Wanita Buronan

Wanita Buronan
Hari Eksekusi


__ADS_3

Selama beberapa bulan terakhir semenjak hamil, Kinanti lebih banyak menghabiskan waktu di rumah kedua mertuanya. Bukan apa, Kinanti hanya khawatir dengan keselamatannya dan kandungannya. Bagaimana jika ia sendirian di rumah sebesar itu dan sialnya Kinanti terjatuh di kamar mandi tanpa ada yang menolong?


Lagipula semenjak Kinanti hamil, Darian sama sekali tidak pernah pulang ke rumah. Dalam empat bulan terakhir, mungkin hanya lima kali Kinanti bertemu dengan ayah dari anak yang ada di perutnya itu. Dan itu semua saat pagi hari dimana Darian sudah terburu-buru untuk pergi lagi ke kantor. Kinanti hanya akan bertemu muka dengan Darian selama kurang dari sepuluh menit dan Darian akan pergi lagi ke kantornya. Bahkan terkadang Kinanti lupa kalau ia masih punya suami dan anaknya ini masih mempunyai ayah.


"Apa dosaku punya suami seperti itu?" Gumam Kinanti lelah melihat tingkah Darian.


Dosa? Mungkin memang Kinanti berdosa karena telah menggadaikan dirinya sendiri demi hidup enak dan bergelimang harta. Tapi hingga saat ini, bahkan Kinanti pun bingung. Sebesar itukah kesalahannya sehingga suaminya melihatnya sebagai seseorang yang begitu rendah? Apakah menjadi selingkuhan seperti Hanna jauh lebih baik dibandingkan menikahi pria yang tidak mencintainya?


"Ah sudahlah, tidak akan ada habisnya jika aku terus memikirkan Darian. Lagipula untuk apa memikirkan orang yang tidak pernah memikirkan kita. Benar kan, Nak?" Ucap Kinanti seraya berbicara pada calon anaknya.


Kinanti berjalan menuruni tangga rumahnya dengan perlahan. Usia kandungannya baru menginjak bulan kelima tapi perutnya sudah begitu besar. Banyak yang mengira Kinanti sedang hamil anak kembar dan tentu saja kedua mertuanya mengamini ucapan tersebut dengan sepenuh hati. Tapi menurut Kinanti, mungkin ini hanya karena ia yang bertambah gemuk selama hamil. Maklum, nafsu makan Kinanti meningkat hingga tiga kali lipat semenjak si jabang bayi hidup di dalam tubuhnya.


Hari ini Kinanti sudah berjanji akan memeriksakan kandungannya bersama kedua mertuanya. Kebetulan hari ini keduanya memiliki waktu luang seharian sehingga mereka menawarkan diri untuk mengantar Kinanti. Kinanti dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Selama ini Kinanti sudah menganggap kedua mertuanya seperti orangtuanya sendiri. Dan tidak ada yang lebih baik selain pergi ke dokter kandungan bersama orangtua sendiri, bukan?


"Halo, Ma? Mama sudah berangkat dari rumah?" Tanya Kinanti menelepon ibu mertuanya.


"Belum, Ti. Maaf sekali ya, sepertinya Mama akan telat dan menyusul kamu di rumah sakit saja. Papamu mendadak harus rapat dulu di kantor dan Papamu minta Mama menunggunya. Tidak apa-apa kan, Ti?" Ucap ibu mertuanya merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Mama. Santai saja. Kalau begitu Kinanti pergi ke dokternya sendirian saja ya? Tidak apa-apa kan, Ma?" Kinanti meminta izin kepada ibu mertuanya.


"Tidak apa-apa, Ti. Malah seharusnya Mama yang merasa tidak enak karena sudah terlanjur berjanji denganmu. Bagaimana kalau nanti kita bertemu di restoran langganan kita untuk makan siang bersama saja?" Tawar Mama Darian memberikan pilihan yang lain.


"Iya, Ma. Kinanti mau kok. Kalau begitu Kinanti pamit tutup teleponnya ya, Ma. Kinanti harus berangkat ke rumah sakit sekarang." Ujar Kinanti seraya menutup teleponnya setelah ibu mertuanya membalas salamnya.


Walaupun sebenarnya Kinanti merasa sedikit kecewa, tapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa Kinanti lakukan untuk memaksakan keadaan. Kinanti tidak mau menjadi menantu menyebalkan yang terlalu menuntut. Lagipula selama ini memang Kinanti selalu sendiri kan?


...****************...


Kinanti sudah menyelesaikan pemeriksaannya di dokter kandungan. Syukurlah kandungannya dalam keadaan yang sehat dan kuat. Kinanti sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua mertuanya. Ada kabar bahagia yang harus ia sampaikan kepada calon kakek dan nenek itu.


Saat pemeriksaan tadi, hasil USG menunjukkan bahwa Kinanti benar-benar sedang hamil anak kembar. Tepat seperti perkiraan orang-orang. Walaupun sebenarnya Kinanti sangat kaget karena kehamilan pertamanya langsung membuahkan anak kembar, tapi informasi ini adalah kabar yang sangat membahagiakan. Khususnya bagi kedua mertuanya yang sudah lama menantikan seorang cucu. Sebentar lagi mereka tidak hanya akan mendapatkan satu tetapi dua cucu sekaligus!

__ADS_1


Kinanti membuka riwayat panggilan di ponselnya dan mencoba kembali menghubungi ibu mertuanya. Tapi yang menjawab panggilan tersebut hanyalah nada tunggu dan berakhir pada suara operator yang menyatakan bahwa nomor yang ia hubungi sedang tidak aktif.


"Aneh, tidak biasanya nomor ponsel Mama tidak aktif. Biasanya Mama selalu cepat mengangkat telepon." Gumam Kinanti bingung.


Ia mencoba meneleponnya lagi. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga lima kali. Namun hasilnya tetap sama. Kinanti berpikir mungkin ponsel ibu mertuanya memang mati dan sedang berada dalam perjalanan. Tidak ada sedikit pun pikiran aneh terlintas di kepala Kinanti. Karena itu ia memutuskan untuk menunggu dengan sabar hingga mertuanya datang menjemputnya.


Dua jam berlalu tanpa ada kabar dari kedua mertuanya. Semakin waktu bergulir, semakin tidak tenang pula perasaan Kinanti. Ia bertanya-tanya apa yang terjadi pada kedua mertuanya hingga menghilang tanpa ada kabar seperti ini. Barulah Kinanti akan menelepon ibu mertuanya sekali lagi, sebuah panggilan masuk ke teleponnya.


"Papa? Tumben..." gumam Kinanti saat melihat nama ayah mertuanya yang melakukan panggilan.


Kinanti menjawab panggilan itu. Namun anehnya bukan suara Papa Darian yang ada di seberang telepon. Kinanti pun tidak mengenal siapa pria yang meneleponnya dari ponsel ayah mertuanya.


"Halo, Mbak. Apakah benar Mbak adalah putri dari pemilik handphone ini?"


"Ah, iya benar, Pak. Ada apa ya, Pak? Kenapa handphone Papa saya bisa ada di Bapak?" Tanya Kinanti heran.


"Pemilik handphone ini dan istrinya mengalami kecelakaan, Mbak. Sekarang keduanya dibawa ke rumah sakit Yayasan Keluarga. Apakah Mbak bisa datang kesini secepatnya, Mbak?"


Jemari Kinanti langsung dengan sigap memesan taksi online untuk mengantarkannya ke rumah sakit tempat kedua mertuanya dirawat. Tak perlu waktu lama, sebuah mobil SUV berwarna hitam datang dan menjemputnya. Dalam waktu 10 menit Kinanti sudah tiba di rumah sakit yang dimaksud oleh penelepon itu.


Kinanti kembali menelepon nomor ayah mertuanya agar dapat berbicara lagi dengan pria itu. Matanya celingukan ke kanan dan ke kiri mencari sosok si penelepon.


"Halo, Pak? Saya sudah berada di rumah sakitnya, sekarang posisi Bapak ada dimana?" Tanya Kinanti pada pria yang memegang ponsel ayah mertuanya.


"Halo, Mbak? Saya sekarang ada di depan ruang operasi, Mbak. Saya tunggu ya Mbak." Jawab pria itu.


Dengan cepat Kinanti memacu langkahnya menuju ruang operasi. Pikirannya semakin kalut. Bagaimana kondisi kedua mertuanya hingga mereka sampai harus dioperasi secara darurat? Akhirnya Kinanti bertemu dengan pria penelepon tersebut. Seorang pria berusia lima puluh tahunan yang raut wajahnya juga tampak khawatir.


"Mbak Kinanti?" Ujar Bapak tersebut sambil berlari kecil menghampiri Kinanti. Wajahnya kaget melihat Kinanti yang tengah hamil besar dan tampak sulit membawa dirinya sendiri.


Kinanti terengah-engah dan menjawab pertanyaan tersebut dengan anggukan singkat.

__ADS_1


"Papa dan Mama saya ada dimana sekarang, Pak?" Tanya Kinanti panik.


"Kedua orangtua Mbak sekarang sedang dioperasi. Keadaannya kritis sekali karena kecelakaannya sangat parah, Mbak." Jawab Bapak tersebut.


"Maksud Bapak? Kecelakaan parah bagaimana Pak?" Kata Kinanti karena ia tidak mempercayai apa yang didengarnya.


"Saya kurang tahu persisnya bagaimana karena saya hanya saksi mata, Mbak. Tapi yang saya lihat mobil orangtua Mbak tiba-tiba menabrak pagar pembatas jalan dan langsung terbalik, Mbak." Jelas Bapak itu dengan hati-hati.


Berbagai pertanyaan menyergap Kinanti. Bagaimana bisa ini semua terjadi? Bagaimana bisa mobil mertuanya menabrak pagar pembatas jalan dan terbalik? Kinanti yakin ayah mertuanya tidak mungkin mengendarai mobil dengan sembrono. Tidak mungkin pula mobil tersebut mengalami malfungsi karena setiap mobil yang ada di rumah mertuanya selalu dirawat dengan baik. Sungguh kecelakaan ini meninggalkan tanda tanya besar di kepala Kinanti. Namun bagi Kinanti sekarang yang terpenting adalah keselamatan kedua mertuanya.


...****************...


Operasi Mama dan Papa Darian berlangsung sangat lama. Sudah lima jam Kinanti duduk di luar ruang operasi menunggu dokter membawa kabar baik. Tangannya terus mengusap-usap perutnya yang membulat seolah mengajak bayi kembarnya untuk berdoa. Namun sosok yang ditunggu tidak kunjung muncul. Pria tua yang menemani Kinanti tadi bahkan sudah pamit untuk pulang duluan karena tidak bisa berlama-lama.


Sementara Darian, suami brengseknya, malah hilang entah kemana. Berkali-kali Kinanti mencoba meneleponnya, namun ponselnya tidak aktif.


"Kamu dimana, Mas? Sekarang Mama dan Papa sangat membutuhkanmu. Aku mohon angkat teleponnya." Gumam Kinanti sembari berkali-kali mencoba menghubungi Darian.


Entah apa yang dilakukan Darian saat ini. Mungkin ia sedang sibuk di kantornya. Atau bahkan sekarang Darian mungkin tengah makan malam bersama kekasihnya Hanna. Yang jelas Kinanti sama sekali tidak tahu dimana keberadaan pria itu. Jangankan mengangkat telepon, membalas dengan sebuah pesan singkat pun tidak dilakukan Darian. Kinanti benar-benar sendirian. Tenggelam dalam rasa kalut dan panik.


Setelah sepuluh jam berlalu, akhirnya lampu penanda operasi dimatikan. Kinanti langsung menoleh ke arah pintu ruang operasi. Menunggu sesosok dokter ataupun suster yang bisa memberi tahunya bagaimana keadaan kedua orangtuanya.


Tak lama seorang pria yang tampaknya masih berusia empat puluhan keluar dari ruangan tersebut bersama seorang wanita. Kinanti menangkap sesuatu yang tidak enak dari raut wajah mereka. Entah kenapa kekhawatiran Kinanti tiba-tiba menyeruak.


"Bagaimana kondisi orangtua saya, Dok?" Tanya Kinanti kepada dokter tersebut.


Tapi pria itu hanya tertunduk. Apa ini? Tidak ada apa-apa kan? Semestinya mereka tidak perlu memasang raut menyesal jika memang kedua orangtuanya selamat kan?


"Bagaimana, Dok?" Tanya Kinanti sekali lagi.


Pria yang dipanggil dokter itu menghela nafas berat. Pelan-pelan ia mengucapkan kata-kata yang berubah bagaikan tamparan keras pada Kinanti.

__ADS_1


"Mohon maaf, Bu. Tapi kami gagal menyelamatkan kedua orangtua Ibu."


__ADS_2