Wanita Buronan

Wanita Buronan
Napak Tilas


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Kalila mendengar suara ketukan di pintu apartemennya. Ia melirik ke arah jam dindingnya. Jam delapan pagi. Kalila bertanya-tanya siapa yang mengunjunginya sepagi ini.


"Siapa yang datang pagi-pagi begini?" Gumam Kalila.


Ia melirik melalui lubang intip di pintunya. Senyum Kalila sumringah melihat siapa yang ada di balik pintunya. Kalila segera membuka pintu dan menyambut tamunya dengan gembira.


"Hei, Niko!" Seru Kalila.


Kalila membuka lengannya dan segera mendekap Niko dalam pelukannya dengan erat. Pria itu balas memeluknya hangat.


"Hei, apa kabar, Kalila?" Tanya Niko ramah.


"Baik sekali. Apakah kamu sudah sarapan?" Ujar Kalila sembari berjalan meninggalkan Niko yang masuk dengan sendirinya.


"Belum. Apakah kamu membuat sesuatu? Aku lapar sekali." Balas Niko sembari duduk di mini bar yang ada di dapur Kalila.


"Hmmm, aku belum membuat apapun, Nik. Tapi karena kamu ada disini, akan kubuatkan sesuatu untuk sarapan kita. Tunggu sebentar ya." Kata Kalila sembari tersenyum.


Kalila mulai sibuk berkutat di dapur. Kakinya bergerak kular kilir sementara tangannya terus memotong dan mengaduk bahan baku masakannya. Niko memperhatikannya tanpa berkedip sedikit pun. Sungguh jika ia disuruh untuk seharian menatap gadis ini pun Niko tidak akan pernah bosan. Niko begitu mencintai Kalila hingga rasanya melihat Kalila saja sudah membuat hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan.


Ah, mungkinkah karena Niko juga sedang merindukan Kalila? Sudah seminggu lebih Niko tidak bertemu dengan Kalila karena Darian selalu mampir ke apartemen Kalila. Untungnya hari ini Darian harus keluar kota untuk beberapa hari dan Kalila sendirian. Jadi Niko memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Kalila dan menumpahkan rasa rindunya pada gadis ini.


Niko memperhatikan sosok Kalila yang sedang asyik memasak. Astaga, bahkan dari belakang pun Kalila tampak sangat indah. Bukan, maksud Niko bukanlah keindahan yang menjurus pada sesuatu yang mesum. Tapi perasaan yang kamu dapatkan ketika melihat sesuatu yang indah, seperti itulah yang Niko rasakan. Sejak dulu, memandang ke arah gadis ini selalu membuat Niko merasa bahagia dan damai. Bahkan sejak Kalila masih bernama Kinanti dan fisiknya belum diubah seperti ini.


Kalila menoleh ke arah Niko. Ia tertawa melihat Niko yang begitu fokus memperhatikannya.


"Kamu kenapa, Nik? Kelihatannya fokus sekali memperhatikanku?" Tanya Kalila sambil tertawa geli melihat Niko.


Niko mengerjapkan matanya beberapa kali dan tertawa cengengesan.


"Ah, tidak. Hanya saja aku sangat rindu padamu, Kalila." Ucap Niko.


Kalila tertawa mendengar jawaban Niko. Niko memang tidak pernah lagi menyembunyikan perasaannya kepada Kalila. Dan gadis itu tahu benar seberapa besar cinta Niko kepadanya. Hanya saja keduanya masih ada di titik yang sama. Enggan untuk maju lebih dekat. Niko masih menunggu Kalila sembuh dari luka masa lalunya. Sementara Kalila belum ingin memikirkan tentang cinta. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah membalaskan dendamnya. Dan sekarang disinilah mereka. Terjebak dalam hubungan tidak bernama yang tak jelas akan berakhir kemana.


Kalila menyelesaikan masakannya. Ia lalu membagi masakannya ke dua piring dan membawanya ke mini barnya. Niko sudah menunggunya dengan senang hati disana. Kalila menyodorkan piring milik Niko agar Niko bisa menyantap bagiannya.


"Kwetiau? Wah, Kalila, apakah kamu tahu kalau aku sangat suka makanan ini?" Ujar Niko bersemangat.


Kalila mengangguk sambil menyendokkan satu suapan ke mulutnya.

__ADS_1


"Aku tahu, Nik. Makanya aku membuat ini. Agar kamu makan dengan baik. Kamu tampak kurus sekali padahal kita baru seminggu tidak bertemu." Kata Kalila sambil menggerutu.


Niko tertawa mendengar jawaban gadis itu. Sungguh, bagaimana Niko bisa mencintai gadis lain jika gadis di hadapannya ini begitu sempurna? Awalnya Niko memang terpikat karena kecantikan paras, namun yang membuat rasa cinta Niko terus bertahan hingga sekarang adalah karena rasa nyaman dan damai yang diberikan Kalila kepadanya.


Kalila selalu baik kepadanya. Dia sangat perhatian dan selalu mengurus Niko dengan sepenuh hatinya. Mungkin ini semua hanyalah khayalan Niko, tapi Niko merasa Kalila mengurusinya seperti seorang istri yang sangat berbakti pada suaminya. Sebagaimana dulu Niko melihat mendiang ibunya mengurusi ayahnya. Seperti itulah Niko melihat aksi dan perhatian Kalila kepadanya.


"Kamu makan yang banyak ya, Nik. Kamu harus kembali berisi seperti dulu biar ayahmu percaya aku bisa mengurusmu dengan baik." Canda Kalila sembari mengambil dua buah gelas di lemarinya.


"Ah, Kalila. Sungguh, kalau ayah melihat bagaimana kamu mengurusku, ia akan langsung memintamu menjadi menantunya." Balas Niko tertawa.


Kalila juga tertawa. Niko bagaikan matahari baginya. Menyinarinya di saat Kalila terpuruk dalam kegelapan. Dan sekarang selalu menghangatkan hati Kalila dengan senyumnya yang indah.


"Oh iya, Nik. Apakah hari ini kamu sibuk?" Tanya Kalila.


"Hmmmm, tidak. Aku hari ini punya waktu luang yang banyak. Ada apa? Kamu ingin kutemani melakukan sesuatu?" Ujar Niko.


Kalila mengangguk dan duduk di hadapan Niko lagi.


"Apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Nilo penasaran.


Kalila menatap Niko lurus dan menjawab pertanyaannya.


"Aku mau napak tilas. Mengunjungi mereka yang dulu ada di masa laluku."


...****************...


"Kita mau kemana, Kalila?" Tanya Niko penasaran.


"Ke tempat mertuaku, Nik." Jawab Kalila.


Setelah berjalan beberapa menit, Kalila dan Niko tiba di blok pemakaman dengan nama "Wijaya" di gerbangnya. Tempat ini adalah blok pemakaman yang hanya diisi oleh para mendiang yang berasal dari kelusrga "Wijaya".


"Halo, Pa, Ma. Kinanti datang buat jenguk Papa Mama." Ucap Kalila sambil duduk di pinggir sebuah makam.


Niko melihat ke arah nisan itu. Salah satu nisan bertulisan Bambang Sudiro Wijaya sementara yang lain terukir nama Ningsih Adhiguna. Niko melihat lagi ke arah tanggal wafat kedua orang itu yang meninggal pada hari yang sama. Tanpa perlu penjelasan pun Niko bisa tahu kalau kedua makam ini adalah makam mertua Kalila. Orangtua Darian yang tewas di tangan anaknya sendiri.


"Papa dan Mama disana baik-baik saja kan? Kinanti rindu sekali sama kalian. Sekarang Kinanti sudah tidak punya siapa-siapa. Anak Kinanti juga sudah tidak ada. Mungkin kalau Papa dan Mama masih ada, Kinanti tidak akan merasa sehancur ini. Karena Papa dan Mama selalu menghibur dan membuat Kinanti merasa kuat, kan?" Ucap Kalila lagi sembari mengelus batu nisan itu.


Kalila melepas kacamata hitam yang ia pakai. Ia lalu menyeka air matanya yang meleleh karena menangis dengan selembar tisu. Niko memperhatikannya dalam diam. Sungguh remuk hatinya melihat gadis ini menangis di hadapannya. Niko merasa pilu mendengarkan kata-kata Kalila barusan. Betapa sebenarnya Kalila merasa kesepian dan sedih meskipun ia tampak selalu bahagia di hadapan Niko.


"Maafkan Kinanti ya, Papa, Mama. Mungkin Papa dan Mama akan marah kepada Kinanti karena ini, tapi Kinanti benar-benar harus melakukannya. Kinanti harus membalaskan dendam Papa dan Mama ke anak kesayangan kalian sendiri, Darian. Mungkin Kinanti tidak tahu malu, tapi Kinanti minta agar Papa dan Mama merestui keputusan Kinanti ya?" Tutur Kinanti lagi.

__ADS_1


Niko meraih sebelah tangan Kalila dan menggenggamnya erat. Jempolnya mengelus-elus punggung tangan Kalila pelan. Berharap sentuhan itu dapat mengurangi rasa sakit yang dialami Kalila.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Niko pelan.


Kalila mengangguk. Ia menyeka air matanya dan kembali memakai kacamata hitamnya.


"Seseorang yang akan melakukan balas dendam harus selalu kuat, Nik."


...****************...


"Kamu suka makanannya?" Tanya Niko pada Kalila yang sedang menyuap makanannya.


Kalila dan Niko sedang berada di sebuah restoran kecil di dekat kompleks pemakaman mertua Kalila. Setelah mengunjungi makam tadi, Niko mengajak Kalila untuk mengisi perut mereka. Dan setidaknya mengobrol lebih banyak dengan Kalila agar kesedihannya sedikit berkurang.


Kalila mengangguk.


"Iya, aku suka. Rasanya enak, Niko." Jawab Kalila sambil tersenyum.


Niko juga ikut tersenyum melihat wanita di hadapannya itu tampak baik-baik saja.


"Hatimu sudah lebih baik?" Tanya Niko peduli.


"Iya, Nik. Kamu tidak perlu khawatir denganku. Sungguh, aku tidak selemah yang kamu kira." Jawab Kalila menenangkan Niko.


"Aku tahu, Kalila. Tapi tetap saja. Kamu tahu kan bagaimana perasaanku kepadamu. Aku tidak bisa melihatmu sedih apalagi terluka." Balas Niko sambil menatap Kalila dalam.


Kalila terdiam. Sejenak ia hanyut dalam dua mata kecokelatan yang tampak sangat tenang itu. Jantungnya berdebar kencang hingga Kalila berpikir mungkin ia sudah mulai menyukai Niko.


Lalu suara dari televisi memutuskan mereka dari tatapan intens itu. Kalila dan Niko menoleh berbarengan ke arah televisi yang ada di restoran itu. Acara berita dimana pembawa acaranya melaporkan tentang seorang buronan yang kabur.


Tahanan Kinanti Anindira, yang beberapa bulan lalu dilaporkan meninggal dunia, kini jasadnya hilang tanpa bekas.


Polisi masih menyelidiki keterlibatan berbagai pihak dalam kasus ini.


Terdapat kecurigaan akan adanya sindikat pemalsuan kematian untuk membantu tahanan kabur. Hingga kini, kasus ini masih menjadi tanda tanya dan dalam penyelidikan intensif!


Kalila dan Niko saling bertatapan lagi mendengar berita itu.


"Apakah aku akan baik-baik saja, Nik?" Tanya Kalila pelan.


Niko mengambil tangan Kalila dan menggenggamnya. Ia lalu mencium tangan itu dengan lembut. Matanya menatap Kalila dengan serius.

__ADS_1


"Tenang saja, Kalila. Kamu akan baik-baik saja. Aku akan selalu melindungimu dari apapun."


__ADS_2