Wanita Buronan

Wanita Buronan
Rumah Kedua Suamiku


__ADS_3

"Ti, kamu kenapa melamun terus dari tadi?" Tanya Mama Darian kepada Kinanti saat mereka tengah makan siang bersama.


Kinanti menggeleng.


"Tidak apa-apa, Ma. Kinanti tidak melamun kok." Ucap Kinanti berbohong.


"Kamu jangan terlalu banyak pikiran, Ti. Kamu harus bebas stress kalau mau cepat hamil, Ti." Nasiha ibu mertuanya peduli.


Kinanti hanya mengangguk pelan. Hari ini sudah genap sebulan Darian tidak pernah tidur di rumah bersama Kinanti. Entah kemana Darian pergi setiap malam. Apakah ia bermalam di hotel sendirian karena membenci Kinanti atau bersama wanita lain, Kinanti tidak pernah mendapatkan jawabannya.


Rasanya ingin sekali Kinanti bertanya kepada suaminya itu tentang kepergiannya setiap malam. Tapi Kinanti takut. Ia takut Darian akan meledak marah dan malah pergi dari rumah itu. Bagaikan singa yang terlalu lama dikurung sehingga menjadi jinak. Begitulah Kinanti sekarang. Jika dulu ia akan melawan dan mempertahankan haknya, maka sekarang Kinanti akan memilih diam saja. Terlalu banyak kekhawatiran di kepalanya.


"Bagaimana hubunganmu dan Ian, Ti? Apakah Ian sudah mulai hangat dan suka padamu?" Tanya mertuanya lagi-lagi.


Kinanti bingung harus menjawab apa. Haruskah ia menjawab bahwa selama mereka tinggal berdua di rumah itu, tidak pernah sekalipun Kinanti menghabiskan waktu berdua dengan Darian. Kinanti praktis hidup sendirian di penjara mewahnya sementara suaminya entah berkelana kemana.


"Pelan-pelan Ian sudah mulai membuka hatinya untuk Kinanti, Ma. Mama doakan saja ya biar hubungan Kinanti dan Ian baik-baik saja dan makin dekat." Ucap Kinanti berbohong.


Ibu mertuanya tersenyum bahagia. Bagai kelopak bunga yang merekah, senyumnya mekar mendengar jawaban menantunya. Mama Darian berpikir mungkin harapannya untuk mendapatkan cucu dapat terwujud sebentar lagi.


Ting!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Kinanti. Dari nomor tidak dikenal.


Halo Kinanti. Saya Hanna. Apakah kamu mengenalku?


Siapa Hanna? Rasanya Kinanti tidak memiliki teman bernama Hanna. Kinanti mengetikkan pesan balasan untuk Hanna.


Halo, Mbak Hanna. Maaf sebelumnya apakah kita saling mengenal atau pernah bertemu sebelumnya?


Tidak butuh waktu lama, wanita bernama Hanna itu mengirimkan balasan dari pesan Kinanti.


Kamu istri Ian, kan? Perkenalkan aku adalah kekasihnya selama lima tahun terakhir.


Kinanti terhenyak. Kekasih? Walaupun bukan suatu hal yang aneh kalau pria sesempurna Darian memiliki kekasih semasa lajangnya, tapi Kinanti berpikir bahwa hubungan itu sudah selesai. Bukankah karena itulah alasan Darian menerima pernikahan mereka? Karena tidak ada wanita lain di hati Darian saat itu?

__ADS_1


Kinanti bingung. Otaknya menuntut penjelasan.


Kekasih? Maksudnya bagaimana, Mbak?


Tak lama pesan balasan dari wanita itu masuk ke dalam ponsel Kinanti.


Kamu tanyakan saja pada Darian kalau kamu memang ingin tahu.


...****************...


Kinanti hanya duduk mematung di ruang makan. Tangannya sibuk mengaduk-aduk hidangan yang ada di depannya namun ia tidak bersemangat untuk menelan satu suapan pun.


"Kenapa tidak dimakan, Non? Apakah masakannya tidak enak?" Tanya Bi Lastri, pembantu yang dipekerjakan Darian untuk mengurus rumahnya.


Kinanti menggeleng dan tersenyum.


"Enak kok, Bi. Mungkin saya sedang tidak nafsu makan saja." Jawab Kinanti berbohong.


Sesungguhnya pikiran Kinanti masih berkutat dengan sosok wanita bernama Hanna. Ia ingin tahu siapakah dia? Kalau memang benar ia adalah kekasih Darian selama lima tahun terakhir, apakah itu artinya Kinanti adalah perebut kekasih orang?


Darian menyantap makanannya dalam diam sembari sesekali berkutat dengan handphonenya. Kinanti melihatnya dengan tanda tanya. Rasanya ingin sekali Kinanti menanyakan perihal Hanna namun ia ragu apakah keputusannya adalah hal yang benar. Namun lebih baik terluka karena kenyataan daripada hidup dalam tanda tanya.


"Mas, aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Kinanti ragu.


Darian mengangkat wajahnya dari ponselnya dan menatap Kinanti datar. Tanpa rasa penasaran sedikitpun.


"Apa?" Balasnya singkat.


"Siapa Hanna?" ujar Kinanti langsung bertanya.


Darian tersenyum seolah-olah pertanyaan Kinanti bukan sebuah hal yang besar.


"Dia kekasih saya." Jawab Darian tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Hubungan kalian masih berlangsung sampai sekarang?" Tanya Kinanti lagi. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


Darian mengangguk.


"Semalam saja saya masih tidur di rumahnya kok." Sambung Darian cuek.


Hati Kinanti sakit sekali rasanya. Seperti mengalami sebuah pengkhianatan terbesar ketika Kinanti mengetahui kebenarannya. Tapi Kinanti sendiri pun ragu. Apakah ia memang berhak untuk cemburu dan merasa kecewa? Bukankah wanita baru yang datang ke kehidupan Darian adalah dirinya dan bukan Hanna?


"Kalau Hanna kekasihmu, lalu aku ini apa Mas?"


"Kamu? Kamu kan istri saya. Kenapa harus bingung?" Tanya Darian cuek.


"Tapi kamu tidak bisa seperti ini Mas. Kamu tidak bisa tetap berhubungan dengan Hanna sementara kita sudah menikah." Jawab Kinanti pelan.


Darian tertawa. Tawanya terdengar sangat mengejek seolah merendahkan kenaifan Kinanti.


"Dengar ini, Kinan. Kamu sudah tahu kan kalau saya menerima pernikahan ini karena Papa yang memintanya?" Ucap Darian dingin.


Kinanti mengangguk pelan.


"Itu berarti saya tidak mencintai kamu, Kinan. Sebelum kamu datang ke kehidupan saya, saya sudah memiliki kekasih dan dia adalah Hanna. Dan wanita yang saya cintai adalah Hanna bukan kamu." Darian meneruskan kata-katanya.


"Jadi jangan berharap saya akan memutuskan hubungan saya dengan Hanna hanya demi kamu. Kamu harus ingat kalau kamu hanyalah pendamping saya di atas kertas. Bukan yang sebenarnya." Darian menyelesaikan kata-katanya dan langsung pergi meninggalkan Kinanti yang membeku tidak percaya.


Kinanti menangis. Ia mengutuk kebodohan dirinya yang begitu terlena karena iming-iming gemerlapnya dunia kelas atas dan mau saja menerima tawaran untuk menikah dengan Darian Chatra Wijaya. Ia tidak pernah menyangka bahwa di usia pernikahannya yang menginjak bulan ketiga ini, Kinanti sudah harus membagi posisinya dengan wanita lain. Atau apakah memang Kinanti sebenarnya tidak berhak untuk posisi ini sejak awal?


...****************...


Malam itu pun seperti biasa Darian tidak ada di rumah bersama Kinanti. Ia yakin sepenuh hatinya bahwa Darian menghabiskan malamnya bersama wanita bernama Hanna itu seperti malam-malam lainnya. Sementara di rumahnya, Kinanti selalu sendirian setiap malam. Seolah yang ia nikahi bukanlah manusia melainkan sebuah guling.


Hanna adalah wanita yang sangat cantik. Karena rasa penasarannya, Kinanti sempat mencari tahu tentang Hanna. Siapa dia? Apa pekerjaannya? Dan bagaimana hubungannya dengan Darian? Hanna adalah seseorang yang sangat aktif di media sosial karena itu setiap potongan informasinya dapat Kinanti temukan dengan mudah.


Hanna adalah seorang desainer ternama lulusan Inggris. Ia berasal dari kampus yang berbeda dengan Darian namun keduanya menjadi dekat karena sama-sama merupakan diaspora di Inggris. Sekarang Hanna menjalankan bisnis fashion dengan merek yang merupakan pemimpin di pasar pakaian dalam wanita. Bahkan Kinanti pun tahu dengan merk yang Hanna jalankan.


Kinanti ciut. Betapa ia dan Hanna bagaikan langit dan bumi. Bagaimana bisa seorang gadis sederhana dari keluarga miskin sepertinya dan dapat disandingkan dengan gadis dari keluarga kaya raya dengan segudang prestasi dalam kariernya? Bahkan orang gila sekalipun akan lebih memilih Hanna dibanding Kinanti untuk bersanding dengan Darian.


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Kinanti. Hanna mengirimkan sebuah foto. Kinanti tertohok kenyataan. Foto itu adalah foto Darian yang memeluk Hanna dengan mesra dari belakang. Keduanya terlihat tidak berpakaian dan hanya terbungkus selembar selimut. Darian tampak tengah mencium leher Hanna dengan penuh gairah. Sebuah kalimat tertulis sebagai pesan lanjutan dari foto itu.

__ADS_1


Aku pinjam dulu suamimu malam ini ya.


__ADS_2