
Darian terbangun dari tidurnya. Rasanya kepalanya sakit sekali. Darian sadar benar ia terlalu banyak minum semalam. Namun ia tidak ingat apa-apa setelahnya. Darian melihat ke sisi tempat tidurnya dan tidak menemukan Kalila disana.
"Kalila? Sayang? Dimana kamu?"
Kalila keluar dari kamar mandi dengan rambut yang lembab dan tubuh yang hanya terbungkus piyama mandi. Ia tersenyum sumringah pada Darian yang baru bangun dari tidurnya.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" Tanya Kalila menghampiri Darian.
Kalila mendaratkan ciuman ringan di bibir Darian yang dibalas dengan ganas oleh kekasihnya itu. Namun Kalila tertawa dan menghentikannya.
"Nanti saja, Ian. Kita harus berkemas dan segera pulang sekarang. Kamu ingat kan pesawat kita berangkat jam 2 siang nanti." Ingat Kalila sambil mengelus kepala Darian lembut.
Darian mengerang kesal. Padahal ia sedang sangat ingin bercinta pagi ini. Semalam ia terlalu mabuk sehingga tidak melakukan apa-apa dengan Kalila. Tapi kekasihnya ini menolaknya dengan alasan harus mengejar pesawat.
"Argh, ayolah Kalila. Sebentar saja. Satu ronde saja, ya? Aku sedang sangat bernafsu sekarang. Kita bisa membeli tiket penerbangan yang lain nanti." Pinta Darian memelas.
Kalila dengan berani duduk di atas Darian yang masih berguling. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Darian serta memandang kekasihnya dengan tatapan menggoda.
"Kalau kubilang nanti, nanti ya Ian Sayang. Aku sudah rindu Indonesia. Nanti kalau kita sudah sampai di rumah, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau kepadaku." Bisik Kalila terdengar sensual.
Darian segera menangkap Kalila dalam pelukannya namun gerakan wanita itu terlalu cepat bagi Darian yang baru bangun tidur. Kalila sudah meloncat dari kasur dan tertawa senang melihat upayanya untuk menggoda Darian sudah berhasil.
"Aku mencintaimu, Ian!" Seru Kalila sambil berlari masuk ke kamar mandi.
Darian menggeram kesal karena ia tidak bisa menyalurkan hasratnya pagi ini. Sungguh ia tidak sabar jika harus menunggu 20 jam lagi untuk bisa menjamah Kalila.
"Arghh! Kalila!"
...****************...
Setelah terbang selama kurang lebih 20 jam, Kalila dan Darian berhasil mendarat dengan selamat di Jakarta. Hati Darian sangat berbunga-bunga karena ia baru saja menghabiskan liburan yang indah dengan kekasihnya. Sementara Kalila, sebuah misi besar ia sematkan di hati dan pikirannya. Tekadnya sudah bulat dan balas dendamnya harus terlaksana secepat mungkin.
Begitu sampai dan menyelesaikan urusan bagasi mereka, Kalila dan Darian sudah dijemput oleh supir pribadi Darian di bandara. Seolah sudah tidak sabar lagi, Darian langsung menarik Kalila untuk masuk ke mobilnya. Senyumnya tampak begitu bernafsu karena ia sudah merindukan tubuh Kalila.
Barulah bokong mereka menyentuh jok mobil Darian, pria itu sudah mendaratkan ciuman yang membabi buta di bibir dan leher Kalila. Kalila tertawa kecil dan mendorong wajah Darian menjauh darinya.
"Jangan disini, Ian. Aku malu. Ada Pak Tomo disini." Bisik Kalila pelan.
"Ayolah, Sayang. Aku sudah tidak tahan lagi. Pasti Pak Tomo akan mengerti. Iya kan, Pak?" Bujuk Darian kepada Kalila dan supirnya.
Pak Tomo hanya tersenyum dan mengangguk sedikit.
"Lihat itu. Pak Tomo tidak keberatan, kan?" Ucap Darian lagi. Bibirnya makin menempel pada leher Kalila sementara tubuhnya sudah mengurung Kalila tanpa jarak sedikitpun.
__ADS_1
Kalila tertawa lagi. Ia lalu melingkarkan lengannya di leher Darian dan menatap Darian dengan centil.
"Sebentar lagi kita sampai, Ian Sayang. Bertahanlah sampai di rumah ya. Nanti kamu bisa melakukan apa saja kepadaku dan aku tidak akan menolaknya. Bahkan sampai pagi pun aku akan melayanimu, Ianku Sayang. Tapi untuk sekarang, tahan dulu milikmu." Bisi Kinanti sambil mengelus bagian bawah Darian yang mulai mengeras.
Darian menggeram kesal dan pura-pura merajuk. Sementara Kalila tertawa puas sudah mengerjai kekasihnya. Kalila melirik ke arah Darian dan tersenyum tipis.
Oh, Ian Sayang. Kamu tidak akan pernah bisa menikmati tubuhku lagi mulai sekarang.
...****************...
Setelah satu jam berkendara, Darian dan Kalila akhirnya tiba di rumah mereka. Seperti banteng yang kesetanan, Darian langsung membuka pintu mobilnya dengan tergopoh-gopoh. Ia lalu menggendong Kalila dengan kedua tangannya tanpa basa-basi. Kalila menjerit sedikit karena kaget dengan aksi agresif Darian.
"Ayo, kamu harus menepati janjimu, Sayang." Bisik Darian dengan nafasnya yang memburu.
Kalila hanya tertawa mendengar Darian yang sudah tidak bisa menahan nafsunya. Dengan cepat Darian masuk ke rumahnya dan menaikki tangga. Ia sudah tidak sabar lagi ingin menggulingkan kekasihnya dan bercinta sepuasnya dengan Kalila.
CKLEK!
Darian membuka kenop pintu kamarnya. Namun baik Kalila dan Darian terperangah dengan apa yang ada di depan mata mereka. Tanpa sadar Darian menurunkan Kalila dari gendongannya. Wanita itu kebingungan dan menoleh ke arah yang sama dengan Darian.
"Apa yang terjadi, Ian?" Ujar Kalila tak percaya.
Di hadapan mereka, kamar keduanya tampak begitu berantakan. Seluruh isi kamar tampak seperti habis dijarah oleh pencuri. Pakaian-pakaian keluar dari lemarinya, perabotan terjatuh, serta kursi dan meja terbalik. Kalila terhenyak. Ia berjalan pelan ke arah kekacauan itu dan melihat seluruh pakaiannya sudah disobek dengan kasar. Dengan tangan yang gemetar, Kalila mengambil salah satu pakaiannya dan menunjukkannya pada Darian.
Darian memanas. Emosi membakar sekujur tubuhnya. Ia mengepalkan kedua tinjunya dengan kesal. Rasa letih karena perjalanan ditambah dengan hasratnya yang sedari tadi tertahan membuat Darian menjadi sangat sensitif. Dengan kesal Darian menonjok dinding di dekatnya.
"Argh! Sialan! Siapa orang brengsek yang berani melakukan semua ini?!" Seru Darian berang.
Darian menatap Kalila yang menangis tersedu-sedu di lantai. Amarahnya makin memuncak. Hanya ada satu nama yang dapat ia pikirkan. Satu-satunya orang yang memiliki masalah dengan Kalila.
"Hanna..." geram Darian dengan suara rendahnya.
Darian langsung berlari menuruni tangga dengan cepat. Kalila yang bingung ikut mengejar Darian yang sudah mendahuluinya. Dalam sepersekian detik, Darian sudah tiba di depan pintu kamar Hanna yang tertutup. Tinjunya terkepal dan tangannya terus menerus menggedor pintu kamar Hanna dengan emosi.
"Hanna! Buka pintunya!" Bentak Darian penuh amarah.
Beberapa detik kemudian, Hanna membuka pintunya dan menatap Darian seperti biasa.
"Kamu sudah pulang, Darian? Kenapa tidak bilang kepadaku?" Tanya Hanna santai.
"Apa yang sudah kamu lakukan di kamarku?!" Seru Darian dengan keras.
Hanna memasang wajah tidak mengerti.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Darian? Apa yang aku lakukan?"
PLAK!
Darian menampar pipi Hanna dengan kuat.
"Tidak usah berpura-pura bodoh, wanita sialan! Siapa yang mengobrak abrik kamarku dan merusak seluruh barang Kalila?! Hanya kamu yang mungkin melakukannya, brengsek!" Ucap Darian kesal.
Hanna membelalak. Apa yang dikatakan Darian? Hanna bahkan tidak pernah naik ke lantai atas. Bagaimana mungkin ia bisa masuk dan merusak barang-barang Kalila yang tersimpan rapi di kamar Darian?
"Percayalah kepadaku, Darian. Aku sungguh tidak melakukan apa-apa! Aku bahkan tidak mengerti apa yang kamu bicarakan!" Balas Hanna dengan emosi.
Darian mencekik leher Hanna yang jenjang. Matanya menatap tajam ke dalam mata isterinya.
"Sudah kukatakan kepadamu untuk tidak mengganggu Kalila lagi! Sekarang kamu harus menerima balasannya!" Ancam Darian dengan nada mengerikan.
Darian menarik Hanna dengan paksa untuk mengikutinya. Kalila menghampiri Darian dengan tergopoh-gopoh.
"Hentikan, Ian! Apa yang akan kamu lakukan?!" Teriak Kalila histeris.
"Jangan hentikan aku, Kalila. Aku harus memberi pelajaran pada wanita ****** ini." Geram Darian penuh emosi.
Kalila menangis. Ia takut melihat kekasihnya yang tampak kesetanan.
"Kumohon hentikan semua ini, Ian. Aku tidak apa-apa, sungguh! Aku sudah memaafkan Mbak Hanna! Kumohon lepaskan dia!" Pinta Kalila dengan memohon.
Darian menatap Kalila tajam.
"Tapi aku tidak. Aku tidak akan memaafkannya karena terus menerus mengganggu hubungan kita. Jangan halangi aku dan biarkan aku menghukum si brengsek ini!" Ujar Darian menepiskan tangan Kalila yang berusaha mencegahnya.
Darian berjalan cepat sembari menyeret Hanna masuk ke dalam mobilnya. Beberapa detik kemudian, mobil itu melaju dengan cepat keluar dari istana megah Darian. Entah akan kemana Darian membawa Hanna kali ini. Kalila hanya dapat menatap keduanya pergi tanpa bisa berbuat apa-apa. Suasana yang semula gaduh tiba-tiba menjadi hening.
"Bagaimana pekerjaanku?" Tanya sebuah suara dari belakang Kalila.
Kalila tersenyum penuh kemenangan. Ia menghapus air mata palsunya dan menoleh ke arah sumber suara itu.
"Luar biasa, Bu Yati. Sungguh, aku benar-benar beruntung memilikimu disini." Jawab Kalila sambil tertawa puas.
"Bagaimana dengan rencana kedua kita? Apakah sudah selesai?" Tanya Kalila saat ia berhenti tertawa.
Bu Yati menatap Kalila serius. Senyumnya mengembang dengan bangga.
"Tenang saja. Rencana kedua sudah pasti akan berhasil."
__ADS_1