
Kinanti hanya dapat duduk termenung. Sejak semalam pikirannya hanya kosong. Semuanya masih terasa seperti mimpi. Rasanya kemarin lusa ia masih bertemu dan makan bersama kedua mertuanya, tapi sekarang kedua mertuanya sudah terbujur kaku di hadapannya. Air matanya sudah kering karena menangis semalaman. Matanya bengkak dan perutnya tidak diisi sesuap nasi pun sejak 12 jam lebih.
Para pelayat sudah berdatangan satu persatu. Kinanti hanya menatap mereka dengan tatapan kosong. Setiap orang yang datang sama dengan mereka yang menjadi tamu di pernikahan mereka. Hanya saja hari itu raut wajah mereka tidaklah tampak bahagia. Hanya ada rasa duka dan prihatin. Kedua mertua Kinanti adalah orang yang sangat baik. Berbanding terbalik dengan putranya. Karena itu tidak heran jika banyak yang merasa kehilangan atas kepergian mereka.
Sepasang suami istri yang tampaknya seumuran dengan mendiang mertuanya datang menghampiri Kinanti. Sang istri langsung memeluknya dan mengelus punggung Kinanti. Berusaha membantu meringankan kesedihan yang ia alami. Dan sang suami tampak tertunduk sedih melihat Kinanti yang terlihat tidak karuan lagi.
"Papa dan Mamamu orang baik, Ti. Tante yakin mereka akan diberikan tempat terbaik disana. Kamu jangan sedih-sedih lagi ya, Sayang. Kasihan bayi kamu nanti ikut sedih juga." Nasihat wanita tua itu sambil memegang wajah Kinanti dengan kedua belah tangannya.
Kinanti hanya mengangguk lemah. Rasanya bibirnya sangat berat untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Suami dari wanita itu juga tersenyum penuh kasih sayang pada Kinanti seperti bagaimana ayah mertuanya biasa melakukannya.
"Kamu pasti bisa, Ti. Kalau ada apa-apa jangan ragu untuk meminta bantuan ke Om dan Tante ya. Kami pasti akan selalu menolongmu." Ucap pria tua itu sembari menepuk pundak Kinanti pelan.
Dan lagi-lagi Kinanti hanya mengangguk sambil mengucapkan terimakasih dengan lirih. Suaranya sudah habis karena meraung dalam tangisan sejak semalam.
Ketika para pelayat datang silih berganti, begitu pula dengan orang-orang yang menemaninya di rumah. Masing-masing sibuk mondar-mandir mengurus pemakaman kedua mertuanya. Keluarga Kinanti ada bersamanya untuk menemani Kinanti. Dan beberapa asisten rumah tangga yang bekerja di rumah mertuanya juga sudah ada sejak semalam. Semua orang yang memiliki hubungan dengan kedua mertuanya ada disana. Semuanya kecuali putranya sendiri, Darian.
Kinanti sudah menyerah menghubungi Darian. Ribuan kali ia sudah menelepon dan bahkan meminta sekretaris Darian untuk menemuinya tapi setiap usahanya tidak membuahkan hasil. Darian tidak bisa dihubungi dan tidak dapat ditemukan dimanapun. Tergerak hati Kinanti untuk mencari Darian di rumah Hanna. Tapi jangankan alamat rumahnya, wujud Hanna yang sebenarnya pun Kinanti tidak pernah bertemu secara langsung.
Tiba-tiba terdengar kegaduhan dari arah luar rumah. Kinanti bertanya-tanya apa yang terjadi? Siapa yang membuat kerusuhan di sebuah rumah yang sedang berduka? Tak lama segerombolan pria dan wanita berpakaian polisi datang dan masuk ke dalam rumah. Kinanti bingung, kenapa ada polisi disini?
Mata Kinanti lalu menangkap sosok Darian yang berjalan di depan rombongan itu. Wajahnya tampak memerah dan matanya tampak sembab. Darimana Darian? Apakah dia habis menangis semalaman karena kehilangan orangtuanya? Tapi mau apa Darian dengan polisi sebanyak itu? Semuanya tampak membingungkan bagi Kinanti.
__ADS_1
"Dia istri saya, Pak. Menantu rumah ini, Kinanti." Ucap Darian sambil menunjuk Kinanti.
Seorang polisi dan polwan datang menghampiri Kinanti. Wajah mereka tampak sangar dan menyeramkan. Kenapa mereka menghampiri Kinanti dengan aura yang mengintimidasi seperti itu?
"Apakah benar saudari bernama Kinanti Anindira, menantu dari Bapak dan Ibu Bambang Sudiro Wijaya?" Tanya polisi tersebut dengan nada tegas.
Kinanti berdiri dari tempat duduknya dan mengangguk pelan.
"Iya benar, Pak. Ada apa Pak?" Tanya Kinanti bingung.
"Saudari Kinanti Anindira, Anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap Bapak dan Ibu Bambang Sudiro Wijaya. Silahkan ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Anda bisa menghubungi pengacara kalau Anda keberatan menjalani pemeriksaan seorang diri."
Kinanti terbelalak mendengar perkataan polisi di hadapannya itu. Kinanti? Membunuh mertuanya sendiri? Omong kosong macam apa ini?
"Untuk lebih jelasnya akan kami beritahu di kantor polisi, Bu. Sekarang ayo ikut kami terlebih dahulu." Titah polisi itu.
Seorang polisi wanita lalu menggandeng tangan Kinanti dengan kuat agar Kinanti tidak kabur. Semua orang bingung dengan drama yang terjadi di hadapan mereka. Beberapa orang bahkan berbisik-bisik seolah mereka tahu bahwa Kinanti adalah seorang kriminal. Tapi Kinanti sendiripun tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kesalahan apa yang ia buat sehingga ia menjadi seorang tersangka pembunuhan?
Kinanti keluar dari rumah megah itu dengan dikawal oleh rombongan polisi. Setiap pasang mata tertuju pada Kinanti. Bahkan mereka yang hanya sekedar lewar pun berhenti untuk melihat sejenak kegaduhan di rumah orang kaya. Namun mata Kinanti hanya tertuju pada satu orang yaitu Darian. Dan tidak jauh dari pria itu, seorang wanita berdiri di antara para pelayat. Wanita yang selama ini hanya ia lihat melalui foto. Wanita yang dipanggil Darian sebagai kekasihnya. Wanita bernama Hanna.
Ribuan mengapa muncul di kepala Kinanti. Mengapa Darian baru muncul di pagi hari? Mengapa Darian diam saja dan tidak membelanya padahal Kinanti yang merupakan istrinya sedang digiring ke kantor polisi? Mengapa Darian seolah sudah mengetahui apa yang akan terjadi? Dan mengapa Hanna juga ada di rumah mertuanya berdiri di antara para pelayat?
__ADS_1
Kinanti hanya dapat bertanya pada dirinya sendiri sambil merasakan tubuhnya yang diseret. Langkah demi langkah dan akhirnya masuk ke dalam mobil patroli.
...****************...
"Saya tidak mungkin membunuh mertua saya, Pak! Saya bukan orang gila yang bisa melakukan hal sekeji itu, Pak!" Seru Kinanti membela dirinya.
"Tapi bukti-bukti semua mengarah pada satu orang dan itu adalah Anda, Bu. Kami menemukan seutas rambut di dalam kap mobil Pak Bambang. Dan itu adalah rambut Ibu. Panggilan terakhir dari telepon Bu Bambang juga ke ponsel Ibu. Semua petunjuk mengarah kepada Ibu." Tegas seorang polisi saat menginterogasi Kinanti.
Kinanti takut. Ini pertama kalinya ia berada di kantor polisi. Dan sekarang ia harus duduk sebagai tersangka dan dihujani ribuan pertanyaan yang menyudutkannya. Kinanti hanya sendirian dan tidak ada siapapun yang membelanya.
"Apakah Ibu tahu apa penyebab kecelakaan mobil Pak Bambang?" Tanya polisi tersebut dingin.
"Apa penyebabnya?" Kinanti kembali bertanya karena sejujurnya ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.
"Remnya blong. Kami menemukan bahwa kabel rem mobil Pak Bambang sudah dipotong dengan benda tajam. Dan kami menemukan sidik jari Ibu di kabel yang terpotong itu." Jawab polisi tersebut tegas.
Kinanti mencelos. Orang gila mana yang melakukan hal mengerikan seperti itu? Ayah dan ibu mertuanya adalah orang yang sangat baik. Bagaimana bisa ada yang berkonspirasi untuk melenyapkan mereka?
"Saya tidak mungkin melakukannya, Pak! Bapak lihat saja keadaan saya! Untuk berjalan saja saya kesulitan, bagaimana mungkin saya bisa masuk ke kolong mobil hanya untuk memotong kabel rem?!" Seru Kinanti tidak percaya.
"Tapi mohon maaf Bu, untuk sekarang kami harus menahan Ibu karena berdasarkan bukti materiil, Ibu adalah tersangka dalam pembunuhan berencana ini." Kata polisi bertampang sangar tersebut.
__ADS_1
Beberapa menit berselang, dua orang polisi wanita masuk dan membawa Kinanti secara paksa untuk keluar dari ruang interogasi. Kinanti hanya bisa mengikuti mereka sementara tubuhnya diseret melawan kehendaknya. Kinanti dimasukkan ke dalam sebuah sel tahanan dan harus menunggu selama 48 jam untuk mengetahui kelanjutan nasibnya.
Semuanya terjadi begitu cepat bak sebuah film yang diputar. Kemarin ia baru saja kehilangan mertuanya dan sekarang Kinanti terkurung di balik jeruji besi atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Hidupnya berubah 180 derajat dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Satu hal yang Kinanti yakini, entah ia benar-benar akan bebas atau tidak sama sekali, yang jelas mulai detik ini hidupnya akan menjadi sangat sulit untuk dijalani.