Wanita Buronan

Wanita Buronan
Mencuri Hati


__ADS_3

Satu langkah besar sudah berhasil dilalui oleh Kalila. Ia berhasil masuk ke dalam lingkungan Darian. Dan bahkan lebih dari itu. Kalila berhasil mencuri hati Darian dan membuatnya penasaran dengan Kalila. Bahkan Darian yang tampak selalu mengirim pesan terlebih dahulu pada Kalila. Tampaknya harga diri pria itu sudah dibuang jauh-jauh jika berurusan dengan Kalila.


Ponsel Kalila berbunyi. Ia melihat nama Darian yang meneleponnya. Senyumnya tersungging. Kalila lalu menjawab panggilan itu.


"Halo, Ian!" Sapa Kalila dengan suaranya yang sangat merdu.


"Halo, Kalila. Bagaimana kabarmu?" Tanya Darian penuh semangat.


"Tentu saja baik. Ngomong-ngomong ada perlu apa hingga meneleponku, Ian?" Ujar Kalila.


"Apakah kamu punya waktu luang siang ini?" Tanya Darian tanpa ragu.


"Sebentar, aku harus memastikannya dengan sekretarisku dulu." Jawab Kalila. Ia mengalihkan panggilannya sejenak dan kembali berbicara dengan Darian.


"Ya, aku punya waktu luang yang cukup banyak hari ini. Kenapa?" Ucap Kalila bingung.


"Apakah kamu mau makan siang bersamaku? Aku tahu tempat makan paling enak disini dan aku ingin mengajakmu kesana. Bagaimana?" Ajak Darian.


Kalila tertawa senang. Ia senang dengan kesempatan ini.


"Wah! Menarik sekali, Ian. Tentu saja aku mau. Kirimkan aku lokasinya dan aku akan bertemu denganmu disana." Ujar Kalila lagi.


"Oh, jangan repot-repot Kalila. Aku yang akan menjemputmu ke kantormu. Kirimkan saja alamatnya dan aku sendiri yang akan kesana." Ucap Darian.


"Baiklah, sampai bertemu makan siang nanti, Ian." Tutur Kalila mengakhiri panggilannya.


"Okay, see you, Kalila."


...****************...


Kalila melihat sosok Darian yang turun dari mobil dan menghampirinya. Darian melambaikan tangan dan dibalas oleh senyum ceria Kalila. Kalila berlari kecil menghampiri Darian.


"Oh, jadi ini kantormu?" Tanya Darian sambil melihat ke arah gedung besar di belakang Kalila.


"Iya, ini kantorku. Kumohon jangan dibandingkan dengan kantormu yang besar itu. Bisnisku tidak ada apanya jika dibandingkan dengan punyamu." Ucap Kalila sambil tertawa.


Darian juga tertawa mendengar kata-kata Kalila.


"Tidak, Kalila. Usahamu ini sangat bagus untuk wanita semuda dirimu. Aku semakin kagum denganmu, Kalila." Ucap Darian sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Kalau begitu, haruskah kita pergi sekarang?" Ajak Darian sambil melingkarkan lengannya. Mengisyaratkan Kalila untuk menggandengnya.


Kalila segera mengaitkan tangannya di lengan Darian dan berjalan menempel dengan Darian. Pria itu tersenyum penuh karisma kepada Kalila.


"Ayo kita pergi." Ajak Kalila.


Keduanya berjalan bergandengan dengan sangat dekat. Kalila masuk ke mobil Darian yang kemudian disusul oleh Darian yang duduk di kursi kemudi. Tak lama kemudian, sedan itu melesat pergi dari gedung kantor tadi.


Selang beberapa detik kemudian, sebuah mobil sedan dengan warna hitam keluar dari parkiran. Mobil hitam itu memacu rodanya dan mengikuti sedan yang dikendarai Darian bersama Kalila. Tampak seorang wanita duduk di kursi belakang mobil yang mengikuti Darian dan Kalila. Wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Hanna. Wanita itu sudah mencium ada yang tidak beres dengan perubahan tingkah suaminya. Dan hari ini ia akan mencari tahu jawabannya.


Setelah berkendara kurang lebih 30 menit, Darian dan Kalila tiba di sebuah hotel bintang lima ternama di Jakarta. Kalila melihat ke arah gedung itu dari kaca mobil.


"Kita akan makan disini?" Tanya Kalila pada Darian.


"Iya, kita akan makan di salah satu restoran di hotel ini. Disini adalah salah satu tempat makan favoritku. Mungkin kamu juga akan menyukainya, Kalila." Ucap Darian.


Keduanya berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam hotel dan kemudian restoran yang dimaksud Darian. Seorang pria berpakaian necis yang tampaknya manager restoran itu lalu menghampiri Darian dan Kalila dengan senyum ramah.


"Selamat siang, Pak Darian. Senang sekali Bapak berkunjung kesini siang ini. Biar saya tunjukkan kursi Bapak Darian dan Ibu?" Tanya manager itu kepada Kalila.


"Kalila. Nama saya Kalila." Jawab Kalila tersenyum ramah.


"Silahkan duduk, Bapak dan Ibu. Semoga Anda menikmati santap siang Anda." Ucap Manager itu seraya undur diri.


Beberapa menu datang silih berganti. Mulai dari makanan pembuka, makanan inti, dan hingga akhirnya makanan penutup. Darian menyantapnya dengan lahap sembari sesekali menatap Kalila yang tampak biasa saja. Darian heran karena Kalila tampak tidak antusias dengan makanannya.


"Kenapa Kalila? Makanannya tidak enak?" Tanya Darian khawatir.


Kalila menggeleng dan tersenyum.


"Tidak, Ian. Sungguh makanannya sangat enak. Tapi bagaimana bisa aku makan begitu banyak di depan lelaki tampan sepertimu. Aku harus menjaga imageku di depanmu, Ian." Jawab Kalila sambil tertawa kecil.


Darian makin sumringah mendengar ucapan teman makan siangnya ini. Sungguh Kalila sangat tahu bagaimana memberi makan ego Darian dengan baik. Pria yang haus akan pengakuan dan pujian seperti Darian akan mudah bertekuk lutut pada wanita yang selalu memujanya.


"Astaga, Kalila. Aku kira ada masalah apa. Kamu tidak perlu sibuk memikirkan imagemu di hadapanku. Aku akan tetap menyukaimu bagaimanapun penampilanmu, Kalila." Ucap Darian sambil menyeka mulutnya dengan serbet.


Kalila kembali tertawa. Suara tawanya terdengar sangat renyah dan bagaikan musik di telinga Darian.


"Jangan seperti itu, Ian. Kumohon jangan pernah sekali-sekali memberiku harapan palsu. Atau aku benar-benar tidak akan melepaskanmu dariku." Canda Kalila lagi.

__ADS_1


"Oh, aku tidak keberatan Kalila. Malah aku yang tidak akan membiarkanmu kemana-mana sekarang." Balas Darian.


Dari kejauhan, Hanna tampak memperhatikan sepasang pria dan wanita itu tertawa terbahak-bahak. Tenggelam dalam percakapan yang tampak sangat asyik. Seolah-olah dunia ini hanya milik mereka berdua dan yang lain hanya menumpang. Hanna menatap Kalila dengan sengit. Ia menggenggam garpu yang ada di tangannya dengan keras karena merasa kesal.


"Sialan! Siapa wanita itu? Berani-beraninya dia mendekati Darian? Apakah dia tidak tahu kalau Darian itu suamiku?" Gumam Hanna geram.


Kalila tampak sesekali memukul bahu Darian pelan sambil tertawa kecil. Dan Darian juga tidak segan menyentuh dan sesekali menggenggam tangan Kalila. Hanna makin terbakar dalam emosi melihat kedekatan keduanya. Ia dapat dengan jelas melihat di mata Darian terdapat rasa tertarik yang besar kepada kawan bicaranya itu. Dan rasa sewot Hanna semakin menjadi-jadi karena ia tidak bisa menemukan seseorang untuk melampiaskan amarahnya. Biasanya ia akan memukul Bibi yang bekerja di rumah jika ia sedang kesal dengan Darian. Tapi sekarang tidak ada siapapun di sekitarnya yang bisa menjadi samsak tinju Hanna.


"Awas saja kamu, wanita sialan! Aku akan memberimu pelajaran!"


...****************...


Pertemuan singkat yang awalnya hanyalah bertujuan untuk makan siang makin merembet ke rangkaian kegiatan lainnya. Setelah makan siang, Darian malah mengajak Kalila untuk berbelanja barang bermerk di pusat perbelanjaan ternama di Jakarta. Walaupun Kalila sudah menolak berkali-kali, Darian tetap memaksanya untuk mengambil sebuah tas sebagai hadiah pertemanan mereka. Kalila akhirnya mengambil sebuah tas dengan harga tiga digit sebagai pilihannya.


"Is this one okay?" Tanya Kalila tidak enak.


(Apakah yang ini tidak apa-apa?)


Darian mengangguk mantap. Uang tiga digit hanyalah seujung kuku dari keseluruhan hartanya. Tentu saja membelikan Kalila benda seperti itu bukan masalah bagi Darian. Toh dia akan mendapatkan tiga kali lipatnya lagi keesokan harinya.


"Sungguh, Ian. Aku serius. Kamu jangan terlalu sering memanjakanku seperti ini. Bisa-bisa aku benar-benar jatuh cinta kepadamu." Ucap Kalila saat Darian mengantarnya pulang ke apartemen.


Darian berdiri di hadapan Kalila sembari tertawa kecil.


"Lalu kenapa kalau kamu benar-benar jatuh cinta kepadaku? Aku tidak keberatan dengan hal itu Kalila." Balas Darian. Kedua matanya menatap dalam ke arah Kalila seolah mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.


Kalila mengalihkan pandangannya dan mencoba mengganti topik pembicaraan.


"Kalau begitu, kamu harus memberikan aku kesempatan untuk menjamumu sebagai balasannya. Tapi karena aku baru tinggal disini, aku tidak terlalu tahu banyak tempat makan yang enak." Ucap Kalila.


"Lalu? Bagaimana kamu akan menjamuku?" Tanya Darian penasaran.


"Tentu saja aku akan memasak untukmu, Ian. Aku cukup jago memasak, kok. Bagaimana? Kamu mau?" Ujar Kalila dengan senyumnya yang amat cantik menghiasi bibirnya.


Darian mengangguk antusias. Tentu saja ia tidak akan melewatkan kesempatan untuk menjadi dekat dengan Kalila. Mungkin setelah jamuan ini ia akan bisa mendapatkan Kalila selamanya.


"Bagaimana kalau malam Minggu ini? Kamu punya waktu?" Ajak Kalila pada Darian.


Darian tersenyum kembali sebelum mengiyakan ajakan dari Kalila.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku selalu punya waktu untukmu."


__ADS_2