Wanita Buronan

Wanita Buronan
Mabuk


__ADS_3

Kalila terperanjat dengan kata-kata Darian. Dan kata-kata itu terus terngiang di kepalanya. Apa maksud Darian? Apakah ia akan segera menikahi Kalila? Memikirkannya saja membuat Kalila kembali merinding. Trauma masa lalu itu masih ada dan menghilangkannya bukanlah perihal mudah.


"Kenapa kamu diam saja sejak tadi, Sayang?" Tanya Darian bingung melihat Kalila yang tampak diam sejak pulang dari Alsace.


Kalila menatap Darian bimbang. Haruskah ia menanyakan soal tadi kepada Darian? Atau apakah sebaiknya Kalila diam saja? Namun karena rasa penasarannya yang tidak tertahankan, Kalila memutuskan untuk melontarkan pertanyaan itu dari mulutnya.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu, Ian?" Tanya Kalila pelan.


Darian mengangkat kepalanya dan menatap Kalila ingin tahu.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


Kalila menghela nafas pelan.


"Soal perkataanmu pada pelukis itu tadi. Apa maksudmu, Ian? Apakah kamu serius?" Ulang Kalila lagi.


Darian tertawa kecil. Sungguh menggemaskan sekali melihat Kalila tampak bingung dan salah tingkah seperti ini.


"Maksudmu tentang aku yang ingin menikahimu?" Balas Darian.


Kalila mengangguk pelan.


"Kalau kamu ingin tahu apakah aku serius ingin menikahimu, maka jawabannya iya. Aku sungguh-sungguh ingin menikah denganmu, Kalilaku Sayang. Karena aku sudah jatuh cinta begitu dalam padamu. Tapi untuk waktunya, aku tidak akan memaksamu untuk menerima lamaranku secepatnya. Kamu bisa memberikan jawabanmu ketika hatimu siap. Aku akan menunggumu dengan sabar, Sayang." Jelas Darian penuh kasih sayang.


Kalila memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir pria itu. Kalila bersumpah untuk sesaat ia sempat merasa tersentuh dan meleleh karena ungkapan perasaan yang begitu mendadak itu. Jika bukan karena rencana balas dendamnya saja mungkin ia sudah akan berlari memeluk Darian dan menerima lamarannya saat ini juga. Namun masih begitu banyak tanda tanya di kepala Kalila. Ia tidak bisa begitu gegabah maju dan mengesahkan hubungan mereka menjadi sesuatu yang resmi.


"Apakah kata-kataku tadi cukup jelas bagimu, Sayang?" Tanya Darian membuat Kalila tersadar dari lamunannya.


Kalila mengangguk.


"Maafkan aku, Ian. Aku belum bisa memberikan jawabannya kepadamu. Tapi kamu mau menungguku hingga aku siap, kan?" Pinta Kalila dengan tatapan lembut.


Darian mengangguk. Ia lalu meraih tangan Kalila dan menciumnya dengan penuh perasaan cinta.


"Tentu, Sayang. Bahkan hingga aku tua pun aku akan menunggumu."


...****************...


Kalila menyenggol Darian yang teler. Ia terlalu banyak minum di bar tadi. Bagaimana tidak? Pria sekompetitif Darian mendapat tantangan dari pemilik bar untuk menghabiskan lima liter bir dengan taruhan apabila Darian kalah maka Kalila harus mau menari di atas panggung.


"Sudahlah, Ian Sayang. Tidak apa-apa. Aku hanya akan menari sebentar dan turun. Kamu tidak perlu membahayakan dirimu dengan minum bir sebanyak itu." Ucap Kalila berusaha menghentikan Darian.


Tapi Darian malah menatap Kalila dengan tatapan terluka.

__ADS_1


"Kamu meremehkanku, Sayang?" Balas Darian pura-pura tersinggung.


Kalila jadi salah tingkah. Sungguh, menantang Darian saja adalah kesalahan yang besar. Apalagi membuat Darian memepertaruhkan miliknya. Apa yang sebenarnya diinginkan pemilik bar ini?


"Bukan begitu, Ian Sayang. Aku hanya khawatir kepadamu, Ian. Kumohon acuhkan saja mereka dan kita pulang ya?" Pinta Kalila memelas.


Tapi Darian mengacuhkan permintaan Kalila. Ia malah kembali menantang pemilik bar itu dan dengan senang hati pria tua itu mengeluarkan bir dalam lima gelas yang sangat besar.


"Kamu harus menghabiskan ini dalam waktu 30 menit!" Seru pria tua itu antusias.


Dan Darian menyanggupinya dengan mudah. Api semangatnya membara dalam kompetisi tidak berguna itu. Setelah peluit ditiup, Darian langsung menegak gelas demi gelas bir itu tanpa henti. Sorak sorai pengunjung yang lain memenuhi bar dan memekakkan telinga. Kalila hanya dapat menatap Darian dengan khawatir.


Pada gelas ketiga, tegukan Darian mulai melambat dan wajahnya makin memerah. Kalila makin cemas melihat keadaan Darian.


"Sudahlah, Ian. Kumohon hentikan ini semua dan jangan membuatku cemas." Ujar Kalila memelas.


Darian menoleh ke arah Kalila dengan matanya yang tampak sayu. Alkohol sudah mulai mengambil alih kesadarannya dan Darian bahkan tidak menyadari itu.


"Tidak apa-apa, Kalila! Hik! Aku bisa! Hik! Menghabiskan ini semua! Hik!" Ucap Darian sambil cegukan.


Kalila menepuk jidatnya kesal. Ia menatap Darian yang masih meneguk gelas keempatnya dengan sebal.


"Astaga, Ian. Tingkahmu seperti anak remaja yang baru mendapatkan KTP saja." Gerutu Kalila.


"Kenapa kamu melakukan semua ini?" Tanya Kalila kesal.


Pria itu malah mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum jahil kepada Kalila.


"Kamu akan berterimakasih kepadaku karena ini, Nak!" Serunya bahagia.


Dan sekarang disinilah Kalila dan Darian. Dengan susah payah Kalila memapah Darian pulang dari bar hingga sampai ke kamar hotel. Untung saja staff hotel dengan senang hati membantu Kalila untuk menggotong Darian. Akhirnya setelah berbagai perjuangan, Kalila berhasil merebahkan Darian di kasur mereka.


"Astaga, Ian. Tidakkah kamu sadar kalau ukuranmu itu dua kali dariku?" Gerutu Kalila sembari melepas dasi dan kancing kemeja Darian.


Tangan pria itu lalu meraih tangan Kalila yang ada di dadanya. Ia menatap Kalila dengan matanya yang sayu.


"Oh, ternyata Kalilaku Sayang. Ah, aku sangat mencintaimu Kalila! Bahkan lebih dari siapapun! Lebih dari Hanna apalagi Kinanti!" Seru Darian dengan nada melantur.


Kalila menatap Darian begitu ia mendengar nama Kinanti disebutkan. Terlintas sebuah ide di kepalanya. Mungkin ia bisa mengorek informasi lebih banyak tentang apa yang terjadi dulu. Darian saat ini sedang sangat mabuk, jadi ia mungkin akan berbicara tentang semuanya tanpa rem sedikitpun.


Kalila mendekatkan tubuhnya hingga menempel di dada Darian. Pria itu tersenyum kecil dan mengelus-elus kepala Kalila dengan penuh kasih sayang.


"Siapa itu Kinanti, Ian Sayang? Kenapa aku tidak pernah mendengarmu bercerita tentangnya?" Ucap Kalila pelan.

__ADS_1


Darian tertawa kecil.


"Ah, Kinanti! Kamu ingin tahu tentang gadis kampung itu? Dia adalah isteri pertamaku, Kalila Sayang." Jawab Darian tanpa ragu.


Kalila sedikit geram dengan julukan yang disematkan Darian pada Kinanti. Namun ia buru-buru mengendalikan emosinya lagi.


"Lalu apakah kamu bercerai dengannya? Dimana Kinanti sekarang?" Tanya Kalila lagi.


Darian tertawa lagi. Ia benar-benar sudah mabuk dan tidak sadar apa yang dikatakannya.


"Dia sudah mati! Gadis kampung itu sudah mati di dalam penjara!" Balas Darian sambil cekikikan.


"Dipenjara karena apa?" Tambah Kalila lagi. Ia masih berusaha untuk mengorek informasi sebanyak-banyaknya.


"Karena ia sudah membunuh kedua orangtuaku, Sayang!" Ucap Darian polos.


Lalu Darian terdiam. Matanya celingukan ke kanan dan ke kiri seolah takut ada orang yang akan mengupingnya.


"Tapi aku akan memberitahumu sebuah rahasia, Sayang!" Ujar Darian sambil berbisik ke telinga Kalila.


Jantung Kalila berdegup kencang. Ini adalah informasi yang paling ia tunggu untuk keluar dari mulut Darian.


"Rahasia apa?" Pancing Kalila antusias.


"Sebenarnya Hanna dan aku yang membunuh kedua orangtuaku! Hahaha!" Ucap Darian seraya tertawa lebar.


Kalila mengepalkan tangannya kesal. Rasanya ia sangat ingin menonjok pria di hadapannya ini sekarang juga.


"Tapi kenapa kamu melakukan itu, Ian? Untuk apa?" Sambung Kalila lagi.


"Untuk menyingkirkan Kinanti, tentu saja! Gadis itu hamil dan tidak mau menyingkirkan bayinya! Lalu Hanna membuat rencana itu dan boom! Semua tujuanku tercapai! Aku bisa menyingkirkan Kinanti dan bayinya sekaligus! Dan aku bisa mengambil alih semua harta milik orangtuaku!" Jelas Darian penuh semangat. Tawanya terbahak-bahak dan terdengar menggelegar di setiap sudut kamar.


Kalila menangis. Amarahnya terlalu besar hingga yang bisa ia keluarkan hanyalah tangisan pelan.


"Tapi mereka adalah orangtuamu, Ian. Bagaimana bisa kamu melakukan semua ini kepada mereka?" Ucap Kalila lirih.


Tawa Darian makin menggelegar.


"Ah, Kalila. Itu yang dinamakan pengorbanan, Sayangku. Bahkan jika kamu bermain saham pun ada pengorbanan yang harus dilakukan, bukan? Lagipula mereka bukan orangtua kandungku. Dan mereka selalu mengancam akan menyita asetku jika aku menceraikan gadis kampung itu! Dasar orang-orang bodoh!" Ucap Darian lagi.


Api kemarahan menelan Kalila bulat-bulat. Sungguh jika bisa ia akan membunuh Darian disini. Sekarang juga. Tapi Kalila tidak sebodoh itu. Jawaban Darian makin memantapkan rencananya untuk balas dendam. Dan balas dendam itu akan dimulai besok.


Oh, Darian. Mimpi burukmu kini sudah ada di depan mata, Sayang.

__ADS_1


__ADS_2