Wanita Buronan

Wanita Buronan
Kedatangan Sekutu


__ADS_3

Kalila dan Niko kembali bertemu secara rahasia untuk membicarakan langkah mereka selanjutnya. Di kafe yang sama mereka bertatap muka dan memasang raut serius. Namun tidak seperti biasanya, kali ini ada orang ketiga yang bersama mereka. Orang ketiga yang akan menjadi sekutu Kalila di rumah itu.


"Apa kabar, Bu?" Tanya Kalila kepada sosok ketiga itu.


"Sangat baik, Kalila. Sudah lama saya tidak bertemu denganmu. Kenapa kamu tiba-tiba memanggil saya?" Tanya sosok ketiga itu sambil tersenyum.


Kalila dan Niko saling bertatapan dan kemudian tersenyum.


"Kami butuh bantuan Ibu." Ujar Niko menimpali.


Wanita tua itu tersenyum. Ia menyesap kopi hitamnya dengan pelan.


"Apa yang bisa saya lakukan untuk kalian?" Balas wanita tua itu.


"Besok datanglah ke rumah Darian dan melamar sebagai asisten rumah tangganya." Pinta Kalila serius.


"Lalu? Apa lagi yang saya harus lakukan?" Tanya wanita tua itu lagi.


"Bekerjalah dengan baik dan rebut hati Darian agar ia tidak curiga pada Ibu." Sambung Kalila.


Wanita tua itu mengangguk dan segera beranjak meninggalkan Kalila dan Niko. Barulah beberapa langkah wanita tua itu melangkah, Kalila memanggilnya.


"Ibu Manisah?" Panggil Kalila serius.


Wanita tua itu menoleh karena merasa namanya disebutkan.


"Ada apa?" Tanya wanita tua itu bingung.


"Mulai besok Ibu harus menghapus nama Manisah selamanya. Kita harus menyembunyikan identitas lama kita sebaik mungkin." Tambah Kalila menatap ke wanita tua itu.


"Nama baru apa yang harus saya gunakan?" Tanya wanita tua itu tidak mengerti.


Kalila tampak berpikir sejenak.


"Yati. Mulai besok Ibu akan memperkenalkan diri ibu sebagai Yati. Bagaimana?"


Ibu Manisah mengangguk mantap.


"Tenang saja, Kalila. Saya jamin semuanya akan berjalan lancar."

__ADS_1


...****************...


Darian pusing karena sudah tiga hari terakhir Bibi pulang dan Kalila sibuk mengurus rumahnya. Walaupun Darian tidak pernah menyuruhnya, tapi Kalila sengan senang hati melakukannya.


"Aku tidak suka rumah yang berantakan, Ian. Tidak apa-apa, biar aku yang mengerjakan semuanya sampai kita mendapat ART yang baru." Ucap Kalila sembari bergelayutan di pelukan Darian.


"Tapi kalau kamu sibuk mengurus rumah, siapa yang akan mengurusku?" Balas Darian pura-pura merajuk.


Kalila tertawa dan menangkup kedua wajah Darian dengan kedua tangannya.


"Apakah kamu akan marah kepadaku kalau aku terlalu sibuk mengurusi rumahmu dan bukan kamu?" Canda Kalila kepada Darian.


"Tentu saja. Kamu tahu kan aku ini pria yang selalu membutuhkan perhatian ekstra. Bagaimana mungkin aku tidak kesal jika kamu lebih sibuk mengurusi dapur dan bukan aku?" Gerutu Darian sebal.


Kalila tertawa melihat Darian yang bertingkah seperti anak kecil. Sungguh, Darian yang ada di hadapan Kalila benar-benar berbeda dengan Darian yang ada di depan Kinanti. Jika Darian yang ada di depannya ini selalu bersikap manja, maka Darian yang di hadapan Kinanti adalah Darian yang dingin bak monster kejam. Terkadang sulit bagi Kalila untuk menyadari kalau keduanya adalah Darian yang sama.


Ding! Dong!


Suara bel rumah Darian berbunyi saat ia dan Kalila tengah bercanda di ruang keluarga. Darian dan Kalila saling melihat satu sama lain. Mereka bertanya-tanya siapa yang bertamu ke rumah mereka. Darian segera berdiri dan berjalan ke arah pintu. Ia lalu membuka pintu depan rumahnya dan melihat seorang wanita tua berdiri disana.


"Siapa, Ian?" Tanya Kalila seraya menyusul Darian.


"Aku juga tidak tahu, Sayang." Jawab Darian.


"Maaf, apakah benar ini rumah Bapak Darian Chatra Wijaya?" Tanya wanita tua itu berhati-hati.


Darian mengangguk.


"Iya, benar ini rumah saya. Ada keperluan apa ya?" Balas Darian penasaran.


"Saya mendapat informasi kalau Bapak sedang mencari asisten rumah tangga. Apakah benar, Pak?" Tanya wanita tua itu lagi.


"Iya, benar. Darimana Ibu tahu tentang informasi itu?" Timpal Darian.


"Saya mengetahuinya dari keluarga saya yang kebetulan merupakan kenalan Pak Niko. Kalau diperbolehkan, saya mau bekerja sebagai ART disini, Pak." Jawab wanita tua itu lagi.


Darian menoleh ke arah Kalila seolah meminta konfirmasi dari jawaban ibu itu.


"Iya, Sayang. Aku memang minta tolong Niko untuk mencari ART baru untuk kita. Kamu tahu kan, aku tidak punya banyak teman disini. Sementara Niko kenal dengan banyak orang. Jadi menurutku Niko bisa membantu sekali dalam hal ini." Jelas Kalila tanpa ragu.

__ADS_1


Darian kembali mengangguk. Sejujurnya ia sudah putus asa karena Kalila yang terlalu sibuk mengurus rumahnya. Darian sudah sangat merindukan waktu-waktunya bersama Kalila yang kini tersita gara-gara kesibukan Kalila. Karena itu Darian berpikir mungkin tidak ada salahnya ia menerima wanita tua ini. Lagipula apa hal berbahaya yang bisa dilakukan wanita 50 tahun ini?


"Baiklah, Bu. Apakah Ibu pernah bekerja sebagai ART sebelumnya?" Tanya Darian basa-basi.


Wanita tua itu mengangguk.


"Saya pernah bekerja sebagai ART selama lima tahun, Pak. Saya juga bisa memasak berbagai jenis masakan. Untuk urusan mengurus rumah dan memasak, Bapak bisa percaya kepada saya tanpa ragu." Ucap wanita tua itu meyakinkan Darian.


Darian mengangguk yakin. Ia sudah seratus persen mantap untuk mempekerjakan wanita tua ini. Selain karena Darian sangat membutuhkan asisten rumah tangga saat ini, wanita tua ini adalah kenalan Niko. Rasanya Darian tidak perlu meragukan kualitasnya lagi.


"Baik, Bu. Ibu bisa bekerja disini mulai hari ini. Kamar Ibu ada di belakang dan Ibu bisa membawa barang-barang Ibu kesana." Perintah Darian.


Wanita tua itu mengangguk dan mengangkat tas besar yang ia bawa. Ia lalu berjalan masuk ke dalam rumah dan menuju kamar pembantu yang terletak di belakang.


"Oh iya Bu, boleh saya tahu nama Ibu?" Tanya Darian kepada wanita tua itu.


Wanita tua itu menoleh dan tersenyum kecil.


"Yati, Pak. Bapak bisa memanggil saya Yati."


...****************...


"Kamu mau kemana, Sayang?" Tanya Darian bingung melihat Kalila yang bergegas turun ke bawah.


"Aku mau memasak makan malam, Ian." Jawab Kalila singkat.


Darian langsung memeluk Kalila dari belakang. Ia melarang kekasihnya meninggalkannya di kamar sendirian. Sudah seminggu ia tidak bermanja-manja dengan Kalila dan hari ini akhirnya ia bisa melakukannya lagi. Tentu saja Darian tidak akan membiarkan Kalila pergi.


"Jangan. Tetaplah disini kumohon. Aku merindukanmu, Sayang." Gerutu Darian.


"Lagipula sekarang kan sudah ada Bu Yati. Kamu bisa bersantai bersamaku mulai hari ini." Sambung Darian lagi.


Kalila membalikkan badannya dan menatap Darian geli.


"Ayolah, my big boy. Mana mungkin aku membiarkanmu memakan masakan orang lain. Walaupun sudah ada Bu Yati disini, setidaknya biarkan aku memasak hanya untukmu ya?" Pinta Kalila sambil memeluk Darian dan membenamkan kepalanya di dada Darian.


Darian tertawa dan mengelus lembut kepala kekasihnya. Sejak dulu Darian tidak terlalu ambil pusing siapa yang memasak untuknya. Selagi makanan itu enak dan sesuai dengan seleranya, maka ia akan memakannya. Namun sejak menjadi kekasih Kalila, gadis ini benar-benar memanjakan lidah dan perutnya. Darian bahkan tidak bisa melewatkan sehari pun tanpa memakan masakan Kalila. Dan Kalila tahu benar soal itu.


"Baiklah, kali ini kamu menang. Kamu memang selalu tahu kelemahanku, Sayang." Ucap Darian mengalah.

__ADS_1


Kalila tertawa kecil.


"Benar, Ian. Aku tahu semuanya tentangmu, Ianku Sayang."


__ADS_2