Unperfect

Unperfect
sosok yang merindukan ibu


__ADS_3


Pagi itu setelah berpamitan pada suster kepala Kinan pun berangkat menuju istana. Disana dia akan bertemu raja dan membicarakan soal proyek pembangunan yang akan segera berlangsung.



"Pangeran, yang mulia raja ingin anda segera bersiap karna pagi ini akan ada pertemuan dengan tamu penting membahas proyek pembangunan villa dipinggiran desa."


" Aku mengerti."


Jawab pangeran Jimin lalu kembali kekamarnya. Dia mempersiapkan dirinya dengan baik.


Waktu itu tepat jam 10 pagi. Kinan dan rombongannya tiba diistana dan disambut baik oleh pihak kerajaan. Mereka langsung berjalan menuju sebuah ruangan khusus untuk menyambut para tamu.


Sang raja duduk dikursi kebesarannya dan saat dia pertama kali melihat Kinan dia seolah teringat pada Yesika.



Kinan lalu berjalan ke hadapan sang raja dan memberi hormat padanya.



Raja memperhatikan wajah Kinan. Bahkan Sang ratu Quina merasa dia memiliki kemiripan dengan sang raja dan Yesika.


"Jadi kau adalah arsiteknya ? kau terlihat hebat. Saat pertama kali melihat rancanganmu. Hatiku tersentuh dan merasa kagum."


"Trimakasih yang mulia."


Kinan sedikit membungkuk untuk pujian tersebut.


"Ayah dan ibumu pasti sangat bangga memiliki putra sepertimu. "


"Tuan muda pangeran juga tampak sangat hebat. Saya mendengar banyak tentangnya."


Puji Kinan balik. Raja Adam hanya tersenyum kecil dan sesaat dia menoleh sang pangeran.


"Pangeran, ajaklah mereka untuk melihat lihat lokasi pembangunan."


"Baik yang mulia."


Pangeran Jimin lalu mengajak Kinan kelokasi pembangunan. Itu adalah perkebunan milik keluarga Yesika dulu yang kemudian disewa oleh ayah Grace.


Kinan dan pangeran Jimin berjalan jalan disekitar perkebunan. Saat itu Kinan melihat seorang pria yang berusia 50 tahunan tampak mengembok sebuah gudang besar. Dia memastikan kalau pintunya tak bisa terbuka dan kemudian dia pergi dari sana.


"Ini kebun bunga yang begitu indah. Tanah disini tampak sangat subur."


Kata Kinan sambil menikmati hamparan bunga didepan rumah kecil disana. Jimin tersenyum kecil dan memetik salah satu bunga disana.


"Tapi raja lebih suka mengenyahkan keindahan bunga ini."


"Sepertinya pangeran lebih suka membiarkan taman ini begini."


"Bukankah begini jauh lebih indah ?Aku lebih suka sesuatu yang natural dari pada sesuatu yang dibuat buat. "


Terang pangeran dan Kinan tersenyum kecil.

__ADS_1


"Baginda raja ingin membangun villa disini hanya agar bisa melupakan masa lalunya. Tapi mau dirubah seperti apapun tempat ini tetap akan menjadi tempat tinggal masa lalunya. Kenyataan itu tak bisa diubah. "


Setelah puas berkeliling disana mereka pun kembali ke istana. Para pelayan mempersiapkan jamuan makan siang. Kinan duduk dihadapan pangeran Jimin didekat sang raja. Saat itu Kinan menyisihkan bawang putih yang ada pada makanannya dan sang raja memandangnya.


"Kau juga tak suka bawang putih? "


Tanya sang raja.


"Ah bukan begitu yang mulia raja. Aku hanya alergi dengan bawang putih. "


"Yang mulia raja juga alergi pada bawang putih ."


Terang pangeran Jimin dan mereka tertawa kecil.


"Karna alergi ini terkadang jadi bingung sendiri. Kebanyakan makanan mengandung bawang putih. "


**


Malam itu Kinan sedang bekerja dikamar yang sudah disiapkan untuknya. Dia merubah sedikit rancangannya dengan menambahkan kesan taman bunga disekitar villa yang akan dibangun.


Setelah agak lama Kinan akhirnya menyelesaikannya dan untuk melepas kepenatannya Kinan berjalan jalan kesekitar istana dan tak sengaja dia melihat raja dan pangeran tengah berdebat. Saat melihat Kinan berdiri tak jauh dari mereka, pangeran Jimin pun memilih untuk pergi.



"Belum tidur ?"


Tanya raja Adam setelah Kinan datang menghampirinya.


"Belum yang mulia."


Tanya raja Adam dan Kinan mengangguk kecil.


"Pangeran begitu sangat dimanjakan sejak kelahirannya dan hal itu menyebabkan dia bersikap semena mena. Sebagai seorang ayah aku ingin mendidiknya agar kelak bisa menjadi raja yang dermawan tapi semakin mengekangnya dia semakin gigih. "


"Pangeran masih sangat muda yang mulia. Mungkin perlahan hatinya akan terbuka."


"Dia tak pernah mau mendengarkan perkataan orang lain. "


"Pangeran sangat beruntung. Pangeran memiliki raja dan ratu dan banyak orang yang mengasihinya. Aku bahkan tak tahu bagaimana rasanya dimarahi oleh orangtuaku."


Kenang Kinan dan raja Adam menolehnya seolah perkataan Kinan itu menyentuh luka lamanya namun kemudian Kinan tersenyum dengan ceria.


"Tapi aku memiliki sesosok ibu pengganti. Dia suster kepala disebuah panti asuhan dimana ibuku meninggalkanku. "


" Mengapa ibumu melakukan hal itu? "


"Aku tidak tahu alasannya. Dia meninggalkan aku disana sejak aku dilahirkan. Sesekali dia datang menjengukku dan membawakan bakpau. Ibuku tak ingin aku tinggal dengannya. "


Jelas Kinan yang masih mencoba tetap tegar. Sang raja pun semakin mendekat dan meraih pundaknya.


"Anakku, terkadang hidup memang sulit. Terkadang kita harus menjalani hidup yang tak kita inginkan. "


"Mungkin itu yang dirasakan pangeran saat ini."


"Sebenarnya aku tahu perasaan pangeran. Dulu saat masih seusiamu aku juga punya keinginan sendiri tapi beban dan tanggung jawab yang dilimpahkan kepadaku membuatku mengubur semua mimpiku.

__ADS_1


Sekali pun aku ingin membebaskan pangeran dari semua ini tapi kenyataan harus tetap dihadapi. Dia satu satunya putra mahkota pewaris kerajaan. Dia satu satunya harapanku."


Keesokan harinya Kinan terbangun dan dia berolah raga disekitar peternakan milik keluarga Grace. Dia berlari perlahan dan tak sengaja bertemu dengan pangeran Jimin yang juga sedang lari pagi



"Selamat pagi pangeran."


Sapa Kinan dan pangeran Jimin tersenyum padanya.


"Suka olah raga juga ?"


Tebak pangeran sambil berjalan beriringan dengan Kinan perlahan.


" Begitulah"


" soal semalam,, itu hal yang biasa. Mungkin kau akan sering melihatnya."


"Semua orang punya masalah masing masing."


"Yah aku tahu. Semua orang melihat hidupku sangat sempurna. Seorang pangeran yang bisa mendapatkan apapun yang diinginkan tapi sejujurnya aku lebih suka menjadi kalangan biasa. Tidak terikat akan peraturan dan juga kebijakan kerajaan."


"Pangeran sudah beranjak dewasa. Harusnya pangeran bisa lebih bijaksana dalam mengambil keputusan. Raja sangat mengharapkan pangeran ."


"Entahlah,, membahas masalah ini rasanya tak ada habisnya. Seandainya saja kerajaan ini tak terkutuk mungkin aku bisa punya pilihan lain."


"Terkutuk? "


Kinan menatap pangeran Jimin dengan wajah penasarannya.



"Nenekku pernah bercerita kalau dulu kakekku buyutku sangatlah kejam. Dia akan menghukum semua orang yang membelot pada perintahnya. Suatu ketika dia memerintahkan panglimanya untuk membunuh semua anak lelaki dari seorang yang dituduh berhianat. Istri orang itu menangis karna suami dan semua anak lelakinya mati terbunuh dan dia mengutuk kakekku. Dia berkata kerajaan akan sulit mendapatkan keturunan laki laki. Semua anak lelaki dari keluarga kerajaan haruslah mati kecuali anak yang dilahirkan secara tidak hormat agar anak itu dipandang sebagai anak haram kerajaan. Sejak hari itu kutukan itu berlaku. Setiap kali permaisuri maupun selir yang hamil akan mengalami keguguran dan jika pun anak itu lahir maka tak lama anak itu akan meninggal."


"Sungguh sangat disesalkan."


"Yah,,, ini menjadi alasan kerajaan selalu mengawasiku hingga aku tak punya privasi. Mereka mengikutiku, memeriksa semua hal disekitarku. membuatku sulit mendapatkan teman."


"Lalu apa pangeran sendiri tak takut pada kutukan itu? "


Tanya Kinan dan pangeran tersenyum kecil dan berjalan kearah kandang kuda disana.


" Hidupku yang tanpa kemauan sendiri dan cara sendiri terkadang membuatku merasa lebih baik untuk tak hidup. Mungkin Tuhan akan memberikan kehidupan baru untukku."


"Lalu bagaimana dengan raja dan ratu, apakah pangeran tidak memikirkan perasaan mereka ?"


"Aku sebenarnya anak yang dilahirkan seorang selir raja. Sejak kecil aku tak bisa merasakan kasih sayang mereka secara nyata. Bahkan ibu yang melahirkanku lebih senang saat ratu yang mengurusku. "


"Sepertinya kita punya nasib yang sama tentang orangtua kita. "


"Benarkah? "


Tanya pangeran Jimin sambil melirik Kinan yang memberi kuda didepannya makan.


"Setelah aku lahir, ibuku meninggalkanku dipanti asuhan. Sesekali dia datang menjengukku. Dia tak ingin aku tinggal dengannya dan hingga saat ini aku tak tahu siapa ayahku dan sudah 10 tahun ibuku tak kembali. "

__ADS_1


__ADS_2