
Darian Chatra Wijaya selalu dikenal sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnis Bara Kahuripan. Sosoknya dingin dan kejam. Pemikirannya taktis dan praktis. Dalam sekali lihat, siapapun akan melihat Darian sebagai manusia yang tak berperasaan. Tapi siapa yang menyangka bahwa ada rahasia besar di balik identitasnya itu?
Di malam itu, malam dimana Kalila dan Darian menghabiskannya dengan penuh keromantisan, Darian membuka mulutnya dan menceritakan semua masa lalunya.
"Kamu mau tahu tentang keluargaku?" Tanya Darian sekali lagi pada Kalila yang masih bersender di dadanya.
Kalila mengangguk pelan.
"Kalau kamu tidak keberatan untuk memberi tahuku." Jawab Kalila hati-hati.
Darian tertawa pelan. Dadanya terasa bergetar karena tawa tersebut.
"Darimana aku harus memulainya? Mungkin dari orangtuaku?" Gumam Darian lebih kepada dirinya sendiri.
"Kedua orangtuaku sudah meninggal, Kalila. Mereka tewas karena kecelakaan mobil saat akan menemui istri pertamaku, Kinanti." Sambung Darian lagi.
Kalila mendengarkan kata-kata Darian dengan saksama. Sungguh, satu hal yang ingin Kalila tahu saat ia mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup kembali adalah alasan Darian menjebaknya di masa lalu. Dan kenapa Darian begitu tega membunuh orangtuanya sendiri hanya untuk menyingkirkan Kinanti?
"Tapi harus kukatakan yang sebenarnya kepadamu, Kalila. Kedua orangtuaku sebenarnya bukan orangtua kandungku. Mereka mengadopsiku dan membesarkanku seperti anak mereka sendiri karena anak mereka tewas dalam kecelakaan." Tambah Darian.
Kalila terhenyak. Ini adalah fakta yang baru pertama kali ia dengar. Kalila mengangkat tubuhnya dan duduk menghadap Darian yang mulai bercerita semakin banyak.
"Lalu siapa orangtuamu yang sebenarnya?" Tanya Kalila tampak kaget.
"Sebenarnya aku adalah anak adik Papaku. Ayah kandungku adalah adik Papaku. Mungkin kamu bingung kenapa pada akhirnya aku dibesarkan oleh mereka? Orangtua kandungku tewas bunuh diri karena usaha mereka yang bangkrut, Kalila." Tambah Darian lagi.
"Dan sebagai Paman yang baik, tentu saja kakak ayahku mengambilku dan membesarkannya sebagai anaknya sendiri. Yang aku tidak tahu adalah ternyata aku hanya pengganti bagi anaknya yang tewas dalam kecelakaan." Tutur Darian. Suaranya mengecil seolah hal itu adalah luka paling dalam di hatinya.
"Apa maksudmu pengganti? Dan darimana kamu mengetahui semuanya, Ian?" Tanya Kalila lagi. Ia makin ingin tahu dengan sisi lain Darian yang bahkan tidak pernah ditampakkan pada siapapun.
"Dulu, Papa dan Mamaku memiliki anak yang seingatku berusia tujuh tahun lebih tua dariku. Anak itu meninggal karena hanyut di sungai saat dia mengikuti karyawisata dari sekolahnya. Mungkin kedua orangtua angkatku benar-benar tidak bisa merelakan kepergiannya sehingga mereka memutuskan untuk mengambil keponakannya yang yatim piatu ini sebagai penggantinya." Jelas Darian sambil tersenyum getir.
Kalila menatap Darian seolah tak percaya. Di dalam hatinya, ia yakin kedua mertuanya tidak mungkin sekejam itu. Mertuanya yang ia kenal adalah orang yang sangat baik, lembut, dan perhatian. Rasanya tidak mungkin orang sebaik mereka akan memperlakukan seorang anak kecil seperti itu.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu, Ian? Mungkin saja kamu salah paham tentag semuanya." Ujar Kalila menanggapi.
Darian tertawa.
__ADS_1
"Karena mereka menamaiku sama seperti nama anak yang tewas itu."
Kalila terdiam. Semuanya tampak begitu mengejutkan baginya dan sungguh ia tidak tahu lagi mana yang harus dipercaya.
"Aku mengetahuinya saat aku berusia 17 tahun. Saat itu aku sedang mencari Papa karena ingin minta dibelikan sesuatu yang aku tidak ingat apa. Dan aku masuk ke ruang kerjanya. Namun Papa tidak ada disana. Aku pikir mungkin sebaiknya aku menunggu Papa disana dan aku melakukannya. Dan kamu tahu apa yang aku temukan disana, Sayang?" Kata Darian sambil menatap Kalila serius.
"Apa?" Tanya Kalila bingung.
"Sebuah kotak berisi foto anak laki-laki dan beberapa benda yang tampaknya miliknya. Dan aku menemukan paspor dengan foto anak itu di dalamnya. Bisakah kamu menebak siapa nama anak itu?" Ucap Darian.
Kalila menatap Darian seolah meminta jawaban atas pertanyaan itu. Darian terdiam sejenak sebelum meneruskan kata-katanya.
"Darian Chatra Wijaya. Sama persis seperti namaku."
Kalila terdiam. Ia menatap Darian dengan perasaan yang campur aduk. Haruskah ia merasa kasihan pada musuhnya ini? Atau haruskah Kalila meneruskan balas dendamnya karena bagaimanapun juga hidupnya hancur karena pria ini? Sungguh Kalila sangat kalut dan bingung harus melangkah kemana.
Aku masih perlu menggali informasi lebih banyak lagi tentang hal ini.
...****************...
Kalila mengecup bibir Darian pelan. Ia ingin membangunkan kekasihnya itu dari tidurnya yang tampak begitu pulas. Hari ini Darian akan mengajak Kalila pergi ke Alsace. Kalila sendiri tidak pernah mendengar tempat bernama Alsace ini, tapi Darian berjanji bahwa ia akan senang mengunjunginya.
Darian tersenyum karena paginya disambut dengan hal yang paling menyenangkan baginya. Apalagi kalau bukan dimanjakan oleh Kalila, kekasihnya. Darian melingkarkan lengannya ke tubuh Kalila. Mendekap gadis itu mantap di atas tubuhnya yang kuat.
"Ayo bangun, Sayang." Bisik Kalila lagi dengan suara manja.
"Bateraiku belum penuh. Ciumanmu terlalh singkat untuk membuatku kembali bersemangat, Sayang." Canda Darian.
Kalila lalu mencium bibir Darian dengan lembut dan lama. Pria itu membalasnya dengan sama hangatnya. Kalila lalu melepaskan tautan bibir mereka dan menatap Darian dengan mata yang berbinar.
"Bagaimana? Bateraimu sudah penuh?" Tanya Kalila lagi.
Darian berpura-pura memikirkan sesuatu.
"Tampaknya baru terisi 80 persen. Ayo kita lakukan sekali lagi, Sayang." Goda Darian iseng.
Kalila menjadi sebal dan beranjak meninggalkan Darian yang tertawa terbahak-bahak karena kekasihnya merajuk.
__ADS_1
"Kalila, ayolah Sayang. Satu kali lagi agar aku punya cukup tenaga untuk bangun tidur!" Canda Darian kepada Kalila yang sudah masuk ke kamar mandi.
"Cium saja bantalmu!" Seru Kalila dari dalam kamar mandi.
Hari itu mereka habiskan untuk berkeliling Alsace dengan sepeda. Alsace adalah kota yang indah. Rumah-rumah dan pemandangan disana membuat tempat itu bagaikan keluar dari negeri dongeng. Dan sungguh Kalila tidak pernah berhenti merasa takjub dengan keindahan yang memanjakan matanya.
"Kamu belum pernah ke Alsace, Sayang?" Tanya Darian sambil memperhatikan Kalila yang begitu tampak menggemaskan.
Kalila tersenyum cengengesan.
"Belum, Ian. Aku terlihat kampungan ya?" Ujar Kalila pelan.
Darian menggeleng. Ia lalu mencubit pipi Kalila dengan gemas.
"Tidak. Kamu sangat menggemaskan." Balas Darian sambil tertawa.
Darian lalu melihat seorang pelukis jalanan yang tengah menampilkan kebolehannya disana. Darian berpikir mungkin ini bisa menjadi kenang-kenangan manis untuk mereka berdua. Lukisan tangan dengan latar belakang Alsace yang indah.
"Kamu mau dilukis, Sayang?" Ajak Darian antusias.
Bahkan tanpa menunggu jawaban dari Kalila, Darian sudah mengajak kekasihnya ke hadapan pelukis tua itu.
"Hey, could we get painted by you perhaps?" Tanya Darian bersemangat
(Hei, bisakah Anda melukis kami?)
Pria tua itu mengangguk dan meminta Darian dan Kalila berpose di depan sebuah bangunan tua yang amat indah. Satu jam kemudian, lukisan mereka selesai. Kalila dengan antusias melihatnya dan tidak henti-hentinya mengagumi hasil karya pria tua itu. Senyum Darian sumringah melihat kekasihnya begitu bahagia.
Pria tua itu lalu mencolek lengan Darian. Wajahnya tampak penasaran.
"Are both of you a married couple? Husband and wife?" Tanya pria tua itu ingin tahu.
(Apakah kalian berdua pasangan menikah? Suami dan isteri?)
Darian menatap Kalila dengan tatapan yang dalam. Kalila merasa salah tingkah di bawah kedua mata yang terlihat seolah menembus jiwanya itu. Darian tersenyum tipis sambil menjawab pertanyaan pria tua itu.
"Soon. We'll get married soon."
__ADS_1
(Secepatnya. Kami akan menikah secepatnya).