari pasti punya alasan. "
" Yah kau benar, mereka hanya tak bisa menerima diriku sehingga aku harus menutupi wajahku ini saat aku harus melakukan apa yang ku suka. "
"Kau sudah seperti idolaku. Dia juga memakai topeng setiap kali manggung. Aku sangat penasaran seperti apa wajahnya." kenang Vira.
"Idolamu?"
"Yah sebenarnya tadi aku sedang menonton siaran vidionya. Dia seorang penari yang tengah naik daun. Baru baru ini mereka juga mengikuti acara penting dan berkolaborasi dengan idol terkenal dinegri ini. Saat itu dia memakai mantel bulu berwarna putih. Dia tak memakai kaos lain sehingga dia benar benar menggemaskan, selain lucu dia juga sangat sexy . Aku sangat penasaran pada sosoknya. Aku sangat menyukainya. "
"seberapa suka?" tanya pangeran yang sudah menyadari kalau sosok idol yang dibicarakan Vira adalah dirinya sendiri.
"Sangat suka, aku sangat sangat suka dia."
" Benarkah.. ?"
"Ehmm, melihatnya membuat hatiku merasa senang. Dia membuatku bersemangat dan semakin hari aku semakin merindukannya. Aku ingin melihat wajahnya."
"Bagaimana kalau dia sangat jelek, Mungkin dia memakai topeng untuk menutupinya?"
"Tidak, aku yakin dia pasti sangat tampan. Dia pasti punya wajah yang sangat menggemaskan dan baik hati. Dia bukan seorang yang suka pamer. " jelas Vira dengan sedikit rona bahagia diwajahnya dan hal itu membuat pangeran Jimin semakin merasa gemas padanya. Dia tak merasa bosan memandangi wajah Vira dihadapannya.
"Jadi pangeran tolong lepaskanlah aku agar kita bisa sama sama menjaga diri. Karna aku ingin menjaga diriku dengan baik agar dia merasa senang."
" Kau berencana menyerahkan dirimu padanya ? Ohh kau sangat keterlaluan."
" Bukan begitu. Aku..., aku hanya ingin menjadi yang terbaik. Jika suatu saat kami bertemu. Mungkin dia akan menyukaiku. Mungkin dia akan ingin bersamaku dan aku tak ingin membuatnya menyesal."
"Kau percaya diri sekali. Katamu dia seorang idol tentu banyak yang menyukainya selain dirimu."
" Yah.. tapi itu tak membuatku cemburu dan takut. Aku senang karna dengan semua cinta dari penggemarnya aku tahu dia begitu disayangi. Bukankah itu sebuah berkah. "
"Sekarang kau bicara seperti seorang biarawan."
"Karna aku ingin mencintainya dengan energi positif dan itu membuatku senang. Kalaupun kelak dia akan bersama gadis lain. Aku percaya dia akan memilih gadis yang baik. "
" Yah dia memang gadis yang baik." kata pangera Jimin sambil mengusap pipi kanan Vira hingga membuat Vira kembali gugup. Vira menatap kebawah kedada pangeran dan ternyata pengeran kian berani mengelus pipinya.
"Pangeran tolong jangan begini. Ini membuatku merasa tak nyaman."
" Kau yakin? nanti kau menyesal."
" Kenapa aku harus merasa menyesal?" tanya Vira penasaran.
"Tutupi setengah wajahku dengan tanganmu dan kau akan dapatkan jawabannya."
"Ha... ?" Vira sedikit bingung.
"Lakukan saja. Jika kau begitu mengidolakannya kau pasti tahu seperti apa bentuk wajahnya saat memakai topeng. " kata pangeran. Lalu Vira melakukan seperti apa yang dikatakan pangeran Jimin. Pertama dia tak sadar tapi setelah dia mencoba mengamati barulah dia sadar kalau pangeran adalah sosok yang disukainya itu.
"Tidak mungkin. " kata Vira tak percaya lalu menarik kembali tangannya dan menutup mulutnya dengan tangan kananya. Dia menatap pangeran Jimin tak percaya sedang pangeran Jimin masih tersenyum padanya.
__ADS_1
"Sekarang kau sudah tahukan?" tanya pangeran dan Vira mengangguk kecil.
" Kalau begitu jangan membuatku kecewa yah, kau sudah bilang takkan membuatku menyesal." kata pangeran kecil lalu pangeran menarik tangan kanan Vira dan menciunnya mesra.