Wanita Buronan

Wanita Buronan
Paris yang Indah


__ADS_3

Setelah terbang selama kurang lebih 18 jam, Kalila dan Darian tiba di Paris. Pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat di bandara Charles-de Gaulle. Bak pasangan pengantin baru yang tengah berbulan madu, Kalila dan Darian begitu menempel satu dan yang lainnya. Seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.


Begitu sampai di bandara dan mengambil bagasi, Kalila dan Darian segera ke hotel untuk check in dan meletakkan barang-barang bawaan mereka. Dan seolah memiliki jadwal yang begitu sibuk, keduanya langsung pergi lagi menjelajahi Paris.


Paris sungguh indah. Kalila tidak henti-hentinya menatap sekeliling dengan takjub selama mereka berjalan mengelilingi Paris. Deretan kafe di pinggir jalan yang mengeluarkan aroma kopi yang harum. Pemandangannya yang indah. Dan tentu saja menara Eiffel yang ikonik. Akhirnya mimpi Kalila untuk menginjakkan kakinya di kota ini dapat terwujud juga.


"Bagaimana Paris? Apakah banyak berubah?" Tanya Darian sambil tersenyum mengamati Kalila yang memandang segalanya dengan kagum.


Kalila tersentak dengan pertanyaan Darian. Ia begitu terlena dengan keindahan Paris hingga ia lupa dengan identitasnya sebagai Kalila si gadis kaya raya.


"Maksudmu, Ian?" Timpal Kalila tidak mengerti.


"Maksudku, apakah kamu menyukai Paris yang sekarang? Kamu sudah sangat lama tidak kesini, bukan? Pasti banyak yang berubah sejak terakhir kali kamu berkunjung." Jawan Darian sambil menatap Kalila.


"Ah, itu. Entahlah, menurutku Paris masih sama cantiknya dengan sepuluh tahun yang lalu. Lagipula kota ini adalah kota favoritku, Ian." Balas Kalila berbohong.


Darian tertawa melihat Kalila yang tampak salah tingkah. Ia mengira Kalila menjadi seperti itu karena Kalila begitu bahagia bisa kembali mengunjungi Paris. Yang Darian tidak tahu, ini adalah pertama kalinya kekasihnya itu mengunjungi Paris. Bagaimana mungkin Kalila bisa menunjukkan perubahan di kota Paris pada kunjungan pertamanya?


...****************...


Selama seharian penuh, Kalila dan Darian berjalan mengelilingi Paris. Entah sudah berapa banyak toko barang bermerek yang mereka masukki. Entah sudah berapa banyak tas belanjaan yang mereka bawa. Namun Darian bersikeras untuk membawa semuanya sendiri.


"Biar aku yang bawa belanjaannya, Sayang." Pinta Darian sembari mengambil tas belanja yang dibawa Kalila. Berbagai merek ternama tersablon di masing-masing tas itu.


"Tidak apa-apa, Ian. Biar aku yang membawanya." Balas Kalila sama ngototnya.


Darian tertawa dan mencubit hidung Kalila pelan.


"Kumohon, biarkan aku bertingkah seperti kekasih yang baik hati ya." Ujar Darian lagi.


Kalila pura-pura merajuk kepada Darian.


"Tapi kamu adalah birthday boy hari ini, Darian. Tidak mungkin aku menyuruhmu seperti ini." Gerutu Kalila.


"Tapi birthday boy ini adalah kekasihmu, Sayang. Seharusnya sudah kewajibanku untuk memperlakukanmu seperti ratu. Tidak perlu merasa sungkan seperti itu. Oke?" Balas Darian sambil sedikit berjongkok dan menghadap langsung ke Kalila yang lebih pendek darinya.


Darian kembali tertawa dan mengambil tas belanjaan dari Kalila yang menyerah berdebat dengannya. Tanpa sengaja Darian melihat bayangannya di salah satu kaca yang mereka lewati. Darian terkesiap melihat pantulan dirinya di kaca. Ia tersenyum begitu lebar sembari melihat ke arah kekasihnya. Darian tidak pernah menyadari betapa banyak perubahan pada dirinya semenjak ia berkencan dengan Kalila.


Sejak Kalila masuk ke hidupnya, entah sejauh apa Darian sudah menjadi pribadi yang berbeda. Jika ia dulu selalu marah-marah dan membentak orang lain, maka ketika bersama Kalila, Darian seolah menjadi orang yang berbeda. Darian berubah jadi lebih banyak tersenyum dan bahkan tertawa. Semenjak bersama Kalila, Darian yang dulu seolah perlahan menghilang dari dalam dirinya. Dan sungguh Darian tidak menyesalinya selama ia bisa bersama Kalila selamanya.


"Kamu kenapa, Ian? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Kalila yang melihat Darian tampak terhanyut dalam pikirannya.

__ADS_1


Darian tersadar dari lamunannya. Ia menatap Kalila dalam dan tersenyum begitu tulus.


"Bukan apa-apa. Hanya saja aku sangat mencintaimu, Sayang. Aku tidak tahu bagaimana jadinya hidupku jika aku tidak pernah bertemu denganmu." Jawab Darian jujur.


Kalila tertawa kecil. Darian lalu merengkuh kekasihnya yang mungil itu ke dalam pelukannya.


"Terimakasih untuk semuanya, Kalilaku Sayang." Bisik Darian di telinga Kalila.


Kalila tersenyum dan menatap Darian lurus ke kedua matanya.


"Tidak, Ian. Aku yang seharusnya berterimakasih kepadamu."


...****************...


Kalila menatap rembulan yang bersinar amat terang dari jendela hotelnya. Pemandangan di depan matanya begitu indah. Bulan purnama yang penuh terbit di atas kota Paris. Seolah lukisan yang sering ia lihat di internet kini menjadi sesuatu yang nyata di depan matanya.


Dua buah tangan yang kekar dan hangat memeluk pinggangnya dari belakang. Sosok itu lalu menciumi leher Kalila dengan lembut.


"Ian..." gumam Kalila pelan.


"Ayo kita tidur, Sayang. Aku sudah merindukanmu." Bisik Darian dengan suaranya yang berat dan seksi.


"Tapi aku ingin menunggu ulangtahunmu. Beberapa menit lagi hari ulangtahunmu, Ian Sayang." Ucap Kalila pelan. Wanita itu lalu menyelinapkan tangannya dan memeluk tubuh Darian yang kokoh.


Keduanya hening dan yang terdengar hanyalah helaan nafas mereka yang pelan. Lalu seolah teringat sesuatu, Kalila menatap Darian dengan antusias.


"Aku punya kejutan untukmu!" Seru Kalila.


Darian menatap Kalila tidak mengerti.


"Kejutan apa?" Tanyanya kepada Kalila.


Tak lama kemudian, pintu kamar hotel mereka tampak diketuk oleh seseorang dari luar. Kalila berlari ke arah pintu dengan semangat.


"Ini kejutanmu, Ian." Jawab Kalila.


Tangan wanita itu lalu menekan kenop pintu dan membuka pintu yang ada di hadapannya. Di depan pintu, seorang petugas room service tampak mengantarkan sebuah kue, wine, dan dua buah gelas. Kalila mendorong troli itu ke dalam kamar mereka dan meminta petugas hotel untuk pergi.


"Thank you, you may leave us now."


(Terima kasih, kamu boleh pergi sekarang.)

__ADS_1


Kalila lalu menutup pintu kamar hotelnya dan berbalik menghadap Darian. Ia membawa kue tiramisu kesukaan Darian dengan kedua tangannya. Sambil berjalan dengan sangat menggoda, Kalila menatap Darian dengan tatapan yang mampu membius Darian dalam pesonanya.


"Selamat ulang tahun, Ian Sayang. Aku sangat-sangat mencintaimu." Ucap Kalila manja sembari menyodorkan kue itu ke arah Darian.


Darian terpana melihat kekasihnya itu. Kalila terlihat sangat cantik dengan gaun satin berwarna putih yang ia kenakan. Dan aroma tubuhnya tercium begitu menggoda. Membuat Darian makin dimabuk kepayang.


Darian melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Kalila. Menariknya agar lebih dekat.


"Tiup dulu lilinnya dan buat permintaan, Ian Sayang." Bisik Kalila sembari mengelus dada Darian.


Darian tertawa kecil dan menuruti perkataan kekasihnya. Ia menutup mata dan entah apa yang ia minta kepada Tuhan.


"Boleh aku minta hadiahku sekarang?" Tanya Darian setelah membuka matanya.


"Apa yang kamu inginkan?" Timpal Kalila sambil tersenyum centil.


Darian mengambil kue di tangan Kalila dan meletakkannya di meja. Ia lalu mengangkat Kalila ke dalam pelukannya. Kalila berteriak kecil karena kaget.


"Aku mau kamu, Sayang. Cuma kamu." Jawab Darian.


Malam itu mereka bercinta dengan begitu hebatnya. Darian berkali-kali mengajak Kalila sampai ke puncak kenikmatan mereka. *******-******* sensual memenuhi kamar hotel tempat mereka berada. Udara Paris yang dingin bahkan tak mampu mengalahkan permainan cinta mereka yang membara. Darian benar-benar mabuk dalam buaian Kalila dan enggan untuk lepas dari wanita itu.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu, Ian?" Ucap Kalila pelan saat mereka tengah bersantai dalam pelukan masing-masing.


Keduanya sudah lelah dengan ronde-ronde hebat yang baru saja mereka lalui. Namun mata mereka masih enggan untuk terpejam. Kalila menyenderkan kepalanya di dada Darian yang kokoh. Tangannya bermain-main dengan jemari Darian.


"Apa yang mau kamu tanyakan?" Tanya Darian lembut. Suaranya terdengar berat dan mampu membuat setiap wanita meleleh.


"Aku ingin tahu segala tentangmu, Ian." Jawab Kalila lagi.


Darian tertawa kecil.


"Tapi kamu sudah tahu semua hal tentangku, Sayang." Timpal Darian.


Kalila mengangkat tubuhnya dan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. Sekarang ia bersender tepat di samping Darian.


"Bukan itu. Maksudku semuanya tentangmu. Siapa keluargamu dan dimana mereka sekarang? Bolehkah aku tahu tentang itu?" Pinta Kalila sambil menatap ke dalam mata Darian.


Darian lalu menyenderkan kepala kekasihnya itu di dadanya lagi. Sebelah tangannya mengelus lembut kepala Kalila.


"Ceritanya panjang sekali, Sayang."

__ADS_1


__ADS_2