Wanita Buronan

Wanita Buronan
Aliansi Baru


__ADS_3

Niko benar-benar serius ingin mendekati Kinanti. Ia tidak gentar meskipun mereka berdua memiliki kedudukan yang jauh berbeda di dalam penjara ini. Setiap hari Niko akan mencari kesempatan agar bisa bertemu Kinanti. Seperti hari itu, Niko meminta sipir untuk menugaskan Kinanti di klinik. Membantunya membersihkan tempat itu.


"Apa kabarmu, Kinan?" Tanya Niko ceria.


"Baik, Niko. Bagaimana kabarmu?" Ujar Kinanti kembali.


"Aku sedang bahagia akhir-akhir ini." Jawab Niko.


Kinanti tersenyum mendengar kata-kata tersebut.


"Oh iya? Apakah esuatu yang baik baru saja terjadi?" Tanya Kinanti.


Niko menggeleng. Tidak mungkin ia menceritakan bahwa kebahagiaannya berasal dari senyuman Kinanti yang ia lihat setiap hari.


"Bagaimana keadaan Darian sekarang?" Ujar Kinanti kepada Niko.


Niko terdiam sejenak.


"Darian sekarang menjadi Direktur Utama di Bara Kahuripan. Beberapa bulan yang lalu ia baru saja menikah dengan Hanna dan sekarang Hanna resmi menjadi nyonya pemilik perusahaan itu." Tutur Niko.


Kinanti tersenyum getir. Ketika hidupnya begitu buruk di dalam penjara, suaminya malah bersenang-senang dan membangun kehidupan baru di luar sana. Niko melihat perubahan air muka Kinanti. Ia sudah tahu benar kisah pahit yang dialami wanita ini dan pasti mendengar hidup suaminya baik-baik saja akan melukainya.


"Hidup memang tidak adil, ya. Mereka yang tidak bersalah malah berakhir sebagai penjahat. Sementara penjahat sebenarnya malah berkeliaran bebas dan menumpuk harta di luar sana." Ucap Kinanti lirih.


Niko termenung menatap wanita itu. Ia tidak habis pikir mengapa ada yang tega menyakiti wanita secantik dan sebaik Kinanti. Bagaimana bisa Darian menghancurkan hidup wanita sederhana yang tidak memiliki kesalahan apapun padanya? Niko tidak habis pikir dengan orang kejam seperti Darian yang tidak pernah memandang manusia lain berharga.


"Seandainya aku bisa keluar dari tempat ini, aku hanya ingin membuat Darian membayar semua perbuatan jahatnya. Ia sudah sangat jahat pada kedua orangtuanya sendiri." Ujar Kinanti pelan.


Pria itu tertegun mendengar ucapan Kinanti. Otaknya berpikir cepat. Mungkin ia bisa melakukan hal yang berguna untum wanita ini. Walaupun terlambat, Niko juga ingin menjadi pahlawan bagi wanita yang ia cintai. Niko berjongkok di depan Kinanti yang sedang mengelap perlengkapan di klinik.

__ADS_1


"Aku bisa membantumu untuk membalaskan dendam pada Darian. Apakah kamu mau, Kinan?"


Mata Kinan terbelalak mendengar ucapan Niko. Apa maksud perkataan Niko tadi? Ia ingin membantu Kinan untuk membalas dendam? Bagaimana mungkin semuanya dilakukan sementara Kinan terkurung disini?


"Tapi bagaimana bisa? Kamu tahu kan aku terkurung disini?" Ucap Kinan tidak percaya.


Niko tersenyum penuh makna. Satu hal yang Niko selalu banggakan atas dirinya adalah karena ia memiliki otak yang encer. Niko dapat dengan mudah mencari solusi terhadap masalahnya. Jika dibandingkan, mungkin kecerdasan Niko berada di atas Darian. Hanya saja Niko masih memiliki hati nurani dan bukan merupakan sosiopat kejam seperti pria itu.


"Aku punya rencana besar, Kinan. Tapi untuk itu, kamu harus bekerja sama denganku. Kamu bisa mengajak satu orang narapidana untuk membantumu. Kalau kamu mau, kita akan mulai melaksanakannya secepatnya." Ujar Niko pelan.


Kinanti termenung sejenak. Ia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan. Semuanya sudah hancur jadi abu dan Kinanti tidak mungkin kehilangan sesuatu lagi. Tidak ada salahnya ia mencoba mengikuti rencana Niko. Sekali melangkah atau tidak sama sekali. Kali ini Kinanti akan mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk membalaskan dendamnya kepada pria biadab bernama Darian.


...****************...


Sudah satu jam terakhir ini Kinanti menghabiskan waktunya untuk larut dalam pikirannya sendiri. Kemarin malam, ia mengajak Bu Manisah untuk menemui Niko. Kinanti sudah memilih Bu Manisah sebagai satu narapidana yang akan diajaknya dalam rencana ini. Dan malam itu, Niko memaparkan semua rencananya dengan terperinci. Kinanti sampai kehabisan kata-kata dibuat Niko.


Rencana itu hebat. Sungguh hebat dan luar biasa. Taktikal, efektif, dan yang pasti seratus persen akan berhasil. Bahkan Niko sendiri yakin rencananya akan berjalan dengan mulus.


"Bagaimana menurut Ibu? Haruskah aku menerimanya?" Kinanti balik bertanya. Sesungguhnya ia merasa bingung. Resikonya sangat besar dan jika rencana mereka gagal, Kinanti akan membahayakan Bu Manisah dan Niko di dalam prosesnya.


"Ibu tidak bisa memberikan saran apapun, Ti. Yang jelas, kalau menurutmu apa yang akan kamu lakukan adalah benar, Ibu akan selalu mendukungmu. Jangan takut dengan resiko yang belum terjadi. Ibu tidak akan menyalahkanmu atas apapun yang terjadi pada Ibu." Jawab Bu Manisah.


Ya, Kinanti semakin mantap dengan pilihannya. Ia yakin untuk menyatukan tangan dengan Niko dan mengeksekusi rencana besar mereka. Lagipula, Kinanti tidak akan kehilangan apapun lagi jika rencana ini gagal. Begitu juga dengan Bu Manisah.


Kinanti mengangguk mantap. Bu Manisah tersenyum melihatnya.


"Aku akan menemui Niko dan memberitahunya soal keputusanku, Bu." Ujar Kinanti.


Kinanti meminta izin kepada sipir untuk ke klinik. Ia harus bertemu dengan pria itu dan menentukan waktu yang tepat untuk memulai taktik mereka. Sipir mengizinkannya dan membuka pintu sel Kinanti. Dengan sigap Kinanti melangkah menuju klinik penjara.

__ADS_1


Setibanya disana, ia bertemu dengan Niko yang sedang memeriksa salah seorang narapidana. Niko melihat Kinanti yang masuk ke ruangannya. Ia segera memberikan beberapa obat kepada narapidana yang sedang ia periksa dan memintanya pergi. Narapidana itu lalu pergi dan hanya tinggal Niko dan Kinanti yang berada di dalam ruangan itu.


Niko duduk di kursinya dan Kinanti juga melakukan hal yang sama. Si pria menatap wanita lurus. Matanya mengharapkan jawaban dari si wanita.


"Bagaimana?" Tanya Niko kepada Kinanti.


Kinanti mengangguk mantap.


"Iya, aku setuju bekerja sama denganmu. Kapan kita akan memulai rencananya?" Ujar Kinanti. Matanya berbinar penuh semangat. Atau mungkin itu kilau yang timbul karena ambisinya untuk balas dendam kembali tersulut?


"Kita akan memulai rencananya besok. Bagaimana?" Kata Niko.


"Baik, aku setuju. Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?" Tanya Kinanti lagi.


Niko hening sejenak. Lalu ia kembali membuka mulutnya untuk menceritakan langkah pertama yang harus mereka lakukan.


"Pertama, aku ingin kamu mati terlebih dahulu."


Kinanti terhenyak. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Niko. Kenapa ia harus mati terlebih dahulu untuk membalas dendam?


"Apa maksudmu, Nik? Aku harus bunuh diri dulu?" Ucap Kinanti bingung.


Niko menggeleng seraya tersenyum.


"Tidak. Bukan bunuh diri." Tutur Niko.


"Lalu? Bagaimana bisa aku mati?" Balas Kinanti masih tidak mengerti.


"Aku yang akan membunuhmu."

__ADS_1


Tangan Niko lalu meraih sebutir obat yang sudah dibungkus dengan plastik. Kinanti tidak tahu obat apakah itu tapi tampaknya bukan merupakan obat yang bisa ditemukan di pasaran bebas. Niko lalu menyodorkan obat itu ke hadapan Kinanti.


"Aku akan membunuhmu dengan ini."


__ADS_2