
Kalila menggandeng Darian untuk masuk ke rumahnya. Hari ini adalah hari kepulangan Darian setelah dirawat di rumah sakit karena selama seminggu.
"Mbak Hanna dimana, Bi?" Tanya Kalila kepada asisten rumah tangga mereka saat Kalila dan Darian pulang.
"Oh, Nyonya Hanna sudah tiga hari ini tidak pulang, Non. Saya kurang tahu kemana karena Nyonya tidak cerita apapun dengan saya." Ucap si Bibi lalu kembali bekerja.
"Tumben Mbak Hanna tidak ada di rumah ya." Gumam Kalila pelan.
Darian tersenyum kecil mendengarnya. Seolah ia tahu sesuatu yang Kalila tidak ketahui.
"Biarkan saja, Sayang. Dengan begitu kita bisa sepuasnya berduaan di rumah, kan?" Ucap Darian lalu mengangkat Kalila dalam gendongannya.
"Ahhh!" Jerit Kalila kaget.
"Ian, kamu belum terlalu sehat. Jangan memaksakan dirimu seperti ini. Kumohon." Seru Kalila sebal.
Darian mengecup bibir Kalila lama. Ia lalu melepaskan ciumannya dan menatap Kalila dengan menggoda.
"Aku sudah sehat, Sayang. Sehat sekali! Kamu ingin aku menunjukkannya?" Goda Darian pada Kalila.
Kalila tertawa dan memukul lengan Darian pelan.
"Ayolah, sudah seminggu aku berpuasa selama di rumah sakit. Malam ini aku mau bercinta sepuasnya, Sayang." Bisik Darian sembari menggendong Kalila masuk ke kamarnya.
Darian menggendong Kalila bak seorang pengantin sementara Kalila mengalungkan lengannya di leher Darian. Kalila menatap Darian dalam. Lagi-lagi tatapan penuh makna yang sulit diartikan.
"Kenapa? Kamu terpesona dengan ketampananku?" Tanya Darian iseng.
Kalila tersenyum kecil.
"Tidak. Aku hanya merasa sangat bersyukur." Jawab Kalila.
"Apa alasannya?" Imbuh Darian lagi.
Kalila lalu mengecup pipi Darian singkat.
"Karena hidupku berjalan dengan sangat mudah."
...****************...
Hanna terbangun dan ia panik melihat dirinya yang terikat di sebuah palang besi. Ia melihat sekelilingnya dan ia sama sekali tidak tahu dimana ia berada. Tempat itu gelap dan lembab. Banyak besi tua berserakan dan barang rongsokan dimana-mana.
"Dimana aku? Apakah ini gudang?" Gumam Hanna.
Ia lalu melihat ke arah tangannya yang terikat di atas tubuhnya. Kedua kakinya juga terikat dengan kuat pada tiang besi yang menyangganya. Hanna tidak ingat apa-apa. Hal terakhir yang dia ingat adalah Hanna sedang berjalan keluar dari salon langganannya. Lalu dua pria berbadan besar tiba-tiba menariknya masuk ke dalam sebuah mobil. Setelah itu tampaknya Hanna kehilangan kesadarannya dan terbangun dalam keadaan terikat seperti ini.
"Siapapun! Tolong aku! Tolong lepaskan aku!" Teriak Hanna.
Namun teriakan Hanna tidak mendapat jawaban dari siapapun selain gema suaranya sendiri. Teriakan itu menggema di seluruh penjuru ruangan gelap tak berpenghuni itu. Hanna berontak. Ia berusaha melepaskan ikatannya namun tak berhasil. Satu-satunya yang ia dapatkan adalah pergelangan tangannya yang semakin perih karena bergesekan dengan tali itu.
"Sialan! Siapa yang berani melakukan ini semua kepadaku?! Apakah mereka tidak tahu siapa aku?!" Umpat Hanna dalam kemarahannya.
Hanna menggeliat berusaha membebaskan dirinya. Namun ikatan itu terlalu kuat. Seolah Hanna seekor sapi yang akan disembelih.
"Sialan! Lihat saja! Siapapun yang melakukan ini kepadaku akan mendapatkan balasannya!" Seru Hanna geram.
__ADS_1
"Kamu ingin melakukan apa, istriku?" Tanya sebuah suara dari kegelapan.
Tak berapa lama, terdengar suara langkah kaki yang tampaknya berasal dari tiga orang. Suara itu berjalan mendekati Hanna dari dalam kegelapan. Hanna panik. Jantungnya berderap tidak karuan. Sebentar lagi ia akan melihat siapa brengsek yang berani melakukan ini kepadanya.
"Darian? Apakah itu kamu?" Tanya Hanna kepada sosok yang menghampirinya.
Hanna mengerjapkan matanya beberapa kali dan berusaha melihat sosok yang mendekatinya. Namun semuanya terlalu gelap bagi Hanna untuk mengenali wajah sosok itu.
Sosok itu mendekat dan menunjukkan wajahnya. Itu adalah Darian. Darian dengan senyum kejamnya bersama dua orang pria di sisi kanan dan kirinya.
"Darian? Itu benar kamu?! Tolong lepaskan aku Darian! Kenapa kamu melakukan ini kepadaku?!" Seru Hanna tidak terima.
Darian tertawa dingin. Ia mendekat ke Hanna dengan tatapan kejamnya.
"Kamu seharusnya sudah tahu kenapa aku membawamu kesini, Istriku." Jawab Darian.
Jantung Hanna mencelos. Sialan! Apakah Darian sudah tahu tentang semuanya?
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!" Ucap Hanna berbohong.
"Astaga, Istriku. Jangan memaksaku melakukan kekerasan kepadamu agar kamu mau mengakui perbuatanmu." Timpal Darian.
"Apa maksudmu? Kamu ingin memukuliku habis-habisan disini? Sungguh, Darian? Hina sekali seorang pria sepertimu mau memukul wanita sepertiku." Ejek Hanna tanpa takut.
Darian kembali tertawa. Tawanya terdengar dingin dan kejam.
"Oh, Istriku Sayang. Aku memang pria yang hina, kamu tahu itu. Aku tidak takut menghabisi wanita kejam sepertimu, sungguh. Tapi memukulimu itu tidak menyenangkan." Bisik Darian.
Hanna terbelalak. Ia tidak mengerti apa maksud Darian.
"Apa maksudmu? Apa yang akan kamu lakukan kepadaku?!" Seru Hanna takut.
"Niko? Apa yang kamu lakukan bersama Darian?" Ujar Hanna tidak percaya.
"Niko sekarang bekerja untukku, Hanna. Dia bukan tangan kananmu lagi." Balas Darian.
Hanna berang. Emosinya membuncah melihat orang suruhannya menusuknya dari belakang.
"Cih! Dasar pengkhianat! Kenapa kamu berpaling pada Darian, hah?! Apakah bayaranku tidak cukup?!" Seru Hanna kesal.
"Tentu saja karena Kalila." Jawab Darian singkat.
Hanna makin tidak mengerti. Ia seolah menatap Darian menuntut jawaban.
"Apa maksudmu?" Tanya Hanna tidak mengerti.
"Kalila adalah sepupu Niko, Istriku. Tentu saja Niko akan berpihak padaku. Aku kekasih Kalila, sepupunya. Dan kamu adalah musuh Kalila. Mengerti?" Ucap Darian lagi.
Hanna menelan ludahnya. Sialan! Kenapa semuanya menjadi rumit seperti ini? Kalau Darian memanggil Niko kesini, itu berarti Hanna akan mati tanpa seorang pun tahu penyebabnya. Niko adalah ahlinya di bidang itu.
"Kamu ingin membunuhku dengan racunmu?" Tanya Hanna pada Niko yang berdiri di sisinya dan memegang jarum suntik.
Niko tertawa kecil.
"Aku tidak berniat buruk padamu, Bu Hanna. Aku hanya menjalankan perintah atasanku sekaligus melindungi sepupuku." Jawab Niko sambil tersenyum dingin.
__ADS_1
Kali ini Darian yang tertawa karena melihat raut wajah Hanna yang menjadi pucat.
"Astaga, kamu mulai merasa takut, Istriku?" Ejek Darian.
Hanna hanya diam.
"Jadi kamu mau menjawabnya atau tidak?" Tanya Darian lagi.
"Menjawab apa?" Ujar Hanna pelan.
"Siapa yang menaruh racun di makanan pagi itu?" Ujar Darian mengintimidasi.
Hanna masih diam. Ia menolak membuka mulutnya. Darian memberi isyarat pada Niko untuk mulai menyuntikkan obatnya.
"Apa yang akan kamu lakukan?!" Seru Hanna pada Niko.
"Sabar, Bu Hanna. Ini tidak akan sakit. Rasanya hanya seperti terkena serangan jantung kecil." Ucap Niko.
"Jawab, Istriku. Atau kamu akan mati. Pilihannya ada padamu." Ancam Darian dingin.
Hanna tergagap. Ia lebih sayang pada nyawanya. Tentu saja.
"Baik! Aku yang menaruh racun itu!" Seru Hanna mengakui perbuatannya.
Darian mendekatkan wajahnya pada Hanna. Sekarang wajah keduanya hanya terpaut beberapa sentimeter.
"Berani sekali kamu ingin meracuniku." Gumam Darian.
Hanna memejamkan matanya. Ia terlalu takut melihat Darian yang seperti itu.
"Tidak! Itu bukan untukmu! Awalnya aku mau meracuni Kalila! Tapi entah bagaimana malah kamu yang menjadi korbannya! Sungguh, Darian! Aku tidak akan pernah bisa melukaimu! Kamu tahu betapa besarnya aku mencintaimu!" Jelas Hanna.
Darian makin berang.
"Jawabanmu salah, Istriku. Semakin kamu terus mencoba melukai kekasihku, semakin aku membencimu. Dan Darian tidak pernah membiarkan orang yang ia benci hidup dengan tenang." Ujar Darian.
Pria itu lalu berjalan meninggalkan Hanna.
"Kamu mau kemana?! Jangan tinggalkan aku disini, Darian! Lepaskan aku!" Seru Hanna tidak terima.
Tapi Darian tidak menggubrisnya. Ia tetap berjalan menjauh. Lalu seorang pria yang tampak seperti tukang pukul menghampiri Darian.
"Harus kami apakah wanita itu, Tuan?" Tanya pria bertubuh kekar itu.
"Terserah kalian mau melakukan apa kepadanya. Aku tidak peduli."
...****************...
Kalila terbangun dari tidurnya karena merasa sisi ranjangnya dingin. Ia melihat ke arah jendela dan langit tampak masih gelap. Kalila meraih ponselnya dan melihat waktu yang masih menunjukkan pukul 3 pagi. Ia bertanya-tanya mengapa Darian tidak ada di ranjang bersamanya.
"Darian kemana? Kenapa dia tidak ada di kamar?" Gumam Kalila celingukan.
Sekitar lima belas menit kemudian, Darian masuk ke dalam kamarnya. Kalila menatapnya bingung.
"Kamu darimana, Ian?" Tanya Kalila sembari menyambut pelukan Darian.
__ADS_1
Darian tersenyum tipis.
"Hanya membereskan tikus kecil, Sayang.