Wanita Buronan

Wanita Buronan
Mengenal Darian


__ADS_3

Tampaknya memang benar perkataan Darian malam itu. Hubungan Darian dan Hanna sedang dalam masalah. Karena selama dua minggu terakhir, Darian dengan rutin pulang ke rumah. Setiap hari dan tidak pernah absen satu hari pun.


Kinanti sendiri pun tidak tahu masalah apa yang menerpa mereka berdua. Namun sesungguhnya Kinanti berharap masalah mereka tidak akan pernah selesai serta hubungan Darian dan Hanna dapat berakhir. Apakah Kinanti seperti orang jahat dalam hubungan mereka sekarang? Tapi tidak salah kan Kinanti berharap seperti itu? Karena bagaimanapun juga Darian adalah suaminya dan Kinanti adalah istri sah Darian. Kinanti berhak memperjuangkan keutuhan rumah tangga mereka.


Dan selama dua minggu ini pula Kinanti belajar mengenal suaminya dengan lebih baik. Setiap kebiasaan kecil Darian mulai dari apa yang dia suka dan tidak. Seperti bagaimana Darian tidak menyukai makanan pedas dan hanya bisa memakan makanan yang baru dimasak setiap saatnya. Bagaimana Darian suka meminum segelas kopi hangat di pagi hari. Dan kebiasaan lainnya mulai dari Darian yang tidak bisa memakai dan melepas dasi sendiri hingga Darian yang suka berlama-lama di kamar mandi untuk bersantai di dalam bathtub. Kinanti baru mengetahui semuanya di usia pernikahan mereka yang hampir menginjak satu tahun.


Kinanti juga baru mengetahuinya bagaimana Darian memiliki gairah dan kecenderungan menjadi masokis apabila berkaitan dengan urusan ranjang. Darian bagaikan anjing jantan di musim kawin. Ia tidak bisa berdiam begitu saja melihat Kinanti melewatinya dengan pakaian yang terbuka. Dalam sehari mungkin Darian akan menghantam Kinanti lebih dari empat babak permainan.


Jika Kinanti bangun lebih dulu daripada Darian, maka ia akan menariknya lagi dan menciumi sekujur tubuh Kinanti. Dan ciuman ini biasanya akan berakhir pada sesi pertama permainan cinta mereka di pagi hari. Apabila Kinanti sedang memasak di dapur dan Darian melihat tubuh istrinya yang begitu indah, maka ia akan menyergap istrinya dan menariknya dalam ronde lainnya yang panas dan membara. Entah di meja makan, kursi makan, atau bahkan di lantai dapur.


Selama dua minggu Darian berada di rumah, selama itu pula Kinanti dan Darian tanpa henti-hentinya memadu kasih. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan Darian adalah hiperseks. Sungguh! Selama dua minggu, Darian sudah bercinta dengan Kinanti di setiap sudut rumahnya. Di dapur, kamar mandi, ruang kerja, mobil, dan bahkan di atas kursi pantai dekat kolam renangnya. Dan tempat favorit Darian adalah di dalam bathtubnya yang super besar sehingga ia bisa dengan mudah membolak-balik tubuh Kinanti yang berselimut sabun.


Entah apa yang ada di pikiran Darian, tapi fantasinya dengan Kinanti terkadang ada di luar batas. Mungkin seperti anak kecil yang diberikan mainan baru. Seperti itu pula Darian memperlakukan Kinanti. Seperti mainan baru yang akan ia coba untuk berbagai hal. Di pagi hari ia akan bergerak dalam permainannya dengan malas dan penuh cinta. Namun tiba-tiba di malam hari ia akan mengikat Kinanti di ranjang dan menjamahnya seperti hewan buas yang kelaparan. Dan Kinanti pun ragu untuk menolaknya. Ia takut jika sekali saja ia menolak suaminya, maka Darian akan kembali lagi ke Hanna.


Kinanti bagaikan berdiri di atas tali yang tipis dan bisa saja jatuh begitu saja. Karena itu ia tak peduli jika seluruh tubuhnya nyeri karena permainan yang tidak ada habisnya. Walaupun bagian bawahnya seperti mau robek karena tidak pernah beristirahat. Meskipun sekujur badannya penuh dengan tanda merah bekas gigitan suaminya. Kinanti tidak peduli. Ia akan melakukan apapun untuk membuat Darian tetap ada di sisinya. Walaupun itu berarti Kinanti harus terus menjadi mainan dalam aksi gila Darian di ranjang.


...****************...


Kinanti duduk di ranjangnya. Hari ini Darian sudah berangkat sejak pagi karena ada rapat penting yang harus ia hadiri. Setidaknya Kinanti bisa mengistirahatkan tubuhnya sejenak untuk hari ini. Tidak mungkin Darian akan tiba-tiba pulang hanya untuk meminta jatah, kan?


Tangannya memungut borgol berwarna pink dan kain sutra merah yang ada di kasurnya. Kinanti tersenyum malu melihat benda itu. Jika ia adalah Kinanti yang dulu, maka mungkin tidak akan pernah terlintas di benaknya untuk bercinta dalam keadaan mata tertutup dan tangan terikat borgol. Tapi semenjak menjadi istri Darian, rasanya tidak ada yang tidak mungkin bagi pria itu. Pria dengan nafsu dan fantasi yang gila dan luar biasa.


Ting! Tong!


Bel rumahnya berbunyi. Kinanti meletakkan kembali borgol dan kain merah itu ke kasurnya. Ia dengan cepat berlari menuruni tangga untuk melihat siapa yang sedang mengunjunginya. Kinanti mengintip dari lubang intip yang ada di pintunya. Mama Darian berdiri disana sembari memainkan ponselnya.


Kinanti membuka pintu dan menyambut ibu mertuanya dengan senyuman yang sangat lebar.

__ADS_1


"Kamu kemana saja, Ti? Sudah dua minggu Mama ajak belanja kamu bilang tidak bisa terus loh." Rengek ibu mertuanya saat melihat Kinanti membuka pintu.


Kinanti tertawa canggung. Bagaimana dia harus menjawabnya? Haruskah ia menjawab bahwa selama dua minggu ini Kinanti dan Darian sibuk membuat cucunya?


"Eh, itu Ma..." jawab Kinanti ragu.


"Itu apa?" Tanya ibu mertuanya penuh selidik.


"Dua minggu ini Mas Ian ambil cuti dan di rumah terus seharian. Jadi..." Kinanti berkata pelan.


Mata Mama Darian langsung tertuju pada bekas kemerahan di leher dan dada Kinanti. Lalu ia tersenyum nakal menggoda menantunya.


"Oh. Jadi kalian sibuk ya? Sibuk buat anak?" Goda Mama Darian sambil menyenggol lengan Kinanti.


Kinanti terkejut. Matanya melebar dan mulutnya menganga. Bagaimana bisa ibu mertuanya tahu? Apakah Kinanti terlihat secapek itu di matanya?


"Ah, bukan Ma. Bukan begitu." Ucap Kinanti malu.


Kinanti tergopoh-gopoh mengejar mertuanya.


"Mama tahu darimana?" Tanya Kinanti penasaran.


Mama Darian menunjuk leher Kinanti yang terbuka.


"Itu di lehermu." Jawabnya singkat sambil tertawa terbahak-bahak meninggalkan menantunya yang bersemu merah.


Seperti biasa Mama Darian mengajak Kinanti berbelanja barang bermerek lainnya. Semenjak memiliki menantu seperti Kinanti, Mama Darian seperti menemukan kebahagiaan baru memiliki seorang putri. Ia sangat menyayangi Kinanti seperti putrinya sendiri. Ia suka mengajak Kinanti berbelanja karena Kinanti pintar memilih barang. Mama Darian juga sering mengajak Kinanti memasak bersama karena menantunya itu sangat piawai memasak. Bagi Mama Darian, Kinanti adalah menantu yang paling tepat dan sempurna untuknya.

__ADS_1


"Ti, kapan-kapan kita makan malam bersama lagi yuk. Seperti dulu waktu Papa mau mengenalkan kamu ke Mama. Sudah lama rasanya kita tidak berkumpul berempat." Ajak Mama Darian pada Kinanti sembari menyeruput minumannya.


Tentu saja Kinanti sangat setuju dengan tawaran itu. Ia sangat senang jika bisa berkumpul dengan suami dan kedua mertuanya di momen yang hangat seperti itu. Mungkin acara seperti itu dapat mengingatkan Darian tentang apa posisi Kinanti yang sebenarnya dalam hidupnya.


"Boleh, Ma. Nanti Kinanti coba telepon Mas Ian dan ajak Mas Ian untuk makan malam berempat ya Ma." Ucap Kinanti setuju dengan ajakan mertuanya.


Kinanti menekan nomor telepon suaminya. Beberapa kali nada tunggu berbunyi namun panggilan tersebut tidak dijawab. Teleponnya di alihkan ke pesan suara.


"Ian bisa ikut?" Tanya Mama Darian sekali lagi.


Kinanti mematikan teleponnya dan tersenyum pada ibu mertuanya.


"Telepon Kinanti tidak diangkat sama Ian, Ma. Mungkin Ian lagi rapat. Nanti akan Kinanti coba lagi ya, Ma."


...****************...


Usaha Kinanti selama seharian tidak membuahkan hasil apapun. Ponsel Darian tidak dapat dihubungi. Kinanti berpikir mungkin Darian sangat sibuk dengan proyek barunya sehingga tidak sempat untuk memegang ponsel. Karena itu Kinanti berinisiatif untuk menunggu suaminya pulang dan membicarakan ajakam itu secara langsung.


Sejak pukul 7 malam, Kinanti sudah duduk dengan mantap di depan televisi ruang keluarganya. Ia tidak sabar menunggu suaminya pulang dan mengajaknya menyantap masakan spesial yang sudah ia buat. Jarum jam terus bergulir dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.


"Sudah jam 9? Aneh, kok Mas Ian belum pulang ya? Tidak mungkin kan dia masih rapat sampai selarut ini?" Gumam Kinanti sambil melirik jam dindingnya.


Kinanti mencoba menelepon Darian lagi. Entah sudah keberapa kalinya ia mencoba menelepon suaminya di hari ini. Tapi hasilnya pun sama. Ponsel Darian dimatikan dan tidak bisa menerima panggilan.


"Mas Ian kemana ya? Kenapa teleponku tidak diangkat?"


Tiba-tiba sebuah skenario terlintas di kepala Kinanti. Skenario buruk yang ia harap tidak akan pernah terjadi.

__ADS_1


"Apakah Mas Ian ada bersama Hanna? Tapi mereka sedang ribut kan? Tidak mungkin Mas Ian ada di apartemen Hanna." Ucap Kinanti berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Bagaikan keledai dungu, Kinanti terus berharap bahwa yang ia khawatirkan tidak akan terjadi. Bahwa Darian akan kembali lagi kepadanya dan bukan kepada Hanna. Hingga pagi menjelang, Kinanti terlelap dalam tidurnya sembari menunggu suaminya yang juga tak kunjung pulang.


__ADS_2