Wanita Buronan

Wanita Buronan
Menjadi Seorang Istri


__ADS_3

Hari ini genap sebulan Kinanti menjadi istri dari Darian Chatra Wijaya. Putra tunggal dari keluarga Wijaya. Dan itu berarti Kinanti sebagai menantu tunggal mereka.


Dan sungguh bak hidup di negeri dongeng, Kinanti diperlakukan layaknya seorang permaisuri. Selama sebulan terakhir, Kinanti dan Darian masih tinggal bersama kedua orangtua Darian walaupun Darian sendiri menentangnya mati-matian.


"Mama mau kalian tinggal sama Mama dan Papa disini, Ian." Pinta Mamanya saat Kinanti dan Darian baru pulang dari bulan madu mereka.


"Ian keberatan, Ma. Ian sudah mempunyai istri dan mau menjalani hidup Ian sendiri." Jawab Darian mantap.


Namun setelah diskusi alot, akhirnya Darian menyetujui permintaan ibunya dengan syarat mereka hanya tinggal satu bulan saja di rumah kedua orangtuanya. Kinanti kira kehidupannya akan seperti upik abu yang menikah dengan keluarga kaya. Dimana kedua mertuanya hanya akan baik di depan orang lain dan sebenarnya memperlakukan Kinanti dengan buruk.


Untunglah imajinasi Kinanti tidak pernah menjadi nyata. Kedua orangtua Darian memperlakukan Kinanti dengan sangat baik. Malah terlalu baik. Kinanti tidak diperbolehkan menyentuh pekerjaan rumah sedikit pun dan hanya wajib mengurus Darian seorang.


"Ti, kamu tidak perlu repot-repot seperti ini. Untuk urusan dapur dan rumah biar Bi Siti yang mengerjakannya. Itu semua sudah menjadi tugas Bi Siti." Ucap ibu mertuanya saat melihat Kinanti berkutat di dapur suatu hari.


"Iya, Non. Biar Bibi yang kerjain semuanya. Non Kinanti istirahat saja ya." Sambung Bi Siti sambil membereskan pekerjaan Kinanti.


"Tapi Kinanti mau membuat makanan spesial untuk Darian, Ma. Apakah tidak boleh?" Tanya Kinanti bingung.


"Kalau begitu tidak apa-apa, tapi cukup untuk Darian saja. Kamu tidak perlu capek-capek mengerjakan urusan rumah, Ti. Nanti kalau kamu kecapekan, kamu susah dapat momongannya." Nasihat ibu mertuanya kepada Kinanti.


"Mama itu sudah ingin sekali punya cucu. Makanya kamu harus sehat-sehat biar cepat hamil ya." Mama Darian kembali melanjutkan kata-katanya.


Kinanti hanya tersenyum canggung. Memang ia tidak memiliki kewajiban seabrek layaknya istri lainnya. Namun di bahu Kinanti terdapat beban besar yang sungguh berat. Melahirkan pewaris pertama dari dinasti bisnis Wijaya.


Satu-satunya yang kurang dari hidupnya yang sempurna ini adalah cinta dari suaminya sendiri. Kinanti yakin tidak ada setitik cinta pun di mata Darian setiap memandangnya. Tapi Kinanti percaya lama-kelamaan Darian akan menerimanya. Bahkan batu yang keras pun lama kelamaan bisa hancur karena tetesan hujan. Apalagi hati seorang manusia kan?


...****************...


Hari ini adalah hari kepindahan Kinanti dan Darian dari rumah kedua orangtua Darian. Sejujurnya Kinanti takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bukan karena rumah Darian tidak sebesar rumah orangtuanya. Sungguh bukan itu kekhawatiran Kinanti. Ia khawatir dengan perasaan Darian kepadanya. Bagaimana jika cinta itu tidak akan pernah tumbuh dan pada akhirnya Kinanti akan hidup terkurung dalam sangkar emas?


"Ma, Pa, Kinanti pamit ya. Nanti Kinanti janji akan sering-sering main kesini buat ketemu Mama dan Papa." Ucap Kinanti sambil mencium tangan kedua mertuanya.


Mama Darian tampak kecewa karena harus melepaskan putra tunggal dan menantunya keluar dari rumah mereka. Namun mereka bisa apa? Sebuah kewajaran jika anak yang sudah menikah ingin memulai hidupnya sendiri, bukan? Dan sejujurnya kedua orang tua Darian berharap dengan melepas Darian dan Kinanti sendiri, perlahan Darian bisa berubah. Mulai dari menjadi berperangai lebih lembut hingga dapat mencintai Kinanti sepenuhnya.

__ADS_1


"Ian pergi ya Ma, Pa." Ucap Darian sambil berpamitan singkat lalu masuk ke dalam mobilnya.


Kinanti kemudian menyusulnya masuk ke mobil itu. Tak berapa lama, mesin beroda empat itu bergulir dan membawa keduanya membelah pekarangan rumah Wijaya. Mobil itu kemudian keluar dari gerbang megah rumah kedua orangtua Darian dan menghilang di baliknya.


Rumah baru yang akan Kinanti dan Darian tempati berjarak tidak jauh dari rumah kedua orangtua Darian. Mungkin hanya berjarak 20 menit perjalanan dengan mobil. Dan rumah itu juga tidak kalah megah dengan rumah mertuanya. Jika rumah mertua Kinanti kental dengan nuansa klasik ciri khas orang kaya lama, maka rumah milik Darian adalah kebalikannya. Sentuhan modern minimalis dengan warna monokrom sangat nampak baik secara eksterior dan interior. Rumah yang tampak mewah namun terkesan dingin dan tidak terdapat kehangatan di dalamnya.


"Rumah ini persis seperti Darian. Dingin dan kaku." Batin Kinanti ketika masuk ke rumah itu.


"Masuk. Sekarang kamu akan tinggal disini bersama saya." Ucap Darian dingin sambil berjalan mendahului Kinanti.


Kinanti menurut dan mengekor di belakang sosok Darian yang bertubuh tinggi dan besar. Darian naik ke lantai dua rumahnya dan diikuti oleh Kinanti. Ia kemudian membuka pintu berwarna hitam yang menghalangi sebuah ruangan. Tampaknya sebuah kamar.


Ketika pintu itu terbuka, tampak sebuah kamar besar yang sangat mewah. Tidak memiliki interior yang berlebihan namun kesan mahal sangat lekat di dalamnya. Sebuah ranjang besar dengan kayu berwarna hitam terpasang di tengah ruangan itu. Seprai abu-abu gelap khas pria lajang menutupi kasurnya dan menimbulkan kesan maskulin.


"Ini kamar kita?" Tanya Kinanti ragu.


Darian hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan Kinanti menuju kamar mandi. Kinanti duduk di kasur kamar mereka dan matanya memandang ke arah sekeliling.


"Jadi begini rasanya hidup jadi pewaris tunggal? Hidup sendirian di rumah semegah ini." Gumam Kinanti pelan.


Darian telah menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi. Ia bertelanjang dada dan hanya memakai handuk yang diikatkan di pinggangnya. Tubuhnya yang atletis terpahat sempurna seperti patung yang dibuat oleh seniman ternama. Meskipun telah sering melihat Darian dalam keadaan tak berbusana sekalipun, tetap saja Kinanti merasa terpana melihat suaminya. Sungguh begitu sempurna pria yang ada di depannya ini.


"Kenapa? Kamu kan sudah sering melihat saya tidak berpakaian. Tidak perlu kagum seperti itu, Kinan." Ucap Darian saat menyadari istrinya tengah menatapnya.


Kinanti malu. Pipinya bersemu merah dan ia segera memalingkan wajahnya dari Darian. Dan Darian hanya tertawa melihat ekspresi Kinanti yang gelagapan.


"Kamu mau kemana, Mas?" Tanya Kinanti yang melihat Darian berganti namun bukan dengan pakaian rumah.


"Saya mau pergi. Mungkin malam ini saya tidak pulang jadi kamu tidak perlu menunggu saya." Jawab Darian singkat.


"Tapi kamu mau kemana?" Kinanti kembali bertanya.


"Bukan urusan kamu." Ujar Darian lalu meninggalkan Kinanti yang mematung.

__ADS_1


Tapi tetap saja meskipun Darian menyuruh untuk tidak menunggunya pulang, Kinanti tetap saja melakukan hal itu seperti keledai bodoh. Ia duduk di ruang tamu rumah mewahnya sendirian dengan pertanyaan kemana suaminya pergi. Berkali-kali Kinanti melirik ke arah jam dinding. Detik berganti menit dan menit berganti jam, namun sosok Darian tidak kunjung kembali. Dan pada akhirnya Kinanti tertidur di ruang tamu karena terlalu lelah menunggu Darian pulang.


...****************...


Kinanti terbangun karena terbangun oleh ponselnya yang berbunyi. Ia mengira itu telepon dari suaminya namun ternyata nama ibu mertuanya yang tercantum disana.


"Halo Ma? Kenapa Ma?" Tanya Kinanti.


"Kamu baru bangun, Sayang?" Tanya Mama Darian kepada Kinanti.


"Ah, iya, Ma. Kinanti bangun kesiangan." Ucap Kinanti merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Ti. Mama mengerti, kok. Pasti kamu terlalu capek melayani Ian semalaman, kan?" Goda ibu mertuanya.


Kinanti hanya tertawa canggung. Mencoba menyembunyikan fakta bahwa semalaman suaminya tidak pulang dan pergi entah kemana.


"Oh iya, kamu siap-siap ya, Ti. Nanti Mama akan jemput kamu jam 12 siang. Kita makan siang dan belanja, ya." Ajak ibu mertuanya antusias.


Kinanti mengiyakan ajakan tersebut. Memang enak sekali hidup menjadi istri konglomerat. Tidak perlu sibuk menyisihkan uang hanya untuk berbelanja. Semenjak menjadi menantu keluarga Wijaya, Kinanti selalu berbelanja bersama ibu mertuanya dan itu dilakukan hampir setiap hari. Jika Kinanti menginginkan sesuatu, maka ia tinggal menunjuknya dan ibu mertuanya akan langsung menggesekkan black card miliknya untuk membayar barang tersebut.


Setelah mengiyakan ajakan ibu mertuanya, Kinanti langsung mematikan telepon tersebut. Barulah Kinanti hendak beranjak untuk masuk ke kamarnya, pintu depan rumahnya terbuka. Kinanti terdiam, menunggu siapa yang akan masuk.


"Kamu baru pulang, Mas?" Tanya Kinanti saat melihat sosok Darian yang baru pulang.


Kinanti memperhatikan pakaian suaminya. Pakaian itu berbeda dengan yang ia pakai semalam. Itu berarti Darian menghabiskan malamnya di suatu tempat dan entah bersama siapa. Karena Darian tampak rapi seperti habis mandi dan terurus dengan baik.


"Iya. Jangan bilang kamu menunggu saya semalaman?" Tanya Darian menyelidik.


Kinanti hanya mengangguk pelan.


"Dasar bodoh. Kan saya sudah bilang, saya tidak akan pulang." Ucap Darian datar lalu meninggalkan Kinanti pergi.


Hati Kinanti sakit mendengar kata-kata itu. Apakah menunggu suaminya pulang membuatnya menjadi seperti orang bodoh? Apakah mengkhawatirkan suaminya sendiri adalah perbuatan seorang yang dungu? Setidaknya kalau bukan sebagai istri, pernahkah Darian melihat Kinanti sebagai seorang manusia?

__ADS_1


Air mata Kinanti menetes. Ia mengusapnya dengan cepat. Ia khawatir Darian akan semakin marah jika melihatnya menangis. Kinanti merasa mungkin memang beginilah nasibnya jika menikah dengan seseorang yang tidak mencintainya.


__ADS_2