Wanita Buronan

Wanita Buronan
Mimpi Buruk Darian


__ADS_3

Kedua orangtua Darian tersenyum sumringah mendengar kata-kata dokter barusan.


"Kinanti benar-benar hamil, Dok?" Tanya Mama Darian seolah tidak percaya.


Dokter itu lalu mengangguk meyakinkannya.


"Benar, Bu. Sekarang ibu Kinanti sedang hamil dengan usia kehamilan 6 minggu." Ucap Dokter tersebut.


Mama Darian sontak berteriak bahagia. Ia langsung meloncat dan memeluk suaminya yang juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Menantu kesayangan mereka sedang hamil dan itu berarti sebentar lagi mereka akan memiliki cucu pertama! Pewaris generasi keempat dari Bara Kahuripan.


"Papa, Kinanti hamil Pa! Sebentar lagi kita akan punya cucu!" Seru Mama Darian bahagia.


"Iya, Ma! Akhirnya kita akan punya cucu Ma!" Papa Darian berseru tidak kalah hebohnya.


Namun bagaikan dua kutub yang berbeda, terdapat dua atmosfir yang berbeda pula dalam satu ruangan. Kedua orangtua Darian diliputi kebahagiaan tak terkira tapi di sisi lain Darian tampak tidak senang mendengar kabar itu. Entah kenapa Darian sedari tadi malah tampak kesal dengan berita kehamilan Kinanti.


"Ian, kenapa kamu diam saja? Kinanti hamil loh! Kinanti hamil anak pertama kamu, Ian." Kata Mamanya pada Darian.


Darian hanya mengangguk dan tersenyum palsu. Tampak jelas kalau Darian sedang tidak fokus dan pikirannya malah melantur kemana-mana.


"Kamu kenapa? Kok kelihatannya seperti tidak senang?" Tanya Papanya curiga saat mereka berjalan menuju ruangan tempat Kinanti dirawat.


"Ah, tidak Papa. Ian senang kok Kinanti hamil." Jawab Darian sambil memaksakan senyum.


Dalam hati, Darian mengutuk kesialannya ini. Sungguh sial nasibnya, bagaimana bisa wanita yang ia tidak cintai itu sekarang malah hamil anaknya? Apa kata Hanna nanti kalau ia mengetahui kehamilan Kinanti? Darian sudah bisa membayangkan masalah yang akan terjadi ke depannya. Dan sudah pasti hal itu akan menyita waktu dan tenaganya.


...****************...


"Kenapa kamu bisa hamil?" Tanya Darian pada Kinanti saat mereka berdua di kamarnya.

__ADS_1


Kinanti terkejut dengan pertanyaan suaminya yang tiba-tiba. Malam ini kedua mertuanya menginap di rumah mereka jadi mau tidak mau Darian juga harus menetap di rumah. Tapi apa ini? Bukannya merasa bahagia, Darian malah mempertanyakan kehamilan istrinya?


"Ya bisa dong, Mas. Aku kan istrimu. Kamu tidak ingat selama kamu bertengkar dengan Hanna, kamu selalu melampiaskan nafsumu denganku? Dua minggu tanpa henti Mas! Pasti salah satunya ada yang berhasil kan?" Jawab Kinanti.


Ia bingung kenapa suaminya tampak tidak senang dengan kehamilannya. Bukankah seharusnya seorang suami akan senang jika mengetahui istrinya tengah hamil anaknya?


"Kenapa kamu kelihatan tidak senang dengan kehamilanku, Mas?" tanya Kinanti tajam.


"Aku tidak mau anak itu!" Seru Darian kesal.


Kinanti terhenyak. Sebenci itukah Darian kepadanya sehingga ia tidak mau memiliki anak yang dilahirkan dari rahim Kinanti? Apakah posisi Kinanti begitu rendah dalam hidupnya?


"Kenapa Mas? Apakah karena aku bukan Hanna?" Kinanti bertanya lagi.


"Bukan karena itu! Tapi karena aku memang tidak mau punya anak!" Seru Darian.


"Kalau memang aku mau punya anak, aku bisa menyuruh Hanna untuk hamil kapan saja, Kinanti! Menurutmu kenapa Hanna belum hamil juga padahal kami sudah tinggal bersama selama tiga tahun?!" Ucap Darian.


"Karena aku benci anak-anak! Aku tidak mau ada masalah dalam hidupku karena monster kecil bernama anak-anak itu! Jika dengan Hanna saja aku tidak mau memiliki anak, apalagi dengan gadis kampungan seperti kamu?!" Bentak Darian berapi-api.


Kinanti tidak bisa berkata apa-apa lagi. Darian dan pola pikirnya sudah benar-benar di luar jangkauan pemikiran Kinanti yangs sederhana. Mau bagaimanapun caranya, Kinanti tidak akan pernah bisa membujuk Darian untuk menerima kehamilannya. Hati Kinanti kecewa. Apakah sebuah dosa jika istri mengandung anak dari suaminya? Apakah sebuah kesalahan jika Kinanti ingin memberikan hadiah terindah bagi kedua mertuanya yaitu cucu pertama mereka?


"Jadi aku harus bagaimana, Mas?" Tanya Kinanti setelah sekian lama diam.


Darian hanya diam dan hanyut dalam pikirannya sendiri. Ia berusaha menemukan solusi untuk masalah ini. Dan meskipun terdengar mengerikan, akhirnya ia menyuarakan ide tersebut kepada Kinanti.


"Aku mau kamu menggugurkan kandunganmu."


Kinanti terbelalak. Ia tidak percaya dengan apa yang Darian pikirkan. Bagaimana bisa pria ini berpikir untuk membunuh darah dagingnya sendiri? Terlebih lagi anak yang merupakan hasil dari perkawinan mereka yang sah! Kinanti tahu Darian memang gila dan tidak berhati nurani, tapi ia tidak pernah menyangka Darian akan segila ini. Darian bukan hanya tidak berhati nurani. Ia adalah monster! Monster kejam berwujud manusia yang ia sebut sebagai suami.

__ADS_1


"Aku tidak mau, Mas." Jawab Kinanti sambil memalingkan wajahnya.


"Kenapa?" Darian kembali bertanya.


"Kamu sudah gila? Bayi yang aku kandung ini anakmu! Bisa-bisanya kamu menyuruhku untuk menggugurkannya?!" Sembur Kinanti kehilangan kesabaran.


"Kamu tidak perlu takut, Kinan. Hanna bahkan sudah pernah melakukannya sebanyak tiga kali! Dan lihat dia, masih baik-baik saja, bukan? Bahkan kemampuannya di ranjang lebih hebat dibandingkanmu." Ucap Darian membujuk Kinanti.


"Jangan khawatir, aku tahu dokter terbaik di bidang ini. Tidak akan terjadi apa-apa padamu." Sambung Darian lagi.


Kinanti menatap suaminya dengan tidak percaya. Mulutnya menganga karena kaget. Ia tidak bisa mempercayai kata-kata menjijikkan yang keluar dari mulut pria di hadapannya ini. Menggugurkan kandungan? Bagaimana bisa seorang ayah berpikir untuk melakukan hal sekejam itu pada calon anaknya?


Dan tentang Hanna. Apakah wanita itu sudah gila? Ia sudah pernah menggugurkan kandungannya? Membunuh jabang bayinya dan Darian? Dan itu pun sebanyak tiga kali? Apa yang ada di pikiran wanita itu? Sebesar itukah rasa takutnya akan kehilangan Darian sehingga ia rela melewati prosedur menyakitkan itu berkali-kali? Tidak, bukan hanya Darian yang kejam. Hanna juga sama-sama tidak berhati nurani seperti pria itu. Bagaimana mungkin seorang ibu terpikir untuk melakukan hal mengerikan hanya demi mempertahankan seorang pria kejam seperti Darian?


Kinanti tidak habis pikir. Sungguh betapa kelamnya hati dan kehidupan pria bernama Darian ini. Kinanti bukanlah Tuhan yang dapat menghakimi manusia, tapi Kinanti sadar benar apa yang dilakukan Darian dan Hanna adalah kesalahan besar. Dan Kinanti cukup pintar untuk tidak melakukannya.


"Kamu sudah gila, Mas." Jawab Kinanti sambil berlalu meninggalkan Darian.


Darian mencengkeram tangan Kinanti. Mencegatnya agar tidak pergi kemanapun.


"Kamu mau kemana?" Tanya Darian dingin.


"Aku tidak mau tidur disini. Aku jijik harus bersama pria kejam sepertimu." Ucap Kinanti sama dinginnya.


Darian melepaskan tangan Kinanti. Ia geram dan marah dengan perkataan Kinanti namun ia tidak bisa begitu saja menyemburnya dengan emosi. Bisa-bisa kedua orangtuanya mendengar pertengkaran mereka dan masalah lain mungkin akan terjadi. Darian hanya bisa membantingkan kursi yang ada di dekatnya untuk melampiaskan emosinya.


Kinanti semakin mantap untuk mempertahankan bayinya. Tidak peduli jika ayah dari anaknya akan menolak atau bahkan membunuhnya, tapi Kinanti tidak akan melepaskan bayi ini. Jika Darian tidak sanggup menerimanya, Kinanti masih punya kedua mertuanya yang akan mengurusnya dengan sepenuh hati dan menyayangi Kinanti serta anaknya nanti.


Kinanti mengelus perutnya yang belum membesar. Mencoba berbicara dengan si bayi yang mungkin belum memiliki jantung.

__ADS_1


"Kamu harus kuat, Nak. Mama pasti akan selalu melindungimu."


__ADS_2