Wanita Buronan

Wanita Buronan
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Setelah menunggu satu bulan lamanya, akhirnya Darian mau menyisihkan waktunya untuk makan malam bersama Kinanti dan kedua orangtuanya. Sungguh mengajak Darian makan bahkan lebih sulit dibandingkan menemui Presiden. Butuh waktu satu bulan untuk Darian agar bisa meninggalkan Hanna sejenak dan pergi bersama keluarganya. Entah apakah Hanna yang melarangnya untuk pergi atau memang Darian yang enggan berkumpul dengan keluarganya lagi.


Janji makan malam mereka dimulai pukul 8 malam. Dan sejak jam 6 Kinanti sudah bersiap-siap karena tidak ingin terlambat hadir disana.


"Mas, ayo kamu siap-siap juga. Tidak enak kalau kita terlambat dan Mama Papa jadi menunggu terlalu lama." Ucap Kinanti sambil mematut dirinya di depan cermin.


Dengan malas Darian menggerakkan tubuhnya dari kasur. Tampak sekali bahwa Darian enggan untuk bergabung dalam euforia Kinanti. Kinanti menghampirinya dan memegang kedua pundak Darian. Matanya menatap lurus ke mata Darian.


"Mas, aku mohon sama kamu. Setidaknya kamu harus pura-pura antusias dan bersemangat. Bukan untuk aku, tapi untuk orangtuamu. Kamu mengerti?" Tanya Kinanti serius.


Darian hanya mengangguk setengah hati. Malam ini seharusnya dia bisa bermanja-manja dengan kekasihnya sambil menonton Netflix dan mungkin mengajak Hanna untuk satu ronde di atas sofa. Tapi acara makan malam sialan ini mengacaukan semuanya. Sejak sore tadi Kinanti sudah menyuruhnya untuk pulang dan bersiap-siap.


"Ayo sekarang kamu mandi dan siap-siap. Aku akan pilihkan pakaian untukmu." Ucap Kinanti.


Darian hanya menggerutu tidak jelas sembari berjalan menuju kamar mandi. Kinanti mendengus pelan. Letih sekali rasanya membujuk Darian agar berpura-pura menjadi suami yang baik bersama Kinanti. Padahal yang Kinanti inginkan hanyalah agar kedua mertuanya tidak mengetahui ada masalah dalam rumah tangga mereka. Namun tampaknya Darian tidak bisa diajak bekerjasama.


Pukul setengah tujuh malam, Kinanti dan Darian sudah siap dan tampil menakjubkan. Kinanti mengenakan dress panjang berwarna biru safir dengan kalung berlian yang menghiasi lehernya. Sementara Darian terlihat gagah dengan jas berwarna senada. Keduanya siap untuk naik ke panggung sandiwara dan menunjukkan pada dunia betapa mereka berdua adalah pasangan yang sangat bahagia.


...****************...


Makan malam yang direncanakan Kinanti dan ibu mertuanya berlangsung dengan cukup baik. Makanannya lezat, tempatnya indah, dan kedua mertuanya tampak bahagia melihat putra dan menantunya bisa hadir dan tampak romantis. Tapi tetap saja atmosfir yang ada terasa canggung. Karena tampaknya bagi Darian sangat sulit untuk menyembunyikan fakta bahwa dia tidak ingin berada di tempat itu.


Selama makan malam, Darian hanya fokus kepada makanannya sambil sesekali memberikan balasan sekenanya terhadap perkataan kedua orangtuanya. Bahkan Darian tampak sungkan tersenyum dan hanya menyunggingkan senyum malas saat Kinanti menyenggol kakinya.


"Kamu tidak suka makan bersama kita ya, Ian?" Tanya Mama Darian merasa sedih ketika melihat anaknya yang tampak tidak bersemangat.


Kinanti melotot ke arah Darian. Ia menyenggol kaki Darian yang ada di bawah meja dan memberikan isyarat agar Darian berhenti bertingkah menyebalkan.

__ADS_1


"Ah, tidak, Ma. Ian cuma lagi banyak pikiran saja." Jawab Darian sambil tersenyum sekenanya.


Kinanti kecewa. Sungguh. Tidak bisakah Darian membahagiakan keluarganya sekali ini saja? Apabila diperbolehkan, rasanya Kinanti ingin sekali memukul kepala Darian dengan piring makan yang ada di hadapannya. Siapa tahu pukulan keras akan meluruskan kembali otaknya dan membuat dia dapat berpikir seperti orang waras?


Pada akhirnya makan malam itu berakhir begitu saja. Tanpa ada pembahasan yang berarti. Tanpa ada cerita-cerita yang dibagi. Dan tanpa ada kisah-kisah yang akan menjadi memori. Darian buru-buru beranjak dari kursinya ketika melihat ayah dan ibunya yang berdiri dan bersiap pulang. Tiba-tiba Darian menjadi bersemangat karena memikirkan dapat segera kembali ke tempat Hanna dan berbagi kehangatan semalaman dengan kekasihnya.


"Ayo kita pulang." Ajak Darian bersemangat.


Kinanti hanya memutar bola matanya kesal. Dasar pria tidak tahu di untung. Bagaimana bisa ia bertingkah begitu kejam pada orangtuanya sendiri? Apakah memang di otaknya hanya ada Hanna sehingga yang lain terlihat tidak penting lagi baginya?


Kinanti juga ikut berdiri dan menggandeng Darian. Ia dan Darian berjalan bersisian mengekor di belakang kedua orangtua Darian. Namun tiba-tiba Kinanti kehilangan keseimbangan. Dunianya terasa berputar dan tampak kabur. Kinanti oleng dan akhirnya jatuh pingsan. Untungnya Darian sigap dan menangkap Kinanti sehingga Kinanti tidak jatuh menghantam lantai marmer yang keras.


"Kinan? Kamu kenapa?" Tanya Darian bingung.


Kedua orangtua Darian menoleh mendengar suara seseorang yang jatuh. Betapa kagetnya mereka ketika melihat menantu kesayangannya sudah tergolek di lantai. Mama dan Papa Darian panik dan dengan cepat berlari menghampiri Kinanti yang pingsan. Bukan hanya mereka bertiga, beberapa pelayan restoran juga tampak berlari menolong dan beberapa tamu melihat karena penasaran.


"Pa, Kinanti kenapa? Ayo kita bawa ke dokter sekarang, Pa." Pinta Mama Darian panik.


"Mas, bisa tolong bantu angkat menantu saya ke mobil?" Tanya sang ayah mertua meminta bantuan kepada pelayan restoran itu.


Namun Darian dengan sigap mengangkat tubuh Kinanti sendirian. Darian yang berperawakan besar dan berukuran dua kali dari Kinanti tentu dapat dengan mudah menggotong wanita itu dalam sekali jalan.


"Tidak perlu, Pa. Biar Ian saja." Ucap Darian singkat sambil menggendong Kinanti ke dalam mobil.


Ketiga orang itu berlarian dengan pakaian mewah mereka menuju dua mobil sedan yang terparkir di restoran tersebut. Baik Darian dan kedua orangtuanya dengan cekatan memacu mesin beroda empat yang mereka kendarai. Mengebut melintasi jalanan Jakarta yang padat.


Dalam waktu kurang lebih 15 menit, mereka telah sampai di rumah sakit yang dituju. Para suster dan dokter dengan cepat dan tanggap memeriksa Kinanti. Kedua orangtua Darian menunggu di ruang tunggu dengan gugup. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi pada menantunya? Kenapa Kinanti tiba-tiba pingsan tanpa sebab?

__ADS_1


Sementara Darian? Darian sibuk menelepon Hanna. Meminta izin kepada kekasihnya kalau ia tidak bisa pulang cepat malam ini. Merayu agar si kekasih tidak merajuk dan batal memberi jatah Darian.


Seorang dokter keluar dari ruangan tempat Kinanti dirawat. Mama dan Papa Darian langsung berdiri dan berlari menghampiri dokter itu. Mereka menerka-nerka sakit apa yang diderita menantunya? Kalaupun Kinanti memang sakit, kenapa ia menyembunyikanmya dari kedua mertuanya?


"Kalau boleh saya tahu, Bapak dan Ibu memiliki hubungan apa dengan pasien?" Tanya dokter tersebut hati-hati.


"Kami mertuanya, Dok." Jawab Papa Darian.


"Apakah suami pasien ada disini bersama kita, Pak?" Dokter tersebut kembali bertanya.


Papa Darian mencari sosok anaknya dan memanggilnya untuk mendekat. Dengan buru-buru Darian mematikan teleponnya dengan Hanna dan menghampiri kedua orangtuanya.


"Ada apa, Pa?" Tanya Darian bingung.


"Apakah Bapak suami dari Ibu Kinanti?" Ujar dokter itu.


Darian mengangguk. Dokter itu lalu mengajak mereka bertiga untuk masuk ke ruangannya. Sepertinya ada hal penting yang harus dibicarakan terkait Kinanti.


"Jadi kondisi Bu Kinanti memang sangat lemah karena fisiknya sedang tidak terlalu fit. Selain itu tampaknya Bu Kinanti sedang mengalami stress yang cukup tinggi." Jelas Dokter.


Mama Darian tampak kaget. Padahal menantunya tampak selalu sehat-sehat saja di depannya. Dan Kinanti stress? Kenapa dia bisa stress padahal hidupnya serba berkecukupan dan nyaman? Mama Darian melirik putranya yang tampak tidak tertarik mendengarkan penjelasan dokter.


"Tapi saya punya kabar gembira untuk keluarga Bapak." Ucap dokter itu.


Papa dan Mama Darian yang awalnya tampak khawatir tiba-tiba seperti tersentak sengatan listrik. Sepertinya dokter itu akan membawa kabar baik bagi mereka. Papa dan Mama Darian saling menoleh berbagi isyarat.


"Kabar gembira apa, Dok?"

__ADS_1


Dokter itu tersenyum simpul. Tangannya menyodorkan sebuah hasil pemeriksaan lab dengan nama Kinanti diatasnya.


"Selamat, Bapak dan Ibu. Ibu Kinanti saat ini sedang hamil."


__ADS_2