
"HANNA!"
Suara Darian terdengar menggelegar ke seluruh penjuru rumah. Darian baru saja sampai di rumahnya namun emosinya sudah membumbung hingga ubun-ubun. Dengan penuh emosi Darian masuk dan mencari Hanna di rumahnya.
"Hanna! Dimana kamu?!" Seru Darian sekali lagi.
Wanita yang dipanggil tampak tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya dan berlari menuruni tangga. Ia mendengar suaminya yang berteriak penuh kemarahan dan itu bukanlah sesuatu yang baik.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Hanna bingung.
"Apa yang kamu lakukan kemarin?" Darian membalikkan pertanyaannya.
"Kemarin? Aku pergi ke rumah temanku." Ujar Hanna berbohong.
"Jangan bohong kamu! Kemarin kamu ke rumah Kalila kan?!" Bentak Darian penuh emosi.
"Tidak, aku tidak pergi kesana. Kamu bisa menanyakannya kepada temanku kalau tidak percaya." Balas Hanna tak gentar.
Dengan emosi Darian mencengkeram kerah pakaian Hanna. Matanya berapi-api dan menatap tajam ke arah istrinya. Seolah ada jutaan pisau yang akan keluar dari kedua bola mata itu.
"Aku tahu semuanya, Hanna! Kemarin kamu melabrak Kalila di rumahnya, kan?!" Sembur Darian.
Hanna menyerah dengan kebohongannya. Kini ia menatap Darian dengan sama beraninya.
"Iya! Aku memang ke rumah si pelakor itu! Kamu mau apa?!" Seru Hanna.
"Berani-beraninya kamu mengganggu Kalila, hah?!" Teriak Darian.
"Iya, aku berani! Kenapa aku harus takut?! Wanita itu akan merusak rumah tanggaku dan merebutmu! Tentu saja aku harus menyingkirkannya!" Balas Hanna tidak kalah sengit.
Darian tertawa mengejek. Terdengar sangat menyakitkan bagi Hanna.
"Kamu harus ingat, Hanna. Awalnya kamu juga orang ketiga dalam pernikahanku. Kamu yang sudah menyingkirkan, Kinanti. Ingat?" Tanya Darian dengan suara pelan dan mengancam.
Hanna terdiam. Darian berhasil membungkamnya dengan telak.
"Jadi jangan berlagak sok suci dan bertingkah seolah kamu istri yang paling benar. Jangan bertingkah seperti korban dalam hubungan kita karena aku tahu dirimu yang sebenarnya." Ucap Darian.
__ADS_1
"Seperti saat aku menikah dengan Kinanti dulu dan masih berhubungan denganmu. Aku juga bisa melakukan hal yang sama dengan Kalila, bukan? Seharusnya kamu tidak terkejut lagi melihatku yang seperti ini." Sambung Darian sambil tersenyum licik.
Hanna membelalakkan matanya. Ia kaget mendengar kata-kata yang keluar dari mulut suaminya. Bagaimana bisa Darian terang-terangan mengatakan akan melanjutkan perselingkuhannya? Tidakkah ia berpikir kalau itu akan menyakiti hati Hanna?
"Teganya kamu melakukan ini kepadaku, Darian! Apakah semua yang kulakukan untukmu selama ini tidak cukup?! Tiga kali aku menggugurkan bayiku demi dirimu! Berkali-kali aku melakukan kejahatan demi mendukungmu! Dan sekarang ini balasanmu?!" Seru Hanna penuh emosi. Hatinya sakit karena pengkhianatan yang dilakukan suaminya.
Darian kembali tertawa menghina.
"Aku tidak pernah memintamu melakukan itu semua, Hanna. Kamu yang dengan sukarela melakukannya karena kamu mencintaiku, kan?" Ucap Darian sambil menatap lurus ke arah Hanna.
Hanna kembali bungkam.
Darian merapikan pakaiannya dan berjalan meninggalkan Hanna. Namun ketika ia akan menaikki tangga, Darian berhenti sejenak. Ia melihat ke arah istrinya yang masih berdiri mematung.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan pernah menceraikanmu jadi kamu tidak akan kehilangan apapun selain cintaku. Kamu bisa tetap hidup di rumahku sendirian. Seperti Kinanti dulu." Kata Darian sambil berjalan masuk ke kamarnya dan meninggalkan Hanna sendirian.
"Argh!!!!" Seru Hanna kesal saat Darian sudah berada di kamarnya.
Hanna meraih sebuah vas bunga yang ada di dekatnya. Dengan emosi ia melemparkan benda itu hingga pecah seribu. Tak lama, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah mereka keluar karena mendengar suara barang yang pecah.
"Astaga, Nyonya! Nyonya tidak apa-apa?" Tanya Bibi dengan khawatir.
"Bersihkan itu!" Bentak Hanna kasar.
Hanna lalu pergi meninggalkan ruang tengah tempat perkelahian mereka tadi terjadi. Ia melangkah menuju ruang tamu dan duduk disana sendirian. Otaknya terus berpikir cara untuk menyingkirkan Kalila dalam hidupnya.
Tunggu saja Kalila. Aku akan menyingkirkanmu selamanya dari hidup Darian.
...****************...
Kalila sedang memasak di apartemennya. Makanan Eropa kesukaan Darian. Ia sudah berjanji akan menjamu Darian hari ini. Sebagai balasan karena Darian sudah memperlakukannya dengan begitu baik. Dan juga sebagai perayaan untuk dirinya sendiri karena sudah berhasil mencuri hati Darian. Sebuah kemenangan besar yang menandakan balas dendam Kalila akan segera terwujud.
Ding! Dong!
Bel apartemen Kalila berbunyi. Ia yakin benar bahwa itu adalah Darian. Kalila merapikan dress satin merah ketat yang ia pakai. Baju itu membungkus tubuhnya yang aduhai dengan sangat indah. Setiap lekuk dan setiap tonjolan tampak jelas dari baliknya. Ia lalu membuka pintunya dan melihat Darian berdiri disana. Mukanya cerah dan senyumannya sumringah. Darian membawa sebuket bunga mawar merah di tangannya.
"Ian! Kamu sudah datang?" Sapa Kalila ceria. Ia lalu memeluk Darian dengan erat yang dibalas dengan dekapan hangat dari Darian.
__ADS_1
"Tentu saja, aku tidak mungkin terlambat menemuimu, Kalila." Ucap Darian.
"Oh, iya. Ini untukmu." Kata Darian sambil menyodorkan buket mawar merah yang ia pegang.
Kalila tampak terkejut. Ia lalu memasang senyum yang amat manis kepada Darian.
"Thanks, Ian. Sungguh. Kamu benar-benar romantis hingga rasanya aku ingin menangis." Canda Kalila sambil mencium pipi Darian.
Kalila merangkul Darian erat dan menggandengnya masuk ke apartemennya. Ia lalu mengajak Darian ke ruang makannya, tempat dimana ia sudah menyiapkan berbagai hidangan Eropa kesukaan Darian. Darian tampak terkejut dengan masakan yang sudah disiapkan Kalila.
"Kamu memasak semua ini sendiri?" Tanya Darian tidak percaya.
Kalila mengangguk dengan bangga.
"Wah, Kalila. Aku tidak pernah menyangka seorang wanita sukses sepertimu ternyata sangat pandai memasak." Puji Darian kagum.
Kalila tertawa kecil.
"Oh, Darian. Hentikan pujianmu. Ini hanya jamuan biasa. Kamu tidak perlu merasa kagum seperti itu." Balas Kalila sembari mengajak Darian duduk di salah satu kursi yang ada disana.
Darian duduk dan disusul oleh Kalila yang duduk di hadapannya. Kalila lalu menuangkan hidangan demi hidangan ke atas piring Darian. Belahan dadanya yang menggoda tampak mengintip dari dress berpotongan rendah yang Kalila pakai. Membuat Darian semakin tidak fokus pada makanan yang ada di hadapannya dan hanya melihat ke arah Kalila.
"Hei, apa yang kamu pikirkan, Ian? Ayo kita makan." Ajak Kalila.
Darian mengedipkan matanya beberapa kali. Sialan! Tubuh dan paras Kalila sudah begitu membiusnya hingga ia kehilangan fokusnya.
"Ah, tidak. Ayo kita makan." Ucap Darian sambil menyendokkan makanannya suap demi suap.
Meskipun tangannya terus bergerak menyendok makanan ke mulutnya, pikiran Darian tidak bisa berhenti dari wanita di depannya. Di dalam otaknya, Darian sudah berkali-kali membayangkan untuk menelanjangi wanita ini dan menikmati tubuhnya. Seperti sekarang. Darian sejak tadi sudah membayangkan akan membawa Kalila ke kamarnya dan bersenang-senang bersama Kalila semalam suntuk. Ah, memikirkannya saja sudah membuat Darian merasa terangsang.
"Ngomong-ngomong, apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Tanya Darian di sela makannya.
Kalila tampak bergumam seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Entahlah. Aku belum punya rencana apapun. Kamu punya ide?" Ujar Kalila pada Darian.
Darian tersenyum lebar. Bagian bawahnya berdesir karena merasa senang dengan ide yang ada di otaknya.
__ADS_1
"Oh, tentu saja Kalila. Aku punya ide yang sangat bagus."