
Darian dengan bahagia menunggu di meja makan sementara Kalila menyelesaikan masakannya di dapur. Seperti anak kecil yang antusias menunggu ibunya membuatkan makanan favoritnya. Tak lama kemudian, Hanna ikut keluar dari kamarnya dan duduk di meja makan bersama Darian.
Berbeda dengan biasanya, hari ini wajah Hanna tampak sumringah. Seolah ada hal baik yang baru saja terjadi padanya.
"Tumben sekali hari ini kamu terlihat ceria? Apakah ada kabar baik? Tanya Darian bingung.
Hanna hanya menggeleng dan tersenyum. Mulutnya tak berhenti bersenandung kecil sembari membaca majalahnya. Beberapa saat berselang, Kalila pun selesai membuat sarapan untuk mereka bertiga. Senyumnya sumringah membawa beberapa makanan.
"Kamu sudah selesai memasak, Sayang?"
Kalila mengangguk dan mendaratkan ciuman singkat di bibir Darian.
"Iya, kamu mau sarapan sekarang?" Tanya Kalila.
Darian mengangguk. Namun Hanna tercekat melihat sebuah piring yang berisi beberapa potong ayam katsu. Hanna teringat dengan racun yang ia campurkan ke dalam ayam marinasi milik Kalila tadi subuh.
"Itu, apa yang kamu masak?" Tanya Hanna menunjuk piring berisi ayam katsu di atas meja.
"Ini ayam katsu, Mbak. Aku memasaknya khusus untuk Darian karena ini kesukaannya. Tapi kamu boleh memakannya juga, Mbak. Apakah kamu mau?" Tawar Kalila kepada Hanna.
Hanna menggeleng enggan dan menolaknya. Raut wajahnya berubah menjadi panik melihat Kalila yang menyendokkan ayam-ayam tersebut ke piring Darian.
"Apakah kamu tidak ikut memakan ayam itu?" Ucap Hanna bingung.
Kalila menggeleng sambil tersenyum.
"Tidak, Mbak. Aku tidak pernah sarapan terlalu banyak saat pagi. Jadi ini untuk Darian saja." Jawab Kalila.
Air muka Hanna makin tidak karuan. Ia benar-benar dalam masalah besar. Hanna tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepadanya jika Darian benar-benar tumbang karena ulahnya.
"Kenapa wajahmu terlihat muram seperti itu? Seingatku beberapa detik lalu suasana hatimu terlihat baik." Tanya Darian memperhatikan perubahan ekspresi Hanna.
Hanna menggeleng dan tersenyum tidak enak.
"Bukan apa-apa, Darian. Abaikan saja suasana hatiku."
Darian hanya mengangkat bahunya dan kembali memakan sarapannya. Sementara Hanna, wajahnya terlihat semakin pucat setiap kali Darian menyendokkan makanannya ke mulut. Keringat dingin mengucur di keningnya. Hanna sadar kalau ia benar-benar sudah tamat.
"Sayang, aku berangkat ke kantor dulu ya." Pamit Darian kepada Kalila saat ia menyelesaikan sarapannya.
Kalila memeluk kekasihnya erat.
__ADS_1
"Selamat bekerja, Ian. Nanti siang aku akan ke kantormu lagi untuk membawakan makan siang seperti biasa." Tutur Kalila dengan nada ceria.
Darian mengecup puncak kepala Kalila.
"Kalau begitu aku akan menunggumu, Sayang." Balas Darian.
Darian lalu melepaskan pelukannya dan berjalan keluar rumahnya. Namun belumlah lima langkah ia berjalan, tubuhnya ambruk secara tiba-tiba. Darian terjatuh ke lantai dan mengerang kesakitan sembari memegangi perutnya.
"Arghhh!" Seru Darian keras.
Kalila terbelalak. Dengan panik ia langsung menghambur ke arah Darian.
"Sayang, ada apa? Apa yang terjadi padamu, Ian?" Tanya Kalila cemas.
Darian meringis nyeri. Perutnya terasa seperti ditusuk sejuta jarum dan ia tidak tahu mengapa.
"Aku juga tidak tahu. Perutku rasanya sakit sekali. Apakah kamu bisa membawaku ke rumah sakit, Sayang?" Pinta Darian lemah.
Kalila mengangguk. Ia lalu berusaha memapah Darian namun gagal. Tubuh Kalila hanya setengah dari tubuh kekasihnya. Sangat tidak mungkin wanita mungil itu bisa menggendong Darian sendirian. Hanna berlari menghampiri mereka berdua dengan wajah yang tidak kalah khawatir.
"Darian, apa yang terjadi padamu? Sini biar aku membantumu!" Ujar Hanna menawarkan.
Namun Darian malah menepiskan tangan Hanna. Wanita itu tampak terperanjat dengan reaksi Darian.
Hanna hanya bisa menatap keduanya pergi menjauh dan masuk ke dalam mobil Darian. Mobil itu lalu melaju dengan dikendarai oleh supir pribadi Darian. Menuju rumah sakit dan meninggalkan Hanna yang terbakar amarah. Dengan kesal Hanna mengumpat sembari menendang guci yang ada di dekatnya hingga pecah.
"Argh! Sialan! Kenapa racunku malah mengenai Darian! Sialan! Wanita ****** itu selalu saja beruntung!"
...****************...
Darian membuka matanya perlahan dan melihat botol infus yang tergantung di sisinya. Tetes demi tetes mengalir perlahan seiring dengan rasa pegal yang mengalir di tangannya. Darian melihat ke arah sekelilingnya dan yang ia temui hanyalah ruangan berwarna putih dengan bau desinfektan yang kuat. Matanya lalu mencari sosok kekasihnya, Kalila. Ia ingat benar bahwa yang mengantarnya kesini adalah Kalila.
"Kalila? Sayang?" Panggil Darian lemah.
Namun Darian tidak menemukan Kalila dimanapun. Tak lama kemudian, Kalila tampak keluar dari kamar mandi. Wajahnya langsung sumringah ketika ia melihat Darian yang sudah terbangun dari tidurnya.
"Ian? Kamu sudah bangun, Sayang?" Ujar Kalila bahagia.
Darian mengangguk lemah. Kalila lalu duduk di sisi ranjang Darian. Tangannya menyentuh kening Darian seolah ingin mengecek suhunya.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya Kalila khawatir.
__ADS_1
Darian tertawa kecil.
"Sepertinya jantungku berdebar-debar, Sayang." Jawab Darian serius.
Raut wajah Kalila berubah menjadi panik. Ia menempelkan telinganya di dada Darian.
"Tapi sepertinya tidak ada yang aneh?" Imbuh Kalila bingung.
"Coba dengarkan sekali lagi, Sayang. Aku yakin jantungku terasa berdebar begitu cepat." Balas Darian sambil tersenyum.
Kalila lalu menoleh ke arah Darian yang memperhatikannya dengan geli.
"Kamu berbohong kepadaku, Ian. Kamu mengerjaiku ya?" Tuduh Kalila sambil pura-pura mengambek.
Darian tertawa lagi dan memeluk Kalila dengan erat.
"Tidak, aku tidak berbohong. Jantungku rasanya sangat deg-degan tapi itu karenamu, Kalilaku Sayang." Ujar Darian sembari mengelus wajah Kalila.
Kalila meninju tangan Darian pelan sambil mengerucutkan bibirnya. Ia merasa kesal karena baru saja dikerjai oleh kekasihnya.
"Jangan marah, Sayang. Nanti aku akan menciummu sampai kamu tidak bisa merajuk lagi." Goda Darian manja.
"Ian, kumohon. Apakah kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku karena keadaanmu? Tiba-tiba saja kamu terjatuh dan mengerang kesakitan." Gerutu Kalila.
"Apa yang terjadi kepadaku? Apa kata dokter?" Ucap Darian penasaran.
Kalila lalu mengambil tangan Darian yang ditempeli jarum infus. Ia mengelus tangan itu dengan lembut seolah takut melukainya. Kalila lalu menempelkan tangan Darian yang besar dan kuat di sebelah pipinya.
"Mereka bilang kamu mengalami keracunan obat. Dokter menemukan dosis obat pencahar yang cukup tinggi di lambungmu, Ian Sayang." Jelas Kalila sambil menatap Darian dengan khawatir.
Darian terkesiap mendengarnya. Namun seolah menyadari sesuatu, raut wajah Darian berubah menjadi serius.
"Maafkan aku, Ian. Mungkin aku yang teledor hingga mengakibatkan kamu mengalami semua ini. Sungguh, maafkan aku, Ian Sayang." Pinta Kalila hampir menangis.
"Sstt! Kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku, Sayang. Aku tidak akan menyalahkanmu. Aku tahu ini semua bukan kesalahanmu. Kumohon, jangan menangis ya, Kalilaku Sayang? Hatiku sakit melihat kamu bersedih seperti ini." Bujuk Darian.
Tapi Kalila masih menangis. Ia kembali menempelkan kepalanya di tubuh Darian dan menatap kekasihnya dengan rasa bersalah.
"Sungguh, Kalila. Jangan merasa buruk seperti ini. Kamu tidak bersalah untuk apapun, Sayangku." Ucap Darian meyakinkan Kalila.
Kalila kembali memeluk Darian yang masih terbaring lemah.
__ADS_1
"Jangan khawatir, Kalila Sayang. Biarkan aku sendiri yang memberi pelajaran pada orang kurang ajar ini."