
"Apa?! Darian kecelakaan? Astaga, Pak! Apa yang terjadi pada kekasih saya?"
Niko terperanjat melihat Kalila yang tiba-tiba menangis dengan begitu hebat saat menerima telepon itu. Ia tidak mengerti telepon dari siapa itu hingga Kalila menunjukkan reaksi sebesar itu.
"Baik, Pak. Saya akan segera kesana, Pak. Terimakasih banyak, Pak." Ucap Kalila lalu mematikan telepon.
Begitu panggilan ituu terputus, Kalila langsung menyeka air matanya yang merembes. Ia lalu tersenyum penuh kemenangan pada Niko.
"Lihat apa yang kukatakan, Nik. Rencana kita berhasil. Mobil yang dikendarai dua monster itu mengalami kecelakaan hebat dan keduanya dalam keadaan kritis sekarang. Sungguh kabar yang baik kan, Niko?" Ujar Kalila sambil tertawa senang.
Niko menatap Kalila tidak percaya. Apakah ini adalah kehendak semesta yang menolong mereka? Bagaimana mungkin rencana yang mereka susun bisa berjalan semulus ini?
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Niko ingin tahu.
Tanpa ragu Kalila langsung menjawab pertanyaan Niko dalam satu kalimat.
"Berpura-pura menjadi kekasih yang sedih, Niko."
...****************...
Kalila, Bu Yati, dan Niko sampai di rumah sakit tempat Darian dan Hanna sedang menjalani operasi. Dengan tergopoh-gopoh ketiganya berlari menyusuri koridor rumah sakit dan bertanya kepada perawat tentang korban kecelakaan mobil yang dilarikan ke rumah sakit itu.
"Oh, korban kecelakaan mobil yang baru saja dilarikan kesini ya, Bu? Korban bernama Bapak Darian Chatra Wijaya dan Ibu Hanna Diandra. Apakah benar?" Tanya seorang perawat memastikan.
Kalila mengangguk. Air mata penuh membasahi pipinya. Matanya sembab dan isak tangisnya tak kunjung berhenti.
"Iya, benar, Suster. Dimana Darian dirawat, Sus? Apakah saya bisa melihatnya sekarang?" Balas Kalila dengan nada khawatir.
"Mohon maaf, Bu. Untuk sekarang keduanya sedang menjalani operasi karena kondisinya yang sangat kritis. Tapi apabila Ibu ingin menunggu, Ibu bisa menunggunya di luar ruang operasi, Bu." Jelas suster itu dengans sabar.
Kalila mengangguk. Ia membalikkan tubuhnya dan langsung berlari dengan cemas ke arah ruang operasi. Niko dan Bu Yati mengikuti di belakang Kalila dengan raut wajah yang sama khawatirnya. Ketiganya lalu duduk dan menunggu prosea operasi berlangsung.
Setengah jam mereka menunggu, dua orang pria bertubuh tegap dan berseragam polisi berjalan ke arah mereka. Kalila yang bertemu mata dengan salah satunya langsung menegang. Tanpa ia sadari, tubuhnya membeku karena rasa takut.
"Ada apa?" Tanya Niko sambil menyentuh Kalila yang gugup.
Wanita itu tersadar dan menoleh ke arah Niko.
"Ada polisi, Nik." Gumam Kalila pelan.
Seolah membaca kekhawatiran Kalila, Niko langsung berdiri dan menemui dua polisi itu.
"Maaf, apakah Bapak keluarga dari korban?" Tanya salah satu polisi bernama Yono kepada Niko.
Niko mengangguk.
__ADS_1
"Saya bukan keluarga korban secara langsung, tapi saya mengenal korban dengan sangat baik, Pak. Bisa dikatakan Darian sudah seperti kakak angkat bagi saya." Ucap Niko beralasan.
Kedua polisi itu mengangguk-angguk. Mereka lalu melihat ke arah Kalila yang tampak memalingkan wajahnya.
"Dengan siapa kami tadi berbicara di telepon? Seingat saya tadi ada seorang wanita yang mengangkat teleponnya." Ucap polisi lain yang bernama Sony dengan menyelidik.
Kalila terhenyak mendengar perkataan polisi itu. Haruskah ia bersembunyi agar identitas barunya sebagai Kalila tidak dicurigai? Ataukah lebih baik ia berlagak seperti seorang wanita terhormat dan bukannya seorang narapidana yang kabur?
Kalila menarik nafasnya dalam-dalam. Ia memutuskan untuk memilih jawaban yang kedua. Lagipula Niko sudah berkali-kali meyakinkan Kalila bahwa tidak akan ada satu orangpun yang mengetahui masa lalunya sebagai Kinanti. Kalila yakin ia bisa mempercayai Niko untuk hal ini.
"Saya, Pak. Saya yang menerima telepon tadi." Jawab Kalila sembari berusaha menghentikan isak tangisnya.
"Dan Anda adalah?" Tanya Pak Sony kepada Kalila.
"Saya Kalila, Pak. Kalila Jayanti." Balas Kalila.
"Dan apa hubungan Anda dan korban?" Kali ini Pak Yono yang bertanya.
Kalila tertunduk. Ia tampak ragu untuk melanjutkan jawabannya. Setelah terdiam beberapa saat, Kalila mengangkat kepalanya dan menatap sungguh-sungguh kepada kedua polisi itu.
"Sebenarnya saya tidak tahu bagaimana ini akan terdengar bagi Bapak. Karena hubungan saya dan kedua korban dapat dikatakan sedikit rumit, Pak." Ujar Kalila hati-hati.
Pak Yono dan Pak Sony saling bertatapan. Mereka kemudian kembali menatap Kalila dengan wajah penuh tanda tanya.
Kalila menghela nafas pelan.
"Saya adalah kekasih Darian, Pak."
Kedua polisi itu saling bertatapan lagi.
"Baiklah, Ibu Kalila. Untuk sekarang kami akan mempersilahkan Ibu berada disini. Tapi kami mohon agar Ibu dapat bekerjasama apabila sewaktu-waktu kami membutuhkan kesaksian dan bantuan Ibu." Ucap Pak Yono penuh wibawa.
Kalila mengangguk. Kedua polisi itu lalu pamit dan berjalan meninggalkan mereka. Begitu dua sosok itu menghilang di balik pintu rumah sakit, Kalila langsung terduduk di lantai. Kakinya lemas karena rasa gugup dan cemas yang menyelimutinya sejak melihat sosok berseragam cokelat itu.
"Kamu kenapa, Kalila?" Tanya Niko khawatir.
Kalila menggelengkan kepalanya lemah. Ia meletakkan tangannya di depan jantungnya yang berdebar sangat kencang. Satu kesalahan saja bisa membuatnya kembali ke penjara dan rencana balas dendamnya berantakan.
"Tidak, aku tidak apa-apa, Niko. Jangan khawatirkan aku." Imbuh Kalila lirih.
Niko segera berjongkok di sebelahnya. Ia memegang tangan Kalila erat dan mengelusnya pelan.
"Kamu takut polisi tadi akan mengetahui identitasmu yang sebenarnya?" Ucap Niko berhati-hati.
Kalila mengangguk kecil.
__ADS_1
"Aku takut sekali, Nik. Bagaimanapun juga statusku adalah buronan. Aku adalah seorang buronan dan kesalahan kecil saja bisa membuatku kembali tertangkap." Jawab Kalila gugup.
Niko memegang dagu Kalila pelan. Mengarahkan wajah wanita itu agar menatap kedua matanya. Niko memandang Kalila begitu serius dan meyakinkan.
"Aku sudah bilang berkali-kali kepadamu, Kalila. Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Aku akan selalu menjagamu. Kamu percaya padaku kan?" Kata Niko serius.
Memandang kedua mata itu membuat Kalila kembali yakin. Ia kembali merasa aman dan mendapatkan kekuatan untuk berdiri lagi.
"Terimakasih, Nik. Aku berhutang banyak kepadamu."
...****************...
Setelah operasi enam jam itu berlalu, dokter akhirnya keluar dari ruang operasi dan meminta Kalila untuk menemuinya. Kalila tanpa ragu langsung menurutinya dan berjalan di belakang dokter itu.
"Silahkan duduk, Ibu Kalila." Pinta dokter itu dengan sopan.
Kalila duduk tanpa banyak bertanya. Namun ekspresinya menunjukkan banyak tanda tanya yang ia butuh jawabannya.
"Operasi kedua korban berjalan dengan lancar dan keduanya berhasil melewati masa kritisnya." Ucap sang dokter tenang.
Kalila terperanjat. Rencananya untuk membunuh kedua orang itu gagal telak. Bagaimana mungkin kedua monster itu masih bisa selamat dari kecelakaan mobil yang begitu hebat seperti itu? Apakah mereka berdua benar-benar monster dan bukannya manusia?
"Ibu tampaknya begitu terkejut karena rasa senang ya?" Tambah dokter itu lagi.
Kalila mengangguk dengan kikuk.
"Namun sayangnya ada dua kabar buruk yang saya harus sampaikan Bu." Dokter tersebut berkata dengan hati-hati.
Kalila menatapnya tidak mengerti.
"Kabar buruk apa, Dok?" Tanya Kalila.
Dokter itu lalu menghela nafas pelan.
"Pasien Hanna mengalami kerusakan wajah yang sangat parah dan mungkin akan dibutuhkan rekonstruksi wajah kembali agar wajahnya dapat kembali seperti semula. Dan proses ini membutuhkan waktu yang cukup lama, Bu." Jelas Dokter itu.
"Lalu kabar buruk yang kedua, Dok?" Ujar Kalila penasaran.
"Karena kecelakaan tersebut, pasien Darian mengalami kerusakam syaraf yang cukup parah di bagian tubuh bawahnya, Bu Kalila." Ucap sang dokter.
Kalila seolah bisa menangkap apa yang terjadi pada Darian. Namun ia butuh kepastian dari dokter ini.
"Maksudnya Dok?"
"Pasien Darian akan mengalami kelumpuhan permanen."
__ADS_1