Wanita Buronan

Wanita Buronan
Kesedihan Tak Terkira


__ADS_3

Sejak sore hari, entah kenapa perut Kinanti rasanya sakit sekali. Seperti seluruh otot di perutnya berkontraksi secara bersamaan. Namun hal itu hanya terjadi beberapa menit dan lalu menghilang. Kinanti tidak mengerti tapi ia yakin pasti hal ini berkaitan dengan bayinya.


"Bu, kenapa perutku dari tadi sore terasa sakit sekali ya?" Tanya Kinanti pada Bu Manisah saat mereka berdua sedang membereskan ruangan sel mereka.


Bu Manisah tersenyum senang. Kinanti menangkapnya sebagai sebuah pertanda baik bagi kehamilannya.


"Wah, itu artinya sebentar lagi kamu akan melahirkan, Ti. Kamu jangan tidur terlalu nyenyak ya, mungkin saja malam ini bayimu akan minta dilahirkan." Ucap Bu Manisah bahagia.


Kinanti senang sekali mendengarnya. Akhirnya setelah bayinya menolak keluar hingga sepuluh bulan lamanya, anak kembarnya sebentar lagi akan keluar dan menemui ibunya.


"Nanti kalau kamu merasa ada yang tidak beres, kamu harus langsung bangunkan saya, ya. Biar saya yang urus semuanya." Kata Bu Manisah meyakinkan Kinanti.


Kinanti percaya Bu Manisah akan mengurusnya dengan baik. Karena itu ia yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia akan melahirkan bayi kembarnya dengan sehat dan menjadi ibu yang bahagia walaupun harus terkurung di dalam penjara.


Malam itu, pukul dua belas malam, kontraksi perut Kinanti semakin hebat. Dari yang berjarak satu jam setiap kontraksi kini menjadi semakin sering. Dan pada akhirnya hanya berjarak sepuluh menit saja di antara kontraksinya. Kinanti panik. Ia membangunkan Bu Manisah yang tidur di sebelahnya dan wanita tua itu langsung terbangun dan sigap menghadap Kinanti.


"Ada apa, Ti? Perutmu sudah sakit lagi?" Tanya Bu Manisah.


Kinanti mengangguk lemah sembari meringis kesakitan. Perutnya makin sakit dan ia sudah bisa merasakan bayinya semakin turun ke bagian bawah. Bu Manisah paham benar sinyal itu. Ia segera membangunkan rekan satu sel yang lain - Siti, Maimun, dan Mitha. Bu Manisah meminta Mitha untuk mencari sipir dan mengatakan padanya bahwa Kinanti perlu dibawa ke rumah sakit saat ini juga. Mitha mengangguk pertanda mengerti dan ia segera berlari mencari sipir yang berjaga.


Kinanti mengerang kesakitan. Rasanya seperti seluruh tulang di tubuhnya dipatahkan secara serentak. Kinanti hanya bisa menangis karena sungguh ia tidak sanggup menahan rasa sakitnya.


"Sabar ya, Ti. Nanti kita akan ke rumah sakit ya. Anakmu akan baik-baik saja. Jangan khawatir." Ucap Bu Manisah berusaha menenangkan Kinanti.


Tak lama Mitha kembali namun wajahnya tampak murung. Mitha kembali sendirian tanpa ada siapapun yang mengawalnya.


"Dimana sipirnya, Mit? Ini Kinanti sudah sangat kesakitan." Tanya Maimun bingung.


Mitha menggeleng lemah.


"Tidak ada satu orang pun di kantor sipir, Mbak. Saya harus cari kemana lagi?" Ucap Mitha tak kalah bingungnya.

__ADS_1


Maimun beranjak dengan kesal. Bagaimana bisa para sipir lalai seperti ini padahal mereka sadar benar ada tahanan yang sedang hamil dan membutuhkan perawatan darurat.


"Ayo kita cari di pos lain, Mit." Seru Maimun sambil berlari ke arah selatan penjara. Tempat ruangan kepala sipir berada.


Keringat dingin membasahi tubuh Kinanti. Kontraksinya kini tidak berhenti lagi. Tubuh Kinanti sudah menjerit memberikan sinyal bahwa Kinanti harus dibawa ke rumah sakit saat itu juga. Dan tiba-tiba Kinanti merasakan banyak cairan keluar dari bagian bawahnya. Seperti sedang buang air kecil, celana dan kakinya basah oleh cairan berwarna kekuningan yang banyak jumlahnya.


Bu Manisah panik. Kinanti dalam keadaan gawat dan harus segera ditangani dokter secepatnya.


"Bu, kenapa aku buang air banyak sekali?" Tanya Kinanti bingung.


"Gawat, Ti. Ketubanmu pecah! Kamu harus secepatnya dibawa ke rumah sakit atau bayimu bisa dalam bahaya!" Seru Bu Manisah.


"Bagaimana ini, Bu? Anakku akan baik-baik saja kan, Bu?" Ucap Kinanti dengan suara yang lemah.


Bu Manisah memaksakan senyumnya. Mencoba menghapuskan kepanikannya sekaligus ketakutan Kinanti. Namun Bu Manisah tahu, hal yang terburuk sudah tampak di depan mata dan hanya Tuhan yang dapat mencegahnya.


...****************...


"Dokter, tolong wanita ini Dok. Sepertinya dia akan melahirkan!" Seru sipir wanita itu panik.


Dokter yang melihat kondisi Kinanti yang sangat buruk terbelalak kaget. Dengan sigap beberapa dokter dan suster mendorong Kinanti masuk ke ruang operasi dan memberikan penanganan padanya. Dua jam berlalu dan akhirnya dokter tersebut keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana keadaan saudari Kinanti, Dok?" Tanya sipir wanita itu langsung berlari menghampiri dokter bersama Bu Manisah.


Dokter itu menggelengkan kepalanya. Ia menghembuskan nafas dengan berat.


"Mohon maaf tapi pasien dibawa dalam waktu yang sangat terlambat. Ketika kami memeriksanya, air ketuban pasien sudah lama kering." Ucap dokter itu hati-hati.


"Karena terlalu lama mendapatkan penanganan, kedua bayi Ibu Kinanti mengalami kehabisan oksigen ketika berada di dalam kandungan. Sehingga saat kami membedah perutnya, kedua bayi itu sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Dan apabila terlambat sedikit saja, mungkin kami juga akan gagal menyelamatkan ibunya." Sambung dokter tersebut lagi.


Baik Bu Manisah dan sipir wanita itu terperanjat dengan apa yang mereka dengar. Kinanti hampir kehilangan nyawanya dan kini juga kehilangan bayinya. Sipir wanita itu terduduk. Raut wajahnya menunjukkan ekpresi bersalah yang teramat dalam. Ia menyalahkan dirinya atas meninggalnya dua bayi tak berdosa itu. Karena kelalaiannya lah semua ini terjadi.

__ADS_1


"Bagaimana kita bisa memberi tahu Kinanti, Bu?" Tanya sipir wanita itu sambil duduk di kursi panjang di luar ruangan tempat Kinanti dirawat.


Tatapannya menerawang dan tampak jelas di wajahnya bahwa kematian bayi Kinanti sangat membebaninya. Bu Manisah dapat melihat dengan jelas bahwa gadis muda di hadapannya ini berhati lembut dan dunia penjara terlalu keras untuknya.


"Sejujurnya saya juga tidak tahu. Bahkan untuk menemui Kinanti saja rasanya saya tidak berani." Jawab Bu Manisan sambil mengintip ke dalam ruangan. Tampak Kinanti masih tertidur pulas karena pengaruh obat bius yang belum hilang.


...****************...


Kinanti terbangun dari tidurnya dan seluruh tubuhnya terasa nyeri. Bagian bawah perutnya terasa pedih seolah habis dibelah dengan benda tajam. Kinanti menengok ke arah perutnya yang mengecil.


"Wah, aku sudah melahirkan? Dimana bayiku?" Gumam Kinanti bahagia melihat anaknya yang sudah tidak ada di perutnya lagi.


Matanya lalu menangkap dua sosok wanita masuk ke dalam ruangannya. Bu Manisah dan satu orang lain berpakaian sipir yang tidak ia kenal.


"Ibu, bagaimana keadaan anakku Bu? Mereka baik-baik saja kan?" Tanya Kinanti penuh harap.


Kedua wanita itu duduk di samping Kinanti. Wajahnya tampak murung dan bibir mereka terkunci rapat. Seolah sulit memberitahukan apa yang terjadi pada Kinanti.


"Bu, kok diam? Bayiku dimana, Bu? Mereka baik-baik saja kan?" Kinanti bertanya sekali lagi.


Akhirnya Bu Manisah yang memilih untuk angkat bicara. Setelah bingung merangkai kata di dalam kepalanya, Bu Manisah memutuskan kebenaran tetap harus disampaikan meskipun itu terasa pahit.


"Kedua anakmu meninggal di dalam kandungan, Ti."


Rasanya seperti nyawa Kinanti ditarik dalam sekali hempasan. Kinanti terhenyak mendengar kata-kata yang diucapkan Bu Manisah. Tidak mungkin anaknya meninggal? Bayi yang sudah cukup usia dalam kandungan tidak mungkin pergi begitu saja kan?


"Ibu bercanda kan, Bu? Jangan main-main seperti ini, Bu. Saya mau bertemu dengan anak saya sekarang, Bu. Ayo temani saya ke bangsal tempat anak saya!" Seru Kinanti tidak percaya.


Bu Manisah menangis. Sipir wanita itu juga menangis. Mereka tidak tega melihat Kinanti yang menolak kenyataan pahit itu. Ibu mana yang bisa menerima fakta bahwa anaknya sudah pergi bahkan sebelum ia sempat melihatnya?


Kedua wanita itu memeluk Kinanti yang menangis sekencang-kencangnya. Tidak ada obat apapun yang bisa menyembuhkam luka Kinanti. Dan mereka tahu, sekeras apapun mereka mencoba, kedua wanita itu tidak akan bisa menghibur Kinanti.

__ADS_1


"Kamu yang kuat ya, Ti. Ibu yakin semua pasti ada hikmahnya."


__ADS_2