
Hanna khawatir. Pertengkarannya dengan Darian semalam begitu besar. Selama lima tahun menjadi kekasih Darian, baru kali itu Hanna melihat Darian semarah itu dengannya. Dan sejak semalam hingga pukul 7 malam ini, Darian tidak bisa dihubungi sekalipun. Setiap panggilan yang dilakukan Hanna hanya mendapat jawaban dari operator.
"Sialan! Semuanya gara-gara Kinanti brengsek itu!" Umpat Hanna sambil melempar gelas berisi wine yang ia minum.
Salah satu kebiasaan buruk Hanna adalah menjadikan minuman keras sebagai pelarian dari setiap masalahnya. Setiap Hanna menghadapi masalah, pasti ia akan menegak wine yang selalu ia simpan dalam lemari dapurnya. Dan kebiasaan buruk lainnya adalah melempar barang apapun yang ada di tangannya jika ia sedang kesal.
Hanna dan Darian memang seperti fotokopi satu dan lainnya. Bukan karena wajah mereka yang mirip. Tidak sama sekali. Wajah Darian kental dengan ketampanan pria oriental dari ayahnya dan manisnya orang Jawa dari ibunya. Sementara Hanna memiliki kecantikan khas peranakan Indonesia dan Eropa. Tapi sifat mereka persis seperti bayangan satu sama lain. Keduanya temperamental, suka membanting benda-benda di sekitar, dan selalu berpikiran licik jika menyangkut musuhnya.
Dan satu lagi. Hanna dan Darian bagaikan pasangan kucing yang tengah birahi. Tidak peduli dimana saja dan kapan saja mereka akan bercinta jika sedang merasa ingin. Seperti rem yang ada di otak mereka berdua seketika blong jika sudah bertemu satu sama lain. Mungkin benar kata pepatah. Jodohmu adalah cerminan dirimu. Karena itu Hanna dan Darian dapat menjalin hubungan bertahun-tahun lamanya. Karena sifat keduanya sangat persis seperti salinan yang dibuat di atas kertas karbon.
Hanna mencoba menelepon Darian lagi untuk yang kesekian kalinya namun hasilnya nihil. Ia putus asa dan meledak dalam tangisannya. Jika Hanna bisa memutar waktu, mungkin ia akan mengacuhkan pesan dari Kinanti dan tetap mengurung Darian dalam pelukannya. Tidak peduli dunia akan runtuh sekalipun.
Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Kepalanya pusing karena sudah menghabiskan terlalu banyak wine seharian ini. Untung saja perutnya kuat dan tidak bertingkah setelah diisi begitu banyak alkohol dalam waktu singkat.
Hanna membaringkan tubuhnya dan memijat-mijat kepalanya yang nyeri. Mulutnya tidak berhenti mengumpat dan menumpahkan kekesalannya pada Kinanti. Hanna percaya sepenuhnya bahwa pertengkarannya terjadi karena Kinanti. Kinanti lah yang datang merusak kehidupannya yang indah bersama Darian. Dan sekarang Kinanti mulai berani bertingkah seperti seorang menantu dan istri terbaik?
Emosi Hanna membara membayangkan Kinanti yang bersama Darian semalam suntuk. Melayani Darian seperti seorang istri yang sempurna padahal Hanna yakin Kinanti hanya menikahi Darian karena hartanya. Hanna marah memikirkan Darian yang menghabiskan malamnya dengan tenggelam dalam kenikmatan bersama Kinanti. Rasa cemburu membakar dirinya sampai hangus tapi Hanna tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak mungkin ia akan berlari ke rumah Darian dan menariknya secara paksa untuk kembali ke tempatnya, bukan?
"Sesenang itukah kamu kembali ke pelukan gadis kampung itu, Ian?"
...****************...
Selama dua minggu Hanna tidak bisa menghubungi Darian. Telepon dari Hanna tidak pernah diangkat dan bahkan selama beberapa hari terakhir Darian memblokir nomor Hanna. Setiap kali ia ke kantornya untuk menemui Darian, maka sekretarisnya akan mengatakan bahwa Darian tidak masuk kantor atau sudah pulang lebih dulu. Entah perkataan itu benar atau tidak. Tapi Hanna menganggap semua yang dikatakan sekretaris Darian itu adalah kebohongan besar yang diperintahkan Kinanti agar Hanna menjauh dari Darian.
Sejak pertama mengetahui Darian akan dijodohkan dengan Kinanti, Hanna selalu membenci wanita itu. Dari kulit sampai tulang, dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan bahkan dari nafasnya saja Hanna membenci Kinanti setengah mati. Di otaknya, Kinanti adalah wanita busuk mata duitan yang sengaja menjebak orangtua Darian agar mau menjodohkan Darian dengannya. Agar Kinanti bisa masuk ke dunia kelas atas yang ditempati Hanna dan Darian.
"Dasar wanita kelas bawah! Licik sekali rencananya. Dia kira dia bisa menjauhkan aku dan Darian?" Umpat Hanna setelah mendapatkan penolakan dari sekretaris Darian.
Hanna menunggu dan menunggu di mobilnya yang terparkir di parkiran gedung kantor Bara Kahuripan. Jika sekretarisnya tidak bisa membantu Hanna untuk bertemu dengan Darian, maka Hanna akan turun tangan dan langsung mencari Darian. Sudah 3 jam berlalu dan sosok Darian tidak juga terlihat oleh Hanna.
"Sialan! Darian kemana sih? Kenapa dia belum muncul juga? Aku ingat hari ini dia punya rapat besar sama investor baru." Gerutu Hanna sambil memperhatikan pintu masuk gedung mewah itu.
__ADS_1
Tak berapa lama, sosok pria yang ditunggu-tunggu terlihat keluar dari gedung 8 lantai itu. Hanna sumringah melihat Darian yang berjalan melangkah keluar sendirian. Dengan sigap Hanna keluar dari mobilnya dan berlari mengejar sosok Darian.
Darian tampak kaget melihat Hanna yang datang menemuinya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Darian.
"Kita perlu bicara, Sayang. Bisa kita bicara sebentar? Aku janji tidak akan menghabiskam waktumu." Pinta Hanna sambil memegang lengan Darian.
Darian menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua. Lalu Darian melirik ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu jam 5 sore.
"Oke, aku akan ikut kamu sekarang. Tapi paling lambat jam delapan malam aku sudah harus pulang." Ucap Darian.
Hanna mengangguk sambil tersenyum. Ia langsung menggandeng tangan Darian dan mengajaknya masuk ke dalam mobil yang ia kendarai. Rencana besar sudah terancang di kepala Hanna dan ia tidak akan membiarkan Darian pulang malam ini. Kinanti sudah menabuh genderang perang dengan Hanna dan Hanna akan membalasnya dengan serangan yang paling menyakitkan.
...****************...
Hanna mengajak Darian makan malam di apartemennya. Ia sudah memesan makanan terbaik buatan chef kenamaan di Jakarta dan Hanna yakin Darian tidak akan menolak jamuannya.
"Aku tidak bisa berlama-lama disini, Hanna. Aku harus pulang." Ucap Darian saat masuk ke apartemen Hanna.
"Iya, tapi kita makan malam sebentar ya, Sayang?" Ucap Hanna sambil menarik kursi makannya agar Darian bisa duduk disana.
"Apa-apaan ini, Hanna? Apa yang kamu rencanakan?" Tanya Darian.
"Bukan apa-apa, Sayang. Aku cuma mau mengajak kamu makan malam disini. Apakah kamu keberatan?" Hanna menatapnya dengan penuh pinta.
Darian membuka jasnya dan duduk di hadapan Hanna. Tangannya mengambil garpu dan pisau yang ada di kedua sisi piringnya dan mulai menyantap makanan yang disiapkan Hanna. Semuanya adalah makanan kesukaan Darian. Pasta dan hidangan khas Eropa lainnya.
Hanna dan Darian menyantap makanannya dalam hening. Keduanya bingung harus memulai dari mana. Tepat ketika hidangan terakhir masuk ke perutnya, Hanna beranjak dari kursinya. Darian menatapnya dengan bingung.
"Kamu mau kemana? Katanya ada yang mau dibicarakan?" Tanya Darian bingung.
__ADS_1
"Kamu tunggu disini sebentar ya, Sayang." Ucap Hanna sambil mengecup kening Darian.
Darian menunggu Hanna sambil menyantap pastanya. Entah apa yang dilakukan Hanna sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Setengah jam berlalu dan akhirnya Hanna muncul kembali. Mata Darian terbelalak melihat Hanna yang muncul hanya dengan setelan bra dan ****** ***** merah dengan renda yang berpotongan rendah. Hanna terlihat sangat seksi dan menggoda di depan mata Darian. Tangan kanan Hanna memegang sebotol wine merah dan di tangan kirinya terdapat dua buah gelas.
Hanna tersenyum nakal. Ia tahu benar Darian tidak akan bisa menolaknya jika ia berdandan seperti ini. Ia mengenal Darian sebaik ia mengenal dirinya sendiri dan ia yakin Darian akan bertekuk lutut melihatnya seperti ini.
Hanna berjalan dengan pelan dan sensual. Selangkah demi selangkah menghampiri Darian. Ia lalu duduk di pangkuan Darian sambil menyodorkan segelas wine kepada kekasihnya itu. Mata Darian tidak dapat lepas dari dada montok Hanna yang hanya tertutup setengah oleh bra seksi itu. Tangan Hanna mengelus dada Darian. Jemarinya membuka kancingnya satu persatu. Hanna dapat merasakan jantung Darian yang berdebar kencang dan bagian bawahnya yang mulai menegang. Pertanda bahwa Darian mulai terangsang.
"Maafkan aku, Sayang. Maafkan perkataanku kemarin ya? Mungkin aku kesal karena melihat foto yang dikirimkan Kinanti." Ucap Hanna sambil tangannya menari-nari di dada Darian yang terbuka.
Darian menegak liurnya. Godaan di depan matanya begitu besar dan sangat sulit bagi Darian untuk menahan dirinya. Rasanya ia ingin menyerang Hanna saat itu juga. Menjamahnya di lantai dengan puas.
"Kita kan sudah sepakat untuk tidak pernah membahas itu lagi, Hanna. Aku tidak bisa menjanjikan kamu sebuah pernikahan karena kamu tahu bagaimana posisiku kan?" Ucap Darian.
Hanna mengangguk. Ia lalu mengecup bibir Darian sekali lagi.
"Iya, aku janji tidak akan membahas hal itu lagi. Sekarang aku minta maaf ya, aku mohon jangan tinggalkan aku lagi?" Pinta Hanna penuh harap.
Darian tersenyum. Tangannya merengkuh Hanna dalam pelukannya. Bibir Darian mulai mendekat dan akhirnya terpaut dengan Hanna dalam ciuman yang dalam dan memabukkan. Tangan Darian menjelajah setiap jengkal tubuh Hanna tanpa terlewat satu mili pun. Darian menggendong Hanna dan melemparkannya ke kasur dengan penuh nafsu. Hanna tersenyum menggoda pria yang ada di depannya.
Keduanya beradu dalam permainan cinta yang panas dan membara. Seolah sama-sama saling merindukan nikmatnya tubuh satu sama lain. Ronde demi ronde mereka lewati hingga dini hari menjelang. Malam itu, dengan satu langkah Hanna berhasil mengamankan posisinya lagi. Mencuri Darian dari Kinanti dan kembali ke dalam pelukannya. Sebuah kemenangan telak yang akan ia ungkit setiap saat di depan wajah si istri sah.
Darian terkulai lelah di samping Hanna. Dengan sisa tenaganya ia mengecup bibir Hanna ringan. Hanna tersenyum dalam ciumannya.
"Jangan tinggalkan aku lagi ya, Ian." Ucap Hanna pelan sambil mengusap pipi Darian.
Darian tersenyum dengan penuh kasih sayang. Seolah berusaha meyakinkan Hanna bahwa ia tidak akan pergi kemana-mana.
"Iya, Sayang. Aku janji aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi." Balas Darian.
"Selamanya?" Tanya Hanna lagi.
__ADS_1
Darian merebahkan diri di samping wanita itu sambil meraih tangan lembut milik Hanna. Darian lalu mengecup tangan Hanna dengan lembut.
"Selamanya."