
Sore itu pangeran Jimin kembali meninggalkan istana dan dia menemui teman temannya di base camp mereka. Hari itu mereka sedang berlatih menari dan seseorang mengambil foto pangeran secara diam diam.
waktu itu pekerjaan para pekerja terganggu karna turun hujan deras. Grace baru saja kembali dan mendapati rumahnya terkunci. beberapa kali Grace mencoba mengetuk pintu untuk memanggil sang ayah tapi ayahnya tak kunjung datang untuk membukakan pintu.
Grace pun lalu duduk diluar dianak tangga.
Kinan yang juga terperangkap disana hanya bisa menunggu hujan segera berhenti. Dia menghabiskan waktunya dengan bermain game dihpnya. Tak lama dia berdiri untuk membuatkan secangkir kopi. Melalui jendela kecil di dekat pantri, Kinan melihat Grace tengah duduk kedinginan didepan rumahnya.
Kinan lalu keluar dari tenda dengan sebuah payung ditangannya. Dia mengajak Grace ketenda untuk berteduh. Grace yang basah kuyub merasa sungkan untuk masuk tapi sikap Kinan seolah meyakinkannya kalau dia tak merasa keberatan.
Grece lalu masuk dan berdiri didekat pintu. Kinan melihat gadis itu sudah basah kuyub.
"Oh kau rupanya. "
Kata seorang mandor saat melihat Grace saat beliau akan keluar.
"Dari tadi aku melihatnya kehujanan didepan rumah mereka."
Terangnya lagi lalu pergi meninggalkan kinan dan Grace. Kinan lalu berfikir sejenak. Dia lalu melepas jaket dan kemejanya. Kinan menyodorkannya pada Grace dan membuat Grace bingung.
"Pakailah,,, nanti kau sakit."
Kinan lalu keluar dari sana menunggu Grace menganti pakaiannya. Tak lama Grace membukanya kembali dan Kinan masuk.
Kinan mengajak Grace duduk dikursi dan dia juga membuatkan secankir kopi panas untuk mereka minum bersama. Setelah Grace meneguk kopinya dia menurunkan kedua tangannya dan Kinan melihat sebuah syal yang masih terikat dileher Grace.
"Mengapa kau selalu memakai syal? syalmu sudah basah dan kau bisa sakit."
Kinan menuliskannya lewat sebuah note disecarik kertas yang baru saja diambilnya dari meja kerjanya.
Grace terdiam, Kinan lalu mengambil sapu tangannya dan menyodorkannya pada Grace.
Grace menerimanya dan dengan sangat sungkan dia mulai melepaskan ikatan syalnya.
Kinan sedikit terkejut saat melihat bekas jahitan dileher Grace. Grace segera membalik dan memasangkan sapu tangan pemberian Kinan namun setelah itu dia belum membalik. Dia merasa sangat malu dan dia menangis. Kinan lalu meraih lengan Grace. Grace perlahan membalik dengan wajah masih tertunduk.
"Tidak apa apa."
Grace menyeka airmatanya dan menenangkan dirinya.
Tak lama hujan kian reda, Kinan mengantarkan Grace kerumahnya saat rumahnya sudah tampak terbuka.
Wiliam mengajak Kinan untuk masuk dan mempersilahkannya untuk duduk. Kinan memperhatikan rumah itu, sangat sederhana. Grace dan Kinan duduk disebuah meja bundar didekat dapur. Tak lama Wiliam memberikan sejumlah obat pada Grace dan dengan agak berat Grace menelan obat obatan itu.
__ADS_1
"Apa dia sakit? "
" Putriku mengalami kondisi yang buruk dan karna itulah dia harus selalu minum obat."
Lalu Wiliam berjalan menjauh untuk menyiapkan makanan kecil untuk disajikan. Tak lama terdengar suara para pekerja sedang berteriak padahal pintu sedang tertutup. Kinan menoleh Wiliam dan juga memandang semangkuk sup yang sudah dingin tak jauh darinya.
Sore itu pun ibu suri tiba diistana dan disambut raja dan ratu disana.
"Dimana pengaran? "
"Pangeran sedang ada kegiatan bu."
Jawab ratu Quina segera . Lalu mereka masuk kedalam dan ratu Quina mengantarkannya langsung kekamarnya.
"Ibu istirahatlah pasti lelah dalam perjalanan. "
Saran ratu Quina lalu meninggalkan beliau sendiri disana.
Raja Adam masih berdiri didekat pintu saat pangeran Jimin kembali. Menyadari tatapan sang raja sedang tak bersahabat, pangeran segera sedikit tertunduk sembari memberi hormat.
"yang mulia."
" Ibu suri sudah sampai, temuilah dia."
"Nenek... "
Panggil pangeran girang setelah pintu dibuka. Dengan begitu manja pangeran memeluk beliau sambil tersenyum lebar yang datang menyambutnya setelah mendengar suaranya.
"Mengapa nenek tak pernah mengunjungiku diasrama ? aku merasa sangat kesepian."
"Apa yang kau harapkan dari nenekmu yang sudah tua ini? kakiku sudah tidak kuat."
"Oh benarkah, mengapa nenek begitu lemah? siapa lagi yang akan menemaniku berlari? "
Tanya pangeran Jimin bercanda. Mereka lalu masuk dan duduk disofa didekat matras sang ibu suri.
"Raja akan berulangtahun. Apa kau sudah menyiapkan hadiah untuknya? "
"Tentu saja, aku sendiri yang membuatnya. Yang mulia raja akan sangat suka."
"Baguslah, nenek senang mendengarnya."
**
Malam itu Kinan kembali kepenginapannya dan saat itu ibu suri melihatnya dari jauh berjalan berlawan arah dengannya.
"Siapa dia? "
"Dia arsitek terkenal yang akan membangun villa dipeternakan. Raja mempersilahkanya tinggal di dekat istana selama proses pembangunan ."
__ADS_1
Jelas seorang dayang disebelah kanan ibu suri. Kemudian mereka melanjutkan langkah mereka menuju ruang makan untuk makan malam bersama.
Malam itu ibu suri sangat senang karna sudah lama dia tidak makan bersama anak, menantu dan cucunya. Sesekali ibu suri memperhatikan sang raja. Dia menyadari sejak pernikahannya dengan sang ratu, raja tak pernah lagi tersenyum.
Sesudah menikmati makan malam bersama, ibu suri menghampiri raja diruang kerjanya.
Diruang kerja raja
"Apa ada yang ibu ingin sampaikan ?"
"Tidak ada, ibu hanya ingin berbincang bincang denganmu."
"Begitu"
"Ibu sudah dengar soal rencanamu membangun villa didaerah peternakan. Anakku mengapa kau tiba tiba ingin merubahnya, bukankah tempat itu sangat berarti buatmu? "
"Tempat itu sangat berarti buatku bu. Ibu tahu itu. Belakangan ini aku sering bermimpi, aku mendapati seorang anak lelaki dikebun bunga itu dan kemudian aku melihat anak itu meninggal dan dikubur dikebun bunga itu. Hal itu membuatku tak tenang. Aku terus teringat pada Yesika dan anakku. Aku takut itu menjadi pertanda buruk."
"Mimpi itu adalah kebalikan. Mungkin itu pertanda baik."
"Ibu ini sudah 23 tahun sejak aku meninggalkannya. Apakah aku masih bisa mencarinya? bagaimanapun dia adalah anakku."
" Ibu tahu tapi bagaimana mungkin kita bisa menemukannya. Yesika pergi dan tak pernah kembali. Bahkan kedua orangtuanya tidak tahu keberadaannya."
Terang sang ibu suri hingga membuat hati sang raja kian bersedih. Dia tertunduk menahan tangisnya. Sang ibu suri lalu mengelus punggungnya dengan lembut.
"Aku raja yang tidak bertanggung jawab bu. Aku ayah yang tak berguna."
"Kau berdoalah agar Tuhan selalu melindungi Yesika dan anak kalian. Ibu percaya Yesika akan menjaga anak itu dengan baik."
Keesokan harinya saat Kinan akan berangkat kepeternakan dia bertemu pangeran Jimin diluar dan pangeran ingin ikut dengannya. Setibanya disana mereka langsung menuju rumah Grace. Kinan bermaksud membawakan beberapa makanan untuknya. Namun rumah itu tampak terkunci dari luar.
"Aku hanya melihat ayahnya yang pergi beberapa saat yang lalu ."
Kinan merasa tak tenang setelah mendengar penjelasan tersebut. Dia lalu berkeliling menuju kamar Grace. Dari jendela yang sedikit rusak samar samar Kinan melihat gadis itu terbaring dilantai.
Kinan berlari kedepan dan membuka paksa pintu dari depan membuat pangeran Jimin bingung. Pangeran jimin mendekatinya dan mencoba melarangnya.
"Hei pemiliknya bisa marah."
Kinan tak menghiraukannya. Dia memukul gembok rumah hingga terbuka dan dia lalu masuk menuju kamar Grace. pangeran Jimin ikut masuk dan menemukan sejumlah obat tidur diatas meja.
"Apa dia kecanduan obat tidur, lalu ini obat apa? "
Kinan tak peduli, dia lebih memilih membawa Grace keluar dari sana menuju tenda pengobatan.
Tak lama dokter datang dan memeriksanya kembali. Pangeran Jimin juga menanyakan jenis obat yang ditemukannya disana.
"Ini salah satu obat keras. Efeknya bisa membuat seseorang lumpuh."
__ADS_1
Kinan masih diam memandangi Grace yang masih tak sadarkan diri diatas matras. Dokter memberi obat penawar agar Grace segera sadar.