Wanita Buronan

Wanita Buronan
Gawat!


__ADS_3

Darian baru saja selesai dari rapatnya ketika ia membaca pesan dari Kalila. Isinya mengatakan bahwa Kalila menerima paket berupa kue yang katanya berasal dari Darian. Aneh? Darian tidak merasa mengirimkan apapun untuk Kalila.


Ian, terimakasih untuk kuenya ya. Aku tersentuh sekali melihat ini. Tapi aku masih merajuk karena kamu meninggalkan aku sendirian, loh!


Awalnya Darian tertawa membaca pesan itu. Namun sepersekian detik kemudian ia tersadar bahwa ia bahkan belum memesankan apapun untuk Kalila.


"Siapa yang mengirim kue ke Kalila?" Gumam Darian penasaran.


Untuk menjawab rasa penasarannya, Darian pun mencoba menghubungi ponsel Kalila. Namun berkali-kali ia mencoba, hasilnya pun tetap nihil. Setelah nada tunggu yang cukup lama, hanya suara operator yang terdengar. Yang mengatakan bahwa nomor Kalila sedang tidak dapat dihubungi.


Sontak kepanikan Darian pecah. Ia khawatir sesuatu terjadi dengan Kalila. Dengan segera ia memacu mobilnya menuju apartemen Kalila tepat setelah rapatnya selesai. Untunglah Darian cukup piawai dalam mengendarai mobil sportnya sehingga ia bisa tiba di apartemen Kalila hanya dalam waktu 10 menit.


Begitu kereta besi itu sampai di apartemen Kalila, Darian langsung bergegas berlari menuju apartemen kekasihnya. Pikirannya sudah tidak karuan lagi karena Kalila yang sedari tadi tidak menjawab teleponnya. Darian segera memasukkan kode akses dan membuka Kalila. Dan disanalah ia menemukan sosok Kalila. Tergeletak tak sadarkan diri di apartemennya.


"KALILA!!!" Seru Darian berlari menghampiri Kalila.


Ia segera mengangkah tubuh wanita itu. Mengguncangkan tubuhnya pelan agar ia tersadar.


"Kalila! Bangun, Sayang! Apa yang terjadi padamu?!" Seru Darian.


Namun Kalila tetap tidak menjawab. Ia pingsan dan kini harus mendapatkan pertolongan medis secepatnya. Darian langsung menggendong Kalila dalam sekali gerakan. Ia berlari dengan cepat menuruni lift dan membawa Kalila pergi ke rumah sakit dalam hitungan menit.


"Dokter, tolong kekasih saya! Sepertinya dia mengalami keracunan makanan, Dok!" Seru Darian ketika ia sampai di instalasi gawat darurat rumah sakit.


Dengan cekatan Kalila mendapatkan penanganan terbaik. Darian tidak ingin ada kesalahan apapun pada penanganan medis Kalila. Ia meminta Kalila diberikan pelayanan dan perawatan terbaik. Rasanya Darian tidak akan pernah memaafkan dirinya apabila terjadi sesuatu pada wanita ini.


...****************...


Kalila terbangun dari tidurnya. Kepalanya pusing dan tubuhnya terasa tidak enak. Ia bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi padanya? Seingat Kalila ia masih ada di apartemennya dan ia jatuh pingsan setelah muntah begitu banyak di kamar mandi. Kalila menyadari ada seseorang yang tidur disisinya. Ia melihat kepada sosok itu dan melihat Darian yang ada disana. Pria itu tertidur sembari memegangi tangan Kalila. Bahkan Darian belum berganti pakaian dan masih mengenakan pakaian kerjanya.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" Tanya Darian saat ia terbangun dan melihat Kalila yang memperhatikannya.


Kalila mengangguk pelan. Darian beranjak dari tidurnya dan segera menyibakkan beberapa helai rambut di kening Kalila.


"Apa yang terjadi, Ian?" Tanya Kalila bingung.


"Aku menemukanmu pingsan di apartemen, Sayang. Dokter bilang kamu keracunan makanan." Ujar Darian sembari menggenggam tangan Kalila dan menempelkannya di pipi Darian.


Kalila tampak kaget.


"Tapi, bagaimana bisa? Aku tidak memakan sesuatu yang berbahaya, Ian. Yang kumakan hanyalah kue kirimanmu." Tanya Kalila heran.


Darian menatap Kalila lembut.

__ADS_1


"Kue itu penyebabnya, Sayang. Dokter bilang dari sample di perutmu ditemukan arsenik pada kue itu." Jawab Darian.


Kalila makin mendelik tidak percaya.


"Tapi bukankah kue itu darimu, Ian? Bagaimana mungkin ada racun di dalamnya?" Ujar Kalila lagi makin tidak mengerti.


Darian menggeleng pelan.


"Bukan, Kalila Sayang. Bukan aku yang mengirimkan kue itu." Balas Darian pelan.


Kalila makin tampak bingung dan kaget. Kalau bukan Darian, maka siapa yang akan melakukannya? Siapa yang tega meracuni Kalila?


"Kalau bukan kamu, lantas siapa, Ian? Siapa yang mau meracuniku? Aku takut, Ian." Ucap Kalila lirih. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya dan tubuhnya bergetar.


Darian beranjak dari duduknya dan segera merengkuh Kalila dalam pelukannya. Ia mengelus kepala kekasihnya dengan lembut. Berusaha menenangkannya.


"Jangan khawatir, Kalila. Biarkan aku yang mengurusnya, ya." Bisik Darian pelan. Sekarang tubuhnya menempel begitu erat dengan Kalila sehingga ia bisa merasakan jantung Kalila yang berdebar cepat. Darian merasakan rasa takut yang menjalari tubuh Kalila. Dan Darian tidak mau Kalila terus menerus merasa tidak aman seperti ini.


Kalila menatap Darian seolah tidak percaya dengan perkataannya.


"Maksudmu kamu tahu siapa yang melakukan ini kepadaku, Ian?" Tanya Kalila dengan mata terbelalak kaget.


Darian mengangguk.


Darian mengecup bibir Kalila pelan. Ia lalu menatap kekasihnya dengan dalam.


"Kamu tidak perlu tahu itu semua, Sayang. Sekarang yang terpenting adalah kamu harus fokus pada kesembuhanmu, ya. Jangan memikirkan yang lain karena aku akan mengurus semuanya untukmu, Kalila Sayang." Ujar Darian penuh kasih sayang.


Kalila menatap Darian yang tampak sungguh-sungguh. Jauh di dalam hatinya, Kalila merasa sangat miris dengan semua ini. Ia melihat perhatian dan pengorbanan yang begitu besar yang dilakukan Darian demi Kalila. Sesuatu yang bahkan mungkin tidak akan pernah diimpikan oleh seorang Kinanti. Kalila bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, mungkinkah seperti ini yang dirasakan oleh Hanna dulu? Dimanja dan disayangi dengan segenap hati Darian hingga memberikan seluruh isi dunia pun ia sanggup melakukannya.


Inikah yang membuatmu bertahan, Hanna?


...****************...


Kalila memain-mainkan ponselnya dengan bosan. Ia sendirian di rumah sakit karena Darian harus pergi ke kantor. Darian memang sangat-sangat sibuk akhir-akhir ini sehingga Kalila seringkali ditinggal sendirian di rumah sakit. Sebenarnya bagi Kalila, hal itu bukan sebuah masalah. Karena Kalila pun masih memiliki dendam kesumat yang sebenarnya membuat hati kecilnya kembali terbakar amarah jika melihat Darian. Tapi tetap saja! Ia merasa bosan terkurung dalam bangsal VVIP rumah sakit ini.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan di pintu kamar Kalila.


"Iya, masuk!" Seru Kalila mempersilahkan siapapun itu.


Sosok itu membuka pintu dan melangkah masuk ke kamar Kalila.

__ADS_1


"Niko!" Seru Kalila bahagia.


Niko tersenyum dan berjalan menghampiri Kalila. Tangannya tampak membawa tas kertas yang entah isinya apa.


"Niko! Aku rindu padamu!" Ucap Kalila dengan nada bercanda.


Niko memeluk Kalila erat. Yang dibalas juga oleh gadis itu. Niko merasa bersalah baru bisa mengunjungi Kalila di hari ketiganya dirawat. Namun Niko bisa apa? Selama tiga hari nonstop Darian terus berada disini. Seolah Darian juga ikut tinggal di dalam kamar ini bersama Kalila. Dan jika Niko datang, sudah pasti Darian akan curiga kepadanya. Niko tidak mau membahayakan hidup Kalila lagi.


"Aku juga merindukanmu, Kalila." Jawab Niko.


Niko lalu duduk di sisi ranjang Kalila.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Kalila? Dokter bilang kamu mengalami keracunan makanan." Tanya Niko penasaran.


Kalila menyandarkan punggungnya di kepala ranjangnya.


"Iya, dokter menemukan kue yang sudah dicampur arsenik di sampel isi perutku, Nik." Jelas Kalila.


Niko terhenyak. Arsenik? Kejam sekali siapapun yang melakukan itu. Dan Niko tahu siapa yang bisa cukup kejam untuk berbuat sejauh itu.


"Aku sudah berkali-kali bilang kepadamu kan, Kalila. Dengan mendekati Darian, Hanna tidak akan diam saja dan hidupmu pasti akan dalam bahaya. Lihatlah akibatnya!" Seru Niko khawatir.


Kalila menatap Niko penuh makna. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang maknanya sulit diterjemahkan.


"Kenapa kamu tersenyum?" Tanya Niko heran.


"Aku sudah tahu semuanya, Nik. Aku tahu kalau kue itu dari Hanna dan pasti di dalamnya ada sesuatu yang akan mencelakaiku." Jawab Kalila tenang.


Niko terbelalak kaget. Kalila benar-benar sudah gila. Kenapa ia bisa senekad ini dan tetap memakan kue itu?


"Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu tetap memakan kue itu, Kalila?" Ujar Niko makin tidak mengerti.


Kalila tertawa.


"Itu semua rencanaku, Nik." Kata Kalila pelan.


"Rencana? Rencana apa?" Ucap Niko lagi.


Kalila menatap Niko serius. Niko sedikit merinding melihat sorot mata Kalila yang berubah menjadi kejam. Sorot mata itu sedikit tampak seperti Hanna dalam beberapa detik barusan dan kembali lagi seperti semula.


Senyum di bibir Kalila makin lebar seolah ia sudah bisa mengecap manisnya kemenangan.


"Rencana untuk mengamankan posisiku di hidup Darian."

__ADS_1


__ADS_2