
Kinan masih duduk didekat matras ditempat grace terbaring. Dia berusaha berfikir apa yang sedang terjadi. Tak lama Grace tersadar. Dia membuka matanya dan mencoba bangkit. Kinan segera mendekatinya dan membantunya .
"Grace.... "
Suara Wiliam terdengar. Beliau datang mendekati mereka dengan wajah tak bersahabat.
" Jauhi anakku !"
"Pamanlah yang seharusnya menjauhinya. Aku curiga paman bukanlah ayahnya, paman berusaha membunuhnya."
Sebuah pukulan mendarat dipipi Kinan. Pangeran segera bangkit mendapati Kinan.
"Hei apa yang kau lakukan? "
"Aku melihatmu mengunci gudang waktu itu. Bagaimana mungkin Grace terkunci disana dan tak sadafkan diri? Dengan kondisinya yang bisu tak memungkinkannya untuk meminta pertolongan. paman membuatnya mengkonsumsi obat obatan agar dia lemah dan mati perlahan disana. benarkan? "
Wiliam semakin marah dan kembali ingin memukul tapi Kinan menahan tangannya.
." Hari itu saat hujan turun dengan deras paman juga sengaja mengabaikannya diluar. Membiarkannya kedinginan berjam jam sedang paman menikmati sup dirumah. paman bilang tak mendengar saat dia mengetuk pintu. Dan setelah itu paman memberikannya lagi obat itu semalam. Apa paman sudah gila ?!!!"
Bentak Kinan kesal lalu memukul Wiliam hingga beliau terjatuh.
Grace manangis dan mencoba turun namun kondisinya yang masih lemah membuat kakinya tak cukup kuat untuk menopang tubuhnya sehingga dia kembali terjatuh dan menabrak barang didekatnya. Kinan mendekatinya dan membantunya.
" Dia mencoba mencelakaimu, tapi aku akan menjagamu."
"Menjaganya cih.. "
Wiliam meludah menghina Kinan.
"Dia lebih baik mati ditanganku! "
Mendenar kalimat itu membuat emosi Kinan menjadi jadi. Darahnya sekan meledak dikepalanya. Kinan yang kesal lalu memghampirinya dan berniat memukulnya.
"Pukuk, ayo pukul!!!"
Wiliam tak mau kalah membentak Kinan. Tapi Kinan menahan tangannya saat melihat Wiliam menangis.
"Lihat dia, LIHAT."
Bentaknya lagi dan Kinan menoleh kearah Grace yang menangis tanpa suara.
"Dia bisu, dia cacat. Dia hanya akan menjadi bahan hinaan. Aku tak sanggup melihatnya menangis lagi. Dia sudah terlalu banyak menderita. Bagaimana jika aku tak ada disisinya? jadi lebih baik dia mati, dengan begitu penderitaannya akan berakhir. "
Sesal Wiliam menangis sedih. Kinan melepaskannya dan dia menghampiri Grace lagi yang terisak isak dilantai memandang sendu pada Kinan.
"Aku yang akan menjaganya."
Kata Kinan, Kinan mendekati Grace dan menyeka air matanya.
"Ikutkah denganku, aku berjanji akan menjagamu."
grace masih menangis, dia lalu menatap ayahnya. Sesaat Kinan menatapnya juga seolah dia mengerti isi hati Grace. Kinan mengendong Grace dan membawanya melewati Wiliam.
__ADS_1
"Percayalah padaku, aku akan menjaganya bahkan lebih baik darimu."
Ijin Kinan lalu melanjutkan langkahnya. Pangeran Jimin pun ikut serta menyusul dibelakangnya. Mereka meninggakkan peternakan itu dengan menaiki mobil Kinan.
Sedang ditempat lain seorang gadis seusia Grace tengah menari nari kecil memasuki kamarnya. Dia membaringkan dirinya diatas matras memandangi stiker bintang dilangit langit kamarnya.
"Ohh akhirnya."
Dia berguling dan membuka kembali kontrak kerja yang tadi ditanda tanganinya. Johana baru saja terikat kontrak dengan salah satu stasiun Tv sebagai penulis baru dan tak lama lagi hasil karya Johana akan diflimkan.
Kinan menemui raja siang itu untuk meminta ijin beliau agar Grace tinggal disana sampai nanti Kinan membawanya kepanti asuhan. Kinan menceritakan hal yang menimpa Grace. Raja menyetujuinya karna dia teringat pada Yesika yang dulu juga tinggal disana sebagai petani bunga.
"Aku salut padamu, biasanya tak mudah meminta persetujuan yang mulia raja. Tapi kau melakukannya dengan sangat mudah."
Puji pangeran Jimin setelah mereka berdua keluar dari ruang kerja raja.
"Ini juga berkat bantuanmu."
" Aku akan suruh Hansen mengurus kamar untuknya."
" Trimakasih, oh yah besok yang mulia raja berulang tahun. Ku dengar akan banyak gadis yang diundang. Tampaknya raja berencana menikahkanmu."
"0oh hayolah, aku masih terlalu muda. Aku masih ingin bersenang senang dulu. Aku masih punya banyak cita cita."
"Memangnya pangeran punya cita cita seperti apa? "
Tanya Kinan dan pangeran sedikit membisikkannya dan mereka tertawa bersama.
"Kau satu satunya yang kuberitahu. Aku akan menunggu saat yang tepat dan bicara dengan raja. Aku sangat berharap dia mengijinkanku dan mendukungku."
Malam itu dengan mengendap endap pangeran Jimin keluar dari istana setelah makan malam. Dia kabur dari istana menuju salah satu tempat. Teman temannya yang lain sudah menunggunya dan bersiap untuk menunggu giliran.
Malam itu pangeran mengikuti acara dancing star sebagai guest star dan mereka berkesempatan berkolaborasi dengan rapper terkenal diibu kota. Untuk mengikuti acara itu pangeran Jimin memakai masker agar identitasnya tak terbongkar namun seseorang kembali memotretnya saat diruang tunggu.
Grace masih belum tidur malam itu. Dia melamun sendiri memandangi bintang didepan pintu kamarnya. Kinan baru saja kembali dengan membawakan sebuah kantongan ditangannya. Grace menolehnya dan Kinan menghampirinya.
"Kau dari mana? "
Tanya Grace melalui notenya.
"Aku keluar untuk membeli kertas kado. Besok raja ulang tahun. Aku ingin membungkus kado untuknya."
"Raja ulang tahun? "
" Benar, kau mau membantuku membungkus kado untuknya? "
Mereka lalu duduk bersama didepan kamar Kinan. Kinan akan menghadiahkan sebuah jam untuk beliau. Kotak itu agak besar, Grace lalu berfikir untuk menaburkan kuntum bunga mawar disekitar kotak jam tangan itu hingga tampak sangat indah dan juga wangi.
Keesokan harinya semua pelayan diistana sibuk mengatur persiapan pesta yang akan segera diadakan siang itu. Grace yang merasa bosan lalu menawarkan diri untuk membantu para dayang disana untuk menghias aula tempat acara akan berlangsung.
Entah mengapa Grace mendesain bunga bunganya seperti mana Yesika dulu melakukannya. Semua tampak sama dengan bunga yang sama. Grace melihatnya dan dia tersenyum merasa pekerjaannya sangat maksimal.
__ADS_1
Setelah kembali dari proyek Kinan pun bergegas mandi. Dia sudah hampir terlambat. Dia segera mengenakan jas rapi namun dasinya tak ada lagi yang tersisa. semua sudah kotor.
"Dasinya kotor semua."
Gerutu Kinan kecil. Kinan lalu melihat sesuatu didalam kopernya lewat kaca riasnya. Kinan mendekati tempat tidurnya dan meraih sebuah syal kain panjang bermotif hitam putih peninggalan ibunya. Kain itu selalu dibawanya kemanapun dia pergi.
Kinan memasukkan kain syal itu kekerah baju lehernya sebagai pengganti dasinya. Sesaat dia memandang dirinya dicermin. Dia tampak sangat sempurna.
Rombongan raja memasuki gedung aula, Tepuk tangan para tamu mengiring langkah mereka memasuki gedung tersebut. Kian melangkah raja kian sadar dekorasi aula tersebut mengingatkannya pada kejadian silam saat pertama kali dia bertemu Yesika disana.
"Ada apa raja? "
Tanya ratu Quina sedikit pelan didekat raja.
"Siapa yang menghias aula ini. aku ingin bertemu dengannya."
"Baiklah, akan saya minta pelayan membawanya menghadap raja segera."
Lalu mereka kembali melanjutkan langkah menuju kursi khusus yang disediakan untuk mereka. dihadapan mereka sudah tersedia sebuah kue ulang tahun yang sangat mewah dan indah berbentuk istana.
Satu demi satu tamu datang untuk menyalami raja serta menyerahkan hadiah mereka. Ibu suri memperhatikan mereka dan secara tiba tiba suasana begitu riuh akan suara para gadis gadis yang menyapa pangeran.
Mata ibu suri menyusur kepintu utama. Tampak pangeran berjalan masuk bersama Kinan yang langsung membuat ibu suri tertegun.
"Apakah keduanya adalah pangeran? mereka benar benar tampan. "
Bisik seorang gadis yang baru saja mereka lewati.
"Siapa lelaki disamping pangeran Jimin, apakah dia juga seorang pangeran? dia tampak sangat berkarisma layaknya pangeran. "
Kata yang lain. Mereka terkagum kagum akan sosok Kinan yang melewati mereka dengan membawakan hadiah ditangan mereka. Tak lama seorang dayang datang dan membisikkan sesuatu pada ratu.
"Yang mulia, saya sudah membawakan perias aula ini. "
"Bawa dia kemari."
Perintah sang raja. Pelayan tersebut lalu mengarahkan Grace menghadap raja. Grace yang malu hanya bisa tertunduk. Dia membungkukkan badannya didepan raja segera.
"Apakah kau yang menghias tempat ini? ini sangat bagus. Aku sangat menyukainya."
Grace masih tertunduk karna dia bingung harus menjawab seperti apa.
"Dialah gadis yang kuceritakan pada yang mulia raja, dia gadis yang baik."
Jawab Kinan segera. Raja tersenyum dia tahu sekarang bahwa gadis itu bisu dan tak mungkin menjawabnya. Raja lalu mendekatinya sambil tersenyum dan Grace menatap beliau.
"Terimakasih. "
"Pangeran ayo berikan hadiah pangeran ."
Kata ratu Quina kemudian. pangeran lalu menyerahkan hadiah miliknya untuk diserahkan pada raja. Raja langsung membukanya dan melihat sebuah miniatur peternakan dengan hamparan bunga yang terbuat dari batu permata yang berkilauan sangat indah.
"Ini cantik sekali ."
Raja tersenyum terharu. Dia memeluk anaknya itu sesaat.
__ADS_1
"Trimakasih anakku, ini sangat bagus."
Kata raja memuji lalu Kinan juga menyerahkan hadiah miliknya dan raja juga sangat menyukainya. Kelopak bunga mawar disana semakin membuatnya tak bisa melupakan Yesika. Secara spontan raja memeluk kedua pemuda itu erat. Ibu suri hanya memandangi dengan diamnya.