
Darian terbangun dari tidurnya. Matanya beberapa kali mengerjap karena sinar matahari yang menyilaukan masuk dari celah tirai kamarnya. Ia benar-benar merasa puas dan bahagia. Permainan cintanya semalam dengan Kalila benar-benar gila. Entah apa yang dimiliki kekasihnya itu hingga Darian tak jemu menikmati tubuhnya hingga berkali-kali dalam satu malam.
Darian menoleh ke sisi kasurnya. Namun tidak ada siapapun di sisinya.
"Ah, pasti Kalila sudah bangun duluan." Gumam Darian.
Ia paham benar kebiasaan Kalila karena sejak menjadi sepasang kekasih, Kalila dan Darian praktis sudah hidup seperti suami isteri. Darian lebih sering tinggal di apartemen Kalila dibandingkan di rumahnya. Dan ia tahu kebiasaan Kalila untuk bangun lebih dulu dan memasak untuknya.
Sejujurnya, ini pertama kalinya bagi Darian mengalami semua ini. Semua perhatian yang diberikan Kalila. Mulai dari menyiapkan pakaian hingga makanan, serta bagaimana Kalila selalu mendengarkan kata-kata Darian dengan seluruh perhatiannya. Ini pertama kalinya Darian diperlakukan begitu spesial oleh seorang wanita. Darian kira ia tidak pernah menyukai wanita yang pandai mengurus rumah dan ia selalu yakin tipenya adalah wanita karier dengan selera tinggi seperti Hanna. Namun setelah mengenal Kalila, Darian sadar betapa bahagianya ia memiliki wanita seperti Kalila di sisinya. Betapa setiap perhatian kecil Kalila akan membuat Darian merasa jutaan kupu-kupu terbang di perutnya.
"Tampaknya aku dalam masalah besar. Aku benar-benar jatuh cinta pada Kalila." Gumam Darian sambil tersenyum seperti orang bodoh.
Darian lalu bangkit dari ranjangnya, mandi, dan berganti pakaian. Bagaimanapun juga ia tetap harus pergi ke kantor karena posisinya yang sekarang sebagai Direktur Utama Bara Kahuripan. Padahal kalau bisa, rasanya Darian ingin sekali bermalas-malasan bersama Kalila seharian seperti yang dulu sering ia lakukan bersama Hanna.
Aroma masakan yang begitu sedap menyerang hidung Darian begitu ia melangkahkan kakinya di tangga. Ia segera mempercepat langkahnya dan menuruni tangga. Langkahnya yang lebar membawanya tiba di dapur hanya dalam waktu sepersekian detik. Darian tersenyum melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Kalila mengenakan celemek masak dan terlihat sangat cantik dengan rambutnya yang diikat satu. Ia tampak fokus memasukkan berbagai bahan dan memasak sesuatu. Darian menghampirinya dan memeluk Kalila dari belakang. Kalila sedikit terhenyak namun kembali tertawa ketika menyadari Darian yang ada di belakangnya.
"Kamu masak apa, Sayang?" Bisik Darian lembut.
"Ah, Ian. Kamu mengagetkanku saja. Good morning, Baby." Ucap Kalila sambil mengecup pipi Darian.
"Aku memasak makanan kesukaanmu, Ian. Kamu juga suka makanan Cina, kan?" Tanya Kalila memastikan.
Darian mengangguk.
"Sudah kukatakan berkali-kali, Sayang. Aku suka apapun yang kamu buat. Bahkan jika kamu hanya membuat nasi putih tanpa lauk pun aku masih akan menyukainya." Rayu Darian.
Kalila tertawa mendengarnya.
"Astaga, Ian. Hari masih pagi dan kamu sudah mengatakan rayuan gombal kepadaku?" Canda Kalila.
"Merayumu sepanjang hari pun aku sanggup, Sayang." Ucap Darian sambil tertawa. Ia membenamkan kepalanya di rambut Kalila yang sangat wangi.
"Hemmm hemmm!"
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara wanita berdeham dari belakang Kalila dan Darian. Mereka berdua menoleh serempak dan melihat Hanna yang menatap mereka dengan jutek.
"Astaga, kalian seperti remaja yang kasmaran saja. Tidak bisakah kalian menyimpan semua kemesraan itu hanya di dalam kamar?!" Seru Hanna ketus.
Kalila langsung melepaskan tangan Darian yang melingkar di pinggangnya.
"Mbak Hanna mau sarapan?" Tawar Kalila tidak enak.
Tapi Darian malah kembali memeluk Kalila dengan erat. Kedua tangannya kembali melingkar di pinggang Kalila dengan nyaman.
"Ian, kumohon hentikan. Aku merasa tidak enak dengan Mbak Hanna." Ucap Kalila kepada Darian.
"Kalau kamu merasa tidak enak, harusnya kamu pergi dari sini." Balas Hanna sembari duduk di ruang makan.
Darian menatap Hanna sebentar dan kembali membenamkan wajahnya si leher Kalila.
"Kalila tidak akan pergi kemana-mana, Hanna. Ia akan tinggal dimana aku tinggal." Ucap Darian tegas.
Setelah selesai memasak, Kalila dibantu dengan asisten rumah tangga Darian menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Darian segera duduk dan menarik sebuah kursi di sampingnya.
"Ayo, duduk di sampingku, Sayang." Ucap Darian.
"Maksudmu aku?" Tanya Kalila tidak mengerti.
"Iya, kamu. Kalilaku Sayang. Siapa lagi?" Ujar Darian.
Dengan ragu, Kalila melangkah dan duduk di samping Darian. Ia melihat ke arah Hanna yang terbakar api cemburu. Kalila tersenyum tidak enak pada Hanna. Namun sebenarnya di dalam hatinya, pemandangan ini sungguh terasa manis. Misi pertamanya untuk menyingkirkan Hanna sudah setengah jalan. Sebentar lagi ia akan menendang Hanna selamanya dari hidup Darian. Setelah itu, balas dendamnya pada Darian tentu akan menjadi lebih mudah.
...****************...
Darian memijit kepalanya yang sedikit pusing. Ia menyenderkan tubuhnya di kursi kantornya yang nyaman dan empuk. Sungguh pekerjaannya seperti tidak ada habisnya hari ini. Dan Darian juga sudah merindukan Kalila. Sudah lima jam ia tidak bertemu dengan kekasihnya itu.
"Kira-kira Kalila sedang apa ya?" Gumam Darian.
Ia lalu mengambil ponselnya. Hendak menghubungi sang kekasih. Namun terdengar ketukan di pintu kantornya.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?" Tanya Darian merasa risih.
Pintu itu lalu terbuka dan kepala Kalila menyembul dari celahnya.
"Aku boleh masuk?" Tanya Kalila ceria.
Wajah Darian langsung sumringah begitu melihat Kalila yang ada disana.
"Tentu saja, Sayang. Aku baru saja ingin meneleponmu karena merindukan Kalilaku Sayang." Ucap Darian manja.
Kalila tertawa. Ia membuka pintu itu dan berjalan masuk menghampiri Darian yang ada di mejanya.
"Aku membawakanmu makan siang, Ian. Aku pikir kamu pasti lapar." Ujar Kalila sembari menarik sebuah kursi ke samping Darian.
Wajah Darian menjadi cerah.
"Sungguh? Astaga Kalila, kamu tidak perlu repot-repot seperti ini. Aku bisa membeli makanan di luar." Ujar Darian berbohong.
"Ini bukan apa-apa, Ian. Lagipula kamu pernah bilang kalau kamu paling menyukai masakanku, kan? Aku hanya ingin kamu makan dengan baik dan sehat." Ujar Kalila sambil mencubit hidung Darian gemas.
Darian kembali tertawa. Kalila memandang ruangan tempat ia berada sekarang. Ruangan yang dulu ditempati ayah mertuanya. Sekarang jabatan itu ternyata sudah berpindah ke sang putera mahkota. Putera mahkota yang berkonspirasi untuk membunuh orangtuanya sendiri. Kalila merasa miris melihat kejamnya kehidupan orang kaya.
"Kamu sedang memikirkan apa, Sayang?" Tanya Darian sembari memperhatikan Kalila.
Kalila menggeleng.
"Tidak, tidak ada. Hanya saja aku baru tahu ternyata ini ruangan dimana Ianku setiap hari bekerja. Ruangan tempat laki-laki kesayanganku menghabiskan waktunya seharian." Jawab Kalila berbohong.
"Kalau kamu? Apa yang kamu pikirkan sampai memperhatikanku seperti itu, Ian?" Tanya Kalila.
Darian tersenyum dan mengecup bibir Kalila pelan.
"Aku hanya berpikir apa yang kulakukan di masa lalu sehingga aku sangat beruntung memiliki kekasih sepertimu, Sayang." Ucap Darian.
__ADS_1
Kalila lalu duduk di pangkuan Darian. Matanya menatap lurus ke mata Darian yang tajam. Ia tersenyum penuh makna ke arah pria itu. Senyum yang sulit diartikan maksudnya.
"Oh, Ian Sayangku. Sungguh banyak hal yang sudah kamu lakukan sehingga kamu pantas mendapatkan semua ini."