Unperfect

Unperfect
kemarahan sang raja


__ADS_3


Ibu suri terus memperhatikan Kinan saat Kinan tengah berbincang dengan rekan yang lain. Ibu suri merasa penasaran padanya dan kemudian dia keluar menuju kamarnya.


Ibu suri teringat saat dia mengirimkan surat pada Yesika waktu itu. Ibu suri melilitnya dengan kain yang sama agar orang lain tak melihatnya. Ibu suri sangat yakin bahwa kain itu adalah pemberiannya.


Setelah acara selesai seorang pelayan meminta Kinan untu menghadap ibu suri ditaman didekat kamar beliau.


" Siapakah namamu? "


"Kinan yang mulia ibu suri."


"Dari manakah asalmu? "


"saya tinggal dikota."


"siapakah nama ibu dan ayahmu? "


Pertanyaan beliau kini membuat Kinan terdiam agak lama. Ibu suri melihat keraguan yang membuat tatapan kinan berubah hampa.


"Bolehkan aku mengetahuinya ?"


"Maaf yang mulia ibu suri, saya juga tak tahu siapa nama mereka. Saya dibesarkan disebuah panti asuhan. Saya tidak tahu siapa nama mereka."


"Lalu dari manakah kau mendapatkan syal ini? "


Tanya ibu suri lagi. Kinan yang merasa bingung lalu memperhatikan syal kecilnya.


"Ini satu satunya barang pemberian ibu saya. "


Jawaban Kinan kini membungkam mulut ibu suri. Entah mengapa dia memiliki firasat pada sosok pemuda yang ada dihadapannya itu. Dia menatapnya lekat dan seolah dia teringat pada Yessika dimasa lalu.


"Mengapakah yang mulia ibu suri ingin mengetahui latar belakang saya? "

__ADS_1


"Tidak apa apa, aku hanya teringat pada sesuatu. Sekarang kau boleh pergi."


"Baik yang mulia, kalau begitu saya permisi. "


Kinan lalu meninggalkan tempat itu. Ratu Quina sempat melihatnya dan membuatnya bingung. Namun dia segera menepis keraguannya dan melanjutkan langkahnya.


**


Setelah pesta berakhir sang raja kembali keruang kerjanya. Dia meletakkan hadiah buatan pangeran diatas meja kerjanya agar beliau bisa selalu melihatnya. Setelah puas memandangi miniatur tersebut raja lalu duduk dikursinya dan menemukan beberapa berkas diatas mejanya. Salah satunya adalah amplop yang terletak dibagian paling atas. Raja merasa bingung lalu membuka amplop tersebut.


BRAK.....


Seketika miniatur yang susah payah dibuat pangeran hancur berkeping keping pecah dilantai. Pengawal raja berlari cepat memanggil pangeran untuk segera menghadap raja. Pangeran yang khawatir lalu segera bergegas berlari menuju kesana.


Kinan yang baru saja kembali dari kediaman ibu suri melihatnya dan membuatnya juga tampak khawatir. Dia mengikuti pangeran menuju ruang kerja sang raja. Tak lama selir Yana dan ratu juga masuk kesana.


Pangeran Jimin terdiam. Langkahnya terhenti dan kemudian dia mendekati serpihan miniatur buatannya. Dia meraih salah satu batu permata itu dan menatap sang raja.


"Apa yang terjadi yang mulia? "


"Yang mulia mengapa hadiah pemberian pangeran pecah seperti ini, bukahkan yang mulia sangat menyukainya? "


"Pangeran? apakah saat melakukan ini semua dia sadar bahwa dia adalah seorang pangeran yang seharusnya menjaga atitud dan sikapnya? "


Teriak Raja membentak sambil menghempaskan semua foto foto pangeran kearahnya. Ratu Quina memungutnya dan melihat semua foto yang dikirimkan itu.


"Pangeran... "


"Mulai hari ini dia tak bisa meninggalkan istana tanpa seijinku dan kurung dia dikamarnya. Selangkah pun dia tak bisa keluar dari sana. "


Para pengawal lalu membawa pangeran Jimin kekamarnya tanpa perlalwanan. Mereka juga menjaga didepan pintu kamar pangeran agar pangeran tak keluar lagi.


Selir Yana hanya diam. Dia memungut semua serpihan itu sembari menangis. Raja kembali kemarnya dan diikuti oleh sang ratu. Selir Yana teringat bagaimana anaknya itu selalu menolak menjadi raja.

__ADS_1


Grace sedang dalam perjalanan menuju kamarnya namun langkahnya terhenti saat melihat Selir Yana tengah duduk bersedih didekat kolam ikan. Grace menghampirinya, Selir yana menolehnya, matanya tampak memerah karna baru menangis.


Dari mata Grace selir Yana tahu bahwa gadis itu ikut khawatir padanya. Selir Yana lalu menarik tangannya agar Grace duduk disampingnya. Grace dengan sangat sungkan akhirnya duduk disana. Dia tidak mengerti bagaimana caranya menghibur sang selir.


Ditangan sang selir Yana, Grace melihat sebuah kotak yang berisikan pecahan miniatur milik pangeran Jimin. Grace manatap selir Yana lagi seolah dia meminta penjelasan.


"Yang mulia raja marah besar saat melihat foto foto milik pangeran yang tengah menari dipentas. "


Seketika selir Yana kembali diam. Dia tidak tahu bagaimana menumpahkan perasaannya. Dia menatap sendu kearah Grace dan kemudian tertunduk lagi.


"Mungkin saat ini hanya kau yang bisa menemaniku. Kau tuli dan bisu, kau takkan bisa menceritakan duka ku ini pada siapapun dan saat ini aku sangat membutuhkanmu untuk mendengarkanku. "


Sebuah hembusan nafas panjang menjadi jeda diselanjutnya. Selir Yana kemudian menatap kedepan, kearah kolam ikan yang tak jauh dari mereka berada.


"Saat pertama kali alm raja Juyon memintaku untuk menjadi salah satu selir raja Adam hatiku sangat kacau. Aku merasa tidak siap karna usiaku yang masih sangat muda. Namun aku tak bisa menolak permintaan raja. Kami lalu menikah, dimalam pertama kami bersama aku berkata pada yang mulia raja Adam bahwa aku belum siap. Hari demi hari raja dengan sabar menungguku. Hari demi hari pun aku mengetahui kutukan yang menimpa kerajaan. Sebelum aku, raja sudah memiliki 9 selir lain. Mereka semua tak bisa memberikan keturunan pada yang mulia raja Adam. Setiap kali mengandung maka ada saja hal yang menyebabkan mereka keguguran. Aku melihat raja Adam sangat putus asa dan sedih, ratu Quina juga selalu berusaha membujukku hingga akhirnya aku mau. Tak lama aku pun hamil. Saat itu raja berpesan bahwa aku tak bisa melakukan hal hal apapun. Semua orang menjagaku dan memperlakukanku dengan baik.


Sembilan bulan kemudian aku melahirkan pangeran. Raja dan ratu begitu bahagia karna anak yang kulahirkan adalah anak laki laki. Ratu Quina menggendongnya dan membawanya pergi sebelum aku menciumnya. Sejak saat itu ratu Quina yang merawatnya dan membesarkannya. Dia tak membiarkan aku melakukan tugasku sebagai seorang ibu.


Namun seiring bertambah waktu pangeran akhirnya mengetahui bahwa dia bukanlah anak kandung ratu Quina. Dia lalu berlari padaku dan memelukku. Sejak saat itu dia hanya menginginkanku ada disisinya. Dia selalu berkata bahwa dia tak ingin menjadi raja.


Namun takdir berkata lain. Pangeran adalah satu satunya harapan raja. Oleh karna itu diam diam pangeran menyembunyikan sebuah rahasia dari sang raja karna dia tahu raja akan marah jika tahu apa yang dilakukannya.


Hari ini raja tahu. Seseorang mengirimkan foto pangeran dan itu membuat raja murka. Kini raja mengurungnya dikamarnya. Yang mulia menghukumnya dan itu sangat menyakiti hatiku. Aku merasa tak berguna sebagai seorang ibu untuknya."


Curhat selir Yana sambil menangis. Grace ikut tersentuh. Dia lalu memberanikan diri untuk menggenggam tangan beliau.


"Apa yang bisa kulakukan untuk membantu anakku? "


**


Grace kembali kekamarnya dan dia bertemu Kinan disana. Kinan melihat Grace membawa kotak miniatur pangeran yang pecah ditangannya.


"Apa yang akan kau lakukan dengan itu? "

__ADS_1


"Memperbaikinya, sesuatu yang rusak pasti bisa diperbaiki ."


__ADS_2