
Hari itu sangat dingin. Hujan mengguyur Jakarta sejak pagi dan cuaca pun sangat mendukung untuk bermalas-malasan. Hanna terbangun dari tidurnya dan melihat kekasihnya yang tertidur pulas di sampingnya. Ia tersenyum menatap wajah Darian yang tampan bak dipahat oleh Tuhan. Tangannya mengelus lembut rahang Darian yang ditumbuhi janggut halus.
Hanna mengecup bibir Darian ringan sebelum beranjak dari tempat tidur yang mereka bagi setiap malam.
"Ah..." Hanna meringis kesakitan. Pahanya terasa pegal sekali karena semalaman menunggangi Darian seperti kuda balap. Tapi Darian adalah pria dominan hingga ke tulang. Tidak peduli walaupun Hanna yang berada di atasnya, Darian tetap memegang roda kemudi dengan kuat.
"Ah, permainan semalam gila sekali." Gumam Hanna sambil melirik Darian yang masih terlelap.
Hanna beranjak meninggalkan ranjang dan berjalan ke dapur. Ia hendak membuat segelas teh hijau favoritnya dan kopi hangat kesukaan Darian. Setelah dua gelas minuman hangat itu selesai, Hanna membawanya ke kamar bersama beberapa lembar roti agar Darian bisa menyantapnya. Maklum, Hanna tidak bisa memasak jadi ia hanya bisa menyiapkan makanan seperti ini untuk Darian. Tapi untuk apa repot-repot memasak kalau ia punya banyak uang untuk membeli makanan yang ia mau, kan?
"Sayang, bangun yuk. Aku sudah buatin kopi untuk kamu." Ucap Hanna pelan sambil mencium pipi Darian.
Darian tersenyum malas. Tangannya yang kuat kembali merengkuh Hanna dalam pelukannya yang hangat. Darian dengan lembut mencium leher Hanna, membuat wanita itu tertawa.
"Ah, Ian. Sudah dong. Kamu lupa kalau kita sudah semalam suntuk bercinta?" Ucap Hanna manja.
Darian tertawa dengan bibir yang menempel di leher Hanna.
"Ya mau bagaimana lagi, Sayang. Sepertinya aku tidak pernah bisa berhenti kalau sama kamu." Kata Darian lembut.
Hanna melepaskan pelukan Darian sambil tertawa. Hatinya berbunga-bunga karena ia tahu benar pria yang terbaring di ranjangnya adalah miliknya sepenuhnya. Darian benar-benar ada di genggamannya dan Hanna sadar benar dengan hal itu. Rasanya ia sudah memegang kemenangan terbesar di dunia ini dengan Darian yang ada di sisinya.
"Tapi kamu harus sarapan dulu, Ian. Aku tidak mau kalau kekasihku sakit." Ujar Hanna sambil mengambil segelas kopi dan menyodorkannya kepada Darian.
Darian bangkit dan menyenderkan tubuhnya pada kepala ranjang yang besar. Sungguh permainan cinta Hanna memang sangat memabukkannya dan rasanya Darian tidak akan pernah bisa lepas dari wanita itu. Bahkan setelah lima tahun berlalu, rasa cinta dan gairah mereka masih sama besarnya seperti pertama kali bertemu.
Ia mengambil segelas kopi yang diberikan Hanna dan menegaknya. Yah walaupun wanita di sampingnya ini tidak pandai memasak, setidaknya Hanna paham betul bagaimana kopi yang Darian suka. Lagipula persoalan memasak bukanlah hal penting bagi orang kaya seperti mereka, bukan?
Hanna duduk di samping Darian dan menyenderkan kepalanya di dada Darian yang telanjang dan bidang.
"Bagaimana kalau malam ini kita makan malam di hotel, Sayang? Sepertinya sudah lama kita tidak makan malam yang romantis, kan?" Ajak Darian sambil mengelus rambut Hanna.
Hanna mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Darian yang tersenyum ke arahnya.
"Ide bagus. Nanti aku akan pakai dress yang paling cantik biar kamu bangga punya kekasih secantik aku." Ucap Hanna sambil tertawa.
Darian membalasnya dengan tertawa. Sesuatu yang bahkan tidak pernah dilihat oleh istrinya namun menjadi suara merdu yang setiap hari didengar kekasihnya. Darian mengecup bibir Hanna singkat dan berkata dengan lembut. Tiga kata yang membuat siapa saja bisa meleleh di tempatnya saat itu juga.
"I love you."
__ADS_1
...****************...
Darian sudah berjanji akan mengajak Hanna untuk makan malam romantis di salah satu restoran terbaik di Jakarta. Tentu saja Hanna harus tampil dengan pakaian terbaiknya agar Darian bangga menggandengnya. Lagipula seorang desainer ternama seperti Hanna tidak mungkin berpenampilan buruk kan? Bagaimana dengan reputasinya kalau kliennya melihat Hanna berpenampilan buruk?
Hanna mematut dirinya di depan kaca sedari tadi. Pikirannya bimbang apakah ia harus tampil seksi dan menggoda atau terlihat klasik dan elegan. Tubuh Hanna yang indah dan semampai sudah pasti sangat bagus dalam balutan busana apapun. Tapi Hanna ingin tampil spesial malam ini. Ia ingin mengamankan Darian dan menguncinya selamanya di dalam hati.
Hanna memutar-mutar tubuhnya yang hanya terbalut ****** ***** seksi berwarna hitam. Ia belum mengenakan bra karena kedua busana yang menjadi pilihannya adalah dress backless dengan bagian punggung yang terbuka. Hanna takjub melihat bayangannya di cermin. Sungguh betapa indahnya tubuh yang ia miliki. Sungguh betapa sempurnanya paras yang ada di wajahnya. Perempuan mana yang tidak iri pada Hanna yang sempurna seperti ini?
Matanya menangkap sosok Darian yang berjalan masuk ke dalam kamarnya. Hanna bingung karena Darian belum berpakaian dan hanya memakai celana pendeknya saja.
"Loh? Kamu belum berganti pakaian, Sayang?" Tanya Hanna memperhatikan Darian.
Darian lalu berjalan ke arah Hanna, memeluknya dari belakang. Kedua tangannya menggerayangi tubuh Hanna dengan lihai.
"Belum. Kamu bisa membantu aku untuk memilih pakaian yang harus aku pakai, kan? Aku tidak mau terlihat jelek di sampingmu." Ucap Darian sambil tersenyum.
Hanna tertawa. Dasar pria manja. Tapi Hanna senang karena hanya kepadanya Darian mau bermanja-manja seperti ini. Tiba-tiba sebuah ide jahat terlintas di pikiran Hanna. Apalagi kalau bukan memanas-manasi Kinanti, si istri sah.
Hanna mengambil ponselnya yang tergeletak di kasurnya. Darian bingung melihat Hanna yang tiba-tiba melepaskan diri dari pelukannya. Lalu Hanna kembali berdiri di depan cermin dan meletakkan tangan Darian di atas dadanya. Menangkup kedua mahkotanya dengan erat. Hanna lalu membuka kamera belakang ponselnya dan menjepret pantulannya dan Darian di cermin. Sebuah foto yang terlihat panas dan nakal tertangkap di ponselnya.
"Buat apa?" Tanya Darian penasaran.
Darian tertawa. Gila, memang kekasihnya ini sama gilanya dengan Darian. Bagaimana mungkin wanita ini selalu terpikir untuk memanas-manasi istrinya? Tapi Darian tidak pernah protes ataupun mengeluh tentang hobi baru Hanna mengganggu Kinanti. Darian tidak peduli bagaimana perasaan Kinanti ketika menerima pesan itu. Toh Darian memang tidak pernah mencintai Kinanti, bukan?
...****************...
Makan malam Hanna dan Darian berlangsung dengan sangat romantis. Restoran yang mereka datangi adalah restoran favorit Hanna sekaligus milik salah satu teman mereka semasa berkuliah di Inggris. Setelah menyantap setiap sesi hidangan yang disajikan, Darian mengajak Hanna untuk pulang. Ia mengulurkan tangannya agar Hanna dapat menggandengnya. Si wanita menerimanya dengan senang hati. Senyumnya tersungging lebar melihat tatapan setiap wanita yang iri melihatnya.
Hanna meraih ponselnya. Maksud hati ingin memotret tangan mereka yang saling bertaut dengan latar mobil sport yang dikendarai Darian. Namun ia terhenyak melihat sebuah pesan yang masuk. Pesan balasan dari Kinanti. Aneh? Biasanya wanita ini tidak pernah membalas pesan yang dikirimkan Hanna.
Hanna membuka kunci ponselnya dan melihat foto yang dikirim oleh Kinanti. Amarahnya memuncak saat melihat Kinanti berfoto bahagia dengan kedua orangtua Darian. Senyum kedua orangtuanya sangat lebar seolah Kinanti adalah anak yang paling mereka sayang. Hanna membaca kalimat yang dituliskan Kinanti di bawah foto tersebut.
Kata Papa dan Mama Darian, aku adalah pilihan terbaik mereka. Putri kesayangan yang bisa diajak bercerita sepanjang hari tanpa bosan.
Dengan kesal Hanna meremas ponselnya. Namun Hanna adalah wanita yang bertemperamen sama buruknya dengan Darian. Ia kesal melihat Kinanti yang tersenyum bahagia dengan kedua orang yang semestinya menjadi mertuanya. Hanna melemparkan ponselnya dengan marah dan ponsel itu mendarat entah di bagian mana dari mobil Darian.
"Argh!" Seru Hanna kesal.
Darian bingung melihat kekasihnya yang tiba-tiba tampak marah.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Darian.
"Kinanti mengirimkan aku foto." Jawab Hanna sebal.
"Foto apa?" Darian bertanya lagi.
"Kamu lihat saja sendiri!" Seru Hanna.
Darian mencari ponsel Hanna dan akhirnya menemukannya. Ia melihat foto yang dikirimkan Kinanti dan tertawa.
"Foto ini? Kamu marah hanya karena foto ini?" Tanya Darian seolah tidak percaya.
Tapi bukannya mereda, amarah Hanna makin menjadi melihat Darian yang tidak menganggap masalah ini serius.
"Hanya? Ian, itu foto Kinanti dan kedua orangtua kamu! Artinya kedua orangtua kamu sangat memihak dan mendukung Kinanti!" Seru Hanna lagi.
"Tapi kamu kan tidak perlu cemas begitu, Sayang. Yang penting hanya kamu wanita yang aku cintai. Aku ini milikmu." Ucap Darian menenangkan.
"Tapi tetap saja, Ian! Mau sebesar apapun kamu mencintaiku, aku ini tetap selingkuhanmu! Wanita tanpa ikatan apapun yang berhubungan dengan suami orang! Istri sahmu adalah wanita sialan itu! Kinanti! Dan sekarang orangtuamu juga mendukungnya!" Sembur Hanna.
"Lagipula kapan kamu akan terus-terusan menyembunyikan hubungan kita? Aku bosan harus kucing-kucingan seperti pelakor terus menerus!" Lanjut Hanna.
"Dari awal kita kan sudah sepakat untuk tidak membahas hal ini, Hanna. Kita sepakat untuk melanjutkan hubungan kita secara rahasia, bukan? Dan kamu setuju dengan hal itu! Kenapa sekarang kamu tiba-tiba haus pengakuan dari orang lain?" Seru Darian mulai kehilangan kesabarannya.
"Wajar kalau aku mau minta hubungan kita diresmikan, Ian! Kita sudah lima tahun bersama dan selama tiga tahun terakhir kita tinggal serumah seperti suami istri! Kalau hubungan kita tidak kemana-mana, aku yang akan merasa paling rugi! Bukan kamu!" Bentak Hanna kesal.
Mobil yang dikendarai Darian akhirnya sampai di apartemen milik Hanna. Hanna segera membuka mobilnya dengan kasar dan berlari menuju apartemennya. Darian terburu-buru menyusulnya dari belakang.
"Kamu mau aku melakukan apa?!" Tanya Darian ketika mereka sudah tiba di apartemen Hanna.
"Kalau kamu tidak bisa memberikan kejelasan pada hubungan kita, lebih baik kamu pergi dari sini, Ian! Aku tidak mau melihat pria pecundang seperti kamu lagi! Pria yang lebih sayang asetnya daripada memperjuangkan kekasihnya seperti kamu tidak ada harganya bagiku!" Seru Hanna.
Darian memanas mendengar hinaan Hanna. Bagaimanapun juga Darian adalah pria dengan harga diri yang sangat tinggi. Mana bisa ia menahan mendengar seorang wanita menyebut dirinya pecundang. Ia membantingkan vas bunga yang ada di dekatnya dengan kesal.
"Sialan!" Seru Darian kesal sambil berjalan keluar apartemen Hanna.
"Kamu mau kemana?!" Seru Hanna emosi.
Darian hanya menjawab singkat tanpa menoleh ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Pulang!"