Wanita Buronan

Wanita Buronan
Kepulangan Hanna


__ADS_3

Kalila sedang mengajak Darian berkeliling mencari angin segar di halaman rumahnya. Ia mendorong kursi roda itu dengan perlahan agar kekasihnya bisa menikmati cuaca yang cerah. Lalu keduanya menoleh ke arah sebuah mobil sedan yang memasukki pekarangan rumah mereka. Kalila menatapnya dengan bingung.


"Itu mobil orangtua Hanna." Ucap Darian pelan.


Kalila mengangguk-angguk tanpa banyak bertanya.


Beberapa menit berselang, sepasang suami isteri berusia enam puluhan turun dari mobil itu. Lalu disusul dengan pintu penumpang yang terbuka. Dari sana turun seorang wanita yang Kalila awalnya tidak mengenali itu siapa.


Kalila memicingkan matanya dan berusaha mengingat-ingat siapa wanita itu. Dan ia terperanjat begitu berhasil mengingat identitasnya. Wanita berwajah buruk itu adalah Hanna. Setengah wajah Hanna melepuh karena luka bakar sementara setengah lainnya dipenuhi goresan besar karena kecelakaan itu.


"Mbak Hanna?" Ucap Kalila tak bisa menahan rasa kagetnya.


Kalila sudah mempersiapkan semburan kemarahan yang akan keluar dari bibir Hanna. Namun anehnya wanita itu malah tertawa lebar. Tawa mengerikan yang Kalila tidak tahu karena apa.


"Hahaha! Ayah, lihat wanita ini! Bukankah wajahnya sangat cantik! Hahaha! Dia sangat cantik sepertiku!" Seru Hanna dengan nada ceria yang aneh.


Kalila menatap Hanna bingung. Lalu ia menurunkan wajahnya dan melihat ke arah Darian yang juga sama bingungnya.


"Hanna kenapa, Ian?" Tanya Kalila pelan.


Darian mengedikkan bahunya.


"Aku juga tidak tahu. Dia tampak sangat aneh." Balas Darian heran.


Kedua orangtua Hanna lalu menggandeng puterinya dan berjalan menuju Darian. Mata sang ibu melirik tajam ke arah Kalila yang melihatnya dengan tanpa ekspresi.


"Nak Darian." Sapa kedua orangtuanya pada Darian.


Darian menganggukkan kepala membalas sapaan mereka.


"Iya, Pa, Ma." Jawab Darian singkat.


"Hari ini jadwal kepulangan Hanna dari rumah sakit. Awalnya kami ingin membawa Hanna pulang ke rumah kami saja. Tapi Hanna bersikeras ingin pulang kesini bersamamu." Ucap Ayah Hanna.


"Tentu saja, Papa! Hahaha! Aku ini isteri Darian! Isterinya yang paling paling nomor satu! Mana mungkin aku tinggal di tempat lain! Aku akan bersama Suamiku Tersayang!" Seru Hanna sembari memeluk Darian.


Darian memasang tampang jengah dan mendorong Hanna menjauh darinya.


"Hentikan ini, Hanna." Desis Darian kejam.


Hanna lalu menangis sekencang-kencangnya seperti anak kecil yang permennya direbut. Darian menatapnya bingung. Tidak mengerti apa yang terjadi pada Hanna.


"Kenapa Hanna seperti ini?" Tanya Darian.


Ayah Hanna menghela nafas lesu.


"Kejiwaannya menjadi sedikir terganggu karena shock akibat kecelakaan itu. Sejak melihat wajahnya yang seperti ini, mental Hanna terus memburuk hingga akhirnya seperti ini." Jelas Ayah Hanna pelan.


Darian memalingkan wajahnya dan menolak memandang mertuanya itu.


"Rumah saya bukan penampungan orang sakit. Saya tidak bisa mengurusi puteri Anda disini." Balas Darian dingin.


Kalila menyentuh pundak Darian pelan. Kekasihnya itu menoleh.


"Biarkan saja, Ian. Tidak apa-apa. Aku yang akan membantu mengurus Mbak Hanna." Rayu Kalila.

__ADS_1


Darian menatap Kalila tidak percaya. Dalam otaknya, Darian tidak habis pikir dengan wanita ini. Bagaimana bisa setelah Hanna bertingkah sangat jahat kepadanya tapi Kalila masih sebaik ini?


"Tapi Kalila, itu akan sangat menyulitkanmu." Ingat Darian.


Kalila menggeleng dan tersenyum.


"Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan, Ian."


Darian menatap Kalila dengan takjub. Ia lalu mengalihkam pandangannya dan melihat ke arah kedua orangtua Hanna.


"Baiklah, Hanna boleh tinggal disini. Tapi tolong sediakan satu perawat untuk mengurusnya. Aku tidak ingin Hanna menyusahkan kami." Perintah Darian dingin.


Kalila menatap pemandangan di depannya sambil tersenyum. Senyum puas yang tercetak di bibirnya. Betapa indahnya melihat kedua monster ini satu persatu hancur. Kedatangan Hanna berarti permainan akan semakin menyenangkan. Kalila sudah tidak sabar ingin menyiksa wanita biadab itu.


...****************...


Bu Yati datang menghampiri Kalila yang sedang memasak makan malam di dapur. Di tangannya, Bu Yati membawa kresek hitam yang entah berisi apa.


"Sudah pulang, Bu?" Tanya Kalila tidak mengalihkan pandangannya dari panci berisi sup yang dia masak.


Bu Yati mengangguk. Ia lalu meletakkan kantong plastik itu di dekat Kalila.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan daging busuk itu, Kalila? Mencium baunya saja saya sudah tidak tahan." Tanya Bu Yati bingung.


Kalila tertawa kecil. Ia lalu mengeluarkan daging yang sudah menghitam itu dari kantong yang Bu Yati bawa. Bau menyengat langsung memenuhi dapur dan sontak membuat Bu Yati menutup hidungnya.


"Tentu saja untuk menjamu tamu baru kita, Bu Yati."


...****************...


"Ian Sayang, ayo kita makan malam." Ajak Kalila sembari menepuk pundak Darian.


Tanpa banyak bertanya, Darian mengangguk setuju. Kalila langsung mendorong Darian untuk turun ke lantai satu melalui lift rumah mereka. Sesampainya di lantai 1, Kalila mendudukkan Darian di kursi makan yang biasa digunakan Darian.


Kalila lalu melangkah pergi namun Darian menahannya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Darian tidak suka.


"Aku harus memanggil Mbak Hanna. Dia juga harus ikut makan malam bersama kita, Ian." Ucap Kalila sambil tersenyum manis.


"Astaga, kenapa kamu begitu repot mengurusi Hanna? Wanita itu bahkan sangat jahat kepadamu, Sayang." Keluh Darian.


Kalila duduk di samping Darian dan menggenggam tangan kekasihnya lembut.


"Sejahat apapun Mbak Hanna, dia tetaplah manusia, Ian. Dia juga butuh makan. Dan aku tidak akan membiarkan tamu kita kelaparan." Jelas Kalila.


"Kenapa kamu sangat sempurna, Sayang?" Balas Darian takjub.


Kalila tertawa kecil.


"Jadi, bolehkah aku mengajak Mbak Hanna makan malam bersama kita?" Tanya Kalila meminta izin.


Darian mengangguk.


"Biarkan Bu Yati yang memanggilnya. Kamu tetap disini bersamaku, Sayang." Pinta Darian kekeuh.

__ADS_1


Kalila mendekatkan kursinya dengan Darian dan duduk disana.


"Baiklah, aku akan disini bersamamu." Ucap Kalila sembari mengelus tangan Darian lembut.


Beberapa menit kemudian, Hanna keluar dari kamarnya bersama Bu Yati. Tampangnya melongo dan celingukan ke kanan kiri. Hanna benar-benar tampak seperti orang tidak waras yang bahkan tidak bisa diajak berbicara.


Wajah Hanna sumringah ketika melihat Darian dan Kalila yang duduk di ruang makan.


"Wah! Ada suamiku dan wanita cantik tadi! Ada apa ini?! Apakah ada pesta?!" Seru Hanna semangat.


Kalila tersenyum simpul.


"Iya, Mbak. Ini adalah pesta penyambutanmu di rumah ini. Aku sudah membuatkan makanan khusus untukmu." Ucap Kalila sembari menyajikan semangkuk sup ke hadapan Hanna.


Hanna menatap mangkuk itu dengan mata berbinar.


"Wah! Apa ini? Tampaknya enak!" Seru Hanna lagi.


"Itu adalah sup sapi. Makanan kesukaanmu." Jawab Kalila sembari tersenyum penuh makna.


Hanna dengan semangat menyuapkan sesendok ke mulutnya. Namun ia langsung meludahkannya keluar dari mulutnya. Hanna menjulurkan lidah dengan wajah tidak suka.


"Apa ini?! Rasanya tidak enak! Huh!" Teriak Hanna kesal.


Kalila dan Darian tampak terkesiap.


"Apa-apaan Hanna?! Dimana sopan santunmu?!" Seru Darian tidak terima.


"Makanan ini tidak enak! Aku tidak suka!" Bentak Hanna marah.


Kalila memegang lengan Darian dan berusaha menenangkannya.


"Sudah, tidak apa-apa, Ian. Akan aku ganti supnya dengan makanan yang lain. Sepertinya Mbak Hanna tidak menyukai masakanku." Ujar Kalila sembari beranjak dari duduknya.


Namun Darian menahan Kalila dan memintanya untuk tetap duduk di sampingnya.


"Tidak. Biarkan saja. Biar aku yang mengurusnya." Pinta Darian.


Kalila kembali duduk dan memperhatikan apa yang akan dilakukan Darian kepada Hanna.


"Suka atau tidak, kamu harus memakannya! Kalila sudah memasaknya dengan susah payah, seharusnya kamu bersyukur!" Bentak Darian kasar.


Hanna menatap Darian dengan wajah cemberut.


"Tapi aku tidak suka rasanya, Darian!" Rengek Hanna kesal.


Darian menggebrak meja di hadapannya. Hanna terdiam.


"Aku tidak peduli! Sekarang habiskan makanan itu atau kamu akan kutendang dari sini!" Teriak Darian murka.


"Tapi..." bantah Hanna.


"Tidak ada tapi! Ambil sendokmu dan makan itu!" Seru Darian emosi. Matanya menyala dengan api kemarahan.


Tanpa membantah, Hanna kembali mengambil sendoknya dan menyendokkan sup daging busuk itu ke mulutnya. Persis seperti anak kecil yang dipaksa makan oleh orangtuanya, seperti itulah Hanna terlihat.

__ADS_1


Sendok demi sendok masuk ke mulut Hanna dengan terpaksa. Kalila menyenderkan tubuhnya di kursi makan dan mengamati pertunjukkan di depannya. Bibirnya tersungging tipis penuh kemenangan. Permainannya baru akan menjadi seru sekarang.


__ADS_2