
Darian dan Kalila akhirnya tiba di istana besar milik Darian. Kalila menatapnya dan tanpa ia sadari tubuhnya gemetar. Memori masa lalu kembali terbang memenuhi kepalanya. Segala kenangan yang pernah terjadi di dalam rumah itu kembali mengingatkan Kalila pada pedihnya masa lalu. Pengkhianatan tanpa akhir yang ia alami serta malam-malam sepi yang panjang dimana ia harus menunggu suaminya pulang. Hal itu masih berbekas jelas di ingatannya.
Berjuta memori yang mendesak masuk membuat kepala pusing. Tanpa ia sadari, Kalila sedikit kehilangan keseimbangannya dan terhuyung jatuh. Darian menangkapnya dan menatapnya dengan khawatir.
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" Tanya Darian lembut.
Kalila mengangguk pelan. Ia lalu mencoba berdiri dengan kedua kakinya.
"Aku tidak apa-apa. Mungkin tubuhku saja yang belum terlalu sehat, Ian. Hanya itu." Ujar Kalila beralasan.
Darian merengkuh Kalila dalam pelukannya dan mencium puncak kepala kekasihnya dengan lembut.
"Karena itu aku ingin kamu tinggal disini bersamaku. Agar aku tidak merasa khawatir lagi denganmu, Sayang." Tutur Darian penuh kasih sayang.
Kalila mengangkat wajahnya dan menatap pria itu. Sungguh jika ia adalah Kinanti, mungkin ia tidak akan pernah melihat cinta sebesar itu di mata Darian. Namun sekarang Kalila berani bersumpah bahwa mata Darian yang biasanya tajam dan mengintimidasi, kini terlihat lembut dan penuh rasa sayang. Sebesar itukah rasa cinta Darian pada Kalila yang baru dikenalnya selama tiga bulan terakhir?
"Tapi bagaimana dengan Mbak Hanna? Aku tidak yakin dia akan menerimaku disini, Ian. Jujur aku sangat takut." Ucap Kalila pelan sambil memeluk Darian lagi. Ia membenamkan kepalanya di dada Darian yang kokoh.
Darian mengelus lembut kepala Kalila. Suara baritonnya berbicara dengan pelan, seolah berusaha menenangkan Kalila dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Tenang, Sayang. Tidak akan terjadi apa-apa kepadamu. Tidak akan ada yang berani mengusik Kalilaku Sayang." Ucap Darian mantap.
"Kamu berjanji?" Tanya Kalila penuh harap.
"Aku berjanji dengan seluruh jiwaku." Jawab Darian.
Kalila mempererat pelukannya yang hangat. Senyumnya mengembang begitu cerah seperti matahari yang baru terbit. Di dalam hatinya, Kalila berlonjak bahagia. Ia berhasil kembali ke rumah itu dan sebentar lagi kehancuran dua monster ini akan tiba.
Selamat datang di mimpi burukmu, Sayang.
...****************...
Darian menggandeng Kalila erat memasukki rumah megah miliknya. Rupanya Hanna sudah ada disana. Duduk di ruang tamu dan menatap lurus ke arah pintu masuk. Seolah ia memang sedang menunggu kehadiran mereka berdua. Begitu melihat Kalila dan Darian memasukki rumah, Hanna lantas bangkit dan menghampiri suaminya yang bergandengan bersama kekasih barunya. Senyumnya tampak tersungging namun tidak ada emosi apapun disana.
__ADS_1
"Selamat datang, Kalila. Aku Hanna dan kita sudah bertemu sebelumnya, bukan? Aku harap kamu bisa tinggal dengan nyaman disini dan jangan ragu untuk meminta bantuan apapun kepadaku." Ujar Hanna terpaksa seolah ia adalah seorang sandera yang ditodong senjata.
Kalila mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih, Mbak Hanna. Kamu tidak marah denganku, kan?" Tanya Hanna ragu.
Hanna menoleh ke arah Kalila dengan jengkel. Tentu saja ia marah. Siapa yang tidak marah jika harus dipaksa menyambut selingkuhan suaminya di rumahnya sendiri? Kalau Darian tidak mengancam akan menyita semua aset Hanna, ia tidak akan pernah sudi bertingkah layaknya keledai dungu seperti ini.
"Marah? Untuk apa aku marah kepadamu?" Tanya Hanna pura-pura tidak mengerti.
"Karena aku tidak menepati janjiku untuk menjauhi Darian. Maafkan aku, tapi ternyata aku tidak bisa hidup tanpa Darian. Aku terlalu mencintainya, Mbak." Jawab Kalila sembari menatap Darian yang tersenyum balik ke arah Kalila.
Hanna mendelik tidak percaya. Wanita bernama Kalila ini benar-benar tidak tahu malu. Apakah dia sengaja melakukan ini semua untuk memanas-manasi Hanna ataukah memang wanita ini begitu polos sehingga ia tidak sadar bahwa tingkahnya itu terlihat sangat menjijikkan?
"Tentu saja tidak, Sayang. Kenapa Hanna harus marah kepadamu? Tidak ada yang bisa meyalahkan cinta, Kalila Sayang. Aku juga mencintaimu dan itu bukan kesalahanmu ataupun aku. Benar kan?" Ucap Darian sembari mengecup bibir Kalila pelan.
Kalila membalasnya dengan tersenyum dalam ciuman itu. Hanna melihat kedua pasangan kasmaran itu dengan jengkel. Sialan sekali mereka! Tidak bisakah mereka bermesraan di dalam kamar saja dan bukan di hadapan Hanna? Hanna merasa Kalila dengan sengaja menunjukkan ini semua di depan kedua mata Hanna. Seolah ingin menunjukkan bahwa pemenang di hati Darian adalah dirinya dan bukan Hanna.
"Kalau aku sudah tidak diperlukan lagi, aku pamit masuk ke kamar dulu." Ucap Hanna sebal.
"Ah, Hanna! Tunggu sebentar." Ucap Darian.
Hanna menoleh tidak mengerti. Apakah sekarang ia tidak boleh tidur di kamarnya dan Darian lagi? Rasanya tidak mungkin, kan?
"Kamu harus membereskan pakaian dan barang-barangmu yang ada di kamarku sekarang. Karena mulai sekarang kamar itu akan aku tempati bersama Kalila. Mengerti?" Ujar Darian.
Hanna menatap Darian tidak percaya. Ia tidak menyangka suaminya akan bertingkah sekeji ini demi wanita baru itu. Bagaimanapun juga, yang ada di hati Darian selama lima tahun terakhir adalah Hanna. Mengapa Darian bisa dengan mudah menggantikan tempatnya begitu saja?
"Tapi aku istrimu, Darian! Aku yang berhak berada di kamar itu dan bukan wanita ini! Aku tidak mau melakukannya!" Seru Hanna kesal.
Kalila tampak terkejut walaupun sebenarnya ia sudah menduga reaksi sebesar itu akan keluar dari Hanna. Kalila menyentuh lengan Darian pelan dan pria itu menoleh menghadapnya.
"Ian, tidak apa-apa kalau Mbak Hanna tidak mau. Aku bisa tidur di kamar lainnya, kan? Aku tidak keberatan sama sekali." Ucap Kalila pelan.
__ADS_1
Namun Darian malah tertawa. Ia mengelus pipi Kalila dan menyelipkan beberapa helai rambut wanita itu ke belakang telinganya.
"Tidak, Kalila. Walaupun kamu tidak keberatan, tapi aku keberatan. Aku tidak mau kamu tidur di kamar tamu yang kecil. Aku ingin wanita kesayanganku mendapatkan tempat terbaik di rumahku." Kata Darian sambil tersenyum dan menatap Kalila dalam.
"Tapi bagaimana dengan Mbak Hanna?" Tanya Kalila ragu.
"Berikan aku waktu lima menit untuk bicara dengannya. Oke, Kalilaku Sayang?" Pinta Darian lembut.
Kalila mengangguk.
"Hanna, bisa kita bicara berdua sebentar?" Ajak Darian.
Tapi Hanna tetap kekeuh dan menolak ajakan itu. Ia melipat tangannya di depan dadanya dan menatap Darian dengan ekspresi menantang.
"Hanna, ayolah. Selagi aku masih memintamu dengan baik. Aku tidak mau terlihat seperti monster di depan Kalila." Ucap Darian lagi.
Darian lalu menarik tangan Hanna dan membawanya entah kemana. Kalila hanya melihat mereka berdua yang menghilang ke sebuah ruangan di balik tangga. Kalila lalu menatap sekeliling rumah itu. Rumah itu sudah jauh berubah dari sejak terakhir ia berada disana. Mungkin Hanna banyak melakukan perubahan disini untuk menghilangkan seluruh jejak Kinanti. Tapi apa yang terjadi sekarang? Permainan takdir malah membawa Kalila kembali ke rumah ini dan Hanna mau tidak mau harus menyambutnya dengan tangan terbuka.
Kalila lalu teringat sesuatu. Ia belum mengabari Niko tentang kepindahannya. Niko pasti khawatir kalau melihat apartemen Kalila sudah kosong melompong tanpa tahu apa-apa. Kalila mulai mengetik pesan singkat untuk Niko.
Niko, aku mau memberitahumu sesuatu. Mulai hari ini, Darian mengajakku pindah dan tinggal bersama di rumahnya. Rencana kita sebentar lagi akan benar-benar terlaksana, Nik.
Kalila lalu mengirimkan pesan itu. Tidak berapa lama, balasan dari Niko masuk ke ponselnya.
Wah, itu kabar yang sangat bagus. Tapi aku mohon kepadamu untuk berhati-hati, Kalila. Kamu tinggal di rumah yang sama dengan wanita beracun itu. Kamu harus selalu waspada.
Kalila tersenyum membaca pesan itu. Tentu saja ia akan waspada. Ia bukan lagi Kinanti yang bodoh dan lugu. Ia sekarang sudah menjadi Kalila. Si cantik dengan seribu satu akal bulus yang akan melakukan apa saja demi balas dendamnya.
Suara langkah kaki dua orang tampak berjalan mendekati Kalila. Ia menoleh dan melihat Darian berjalan mendekatinya dengan senyum lebar. Di belakangnya, Hanna mengikuti dengan wajah kesal. Kalila sudah bisa menebak apa yang terjadi walaupun ia tidak mendengar perbincangan mereka.
Kalila lalu menghampiri Darian yang segera memeluk dan mencium kepalanya.
"Bagaimana, Ian?" Tanya Kalila sambil menatap Darian lembut.
__ADS_1
Darian tersenyum.
"Mulai hari ini, kamu akan tidur bersamaku di kamar utama, Sayang."