
Entah apa yang terjadi, tapi sejak malam itu Kinanti tidak pernah lagi diganggu oleh narapidana manapun. Gerombolan wanita preman itu juga tidak lagi merundung Kinanti. Jangankan merundung, menoleh ke arah Kinanti pun mereka tidak berani. Kinanti sendiri pun tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi Kinanti yakin ini semua ada hubungannya dengan teman satu selnya, Bu Manisah.
Dan sejak malam itu pula, Bu Manisah selalu menemani Kinanti kemana-mana. Di setiap waktu luangnya, Bu Manisah akan ada bersama Kinanti. Entah hanya duduk mengobrol bersama Kinanti, atau bahkan sesekali memijat kaki Kinanti yang sudah semakin bengkak. Kinanti berpikir mungkin Bu Manisah memiliki anak seusianya di rumah. Karena itu ia tampak sangat perhatian pada Kinanti.
Akibat sering menghabiskan waktu bersama, Kinanti pun semakin dekat dengan Bu Manisah. Kinanti sudah menceritakan semua kisah hidupnya pada wanita tua itu. Bagaimana ia dilahirkan di keluarga miskin, bekerja, dan lalu mendapat durian runtuh menjadi menantu keluarga kaya raya. Ia juga menceritakan perih hidupnya karena perselingkuhan Darian dan akhirnya ia berakhir di penjara atas hal yang ia tidak pernah lakukan. Dan setiap mendengar ceritanya, Bu Manisah hanya dapat menatapnya dengan iba. Seolah turut merasakan apa yang dialami Kinanti.
Namun Kinanti sendiri pun masih menyimpan banyak pertanyaan tentang teman barunya. Bu Manisah tidak pernah sedikit pun menceritakan tentang masa lalunya. Apalagi kasus yang menyandungnya hingga ia harus terkurung di balik jeruji besi. Berulang kali Kinanti ingin menanyakannya tapi selalu diurungkan. Kinanti takut ia melewati batas dan malah melukai hati Bu Manisah. Tapi rasa penasarannya semakin menggunung dan entah sampai kapan Kinanti mampu menahannya.
"Bu Manisah..."
Wanita tua itu menoleh mendengar Kinanti memanggilnya.
"Iya, ada apa, Ti?" Tanya Bu Manisah.
Kinanti kembali ragu untuk meneruskan pertanyaannya. Namun seolah menangkap keraguan di hati Kinanti, Bu Manisah tersenyum.
"Kamu mau bertanya tentang saya? Kenapa saya dipenjara?" Ucap Bu Manisah.
Kinanti menjawabnya dengan anggukan dan senyuman tipis karena merasa tidak enak. Bu Manisah terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela nafas berat.
"Ceritanya sangat panjang, Ti."
...****************...
Manisah muda hanyalah seorang gadis desa yang ingin merubah nasibnya. Ia sangat ingin kehidupannya menjadi lebih baik dan kedua orangtuanya tidak perlu bergantung pada hasil tani lagi. Karena itu, di usianya yang ke delapan belas tahun Manisah mencoba untuk mengadu nasibnya di ibukota. Berbekal ijazah SMA dan lima puluh ribu rupiah, Manisah memulai petualangannya di kota asing bernama Jakarta.
Nasibnya baik. Sangat baik. Dalam waktu satu minggu merantau, ia berhasil mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus. Walaupun bukan pekerjaan bergengsi, Manisah muda berhasil bekerja di sebuah kantor besar sebagai pesuruh atau seringkali disebut dengan nama office girl di zaman sekarang. Penghasilan perbulannya tidak besar, tapi setidaknya Manisah bisa mengirimkan sedikit uang untuk orang tuanya setiap bulan. Dengan uang yang sedikit itu, adiknya satu persatu dapat sekolah hingga bangku SMA.
Tapi siapa yang mengira bahwa dalam tiga bulan bekerja, sesuatu yang besar terjadi dalam hidupnya. Seorang manager baru datang ke kantor tempatnya bekerja. Manisah si gadis desa yang cantik dan lugu tidak pernah memandang pria itu lebih dari seorang atasan. Tapi pria itu tampaknya memiliki niat lain pada Manisah. Setiap pagi, pria itu akan mendatangi pantry tempat Manisah bekerja dan meminta dibuatkan segelas kopi. Lalu di siang hari, pria itu akan memanggil Manisah ke ruangannya. Entah minta dibelikan makan siang atau bahkan meminta dipijatkan bahunya yang pegal. Dan lagi-lagi, Manisah yang naif akan menurutinya dengan senang hati.
__ADS_1
Tanpa terasa, rutinitas tersebut terus menerus terjadi setiap hari selama enam bulan lamanya. Manisah yang awalnya menjaga jarak dengan atasannya lama-kelamaan mulai meruntuhkan dinding pembatas itu. Ia mulai membuka dirinya dan semakin dekat dengan pria itu. Pria itu juga seringkali melontarkan ucapan-ucapan manis yang membuat Manisah terbuai. Membuat seorang gadis desa bermimpi bahwa ia dapat menikahi pria kota dengan karier cemerlang. Manisah mulai berharap mungkin hidupnya dapat menjadi lebih baik tanpa harus susah payah mengepel kantor setiap pagi.
Dan malam itu, sebuah kesalahan besar yang mengubah hidup Manisah terjadi. Malam itu, tidak ada siapapun di kantor. Hanya Manisah yang ada disana untuk membereskan kantor setelah acara besar pelepasan Pimpinan yang lama dilaksanakan. Manisah tengah menyapu ruangan kantor ketika suara seorang pria memanggilnya.
"Nisa, Manisah. Bisa kesini sebentar?"
Gadis itu menoleh dan melihat si manager yang selalu mengobrol dengannya memanggilnya untuk masuk ke ruangannya. Tanpa rasa curiga, Manisah masuk ke dalam ruangan itu. Ia berpikir mungkin pria itu membutuhkan bantuannya untuk melakukan sesuatu.
Tapi begitu Manisah masuk ke dalam ruangannya, pria itu langsung menyergapnya dalam pelukannya. Mencumbunya dengan begitu ganas. Manisah yang awalnya panik lama kelamaan mencair dalam ciuman yang memabukkan. Keduanya beradu dan berpagut dengan mesra hingga mereka melewati batasan yang semestinya tidak pernah mereka hancurkan.
Satu persatu pakaian ditanggalkan dan akhirnya keduanya bersatu dalam sebuah permainan panas di atas meja. Semuanya terjadi di dalam ruangan kantor pria itu. Dalam semalam, kesucian Manisah yang selama ini ia jaga, hilang dalam sekali renggut. Malam itu, Manisah si gadis desa menyerahkan kehormatannya pada pria kota yang selama ini merayunya. Dan setelah semuanya berakhir, Manisah hanya dapat menangis. Ia malu kepada dirinya sendiri. Ia merasa bersalah pada ayah dan ibunya di desa. Dan ketakutan lainnya yang menghinggapi pikiran seorang gadis desa.
"Bagaimana kalau aku hamil, Mas?" Tanya Manisah sambil menangis.
Pria itu menghampiri Manisah dan mengelus kepalanya. Ia tersenyum meyakinkan Manisah bahwa semuanya akan baik-baik saja dan ia pasti akan bertanggung jawab.
"Benar, Mbak. Mbak Manisah sekarang sedang hamil delapan minggu." Ucap bidan tersebut setelah melihat hasil test Manisah.
Manisah takut dan panik. Bagaimana bisa seorang wanita hamil bahkan sebelum menikah? Apa yang akan ia katakan kepada orangtuanya? Bagaimana nanti orang desanya akan memandang Manisah? Dan apakah pria itu mau bertanggung jawab atas kehamilannya? Bagaimanapun juga, terdapat jurang yang begitu besar di antara keduanya. Yang pria adalah pria berjabatan tinggi sementara si wanita hanyalah pesuruh kantor. Tukang bersih-bersih dan pembuat kopi.
"Aku hamil, Mas." Manisah mengakuinya kepada pria itu. Hanya ada mereka berdua di kantor malam itu dan Manisah yakin saat itu adalah waktu yang paling tepat untuk mengatakannya.
Awalnya Manisah sangat takut kalau pria itu akan lari dari tanggung jawabnya dan menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya. Tapi pria itu lalu tersenyum kepada Manisah dengan sangat tulus.
"Kalau begitu, aku akan menikahimu." Ucap pria itu mantap.
Hanya dengan satu kalimat itu seluruh kegelisahan dan rasa takut Manisah runtuh seketika. Ia yakin kalau ia tidak akan menghadapi semuanya sendiri. Manisah percaya bahwa anaknya akan lahir dengan orangtua yang lengkap sebagaimana dirinya dibesarkan. Manisah si gadis lugu dengan bahagia menyambut hari pernikahannya dengan si pujaan hati.
Namun siapa yang menyangka kehidupan setelah pernikahannya jauh dari impian Manisah. Pria itu hanya menikahinya secara sirih dan dihadiri oleh dua orang saksi yang entah siapa. Tiga bulan setelah mereka menikah dan tinggal sebagai sepasang suami isteri, seorang wanita datang melabraknya. Menuduh dan menudingkan telunjuknya pada Manisah. Memanggilnya dengan sebutan perusak rumah tangga dan kata-kata buruk lainnya.
__ADS_1
Dan pria itu? Ia mengikuti istri pertamanya dan berjanji pada Manisah akan kembali kepadanya setelah urusan dengan sang istri pertama selesai. Manisah menunggu dan terus menunggu. Pria itu tak kunjung datang meskipun setiap bulan selalu ada kiriman uang. Manisah masih bersumpah untuk setia dengan suaminya meskipun pria itu menghilang entah kemana.
Hingga pada suatu hari, pria itu datang kembali. Manisah menyambutnya dengan sepenuh hati. Senyumnya sumringah dan memeluk suaminya dengan erat. Manisah menunjukkan anaknya yang sudah lahir dan kini berumur lima bulan.
"Lihat, Mas. Anak kita sudah lahir. Dia mirip sekali denganmu."
Pria itu tersenyum bahagia dan menggendong anaknya.
"Iya benar, dia mirip sekali denganku." Ucap si pria.
"Mulai sekarang kamu akan tinggal disini kan, Mas? Kamu tidak akan pergi lagi?" Tanya Manisah khawatir suaminya akan meninggalkannya lagi.
Pria itu mengangguk dan berjanji untuk selamanya bersama Manisah. Namun pria yang datang itu sangat berbeda dengan pria yang dinikahinya dulu. Suaminya kini tidak bekerja lagi dan yang ia lakukan hanyalah mabuk-mabukkan sepanjang hari. Perangainya menjadi kasar dan keras. Setiap hari ia akan memarahi Manisah yang pulang dari mencuci di rumah tetangga. Tak jarang pria itu memukul dan menampar Manisah hingga wajah wanita itu lebam-lebam. Tapi Manisah bisa apa? Ia hanya bisa menangisi nasibnya yang nelangsa sendirian.
Puncaknya pada malam itu, petir berkecamuk di tengah derasnya hujan. Suaminya pulang dalam keadaan mabuk dan meminta uang pada Manisah untuk berjudi lagi.
"Aku belum gajian, Mas. Aku tidak punya uang!" Seru Manisah saat melihat suaminya membongkar lemari mereka.
Tapi suaminya kehilangan kesabaran. Tangis putrinya yang pecah melihat kedua orangtuanya bertengkar terdengar memekakkan telinga. Suaminya gelap mata. Dengan emosi yang membakar seluruh tubuhnya, pria itu meraih bayi tujuh bulan yang tengah menangis itu. Kedua tangannya lalu membanting bayi perempuan itu dengan keras ke lantai. Tangis bayinya makin keras dan kemudian hilang sama sekali.
...****************...
"Lalu apa yang terjadi, Bu?" Tanya Kinanti. Bu Manisah tampak terdiam sejenak. Cerita tersebut sangat pahit dan ia tidak sanggup untuk melanjutkannya.
"Saya tidak ingat apa yang terjadi, Ti. Tiba-tiba saja saya melihat darah dimana-mana dan ada pisau dapur penuh darah di tangan saya. Pria bajingan itu sudah tergeletak tak bernyawa di depan mata saya." Ujar Bu Manisah pelan.
"Yang ada di pikiran saya saat itu hanyalah menyelamatkan anak saya. Jadi saya langsung menggendong anak saya untuk dibawa ke bidan. Tapi ternyata anak saya sudah meninggal sebelum saya sampai ke bidan." Sambung Bu Manisah.
Kinanti tertegun. Tinggal bersama orang-orang ini benar-benar memberikan Kinanti pandangan baru. Ada mereka yang hidupnya kandas dan dibui namun tidak pernah menyerah untuk meraih kehidupan baru setelah keluar dari penjara nanti. Ada yang merasa pasrah dan menerima bagaimana takdir akan membawanya begitu saja. Tapi Kinanti akan membuat jalannya sendiri. Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, ia akan membuat Darian membayar atas semua kesalahannya.
__ADS_1