Unperfect

Unperfect
Pangeran berikutnya


__ADS_3


"Kinan..... " suara suster kepala terdengar memanggil Kinan dari luar pintu. Kinan yang tengah membaca komik kesukaaannya didekat jendela segera bangkit dan berjalan kearah pintu.


"Suster kepala. "


Serunya sumringah lalu memeluk suster yang selama ini membesarkannya. Suster kepala sudah seperti ibu baginya. Beliau yang merawat dan membekali Kinan dengan berbagai ilmu pengetahuan.


"Kau ini kenapa selalu saja menyusahkan? kau ini sudah dewasa dan aku masih harus datang kesini untuk mengajakmu sarapan. "


"Itulah tugas seorang ibu. Seorang ibu harus merawat anaknya dan memastikan anaknya siap dalam segala hal."


"Aku bukan ibumu."


Bantah suster kepala judes seperti sedang merajuk.


"Bagaimana kau bisa berkata kau bukan ibuku? katakan siapa yang merawatku, siapa yang membesarkanku, siapa yang memastikan seragamku beres, siapa yang memastikan aku berangkat sekolah dengan perut berisi, siapa yang begadang saat aku sakit? "



" Aku tak mau menjadi ibu dari anak nakal sepertimu."


Kata suster kepala lagi sedikit mengambek. Dia berjalan perlahan meninggalkan Kinan yang kemudian berlari mengejar langkahnya.


"Aku tidak nakal bu. Aku hanya menginginkan perhatianmu. Lihatlah sekarang aku menjadi seorang arsitek terkenal. Kedua tanganmu ini sudah menciptakan anak jenius. Selain tampan aku juga kaya. "


Kinan berusaha membujuk suster kepala dengan menggengam erat kedua tangannya.


"Aku baru kembali dan aku hanya ingin merasakan kasih sayangmu. Aku merindukanmu bu."


kata kata Kinan membuat suster kepala terharu. Dia menyeka kepala Kinan penuh kasih sayang.


" Kau selalu dilimpahi kasih sayang anakku. Tuhan selalu memberkatimu."


Kinan merasa lega mendengarnya tanpa sungkan Kinan segera memeluk suster kepala.


"Doamu yang selalu menyertaiku bu. Aku menyayangimu."


Kata Kinan bahagia. Lalu mereka berjalan menuju ruang makan. Tampak anak anak disana tengah makan dengan lahapnya.


"Pangeran , mobil sudah siap. Mari berangkat."


Hansen adalah pengawal pribadi sang pangeran. Pangeran Jimin baru saja menyelesaikan studinya dan akan segera kembali ke istana.



Pangeran Jimin memalingkan matanya dari layar Hpnya yang kemudian dimasukkan kedalam saku celananya. Mereka kemudian berangkat menuju istana.


Quine yang kini menjadi ratu tampak sibuk menyiapkan meja makan dibantu dayang dayang yang lain. Dia ingin semua tampak sempurna karna pangeran akan kembali ke istana.


"Ibu ratu,, pengeran sudah tiba."


kata seorang pelayan. Ratu Quina lalu bergegas menuju pintu utama untuk menyambut anak tunggal mereka.


"Pangeran ... "


Ratu Quina menyambut pangeran Jimin. Ratu Quina merentangkan kedua tangannya berniat memeluk Jimin tapi pangeran Jimin mengabaikannya. Dia berjalan mendapati ibunya yang berdiri dibelakang sang ratu.

__ADS_1


"Ibu... "


Panggil Jimin setelah tiba dihadapan sang selir Yana.


"Anakku, mengapa kau berbuat begini? lihat ibu ratu telah datang menyambutmu. peluklah dia lebih dulu. Dia sangat merindukanmu."


"Katakan siapa ibu yang melahirkanku? Apakah aku salah jika menghampirimu lebih dulu. Aku tinggal diasrama cukup lama tak bisakah aku melepaskan rinduku padamu ?"


"Pangeran..., jangan bicara seolah ibu tak mengajarimu. Ibu ratu adalah ibu yang merawat dan membesarkanmu. Janganlah kau menyakiti hatinya begini. "


Selir Yana mencoba membujuk pangeran lagi. pangeran Jimin pun lalu menoleh sang ratu. pangeran Jimin lalu menghampirinya dan mencium tangannya. Ratu Quina tersenyum dan lalu memeluknya.


"Ibu senang kau kembali."



Siang itu Kinan begitu sibuk dikantornya. Dia sedang mengikuti meeting bersama para client dari kerajaan. Client ingin membangun villa dipinggir kota dan Kinan mempresentasikan hasil rancangannya yang langsung membuat clientnya setuju untuk menandatangi kontrak dengan perusahaan tempat Kinan bekerja.


Setelah rapat selesai Kinan kembali kepanti asuhan. Kini panti asuhan itu sudah berdiri megah dan indah. Setelah sukses Kinan merenovasinya dan mendatangkan banyak donatur untuk menyumbang disana.


Saat baru saja turun dari mobilnya, Kinan sudah disambut anak anak disana. Kinan sudah menganggap mereka semua seperti adiknya sendiri. Mereka lalu bermain bersama dan tertawa bersama. Suster kepala hanya memandanginya dari jauh dan tersenyum kecil.


**


"Pengeran, ibu harap ini terakhir kalinya kau bersikap seperti ini nak. Ibu ratu sangat terpukul setial kali kau bersikap acuh padanya. Ratu sangat menyayangimu, hormatilah dia dan perlakukan dia selayaknya ibumu sendiri."



"Bu...., tolong jangan memintaku lagi melakukan apa yang tak diinginkan hatiku. Aku akan menghormatinya sebagai ibu ratu. Selain itu aku tak memiliki keterikatan apa apa lagi dengannya. Walau pun dia begitu menyayangi dan memanjakanku tapi itu tak membuatku tersentuh. "


Sang ibu mencoba memberi penegasan.


"Ibu,,, kau adalah ibuku mengapa kau bahkan memperlakukanku seolah aku bukan anakmu? Mengapa kau lebih senang membiarkan ibu ratu melakukan tugasmu?"


"Jaga bicaramu pangeran. Sadarlah akan posisimu. Kau adalah satu satunya putra mahkota. Satu satunya pewaris kerajaan. Jika kau tetap tak bisa merubah sikapmu raja akan murka terhadapmu. "



"Aku punya kehidupan sendiri bu. Aku tak ingin jadi raja. Buang jauh jauh impian ibu untuk menjadikanku seorang raja."


"JIMIN... "


Seketika sang ibu menamparnya dan seketika kemudian beliau menyesalinya.


" Aku bukan alat yang bisa ibu jadikan untuk kepentingan ibu. Aku sudah dewasa dan aku tahu apa yang ku mau. "


Setelah mengucapkan kalimat itu pangeran lalu meninggalkan kamarnya dengan kesal. Sang ratu melihatnya dan mengikutinya


"Pangeran.... "


Panggilnya setelah pangeran Jimin duduk dikursi taman. Pangeran Jimin menolehnya kesal dan sang ibu ratu menghampirinya dan duduk disampingnya.


"Apa kau sedang bersedih anakku, katakan apa yang membuat hatimu marah? "



Pangeran Jimin menatap ibu ratu begitu dingin. Dia lalu bangkit dan berdiri dihadapan beliau yang juga bangkit berdiri.

__ADS_1


"Kau... kau membuat hatiku marah. "


Tanpa basa basi pangeran langsung mengungkapkan kekesalannya sambil memandang dingin kearah ratu.


"Pengeran.. "


Ratu Quina mencoba meraih tangan pangeran Jimin tapi pangeran Jimin segera menepisnya.


"Ku tegaskan sekali lagi. Aku bukan anakmu dan aku tak ingin punya ibu sepertimu. Kau hanyalah orang yang memisahkan aku dari ibuku. Kau hanyalah orang yang yang suka merebut milik orang lain untuk melengkapi kekuranganmu dan kau bertingkah seolah semua itu milikmu. Ku mohon,,, berhentilah bersandiwara dihadapanku."


Setelah mendengar kata kata menyakitkan dari mulut pangeran kini Ratu Quina menangis dan masuk kekamarnya.


"Ada apa? "


Tanya raja Adam saat melihat sang ratu menangis dan duduk diatas ranjang. Raja Adam menghampirinya dan duduk dihadapannya.


"Pasti ini karna pangeran. Aku sudah katakan dari dulu. Kau terlalu memanjakannya sehingga sekarang dia melunjak dan semena mena. "


"Tidak yang mulia raja.. ini bukan kesalahan pangeran. Pangeran benar aku hanyalah orang yang merebut milik orang lain untuk menutupi ketidak sempurnaanku."


"Tapi tak seharusnya dia berkata begitu. Sudahlah jangan bersedih lagi aku akan bicara dengannya."


**


Malam itu suster kepala duduk sendiri diruang kerjanya. Dia memandangi sepucuk surat yang dulu di kirimkan Yesika untuknya.


Suster maafkan aku jika telah memilih jalan ini. Tapi ini adalah jalan terbaik. Aku mohon jagalah Kinan seperti anakmu sendiri. Jangan biarkan dia kembali ke istana. Aku tak ingin keburukan dimasa laluku mencelakainya.


"Kinan.... "


Panggil suster kepala saat Kinan tengah mengemasi beberapa pakaian untuk dibawa besok. Kinan menolehnya dan lalu duduk disofa didekat kopernya.


"Kau sedang berkemas? "


Tanya suster kepala sambil duduk disamping Kinan.


"Ehmm, aku akan tinggal beberapa hari disana."


"Kinan... "


"Yah... "


Kinan menangkap raut wajah galau diwajah suster kepala.


"Kenapa bu? "


"Bolehkan kau tak kesana. Itu adalah pesan terakhir ibumu. Ibumu tak ingin kau kembali kesana."


"Bu ini sudah bertahun tahun. Ibuku bahkan tak pernah lagi datang mengunjungiku. Dia juga tak mengatakan alasan yang jelas mengapa aku tak bisa kesana. "


"Dia pasti punya alasan tersendiri. "


"Ibu.... aku sudah dewasa. Aku bisa menjaga diriku. Lagi pula ini proyek besar. Aku tak bisa membiarkannya begitu saja tanpa pengawasanku."


"Tapi hatiku tak tenang." keluh suster kepala lagi. Kinan lalu memeluknya erat sambil tersenyum.


"Aku akan baik baik saja bu. Aku janji."

__ADS_1


__ADS_2