Wanita Buronan

Wanita Buronan
Direktur Baru


__ADS_3

Puluhan pasang mata yang berada di dalam ruangan rapat itu serempak menatap ke arah Darian dan Kalila. Kedatangan keduanya yang mengejutkan sudah pasti bak petir di siang bolong. Terlebih lagi bagi mereka yang ingin menjatuhkan Darian. Apalagi ketika Darian datang dan mengumumkan bahwa Kalila, wanita yang entah berasal darimana, akan menggantikannya sebagai Direktur Utama PT. Bara Kahuripan.


"Tapi siapa wanita ini? Apa kredibilitasnya sehingga dia bisa menjadi Direktur Utama disini?" Tanya Pak Bram, salah satu pemegang saham yang hadir.


Darian terkekeh kecil.


"Kamu sudah menyiapkan semuanya, Sayang?" Tanya Darian kepada Kalila.


Kalila berbisik lembut pada Darian.


"Sudah, Ian. Haruskah aku menunjukkannya kepada mereka?" Balas Kalila sembari melirik para pemegang saham.


Darian mengangguk pelan. Dengan percaya diri, Kalila mengambil alih rapat hari itu. Tentu saja dia akan merasa percaya diri. Apa yang terjadi hari ini sudah direncanakannya selama setahun belakangan. Kalila sudah lebih dari siap untuk menggeser Darian dari singgasananya.


Kalila berdeham. Membuat perhatian semua orang tertuju padanya. Senyumnya tipis dan penuh wibawa. Hasil dari latihan yang ia lakukan semasa keluar dari penjara.


"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian. Mungkin ada belum mengenal saya, maka izinkan saya memperkenalkan diri saya. Nama saya adalah Kalila Jayanti dan saya ditunjuk oleh Pak Darian Chatra Wijaya sebagai penggantinya dalam jabatan ini." Ucap Kalila membuka perkenalannya.


"Kami tidak perlu tahu nama Anda. Kami hanya ingin tahu kredibilitas Anda. Tunjukkan latar belakang pendidikan Anda sekarang!" Seru Bu Citra, salah satu pemegang saham yang usianya tampak sudah lumayan senja.


Kalila terkekeh pelan.


"Sabar, Bu Citra. Setiap hal itu memiliki langkahnya sendiri. Tidak akan menyenangkan jika saya langsung menyombongkan apa yang saya miliki, bukan?" Tantang Kalila dengan percaya diri.


Bu Citra tampak tersenyum angkuh. Seolah meremehkan kemampuan Kalila.


Kalila lalu mulai menayangkan apa yang ia buat di layar proyektor ruangan itu. Daftar riwayat hidupnya yang diisi dengan sederet prestasi dan hal gemilang. Dan tentu saja semuanya adalah karangan yang ia buat bersama Niko. Bahkan hingga memalsukan ijazah akan Kalila lakukan demi merebut jabatan ini.


"Baiklah, saya akan langsung menuju poin yang sejak tadi Anda sekalian tekankan. Latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja. Saya berkuliah di University of Pennsylvania, Amerika Serikat. Yah, karena saya sejak kecil tinggal disana sudah pasti saya akan berkuliah disana." Jelas Kalila dengan mantap.


"Oh, dan terkait pengalaman kerja, saya pernah bekerja di beberapa startup yang ada di Amerika Serikat. Dan terakhir saya diposisikan sebagai CMO dari salah satu perusahaan startup yang bergerak di bidang teknologi. Dan sebenarnya ini adalah pertama kalinya saya bekerja di perusahaan korporasi seperti ini, jadi saya mohon kerjasama dari Bapak dan Ibu sekalian." Tambah Kalila penuh percaya diri.

__ADS_1


Mata Kalila mengamati raut wajah setiap orang yang ada disana. Mereka mengangguk-angguk tampak yakin dengan sederetan pengalaman kerja Kalila di perusahaan fiktif itu. Tentu saja, siapa di antara orang tua ini yang bisa melakukan pengecekan silang di startup tidak ternama yang letaknya saja tidak ada di peta?


Kalila yakin semua rekaannya ini sangat rapi dan tidak ada celah sedikitpun. Kalaupun ada yang meragukannya, ia selalu punya jawaban untuk mereka. Lagipula, Darian adalah pemegang saham mayoritas di Bara Kahuripan. Keputusan akhir tetap ada di tangannya. Dan Kalila sadar benar bahwa Darian kini ada dalam genggamannya.


"Bagaimana? Kandidat yang saya pilih memuaskan rasa ingin tahu kalian, bukan?" Tanya Darian penuh kesombongan. Tanpa menyadari bahwa sebenarnya ialah yang menjadi boneka Kalila.


Tiga puluh orang yang hadir di dalam ruangan itu tampak bungkam karena ucapan Darian barusan. Mau tidak mau mereka harus menuruti kehendak Darian sebagai pemegang saham mayoritas di Bara Kahuripan. Mulai hari ini, Kalila resmi menjadi Direktur Utama di PT. Bara Kahuripan.


...****************...


"Kamu senang dengan hadiahku?"


Darian bertanya pada Kalila yang sedang duduk di ruangan barunya sementara sang kekasih ada di hadapannya. Tak berdaya di kursi roda.


"Hadiah apa, Ian?" Tanya Kalila tidak mengerti.


"Ini, jabatan ini. Aku memberikannya kepadamu karena kamu selalu ada di sisiku. Bahkan di saat aku seperti ini." Ucap Darian pelan.


Kalila tertawa kecil. Ia lalu berjalan menghampiri Darian dan duduk di pangkuan kekasihnya itu. Tangannya melingkar di leher Darian sementara Darian secara naluriah memeluk pinggang Kalila.


Darian terkekeh pelan.


"Aku hanya meminta dua hal. Bisakah kamu memenuhinya?" Tanya Darian serius.


"Apa?" Ujar Kalila penasaran.


"Menikahlah denganku dan temani aku hingga aku mati."


Kalila tersenyum lebar. Senyum penuh kepuasan yang tidak bisa dilihat Darian. Tangannya yang halus mengusap pipi Darian dan menangkap bibir pria itu dalam ciuman yang memabukkan. Beberapa menit mereka saling ******* hingga akhirnya keduanya terpisah karena kehabisan nafas.


"Apakah kamu mau melakukannya?" Ulang Darian lagi dengan nada lembut.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku akan menjadi isterimu dan menempel padamu hingga kamu mati, Ian." Bisik Kalila di telinga Darian.


Kalila tertawa kecil. Tawa penuh kemenangan yang salah diartikan Darian sebagai tawa kebahagiaan. Mendengar gelak bahagia itu membuat Darian juga ikut sumringah. Darian merasa bahagia tanpa tahu bahwa Kalila lah yang akan mencabut nyawa Darian dengan tangannya sendiri.


...****************...


Niko memeluk wanita yang berbaring di sebelahnya dengan erat. Ia menciumi aroma khas dari wanita kesayangannya itu. Rasanya baru beberapa hari yang lalu mereka saling bertemu dan memadu kasih, tapi rasa rindunya sangat besar. Karena itu mendengar sang wanita berkunjung di pagi hari, tanpa berpikir dua kali Niko langsung pulang dari rumah sakit dan menemuinya.


"Mmmm... Niko..." desah wanita itu saat Niko menciumi lehernya yang jenjang dengan lapar.


"Aku merindukanmu, Kalila. Kenapa beberapa hari ini kamu menghilang?" Bisik Niko manja.


Kalila membalikkan tubuhnya menghadap Niko. Bibirnya tersungging manis dalam senyuman yang indah.


"Aku punya kabar gembira untuk kita." Ucap Kalila dengan mata berbinar.


Niko menatap antusias ke arah Kalila. Menunggu kelanjutan kata-katanya.


"Apa?" Tanya Niko penasaran.


"Aku berhasil mendapatkan jabatan Direktur Utama Bara Kahuripan!" Seru Kalila bahagia.


Mata Niko juga ikut berbinar senang. Niko segera mendekap Kalila erat dan mencium kepalanya berkali-kali. Ikut menumpahkan rasa senangnya.


"Wah! Itu kabar baik, Kalila! Selamat untuk pencapaianmu!" Ucap Niko tulus.


"Tapi ada satu kabar buruk, Nik. Entahlah apakah ini buruk atau tidak." Sambung Kalila dengan wajah yang berubah serius.


Niko yang menyadari perubahan air wajah Kalila, langsung ikut bertanya-tanya. Apa kabar yang begitu buruk sehingga Kalila tampak begitu serius seperti ini.


"Kabar buruk apa?" Tanya Niko penasaran.

__ADS_1


Kalila menghela nafas pelan.


"Aku harus menikah dengan Darian."


__ADS_2