Wanita Buronan

Wanita Buronan
Rencana Kedua


__ADS_3

Darian menarik Hanna dengan kasar untuk masuk ke mobilnya. Hanna berontak tidak terima dengan perlakuan Darian terhadapnya.


"Lepaskan aku, Darian! Apa yang mau kamu lakukan?! Aku tidak tahu apa-apa soal pakaian itu!" Seru Hanna emosi.


Darian mencengkeram leher Hanna dengan kuat. Wanita itu tersedak karena jalur nafasnya yang tiba-tiba dijegal. Kedua mata Darian menatap tajam ke dalam mata Hanna.


"Tutup mulutmu! Aku akan memberimu pelajaran agar kamu tidak akan menggangguku dan Kalila lagi!" Ancam Darian kejam.


Darian membuka pintu mobilnya dan mendorong Hanna dengan kasar ke dalamnya. Wanita itu menjerit kesakitan karena tubuhnya membentuk interior mobil.


"Argh!" Erang Hanna kesakitan.


Sepersekian detik kemudian, Darian membuka pintu bagian kemudi dan duduk disana. Tanpa aba-aba ia segera menyalakan mesin mobilnya dan menekan pedal gas hingga ke ujung. Mobil sport itu melaju kencang membelah jalanan Jakarta yang lengang.


Api amarah sudah menelan Darian bulat-bulat. Hanya ada kilatan emosi di matanya. Tatapannya lurus memandang ke jalan dan kedua tangannya mencengkeram roda kemudi dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Hanna menatap Darian tidak percaya.


"Sebegitu besarnya rasa bencimu kepadaku hingga kamu tidak mau mempercayaiku lagi, Darian? Aku ini isterimu! Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti penjahat!" Seru Hanna berapi-api.


Darian menatap Hanna sekejap dan kembali melihat ke arah depannya.


"Bukankah sangat lucu mendengar penjahat wanita sepertimu berbicara tentang hak seorang isteri? Dimana omong kosong suami isterimu ini dulu?" Balas Darian dingin.


"Sungguh, katakan padaku apa yang akan kamu lakukan padaku? Membunuhku? Atau menenggelamkanku di laut? Katakan!" Sembur Hanna tak kalah kesal.


"Oh, isteriku. Selama ini kurasa aku sudah cukup bersabar kepadamu. Aku berjanji tidak akan menceraikanmu dan hanya satu syarat yang aku minta. Jangan usik Kalila! Tapi lihat apa yang kamu lakukan sekarang!" Desis Darian penuh amarah.


"Jadi aku akan memberikan imbalannya sekarang. Begitu mengerikan hingga kamu bahkan tak akan berani membayangkannya." Sambung Darian lagi.


Darian memacu mobilnya makin cepat. Bak sebuah meteor yang melesat di jalan raya. Entah kemana Darian akan membawa Hanna kali ini.


Hanna menatap Darian dengan takut. Pria ini sudah benar-benar gila. Apakah ia akan mengajak Hanna bunuh diri bersamanya?


"Darian, stop! Hentikan mobilnya! Kamu terlalu mengebut! Kita bisa celaka!" Sergah Hanna ketakutan.


Darian mengarahkan mobilnya keluar jalan tol. Hanna seolah mendapatkan dejavu akan kejadian yang dulu pernah terjadi padanya. Rasa takut menjalari seluruh tubuhnya. Darian benar-benar tidak bisa dihentikan lagi.

__ADS_1


Lima belas menit keluar dari jalan tol, pemandangan di sisi kanan dan kiri mereka kini sudah berganti. Yang awalnya mereka dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi kini berubah menjadi rumah-rumah kecil milik penduduk. Deretan rumah itu makin lama makin sedikit dan akhirnya berganti menjadi barisan pepohonan.


Hanna panik. Ia tidak tahu Darian akan membawanya kemana. Tempat ini tampak seperti hutan. Apakah Darian akan membunuhnya di hutan ini?


"Darian, kumohon hentikan! Aku takut!" Seru Hanna.


Darian tersenyum licik melihat Hanna yang ketakutan. Ia menginjak pedal rem mobilnya. Namun pedal itu tidak berfungsi sama sekali. Darian panik. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada mobilnya. Ia mencoba menginjak pedal itu berkali-kali agat mobil yang melaju secepat kereta peluru itu berhenti.


"Sialan!" Umpat Darian panik.


Hanna melihat ekspresi Darian yang berubah menjadi terlihat takut.


"Apa yang terjadi? Hentikan mobilnya, Darian!" Seru Hanna semakin panik.


"Aku sudah mencoba! Tapi mobil sialan ini tidak mau berhenti!" Bentak Darian ditengah ketakutannya.


Ketakutan menelan habis keduanya.


"Darian! Hentikan mobilnya! Kumohon!" Teriak Hanna kencang.


Mobil itu melesat semakin kencang. Beberapa ratus meter di depan mereka, sebuah lembab yang dalam terbentang di antara hutan yang mereka tembus tanpa sengaja. Keduanya panik. Mereka takut membayangkan ajal yang akan menjemput mereka sekarang juga.


"Darian awas!"


***


Tok! Tok! Tok!


Pintu depan istana milik Darian terdengar diketuk oleh seseorang. Bu Yati segera membukanya dan melihat sesosok pria muda berdiri di hadapannya. Pria itu tersenyum kecil sembari melihat ke arah Bu Yati.


"Apa kabar Ibu Manisah? Oh, salah. Maksudku Bu Yati." Ujar pria itu sambil membuka kacamata hitamnya.


Bu Yati tersenyum dan membuka pintu rumah majikannya. Ia mempersilahkan pria muda itu masuk ke dalam.


"Silahkan masuk Mas Niko." Ucap Bu Yati ramah.

__ADS_1


Niko tertawa. Ia melangkah masuk ke rumah megah Darian dan melihat Kalila yang sedang duduk menonton televisi di ruang tengah. Hati Niko mengembang karena rasa rindunya pada Kalila yang akhirnya bisa ia temui.


"Kalila! Aku sangat merindukanmu!" Seru Niko sembari memeluk Kalila yang menghampirinya.


Kalila memeluk balik Niko dengan erat. Ia membenamkan kepalanya di pundak Niko dan menghirup aroma tubuh pria itu. Sungguh sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan pria ini? Sepertinya baru satu bulan tapi kenapa rasanya seperti sudah satu tahun mereka tidak bersua.


"Bagaimana liburanmu di Paris? Apakah menyenangkan?" Tanya Niko saat ia melepaskan pelukannya.


Kalila berjalan kembali ke sofanya.


"Begitulah. Tapi pasti akan lebih menyenangkan jika aku pergi bersamamu dan bukan pria brengsek itu." Jawab Kalila cuek.


Pipi Niko bersemu merah. Membayangkan ia bisa berlibur berdua bersama Kalila saja sudah membuat hatinya berbunga-bunga. Apalagi jika mereka benar-benar melakukannya? Bisa-bisa Niko akan melamar Kalila di menara Eiffel begitu mereka tiba disana.


"Niko? Kenapa kamu diam saja? Sini duduk di sampingku." Ucap Kalila menyadarkan Niko dari lamunannya.


Niko menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menyadarkan dirinya dari mimpi di siang bolong.


"Ah, tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu saja." Jawab Niko sembari berjalan ke arah Kalila dan duduk di sampingnya.


"Bagaimana rencana kedua kita?" Tanya Niko sambil menyeruput teh buatan Bu Yati.


Kalila tersenyum.


"Tenang saja. Aku dan Bu Yati yakin seratus persen rencana ini akan berhasil. Kita tunggu saja beritanya." Tutur Kalila tenang.


Keduanya lalu duduk dalam hening. Mata Kalila menatap ke arah depan entah apa yang ia lihat. Sementara Niko terus menerus memperhatikan wanita itu. Menjamah setiap jengkal wajahnya dengan kedua matanya. Menelan kecantikan itu hanya untuknya sendiri.


Tiba-tiba ponsel Kalila berdering. Dari nomor yang tidak dikenal. Kalila tersenyum dan menunjukkan layar ponselnya pada Niko.


"Lihat, apa yang tadi kukatakan?" Ujarnya penuh kemenangan.


Niko menatap Kalila tidak mengerti.


Kalila mendengarkan si penelepon dengan saksama. Niko melihat ke arah wanita itu berusaha mencari tahu apa yang ia bicarakan. Tampaknya hal yang sangat penting karena si penelepon berbicara dengan intonasi yang keras dan cepat. Lalu seolah dengan sengaja, Kalila menjerit sekencang mungkin. Bagaikan mendengar kabar paling mengerikan seumur hidupnya.

__ADS_1


"Apa?! Darian kecelakaan?!"


__ADS_2