
Makan malam mereka sudah selesai. Baik Kalila dan Darian asyik larut dalam percakapan mereka yang hangat selama makan malam. Lalu Kalila beranjak dari tempat duduknya. Ia mulai memberesi bekas makanan yang ada di meja dan membawanya ke wastafel.
"Kamu mau kemana?" Tanya Darian manja.
"Membersihkan ini, Ian. Aku tidak tahan dengan benda-benda kotor." Jawab Kalila meninggalkan Darian.
Darian tertawa kecil dan mengikuti Kalila dari belakang. Tubuh Darian yang hampir dua kali lebih besar dari Kalila membuat wanita itu tampak seperti liliput di hadapannya.
Kalila meletakkan piring-piring kotor itu dan mulai membersihkannya satu demi satu. Darian menatap Kalila dengan kagum. Ia menganggap betapa sempurnanya wanita bernama Kalila ini. Bukan hanya sukses dan berasal dari kalangan atas, Kalila juga dapat mengurus rumah dengan baik. Sesuatu yang sama sekali tidak dimiliki oleh Hanna.
Darian berdiri di belakang Kalila dan melingkarkan tangannya di pinggang Kalila yang ramping. Ia lalu membenamkan hidungnya di ceruk leher Kalila. Mencium aroma tubuh wanita itu dengan lapar.
"Hentikan, Ian. Itu geli." Gumam Kalila sambil tertawa kecil.
Tapi Darian tidak menurutinya. Ia malah semakin menjadi-jadi. Bibirnya mulai menciumi bahu dan leher Kalila yang terbuka. Kalila mendesah pelan karena ulah Darian.
"Mmm... hentikan Ian." Gumamnya.
Darian tertawa.
"Tapi sepertinya tubuhmu menyukainya, Kalila." Bisik Darian menggoda.
Kalila membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Darian. Matanya menatap pria di hadapannya lamat-lamat. Namun Kalila tidak menemukan apapun di dalam mata itu selain birahi yang sudah memuncak.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Kalila dengan nada manja.
Darian tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke telinga Kalila.
"Aku punya ide yang bagus untuk malam ini, Kalila." Ujar Darian dengan suara baritonnya yang terdengar seksi.
Darian lalu mulai menciumi bibir Kalila. Namun tiba-tiba tubuh Kalila mengeras. Kelebatan masa lalu yang sangat ia benci muncul kembali. Dan bahkan pria yang sama itu ada di depannya. Pria yang paling ia ingin hancurkan, kini sedang bercumbu dengannya.
"Kamu kenapa, Kalila?" Tanya Darian bingung menatap Kalila.
__ADS_1
"Ah, sepertinya kepalaku sedikit pusing karena wine yang kita minum tadi." Ucap Kalila berbohong.
Kalila lalu membenamkan kepalanya di dada Darian yang bidang. Ia menarik nafas dengan dalam berkali-kali. Jantungnya berpacu cepat karena trauma yang kembali muncul. Kalila segera menenangkan dirinya yang gemetar. Berkali-kali ia meyakinkan dirinya bahwa semua ini harus dilakukan agar balas dendamnya dapat terlaksana.
Ayo, Kalila. Kuatkan dirimu. Ini semua demi balas dendammu. Demi kedua mertuamu dan bayimu. Batin Kalila mengukuhkan tekadnya.
Kalila mengangkat kepalanya dan menatap Darian dengan tatapan menggoda. Jemarinya menari di dada Darian dan membuka dua kancing atas kemejanya. Ia lalu melihat ke arah Darian yang tertawa melihat tingkah Kalila.
"Apa ide bagusmu tadi, Ian?" Tanya Kalila dengan suaranya yang terdengar seksi.
Darian mengangkat Kalila dan mendudukkanya di counter dapur Kalila yang terbuat dari marmer. Pria itu kembali mendaratkan ciuman di bibir Kalila. Kalila mendesah pelan.
"Mmmmhhh..."
Darian melepaskan ciumannya dan menatap penuh gairah ke arah Kalila. Matanya tampak gelap dan dikuasai oleh nafsu yang menggelora.
"Ayo kita bersenang-senang malam ini."
...****************...
Semalam adalah malam yang sangat gila. Darian bagaikan kuda balap yang tidak kenal lelah. Ia melibas Kalila dalam permainan yang begitu panas hingga berkali-kali. Selama semalam suntuk, yang terdengar di kamar itu hanyalah suara ******* Kalila dan Darian yang saling tumpang tindih. Bahkan setelah sekian lama, gairah dan nafsu Darian tidak pernah berubah.
Kalila mengambil ponselnya yang juga ada di atas nakasnya. Ia membuka ponselnya dan menyalakan kamera depannya. Ia lalu menjepret sebuah foto. Foto dimana ia tersenyum dan Darian terlelap memeluknya di sisinya. Kalila merasa puas dengan hasil jepretannya. Ia lalu mengirimkan foto itu pada seseorang dan menuliskan beberapa pesan singkat di bawahnya.
Kalila tertawa puas setelah pesan itu terkirim. Sebuah kalimat terus menerus terputar di benaknya.
Bukankah karma terasa sangat manis?
...****************...
Hanna sudah uring-uringan sejak semalam karena Darian tidak kunjung pulang. Ia menunggu di ruang tamu sejak jam tujuh malam. Berharap batang hidung suaminya segera tampak seperti biasanya. Tapi hasilnya nihil. Hingga larut malam pun Darian tidak pulang ke rumah.
Pikiran Hanna kalut dan kemana-mana. Pertengkarannya dengan Darian kemarin cukup hebat. Dan gertakan Darian bukan hanya sebuah gertakan sambal. Hanna paham benar Darian itu orang yang seperti apa. Jika Darian sudah memperingatkannya, itu berarti ultimatum mutlak bagi Hanna untuk tidak boleh mengusik Kalila. Tapi tetap saja, Hanna tidak bisa diam seperti keledai bodoh sementara Darian bersenang-senang dengan wanita lain.
__ADS_1
Hanna kembali menelepon Darian namun nomor pria itu tidak aktif.
"Sialan! Handphone Darian dimatikan? Pasti dia sedang bersama wanita bajingan itu!" Seru Hanna kesal.
Dengan gegabah, Hanna langsung keluar rumahnya dan memacu mobilnya ke apartemen Kalila. Setelah sampai disana, tepat seperti dugaan Hanna. Darian memang ada disana. Hanna melihat Rolls Royce milik Darian terparkir disana. Di antara mobil mewah lainnya yang berjejer rapi.
"Sialan Kalila! Aku kan sudah memperingatkan dia untuk menjauhi Darian. Tapi apa-apaan ini?!" Umpat Kalila kesal.
Hanna membuka pintu mobilnya dengan kasar. Ia turun dari mobilnya menuju lobi gedung apartemen itu. Dengan emosi ia langkahnya menyusuri halaman parkir dan akhirnya tiba di pintu masuk gedung apartemen. Namun langkahnya dihentikan oleh dua petugas keamanan yang berjaga di depan pintu.
Salah satu petugas keamanan itu menoleh pada rekannya seolah meminta konfirmasi dari rekannya. Rekannya lalu melihat ke arah sebuah foto dan mengangguk.
"Iya, benar dia orangnya." Ujar salah satu petugas keamanan.
Petugas keamanan yang menahan Hanna langsung menjauhkannya dari pintu masuk dengan sopan.
"Maaf, Bu. Tapi atas permintaan penghuni kami, ibu dilarang masuk ke apartemen ini." Ucap petugas keamanan tadi.
Hanna berang. Sialan sekali Kalila! Bisa-bisanya ia melarang Hanna untuk datang ke rumahnya.
"Tapi suami saya ada di dalam, Pak! Saya harus kesana dan menjemput suami saya!" Seru Hanna penuh emosi.
"Sekali lagi, maaf Bu. Kami harus menjaga keamanan dan kenyamanan penghuni apartemen ini. Sekarang kami minta ibu meninggalkan tempat ini sebelum kami melakukan tindakan yang lebih tegas, Bu."
Dengan penuh emosi, Hanna memutar balik tubuhnya dan kembali ke mobilnya. Ia kesal. Hanna gagal mengacaukan malam romantis Darian dan Kalila. Membayangkan Darian menghabiskan malam bersama Kalila saja sudah membuat Hanna terbakar emosi. Apalagi jika hal itu benar-benar terjadi.
Karena usahanya tidak membuahkan hasil, Hanna memutuskan untuk pulang ke rumahnya saja. Selama semalam suntuk Hanna tidak bisa tidur karena memikirkan Darian yang bersama Kalila. Rasanya Hanna dapat mendengarkan ******* suaminya itu di telinganya. Hatinya panas dan emosi membakar seluruh tubuhnya.
"Ahhh!!!! Sialan kamu Kalila! Berani-beraninya kamu mengacaukan rumah tanggaku!" Geram Hanna sembari meninju bantalnya.
Pada akhirnya, Hanna terlelap tidur karena lelah bergumul dengan emosinya sendiri. Keesokan paginya, Hanna terbangun karena sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari sebuah nomor tidak dikenal.
Hanna membuka pesan itu dan melihat sebuah foto yang membuat hatinya terbakar api cemburu. Foto Kalila yang tersenyum sementara Darian tertidur dengan pulas di sampingnya. Kalila membaca pesan yang ada di bawah foto itu.
__ADS_1
Maaf suamimu tidak bisa pulang pagi ini. Dia masih tertidur karena kelelahan.
Hanna emosi. Dengan sekuat tenaga ia melempar ponselnya hingga jatuh berserakan di lantai. Kalila benar-benar sudah melewati batasnya. Pesan ini berarti Kalila sudah mengibarkan bendera perang dengan Hanna. Dan Hanna akan membalasnya langsung secara kontan.