Wanita Buronan

Wanita Buronan
Si Cantik Kalila


__ADS_3

Kalila merapikan kuncir rambutnya dan segera menekan tombol di treadmill yang ia gunakan. Mesin itu perlahan bergerak dan semakin lama semakin cepat seiring dengan tangan Kalila yang terus menekan tombolnya. Kalila berlari dengan semangat di atas treadmill sembari mendengarkan musik melalui earphone yang ia gunakan.


Lalu seorang pria datang mendekat ke arahnya dan menggunakan mesin treadmill yang ada di sebelahnya. Kalila tidak terlalu peduli dengan siapa yang ada di sampingnya. Namun tiba-tiba pria itu memanggil Kalila dengan nada yang amat ceria. Seolah ia tidak menyangka akan melihat Kalila ada disini.


"Kalila? Apakah kamu benar Kalila?" Ujar pria itu.


Kalila menoleh dan melihat ke arah sumbee suara. Darian berdiri di sampingnya dengan menggunakan kaos ketat dan celana training. Ia tampak akan mulai berolahraga juga. Wanita itu lalu melepaskan sebelah earphonenya dan tampak kaget melihat siapa yang menyapanya.


"Darian? Is that you?" Tanya Kalila tampak semangat.


(Darian, apakah itu kamu?)


Darian mengangguk.


"Yeah, it's me! That Darian!" Serunya penuh semangat.


(Yeah, ini aku. Darian yang kemarin!"


Kalila tertawa dan menghentikan treadmillnya. Ia lalu menyenderkan tubuhnya ke pegangan treadmill. Mencondongkan bagian depannya ke arah Darian.


"Aku tidak tahu kalau kamu juga gym disini!" Ucap Kalila ceria.


"Aku pengguna tetap disini, Kalila. Hampir setiap malam aku gym disini. Tapi baru kali ini aku bertemu denganmu." Kata Darian sambil mendekat ke arah Kalila.


"Iya, sebenarnya baru beberapa hari ini aku bergabung disini. Sudah seminggu aku tidak berolahraga sejak pulang ke Indonesia. Jadi aku pergi ke sini untuk melatih ototku." Ujar Kalila.


Darian mengangguk penuh antusias.


"Tapi kenapa kamu memilih tempat ini? Siapa yang merekomendasikannya kepadamu?" Tanya Darian penasaran.


"Tidak ada. Hanya saja tempat ini yang paling dekat dengan apartemenku. Hanya itu saja alasannya." Jawab Kalila sembari meneguk minumannya.


"Oh, benarkah? Memangnya dimana lokasi apartemenmu?" Tanya Darian semakin antusias.


Kalila menunjuk tangannya pada sebuah gedung pencakar langit yang ada di seberang pusat kebugaran itu. Letaknya masih dalam satu komplek dengan gym yang mereka kunjungi.

__ADS_1


"Disana. Di Senopati Suites." Ujar Kalila santai.


Darian makin tersenyum lebar mendengarnya. Ia merasa takjub dengan wanita ini. Bukan karena Darian mata duitan. Tapi karena ia merasa Kalila juga berada di kalangan dan strata sosial yang sama dengannya. Ditambah lagi Kalila juga sepertinya memiliki banyak kesamaan hobi dengan Darian. Rasanya ia ingin berbincang lebih banyak lagi dengan wanita bernama Kalila ini.


...****************...


Kalila memakai baju gantinya setelah membersihkan diri di kamar mandi gym. Ia lalu menata kembali rambutnya dan memulaskan riasan ringan. Kalila kemudian melangkah keluar dari ruang ganti dan melihat Darian tengah berdiri di sana. Pria itu tampak menunggu seseorang.


"Hei, Darian. Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Kalila menyapa Darian.


"Aku menunggumu, tentu saja." Jawab Darian sambil tersenyum.


Kalila tertawa mendengar jawaban pria itu.


"Really? That's so sweet of you!" Seru Kalila seolah tidak percaya.


(Serius? Kamu sangat manis!)


"Seharusnya kamu tidak perlu melakukannya, Darian. Aku bisa pulang sendiri. Sungguh!" Sambung Kalila seraya berjalan menghampiri Darian.


Darian tertawa dan meraih tas gymnya.


"Tidak, aku serius Darian. Aku sudah biasa melakukan semuanya sendiri saat di Amerika." Balas Darian.


"Dan aku juga serius ingin mengantarmu pulang, Kalila." Ucap Darian tidak mau kalah.


Kalila mengangkat kedua tangannya seolah orang yang ditodong senjata.


"Baiklah, aku menyerah. Kamu bisa mengantarku pulang." Ujar Kalila sambil berjalan mendahului Darian.


Darian tertawa dan segera berjalan menyusul Kalila. Langkahnya yang lebar dapat dengan cepat mempersempit jarak di antara mereka. Darian sekarang sudah berjalan di sisi Kalila. Pria dan wanita itu sekarang berjalan beriringan keluar dari pusat kebugaran tempat mereka tadi bertemu.


Sekitar kurang lebih sepuluh menit berjalan kaki, Kalila dan Darian akhirnya tiba di depan pintu sebuah unit apartemen. Nomor 1004 tertulis di pintu tersebut menandakan lokasi apartemen itu yang berada di lantai sepuluh gedung Senopati Suites.


"Disini apartemenmu?" Tanya Darian memastikan.

__ADS_1


Kalila mengangguk. Ia lalu menekan beberapa nomor yang merupakan kode akses apartemennya. Pintu terbuka dan Kalila masuk duluan ke dalam unit itu. Darian masih berdiri di luar apartemen itu. Kalila lalu kembali berjalan ke arah pintu dengan tatapan bingung.


"Kamu menunggu apa? Ayo masuk saja." Ajak Kalila.


"Aku menunggumu mempersilahkan masuk, Kalila. Tidak mungkin aku masuk begitu saja ke unit seorang gadis tanpa seizinnya, bukan?" Ujar Darian sembari berjalan mengikuti Kalila memasukki apartemennya.


Kalila menatap Darian dengan tatapan seolah tidak percaya.


"Serius? Wah kamu gentleman sekali, Darian. Aku kagum! Sungguh!" Seru Kalila senang.


Darian makin sumringah mendengar gadis itu memujinya. Pandangannya kini berkelana ke seluruh penjuru apartemen Kalila. Sungguh, bahkan selera Kalila dalam menata apartemennya pun seperti Darian. Elegan namun minimalis. Sangat menunjukkan kelasnya yang tinggi dan eksklusif. Darian semakin tertarik pada wanita bernama Kalila ini setiap ia mengetahui hal baru tentangnya.


"Kamu mau minum apa? Aku bisa membuatkanmu sesuatu, Darian." Tanya Kalila sembari berdiri di balik mini bar apartemennya.


Darian duduk di hadapan Kalila. Di atas kursi bar yang selaras dengan mini bar milik Kalila.


"Surprise me." Ucap Darian seolah menantang Kalila untuk membuatnya semakin kagum.


Kalila lalu berbalik ke bar dan mulai membuat sesuatu dengan mencampurkan beberapa bahan ke dalam sebuah botol pengocok yang biasa ada di bar. Dengan lihai Kalila membuat campuran minuman dan menuangkannya dalam sebuah gelas. Ia lalu menyodorkan gelas tersebut ke hadapan Darian.


"Aku membuatkanmu martini. Lagipula siapa yang tidak suka martini kan?" Ujar Kalila sambil tersenyum manis.


Darian semakin kagum pada wanita ini. Seolah ia bisa membaca Darian seperti buku yang terbuka. Kalila bisa mengerti Darian dengan sangat baik seolah wanita itu sudah mengenalnya dalam waktu lama. Padahal kali ini baru pertemuan keduanya tapi Kalila bahkan bisa memahami Darian lebih baik daripada Hanna.


"Sungguh, Kalila. Kamu selalu membuatku takjub setiap saat. Darimana kamu belajar membuat minuman seenak ini?" Tanya Darian setelah meneguk minumannya sekali.


"Temanku memiliki sebuah bar di Amerika. Jadi saat kuliah aku sering kesana dan membantunya sedikit." Jelas Kalila.


"Beruntungnya temanmu memiliki teman sepertimu." Imbuh Darian.


"Ah tidak juga, Darian." Balas Kalila sambil tersipu sedikit.


"Kalau begitu aku juga bisa kan?" Tanya Darian sambil menatap Kalila langsung ke matanya.


"Bisa apa?" Ujar Kalila tidak mengerti.

__ADS_1


Darian meneguk minumannya sekali lagi sebelum berbicara.


"Aku juga bisa menjadi temanmu kan?"


__ADS_2