
Vira kembali kekamarnya, mengunci pintu kamarnya dan menangis diatas matrasnya. Walaupun sekarang Vira sudah menjadi tunangan Sean tapi Vira sama sekali tak bisa membuka hatinya.
Hal itu tentu karna sikap Sean yang tak bisa diduga duga. Sean sangat angkuh dan juga ambisius. Dia tak suka disaingi. Dia akan melakukan apapun untuk menjatuhkan bahkan mempermalukan seseorang jika dia mau.
Tapi Sean bukanlah tujuan Vira. Kini hatinya dipenuhi rasa bersalah dan rindu pada pangeran Jimin. Dengan kemarahan pangeran Jimin tadi tentu Vira sadar bagaimana pangeran Jimin begitu kecewa bahkan mungkin membencinya tapi Vira bertekat akan menjelaskannya pada pangeran.
Keesokan harinya Vira bergegas berangkat bekerja. Dia berniat menemui dokter Gio dirumah sakit. Dokter Gio adalah satu satunya cara yang dia punya saat ini.
"Selamat pagi dokter. "
Sapa Vira begitu sampai didepan pintu ruangan dokter Gio.
"Oh Vira, pagi.. "
"Apa dokter sibuk? ada yang ingin ku tanyakan."
" Masuklah, aku tidak terlalu sibuk. "
Vira lalu berjalan menghampiri dokter Gio yang lalu duduk dikursi kerjanya.
"Duduklah."
"Ah tidak apa apa dokter, aku hanya sebentar. "
"Lalu kau mau tanya apa? "
"Aku, aku... " Vira sedikit bingung saat dokter Gio menatapnya intens.
"Pangeran Jimin? "
Tebaknya kemudian, Vira segera mengangguk. Dokter Gio seolah paham sepertinya mereka berdua sedang bertengkar karna semalam pangeran Jimin juga terlihat murung.
"Aku harus bertemu dengannya dan menjelaskan semuanya. Aku tak mau dia terluka. "
"Harusnya sebelum mengambil keputusan kau harus bicara dulu dengannya. Aku tidak tahu sejauh mana hubungan kalian. Tapi yang ku lihat dia begitu terpukul. "
"Dokter bertemu drngannya? "
"Ehmm, semalam diistana. "
Jelas dokter Gio lagi. Lalu dokter Gio memberikan sebuah alamat para Vira yang dituliskan dikertas kecil.
"Setiap sore dia ada disana sekitar pukul 3."
"Trimakasih dokter."
Setelah kepergian Vira, Gio pun lalu berjalan menuju ruangan Grace. Tampak dokter yang menagani Grace sudah lebih dulu disana dan mereka sedang membuka perban dileher Grace.
"Hasilnya sangat bagus. "
Puji Gio yang berdiri dihadapan Grace. Grace tersenyum. Seorang suster membawakan kaca untuknya dan Grace melihat lehernya sudah membaik. Tak ada lagi bekas goresan dan jahitan disana.
Setelah cukup sibuk mengurusi istana. Kinan pun pergi keperkebunan guna melihat kemajuan vila yang dibangun diistana. Ram yang kebetulan ikut memandang kagum pada desain dan arsitektur vila tersebut.
Bunga bunga yang dulu dipindahkan Grace juga sudah ditata rapi kembali ditengah tengah vila tersebut. Tepatnya didepan sebuah kamar yang nanti akan ditempati oleh raja Adam untuk beristirahat.
"Yang mulia akan terkagum kagum dengan ini."
"Ku harap ibukupun begitu."
"Apa pangeran sudah menemui beliau?"
__ADS_1
"Tolong jangan panggil begitu, aku sangat risih. "
"Baiklah kalau begitu aku hanya akan memanggilmu begitu diacara formal. "
"Baiklah, aku setuju."
"Jadi bagaimana, kapan kau menemui mereka? mumpung aku masih belum sibuk."
"Memangnya kau akan sibuk? "
"Aku ada sedikit urusan penting diluar, masalah pribadi."
"Ohhh. "
"Ku dengar masyarakat menuntut raja Vitar untuk turun tahta setelah kau mengirimkan rekaman itu. Banyak pejabat juga berpihak pada rakyat. Situasi disana benar benar tak karuan. "
"Itu baik untuknya. Dia terlaku serakah."
"Aku penasaran jika dia akan diturunkan siapa yang akan berkuasa lagi. Bukankah mereka juga tak memiliki keturunan lain ?"
"Aku tidak ambil pusing dengan itu. Disini saja sudah membuatku pusing. Pangeran Jimin benar, menjadi anggota kerajaan tak semenarik yang dibayangkan."
"Oh ayolah, banyak orang yang menginginkan posisimu. Ingat kau pemegang tahta selanjutnya. "
Goda Ram dan akhirnya mereka terkekeh bersama sambil meninggalkan vila tersebut.
**
Siang itu Johana tengah sibuk merapiksn buku buku di ruang bermain. Dia tidak menyadari kalau Sonia berjalan kearahnya dengan santainya.
"Apa kau pengurus panti ini? "
Tanyanya, Johana segera menoleh dan senyumnya menghilang.
"Oh iyah, ada apa? "
" Aku mau mencari Juna. Ku dengar dia tinggal disini. "
"Ah dia ...."
"Sonia, apa yang kau lakukan disini? "
Tanya Juna memotong Johana yang tiba tiba muncul entah dari mana. Sonia langsung tersenyum dan berjalan mendekati Juna.
"Karna kau ingkari janjimu. Aku terus menunggumu. "
"Ah itu, maaf waktu itu aku benar benar ada urusan mendadak. "
"Lalu kapan kau akan datang? aku sudah bilang aku sangat sibuk. Aku tak ingin kau mengingkari lagi. "
Tegas Sonia sedikit manja. Juna yang merasa bersalah hanya bisa mengosok gosokkan kedua tanganya karna merasa ragu terutama saat dia melihat mata Johana yang seolah mengancamnya.
" Aku tidak mau tahu. Sore ini datanglah kerumahku jam 5. Aku akan tunggu. Tolong jangan mengecewakanku lagi. "
Kata Sonia membatasi Juna.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu yah. See you... "
Pamit Sonia lalu pergi. Juna hanya tersenyum sekilas. Setelah Sonia benar benar hilang dari pandangannya kini Juna menoleh kearah Johana yang terlihat siap mengomelinya.
"Aku tak mau tahu. Aku ikut. "
Tegas Johana kesal lalu meninggalkan Juna disana. Juna hanya tersenyum kecil mengetahui kini cinta Johana kian bertambah untuknya.
Setelah jam kerjanya selesai vira bersiap siap menganti pakaiannya dan bergegas menuju kealamat yang diberikan dokter Gio. Alamat itu tak terlalu jauh namun terlihat sedikit sunyi.
__ADS_1
Dengan penuh keberanian Vira memasuki tempat yang terlihat seperti ruang latihan itu, Ada banyak kaca kaca besar disetiap dinding. Dan lagi dia juga mendengar suara hentakan kaki dan suara seorang yang seolah sedang memberi abg aba.
Vira melewati sebuah lorong dan tak lama dia melihat sebuah pintu yang agak terbuka. Vira melihat nomor ruangan itu sama dengan yang diberikan security didepan. Tanpa ragu Vira lalu menerobos pelan seraya melihat sekelompok anak lelaki yang sedang berlatih menari disana.
Salah satu dari mereka adalah pangeran Jimin. Pangeran Jimin tampak berlatih sangat serius hingga tubuhnya berkeringat. Agak lama Vira berdiri didekat pintu menunggu mereka selesai berlatih.
"Siapa gadis itu, apakah dia salah satu fans kita? "
Tanya Ken pada member lainnya saat melihat Vira yang masih berdiri didekat pintu.
Pangeran Jimin menatap Vira sinis dari samping namun hal itu tak membuatnya gentar. Vira memberanikan diri menghampirinya sembari tertunduk.
"Aku ingin bicara. "
Suasana yang begitu kaku membuat semua orang disana merasa harus pergi. Hingga tanpa diminta mereka segera meninggalkan tempat itu.
"Aku tak punya banyak waktu. Cepat katakan dan pergilah."
Kata pangeran Jimin dingin sembari berjalan membelakangi Vira menuju meja untuk mengambil dan meneguk sebotol air mineral.
"Aku tahu mungkin kau tak bisa memaafkanku. Aku sudah dengan egoisnya meninggalkanmu dan bertunangan dengannya. "
"Itu hakmu."
"Tapi aku ingin kau mendengarkanku dulu. "
"Tidak perlu. "
"Jimin... "
"Tutup mulutmu!!!! "
Bentak pangeran Jimin seketika sambil menatap vira kesal.
"Apa kau lupa aku seorang langeran? "
Penegasan pangeran Jimin dengan suara lantangnya membuat Vira tertunduk. Dia berusaha menahan air matanya yang ternyata juga tak kuat hingga jatuh begitu saja.
"Kalau kau berfikir aku merasa sedih dan kecewa kau salah. Jangan lupakan bahwa aku adalah seorang pangeran. Aku bisa mendapatkan gadis manapun yang kumau. Aku tak butuh penjelasan apapun dari mulutmu itu. Kau hanya membuang buang waktuku jadi jangan pernah lagi muncul dihadapanku. "
Tegas pangeran Jimin kesal lalu meninggalkan Vira sendiri disana yang semakin terisak isak.
Vira berusaha menyeka airmatanya tapi ternyata dia sudah tak bisa menahan hatinya yang begitu sedih. Vira sampai tak punya kekuatan untuk berdiri. Vira berjongkok dan menangis memeluk kedua lututnya.
Ken yang melihat pangeran Jimin berjalan keluar dengan wajah kesalnya lalu masuk. Dia Melihat gadis itu menangis sendiri. Ken lalu mendekatinya dan menyodorkan tisu pada Vira.
"Kau baik baik saja? "
Tanya ken khawatir. Vira segera menyeka air matanya dan mengangguk.
"Sepertinya kalian baru bertengkar. Apa kau butuh sesuatu.? "
Tanya ken lagi perhatian sebab dia tak sanggup melihat gadis cantik itu menangis sendiri.
"Aku baik baik saja. Aku harus pergi."
"Baiklah, hayo ku antar."
Pangeran Jimin hanya melihat mereka dari jauh dan dia tak berniat untuk menyusul. pangeran Jimin malah meneguk sebotol bir dan kemudian pergi begitu saja.
__ADS_1