Wanita Buronan

Wanita Buronan
Murka Darian


__ADS_3

Emosi Darian meledak. Rasanya seluruh tubuhnya terbakar api kemarahan. Mengetahui Kalila yang tumbang karena keracunan membuat Darian habis ditelan emosi. Ia tahu benar siapa yang melakukannya. Hanya ada satu orang yang ingin Kalila mati. Dan orang itu adalah istrinya, Hanna.


"HANNA! DIMANA KAMU, WANITA SIALAN!" Seru Darian berapi-api begitu ia sampai di rumahnya.


Asisten rumah tangga mereka yang mendengar teriakan Darian langsung berlari kalang kabut menghampiri majikannya itu. Wanita tua itu paham benar Darian akan menghajar siapa saja jika sedang emosi seperti ini.


"Nyonya sedang pergi, Tuan. Katanya Nyonya mengunjungi kedua orangtuanya." Jawab wanita tua itu dengan suara bergetar.


"Sialan! Wanita sialan! Berani-beraninya dia kabur sekarang! Aku akan memberi dia pelajaran!" Umpat Darian kesal.


Darian langsung membalikkan badannya dan berjalan keluar rumahnya. Ia akan pergi menjemput Hanna di rumah orangtuanya. Dan kalau istrinya tidak mau, Darian tidak akan ragu untuk menyeretnya di depan umum. Darian dengan emosi memacu mobilnya ke rumah mertuanya. Ia yakin benar istrinya sekarang sedang ada disana. Bersembunyi di balik orangtuanya yang bahkan tidak pernah Hanna kunjungi ketika hari libur nasional.


"Eh, Nak Darian. Ada apa tiba-tiba kesini, Nak?" Tanya ayah Hanna ketika melihat Darian datang ke rumahnya.


"Hanna dimana, Pa?" Ujar Darian. Ia berusaha keras mengatur emosinya agar tidak menyembur di depan pria tua ini.


"Dia ada di kamarnya, Nak. Kamu langsung masuk saja kesana." Balas Ayahnya jujur.


Dengan cepat Darian memacu langkahnya ke kamar Hanna yang berada di lantai dua rumah besar itu. Langkahnya berderap kencang dan tampak marah. Setelah sampai di depan pintu berwarna putih itu, Darian langsung menggedor pintu itu dengan keras.


"Hanna! Buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam!" Seru Darian marah.


Tidak ada jawaban.


"Hanna! Buka pintunya atau kudobrak sekarang!" Bentak Darian sekali lagi.


Masih hening. Darian membuka pintu itu yang ternyata tidak terkunci. Ia masuk ke dalam kamar gadis Hanna dan melihat gadis itu duduk manis di sofa. Seolah sengaja menunggunya datang.


"Rupanya kamu masih ingat dimana rumah mertuamu, Sayang." Ucap Hanna dingin.


Darian menghampiri istrinya dengan emosi.


"Dasar wanita gila! Aku tahu semua ini ulahmu, kan?!" Seru Darian sambil menunjuk Hanna.


Hanna tertawa. Tawanya terdengar mengerikan seperti pembunuh berantai di film Hollywood.


"Apakah wanita itu sudah mati?" Tanya Hanna dingin.

__ADS_1


"Kamu berharap dia mati? Sayangnya keinginanmu tidak terkabul. Kalila berhasil selamat dan sekarang sedang melalui pemulihan di rumah sakit!" Jawab Darian.


Hanna terperanjat. Bagaimana mungkin Kalila selamat dari kue dengan begitu banyak arsenik yang ia masukkan? Entah gadis itu bukan manusia atau memang nasib sial sedang menimpa Hanna.


"Kamu terkejut? Oh, ini tidak seberapa Hanna. Kamu akan lebih terkejut lagi melihat apa yang aku lakukan kepadamu!" Ancam Darian.


Darian dengan kasar menarik tangan Hanna. Hanna menepiskannya dengan kuat.


"Kamu mau membawa aku kemana, hah?!" Seru Hanna tidak terima.


"Ikut saja denganku, sebelum aku menyeretmu di depan kedua orangtuamu." Ujar Darian dingin.


Tapi Hanna tidak gentar. Ia balik melotot ke arah Darian yang membalasnya dengan senyuman sengit.


"Oh, Hanna isteriku. Jangan pernah menatapku seperti itu. Aku benci melihatnya. Kamu tidak boleh lupa kalau aku memegang semua kartu matimu. Setiap kejahatan yang kamu lakukan atas nama cintamu untukku, aku punya semua buktinya, Sayang. Dan Niko, tangan kananmu, kini sudah ada di pihakku." Bisik Darian di telinga Hanna.


Suara ancaman Darian terdengar sangat dingin dan mengerikan. Bisikan itu mengirimkan rasa merinding ke sekujur tubuh Hanna. Hanna tertunduk lesu. Ia sadar ia sudah berurusan dengan orang yang salah. Hanna baru saja membangunkan macan tidur yang berwujud Darian.


"Sekarang kamu ikut aku sebelum kamu kuseret." Kata Darian dingin.


Hanna menurut begitu saja. Ia berjalan mengekor di belakang Darian yang mendahuluinya. Sebelum keluar dari rumah orangtua Hanna, mereka berdua berpapasan dengan ayah Hanna yang sedang membaca koran.


Darian menggeleng.


"Tidak usah, Pa. Darian dan Hanna ada urusan penting dan harus pulang sekarang. Kami pamit ya Pa!" Ucap Darian kepada Ayah Hanna yang membalasnya dengan lambaian tangan.


"Kamu mau membawa aku kemana, Darian?" Tanya Hanna ketika mereka berada di mobil.


Darian hanya diam. Buku-buku jarinya memutih karena tangannya menggenggam setir kemudi dengan keras. Mobil itu melaju makin cepat entah kemana. Dan Hanna panik. Mobil yang mereka kendarai melesat bagaikan komet di jalan tol. Sangat ngebut dan membuat jantung Hanna berdegup tidak karuan.


"Hentikan, Darian! Apa yang mau kamu lakukan?! Kamu mau bunuh diri?!" Seru Hanna mencoba menghentikan Darian.


Mobil itu lalu keluar dari jalan tol dan melewati jalan dengan tebing batu di kiri dan jurang di kanannya. Hanna semakin takut. Ia berpikir Darian benar-benar akan membunuhnya hari ini.


"Jawab aku, Darian! Kemana kamu akan membawaku?!" Seru Hanna lagi.


Akhirnya mobil itu sampai di akhir jalanan itu. Darian menghentikan mobilnya di sebuah tebing dan keluar dari mobil itu. Ia lalu membuka pintu di sisi Hanna duduk dan menarik Hanna dengan paksa. Gadis itu tertarik bagaikan sebuah boneka yang diseret oleh pemiliknya. Lalu Darian menjorokkan tubuh Hanna ke atas jurang. Sebelah tangannya memegang Hanna yang bertumpu kepadanya.

__ADS_1


Hanna melirik ke bawahnya. Jurang yang dalamnya entah berapa ratus meter itu sekarang tepat ada di belakangnya. Jika Darian melepaskan tangannya sekarang, Hanna bisa mati secara instan di bawah sana. Jantungnya berdegup kencang dan Hanna bisa mendengarnya. Ia menatap Darian yang melihat ke arahnya dengan tatapan dingin. Tangannya masih memegang pergelangan tangan Hanna.


"Sudah kuperingatkan kepadamu untuk tidak mengganggu Kalila, Hanna. Apakah kamu bodoh atau tuli? Kenapa kamu masih melakukan itu semua setelah tahu konsekuensi apa yang akan kamu dapatkan?" Tanya Darian kejam.


"Apa yang mau kamu lakukan, Darian? Membunuhku? Oke, kamu bisa bunuh aku sekarang! Bunuh saja aku! Aku lebih baik mati daripada harga diriku terinjak karena kamu punya wanita lain!" Seru Hanna.


Darian tertawa sinis.


"Oh, istriku. Seharusnya kamu mengenal dengan baik orang seperti apa aku ini. Aku tidak mungkin mengotori tanganku sendiri hanya demi membunuh wanita gila sepertimu. Tidak Hanna. Membunuhmu tidak akan menyenangkan. Aku akan membawa neraka dunia kepadamu sebagai balasan atas apa yang telah kamu lakukan kepada Kalila." Ujar Darian sambil tertawa keji.


Hanna menatap Darian tidak percaya. Darian sudah benar-benar kehilangan akalnya karena Kalila. Darian yang di hadapannya kini bukanlah pria yang dicintainya selama ini. Darian sudah berubah menjadi monster kejam dan berhati dingin. Pria ini sudah sepenuhnya membuang Hanna dari hati dan hidupnya. Darian sudah menggantikan Hanna sepenuhnya dengan Kalila.


...****************...


Kalila sedang bersantai di rumahnya. Tubuhnya masih belum terasa sehat karena baru dua hari sejak ia keluar dari rumah sakit. Sesekali perutnya masih sering terasa mual karena pengaruh obat yang diberikan.


"Ya Tuhan, kapan penderitaan ini berakhir?" Keluh Kalila sambil memegang perutnya yang sakit.


Tiba-tiba pintu apartemen Kalila terbuka. Ia terhenyak dan melihat siapa yang masuk ke apartemennya.


"Ian? Ada apa? Kenapa kamu terlihat seperti itu?" Tanya Kalila bingung melihat nafas Darian yang memburu.


Darian mengatur nafasnya sejenak. Ia lalu memeluk Kalila erat dan mengecup bibir gadis itu pelan.


"Ayo kemasi seluruh pakaian dan barang-barangmu, Sayang." Ucap Darian sambil menatap Kalila lembut.


Kalila bingung. Apakah mereka akan berlibur? Tapi kenapa buru-buru sekali?


"Memangnya kita mau kemana, Ian?" Tanya Kalila bingung.


"Kita akan pindah, Kalila Sayangku." Jawab Darian.


Kalila semakin bingung dengan jawaban Darian.


"Tapi kemana? Kemana kita akan pindah?" Tanya Kalila sekali lagi.


Darian menatap Kalila serius. Tangannya mengelus pelan wajah Kalila.

__ADS_1


"Ke rumahku, Sayang."


__ADS_2